Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Ajian Tiwikrama


__ADS_3

Setelah menjelaskan, Eyang Resi Patok Pati lalu mengajak Langlang Cakra Buana ke tengah lapangan tempat latihan tersebut. Tidak ada orang lain disana, kecuali mereka berdua.


Siang hari ini matahari memberikan sinarnya ke bumi secara maksimal. Awan pun tak menutupinya, sehingga panasnya begitu terasa menyengat kulit.


Tapi hal itu tidak menjadi halangan bagi seorang pemuda bernama Langlang Cakra Buana. Saat ini pemuda itu sudah bersiap untuk menerima wejangan tentang bagaimana cara menguasai Ajian Tiwikrama.


Bajunya sudah dilepaskan. Sehingga otot-ototnya terlihat jelas. Tubuh kekarnya begitu menggoda, rasanya pemuda itu semakin tampan saja.


"Langlang, sekarang kau fokuskan pikiranmu. Pejamkan matamu, ambil nafas dari hidung kanan lalu tahan di dada sebentar. Setelah itu, kau pusatkan pada pusar lalu tekan. Kemudian niatkan dalam hatimu bahwa kau ingin menghimpun tenaga ghaib yang besar. Lakukan olah pernafasan tersebut selama dua sepeminum teh. Eyang akan mengawasi dirimu," kata Eyang Resi Patok Pati menjelaskan.


"Baik eyang. Aku akan mencobanya sekarang juga," jawab Langlang Cakra Buana.


Setelah berkata demikian, Pendekar Maung Kulon itu lalu mulai melakukan apa yang sudah dijelaskan oleh gurunya. Langlang Cakra Buana perlahan memejamkan matanya.


Kedua tangan ditaruh disamping pinggang, tubuhnya tegap berdiri. Wajahnya memandang lurus kedepan sambil terpejam. Lalu dia menghirup udara hanya dari hidung kanan. Kemudian menahannya di dada lalu diturunkan ke pusar.


Pemuda serba putih itu terus melakukan hal tersebut selama beberapa kali. sepuluh kali percobaan pertama, Langlang Cakra Buana tidak merasakan apa-apa.


Dia hanya merasakan dingin lalu berubah menjadi hangat. Tapi Langlang Cakra Buana tak mau menyerah, dia terus melakukan hal tersebut hingga merasakan keanehan.

__ADS_1


Setiap sekali mengambil nafas, seolah dia menarik batu yang begitu berat. Ada energi besar yang masuk ke lubang hidung sebelah kanan. Sampai di dada energi itu terasa lebih besar. Lalu sampai dipusar, energi itu bahkan sampai terasa lebih besar beberapa kali.


Setelah dirasa cukup, Langlang Cakra Buana lalu membuka matanya. Eyang Resi pun langsung menghampiri.


"Muridku, apa yang kau rasakan selama melakukan langkah pertama tadi?" tanyanya.


"Setelah melakukan beberapa kali percobaan, pada akhirnya aku merasakan sesuatu yang baru aku rasakan seumur hidup eyang. Aku merasa setiap tarikan nafasku ada sebuah energi besar yang masuk. Dan ketika sampai ke pusar, energi itu terasa semakin besar dan besar lagi sehingga aku merasa tubuhku seolah-olah terbakar," jelas Langlang Cakra Buana.


"Bagus. Tahap pertama berhasil. Lakukan hal itu selama tiga kali sehari sekali dalam waktu seminggu berturut-turut. Tepat saat bulan purnama nanti, eyang akan menurunkan langsung Ajian Tiwikrama berikut dengan rapalannya," ucap Eyang Resi Patok Pati.


###


Seminggu sudah berlalu. Selama itu juga Langlang Cakra Buana melatih olah pernafasannya sesuai wejangan gurunya, Eyang Resi Patok Pati.


Bahkan, setiap dia menarik nafas, selalu ada angin yang cukup besar menerpa tubuhnya. Begitulah, jika batin yang sudah bertindak maka sampai kapanpun tidak akan bisa dijelaskan secara logika.


Logika tidak sejalan dengan ghaib, dan ghaib tidak sejalan dengan logika. Dibilang nyata tidak terlihat, dibilang tidak ada tapi terasa. Begitulah jika bicara kebatinan ataupun keghaiban.


Saat ini Langlang Cakra Buana dan Eyang Resi Patok Pati sudah berada di lapangan pelatihan lagi. Kondisi sekarang tepat pada waktu tengah malam dan sedang bulan purnama pula.

__ADS_1


Bulan begitu terang, cahanya tanpa tertutup awan sedikitpun. Harum semerbak bunga yang berasal dari taman kerajaan pun tercium begitu wangi memanjakan indera penciuman.


Suara jangkrik dan angin sepoi-sepoi seolah setia menemani guru dan murid yang akan melakukan ritual itu. Lapangan pun dipasangi obor disetiap sudutnya. Jadi semakin jelas saja keadaan disekitar.


"Langlang muridku, buka bajumu dan berdirilah tepat dibawah bulan. Lakukan pernafan tiga kali seperti yang sering kau lakukan belakangan ini. Setelah berhasil, eyang akan memberikan rapalan Ajian Tiwikrama kepadamu," kata Eyang Resi Patok Pati.


Setelah mendengar perintah, pemuda itu langsung melakukan seperti biasanya. Yaitu mengolah pernafasan. Eyang Resi Patok Pati sengaja melakukan ritual ini dimalam hari, sebab ketika malam tiba energi ghaib semakin besar. Dan keadaan pun sunyi sepi. Hal ini tentunya sangat cocok untuk melakukan ritual dan lain semacamnya.


Setelah selesai, Eyang Resi pun menghampiri muridnya tersebut.


"Sekarang, dengarkan rapalan Ajian Tiwikrama ini. Setelah eyang selesai, maka kau harus segera membacanya. Harus satu kali jalan hapal, jika tidak maka akan mengurangi efeknya," kata Eyang Resi Patok Pati.


"Sinembah agung dumateng Gusti kang akarya jagad, sembah kaluhuran dumateng para leluhur kang wongten tanah jawi, sembah bekti kulo aturaken dumateng guru panuntun kawula raden tjakra djajaningrat, kulo badhe ngerahaken katiyasan tiwikrama kang kawontenan ing raga kawula."


Tidak sampai disitu, Eyang Resi Patok Pati pun membaca kembali rapalan lainnya hingga selesai. Lalu dia menyuruh Langlang Cakra Buana untuk membaca rapalan tersebut.


Kemudian Langlang Cakra Buana membaca rapalan itu hingga selesai. Lalu dia mencoba kembali olah pernafasan sambil membaca rapalan Ajian Tiwikrama kembali. Matanya di pejamkan sambil memandang ke atas.


Benar saja, ketika dia sudah berhasil melakukan segala ritual, tiba-tiba tubuh pemuda itu panas bagai terbakar. Bahkan lebih panas daripada sebelumnya.

__ADS_1


Langlang Cakra Buana merasakan emosinya meluap-luap, dia membuka mata perlahan. Dan tiba-tiba dia melihat sesuatu seperti kecil sekali. Bahkan pemuda itu hampir kehilangan kendali.


Hampir saja dia memporak-porandakan sesuatu yang ada didekatnya. Bahkan Eyang Resi Patok Pati pun hampir dia serang, untung saja dia segera menguasai dirinya kembali sehingga bisa sadar seperti sedikala.


__ADS_2