Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Mati Kau Iblis …


__ADS_3

Serangan berupa cakaran itu luput dari sasaran. Detik berikutnya, Penguasa Gunung Waluh meneruskan serangannya yang gagal itu. Tangan yang membentuk cakar, ditekuk sambil di aliri tenaga dalam. Dia memukul Cakra Buana dengan punggung tangannya yang kini sudah mengeras seperti baja.


"Bukkk …"


Dada Cakra Buana terkena hantaman Penguasa Gunung Waluh. Pendekar Maung Kulon itu terpundur satu langkah. Ada sedikit rasa nyeri di dadanya. Hawa murni segera dia salurkan untuk menghilangkan rasa sakit.


Selama kejadian itu, pertarungan masih terus berlangsung. Penguasa Gunung Waluh semakin mengganas menggempur Cakra Buana. Dengan kekuatan mumpuni dan amarah yang menggebu, dia menyerang Cakra Buana dari segala sisi.


Sekilas tak ada ruang untuk keluar dari serangan yang datang bagaikan air bah itu. Cakra Buana mulai berlaku lebih serius lagi karena kekuatan lawan setingkat di bawahnya.


"Mengejar dan Menerkam Mangsa …"


"Wuttt …"


Jurus inti miliknya yang di dapat dari Kitab Maung Mega Mendung mulai di keluarkan. Pendekar Maung Kulon itu balik menyerang lawan dengan brutal. Setiap serangannya mengandung tenaga dalam tinggi. Dia bergerak ke sana kemari bagaikan seekor harimau sedang marah.


Kedua tangannya di kembangkan sambil membentuk cakar. Ada kuku ghaib yang tiba-tiba muncul pada jemari Cakra Buana.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Cakaran demi cakaran mulai menggempur Penguasa Gunung Waluh. Kakek tua itu sedikit kewalahan karena semua serangan Cakra Buana, memiliki kecepatan seperti angin.


Malam semakin larut, udara dingin semakin meresap tulang. Orang-orang yang ada di situ mulai merasakan hawa dingin mencekam. Para murid Perguruan Gunung Waluh yang menyaksikan pertarungan guru besarnya, merasa tegang bukan main.


Sebab meskipun pertarungan sudah berjalan hampir setengah jam, tapi belum ada tanda-tanda gurunya akan keluar sebagai pemenang. Yang ada justru sebaliknya, Penguasa Gunung Waluh perlahan mulai terdesak oleh gempuran serangan Cakra Buana.


"Wuttt …"


"Brettt …"


Setelah sekian lama menggempur, akhirnya Cakra Buana berhasil memberikan serangan telak kepada lawan. Penguasa Gunung Waluh merasa perih di bagian pangkal lengan kanannya. Bajunya koyak oleh cakaran Cakra Buana. Bukan hanya baju, bahkan dagingnya pun turut serta.


Cakra Buana bukannya tak mau mengeluarkan ajian tingkat tinggi, dia memang sengaja sebab memikirkan resiko yang akan di terimanya. Perlu diketahui, bahwa setiap ajian tingkat tinggi, pasti memiliki resiko tersendiri bagi si pemakainya. Entah itu tenaga dalam langsung terkuras, atau pun lain sebagainya.


Setelah terkena cakaran lawan, Penguasa Gunung Waluh melompat mundur dua tombak. Dia memeriksa lukanya yang mulai mengucurkan darah. Kemudian kakek tua itu merobek bajunya lalu mengikat luka tersebut.

__ADS_1


"*******. Kalau seperti ini, aku tidak bisa mengalahkannya. Terpaksa aku harus mengeluarkan semua jurus-jurus andalanku," gumamnya sambil memandang tajam ke arah Cakra Buana.


"Rasakan ini bocah keparat …"


"Mengangkat dan Membalikan Gunung …"


"Wuttt …"


"Blarrr …"


Suara gemuruh terdengar di saat Penguasa Gunung Waluh mengeluarkan ajiannya. Entah ilmu apa itu, yang jelas bumi terasa bergetar. Asap putih mengepul menutupi pandangan semua orang.


"Werrr …"


Tiba-tiba serangkum angin tajam melesat kencang ke arah Cakra Buana. Meskipun suasana di sana sedikit tertutup asap, tapi Cakra Buana bisa melihat jelas serangan tersebut. Kemudian dia pun mengambil tindakan. Kedua tangannya di julurkan ke depan sambil menyalurkan tenaga dalam.


