
"Plakkk …"
"Bukkk …"
Kedung Reja dan Gombang terkena pukulan serta tamparan Cakra Buana hingga membuat kedua anggota Lima Setan Darah itu terpental.
Tapi meskipun begitu, pertarungan masih berlangsung. Yang masih menyerang Cakra Buana adalah Munding Aji bersama satu anggotanya yang bernama Dendeng Saga. Keduanya terus berusaha untuk memojokkan Cakra Buana dengan jurus-jurus mereka. Mereka memberikan serangan beruntun yang berbahaya.
Tapi Cakra Buana tidak bisa dipandang remeh. Melawan empat orang saja sanggup, apalagi kini melawan dua orang. Bukan perkara sulit untuk melawan mereka bagi Pendekar Maung Kulon tersebut.
Dendeng Saga menyerang dari sisi kanan dengan senjata trisula perak. Dia melompat tinggi sambil menusukkan trisula tersebut. Gerakannya cepat, dia mengincar bagian pundak kanan.
Sedangkan dari sisi kanan, Munding Aji pun turut menyerang. Dia memberikan serangan dengan senjata pusaka andalannya yang berupa sebilah keris yang dilapisi emas permata.
Keris itu bukanlah sembarang keris, pusaka itu diberi nama Keris Kyai Jenggala. Sebuah pusaka yang merupakan warisan dari guru Munding Aji sendiri. Gurunya bernama Ki Ragen Denta, salah seorang datuk dunia persilatan. Sayangnya dia sudah mengundurkan diri sepuluh tahun yang lalu.
Tapi namanya masih tetap ditakuti kawan dan disegani lawan hingga saat ini. Oleh sebab itulah banyak tokoh-tokoh persilatan yang merasa segan kepada Munding Aji, terlebih mereka yang sudah malang melintang dalam rimba hijau.
Keris itu bergerak menusuk ulu hati Cakra Buana. Gerakannya sangat cepat sekali. Bahkan sampai-sampai Cakra Buana sedikit kecolongan. Dia baru mengetahui adanya bahaya maut ketika merasakan ada hawa dingin yang mendekat.
"Wuttt …"
Cakra Buana kaget. Dia baru melompat ketika Keris Kyai Jenggala berhasil merobek bajunya. Untung sasarannya Cakra Buana, kalau bukan, pastilah tidak dapat menghindar lagi.
Akan tetapi meskipun dia berhasil menghindari tusukan maut Keris Kyai Jenggala, tetap saja sebuah tusukan yang dilancarkan oleh Dendeng Saga berhasil melukai pundaknya walau sedikit.
"Brettt …"
"Ughhh …"
Cakra Buana meringis tertahan. Dia melompat dua tombak ke belakang sambil memeriksa lukanya. Luka itu tidak begitu dalam. Tapi terasa sangat perih.
__ADS_1
Pertarungan berhenti sejenak. Masing-masing pihak saling pandang satu sama lain. Pandangan kebencian dan pancaran yang mengandung dendam terlihat jelas di pihak Lima Setan Darah. Bagaimanapun juga mereka belum terima akan kematian rekannya sendiri.
Sedangkan Cakra Buana berusaha mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Kemudian luka itu dia totok supaya tidak mengeluarkan darah secara terus menerus.
Pendekar Maung Kulon itu menimbang-nimbang sejenak apakah akan menggunakan Pedang Pusaka Dewa atau tidak. Jika tidak, dia pasti akan kesulitan, tapi jika mengeluarkan pusaka tersebut, semua orang akan tahu bahwa dia memegang pusaka lambang kejayaan.
'Lebih baik menggunakan tangan kosong. Aku ingin tahu sampai dimana kekuatanku dari hasil latihan selama ini.' batin Cakra Buana.
Pada akhirnya dia nekad akan bertarung dengan tangan kosong. Selain penasaran dengan kekuatannya, dia juga penasaran dengan berbagai ajian yang diajarkan oleh ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Apalagi masih terdapat banyak ajian yang belum dia coba.
"Keluarkan pedangmu itu bocah. Aku tidak ingin melawan musuh yang tidak menggunakan senjata apapun," kata Munding Aji sambil menunjuk Pedang Pusaka Dewa dengan telunjuk kirinya.
"Melawan kawanan tikus sepertimu tidak perlu menggunakan senjata," jawab Cakra Buana sengaja memancing amarah lawan.
"Lancang. Kalau begitu jangan salahkan kami jika kau tewas tanpa senjata,"
"Silahkan. Tapi jangan mimpi untuk bisa membunuhku. Jangan sebut aku Cakra Buana jika harus tewas ditangan kawanan tikus macam kalian ini," ucap Cakra Buana sambil tersenyum mengejek.
"Setan alas. Mati kau …"
"Haittt …"
Dengan gerakan serentak Lima Setan Darah kembali menyerang Cakra Buana. Tapi gerakan yang mereka lakukan kali ini jauh berbeda dengan gerakan sebelumnya.
Pola serangan mereka lebih teratur. Ulet, lincah, dan tentunya mematikan. Kelompok Lima Setan Darah tidak akan sembarangan mengeluarkan gerakan seperti sekarang ini.
Jika mereka sudah mengeluarkannya, maka Lima Setan Darah berarti sedang dalam kesulitan. Inilah jurus yang terkenal dari kelompok Lima Setan Darah. Sebuah jurus yang memiliki pertahanan sulit ditembus dan serangan yang sangat mematikan.
"Barisan Lima Setan Darah …"
Kedung Reja mendapat giliran menyerang pertama dari sebelah depan. Sedangkan Gombang mendapat giliran menyerang dari bagian belakang. Sisanya hanya memecah konsentrasi lawan dan membantu jika rekan mereka dalam bahaya.
__ADS_1
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Serangan senjata yang mematikan dilancarkan oleh Kedung Reja dan Gombang. Keduanya mengincar bagian rawan pada lawan.
Cakra Buan sudah siap. Dia berputar tiga kali sambil mengeluarkan ajian miliknya juga.
"Ajian Pecah Raga …"
"Wuttt …"
Tiba-tiba saja muncul dua sosok Cakra Buana dihadapan semua orang itu. Semua lawannya menjadi sangat terkejut. Bahkan adipati Wulung Sangit yang daritadi mengamati pertandingan pun sama terkejutnya.
"Wuttt …"
"Trangg …"
"Trangg …"
Dua serangan pertama berhasil dipatahkan oleh dua sosok Cakra Buana. Kedua sosok itu memiliki senjata masing-masing yang berupa pedang. Tapi bukan Pedang Pusaka Dewa. Hanya sejenis pedang pusaka yang cukup bisa diandalkan.
"Bukkk …"
"Plakkk …"
Kedung Reja dan Gombang terpental karena mereka kaget dengan serangan lanjutan yang dilancarkan dua sosok Cakra Buana. Tapi sebelum dua sosok itu bertindak lebih jauh, secara tiba-tiba Munding Aji dan Dendeng Saga maju membantu.
"Plakkk …"
"Plakkk …"
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, yang jelas ketika Munding Aji turun tangan, tiba-tiba dua sosok Cakra Buana terpental hingga dua tombak. Hal ini membuat Cakra Buana yang asli menjadi semakin penasaran.
Kini tiga sosok Cakra Buana sudah berdiri sejajar. Ketiganya sudah dalam posisi siap bertarung. Begitupun dengan Lima Setan Darah. Agaknya puncak pertarungan sebentar lagi akan segera dimulai.