"Menahan Terjangan Banjir …"


"Blarrr …"


Ledakan cukup keras terdengar lagi ketika dua energi besar beradu di tengah-tengah. Tanah bergetar cukup kencang. Kedua pendekar yang sedang bertarung itu sama-sama terpental.


Jurus demi jurus dilancarkan kembali dengan tujuan menumbangkan lawan. Keduanya sama-sama lelah. Keringat sudah membanjiri tubuh. Tiba-tiba si kakek tua itu mengerang keras bagaikan harimau marah. Dia menjejakkan kakinya ke tanah sekali lalu tubuhnya meluncur dengan deras.


Kedua tangannya di julurkan. Dari balik lengan yang tertutup baju hitam itu, keluar puluhan jarum beracun berwarna hitam pula.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Cakra Buana kaget. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa lawan ternyata menyimpan senjata rahasia yang sangat berbahaya. Mau menghindar tidak ada waktu. Makan dengan nekad, dia memutarkan tubuhnya bagaikan sebuah gasing.


Jarum-jarum beracun itu melesat dengan kecepatan tinggi. Tapi hampir semua jarum, runtuh tak dapat menjebol putaran energi yang diciptakan oleh Cakra Buana. Namun sayangnya, beberapa jarum berhasil juga menembus pertahanan Cakra Buana.


"Clappp …"


"Clappp …"

__ADS_1


Lima batang jarum menembus lengan kanan dan kirinya. Tiga lagi bersarang di dada. Pendekar Maung Kulon langsung memekik tertahan menahan rasa sakit. Sebab begitu jarum masuk ke tubuhnya, racun seketika iru juga menjalar.


"Ughhh … sialan. Racun ini benar-benar ganas," keluhnya sambil menyalurkan hawa murni. Ada sedikit darah kehitaman keluar dari sudut bibirnya.


"****** kau orang tua …" teriak Cakra Buana dengan sangat geram.


"Langkah Seribu Dewa …"


"Wuttt …"


Cakra Buana lenyap dari pandangan semua orang. Bahkan Penguasa Gunung Waluh sendiri tak dapat melihatnya, termasuk juga Ling Zhi.


Tiba-tiba, Cakra Buana sudah muncul tepat satu langkah di hadapan Penguasa Gunung Waluh.


"Harimau Mengguncang Semesta …"


"Gggrrhh …"


Dia menggeram keras. Bagaikan seekor harimau yang sedang marah, wajahnya langsung berubah menyeramkan. Matanya menguning dan berkilat di bawah gelap malam. Dua taring mendadak muncul. Bumi bergetar.


"Mati kau iblis. Haaa …"


"Tangan Penolak Maut …"


Penguasa Gunung Waluh mengeluarkan ajian andalannya untuk menolak bala tepat sebelum pukulan Cakra Buana tiba. Semua itu terjadi begitu cepat, berbeda dengan menulisnya yang butuh waktu.


"Blarrr …"


Gemuruh mirip Guntur menggelegar. Dua ilmu tingkat tinggi bertemu. Sinar kuning menyilaukan menghalangi penglihatan semua orang yang ada di sana. Tak lama sinar itu meledak menyebabkan benteng perguruan hancur.


Semua orang tercekat. Bahkan semua murid Perguruan Gunung Waluh tak mampu menelan ludahnya sendiri saat melihat guru besar mereka terpental hingga menubruk mimbar sampai hancur.


Dia tewas sebelum tubuhnya mengenai mimbar. Orang tua itu mengalami kematian yang sangat mengenaskan. Dadanya koyak hingga masuk ke dalam. Kepalanya remuk akibat hantaman Cakra Buana. Dia tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.


Cakra Buana sendiri terpental satu tombak. Dia jatuh terduduk karena racun yang berasal dari jarum tadi, mulai menggerogoti tubuhnya lagi. Wajah Pendekar Maung Kulon itu pucat pasi. Mirip mayat. Ling Zhi langsung berlari mendekati kekasihnya.


"Kau tidak papa kakang?" tanya Ling Zhi cemas karena melihat kondisi Cakra Buana.

__ADS_1


Cakra Buana tidak menjawab pertanyaan Ling Zhi. Dia langsung duduk bersila. Mengambil konsentrasi penuh lalu menghimpun tenaga dalamnya untuk mengobati diri sendiri.


Di sisi lain, Ling Zhi langsung bersikap waspada. Matanya melihat murid-murid Perguruan Gunung Waluh yang kini sedang memandang mereka dengan tatapan marah.


__ADS_2