
Tetapi semua orang yang dia pandang menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa mereka semua meminta kepada Cakra Buana untuk tidak menyetujuinya.
"Bagaimana anak baik? Apakah kau menerima usul kami?" tanya Dewa Tapak Racun kepada Cakra Buana.
"Maaf tuan. Aku tidak menyetujui usulanmu," kata Cakra Buana dengan tenang.
Mendengar jawaban tersebut, Dewa Tapak Racun langsung segera bertindak. Tapi sebelum itu, Penguasa Kegelapan memberikan tanda kepadanya untuk diam.
"Murid menaati perintah guru," katanya lalu mundur selangkah.
Kini giliran Penguasa Kegelapan yang maju selangkah. Dengan wibawanya yang selalu terpancar keluar, perlahan dia bicara kepada Cakra Buana.
"Apakah kau yakin dengan jawabanmu itu?" tanyanya.
"Aku yakin. Mohon tuan mengerti tentang ini,"
"Anak baik, kalau kau memberikan tiga pusaka itu dengan mudah, empat muridku akan menyelesaikan perang ini dalam waktu singkat. Dan aku jamin, kemenangan akan berpihak kepada kalian. Bagaimana?"
Lagi-lagi Cakra Buana tidak langsung menjawab. Dia kembali melirik pada pendekar yang ada di sisinya. Tapi jawaban yang dia terima sama seperti sebelumnya. Mereka semua menggelengkan kepalanya.
"Maaf tuan, aku tetap tidak akan menyerahkan tiga pusaka legenda kepadamu,"
Seketika wajah Penguasa Kegelapan menjadi berubah total. Wajahnya terlihat dua kali lebih menyeramkan. Kekuatannya kembali menekan keadaan sekitar.
"Baik, kalau kau tidak mau menerima niat baikku. Maka aku akan menggunakan cara paksa," kata Penguasa Kegelapan dengan tegas.
Selesai berkata, dia memberikan isyarat dengan tangannya. Dua orang muridnya yaitu Dewa Tapak Racun dan Dewa Pedang Kembar langsung ke depan.
Tak perlu bicara lagi, keduanya langsung memberikan sedangan secara tiba-tiba kepada Cakra Buana dan Prabu Katapangan.
Cakra Buana mendapatkan lawan Dewa Tapak Racun. Serangan pertama berupa tapak yang ganas mengarah ke dada Pendekar Maung Kulon.
Kalau yang diserang orang lain, mustahil mereka bisa menghindarinya. Apalagi selain gerakan Dewa Tapak Racun sangat cepat, juga jaraknya sangatlah dekat. Tetapi itu semua tidak berlaku bagi Cakra Buana.
Walaupun kecepatannya tidak melebih musuh, setidaknya dia masih bisa mengimbanginya. Saat serangan hampir tiba, Pendekar Maung Kulon langsung melompat mundur ke belakang mencari tempat yang lebih luas.
Dewa Tapak Racun kembali memberikan serangan kepada Cakra Buana. Dua telapak tangan yang hijau pucat itu, bergerak secepat kilat menyambar. Tenaga dalam yang terkandung di dalamnya sangatlah besar. Sekali kena hantaman tapak itu, dipastikan akan langsung meregang nyawa.
__ADS_1
"Wutt …"
Kali ini Cakra Buana langsuny bergerak. Tenaga dalam dia salurkan ke seluruh tubuh. Terutama kepada tangan dan kakinya.
"Plakk …"
"Plakk …"
Dua kali benturan terdengar, serangan kedua Dewa Tapak Racun berhasil dipatahkan oleh Pendekar Maung Kulon.
Detik berikutnya dua pendekar itu sudah mulai bertukar jurus dan serangan. Kedua tangan Cakra Buana membentuk cakar harimau. Jari-jarinya menjadi keras bagaikan baja. Jangankan tubuh manusia, batu pun bisa bolong kalau dia tusuk. Apalagi sekarang dia mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Tetapi Dewa Tapak Racun juga bukanlah lawan mudah. Dia terkenal dengan semua serangannya yang mengandung racun ganas. Bahkan orang yang dapat menyembuhkannya bisa dihitung jari.
Dalam pertarungan itu, diam-diam Cakra Buana sudah melindungi seluruh bagian tubuhnya, sehingga dia tidak terlalu khawatir dengan racun. Oleh sebab itulah Pendekar Maung Kulon bisa bergerak lebih lelusa.
Kedua tangannya dikembangkan, sekali sentak, tubuhnya meluncur deras memberikan serangan kepada lawan. Kedua tangannya mulai bergerak mencari sasaran. Semua pergerakan Cakra Buana adalah jurus tingkat atas, bahkan Dewa Tapak Racun sendiri tidak berani gegabah saat melawannya.
Serangan itu datang bagaikan air bah, Dewa Tapak Racun mulai bertindak. Tubuhnya berkelit ke samping kanan dan kiri menghindari cakaran Cakra Buana. Begitu ada kesempatan, kedua tangannya langsung memberikan serangan balasan.
Namun dengan mudahnya Dewa Tapak Racun berkelit. Tangan kirinya dia ayunkan ke atas memukul sikut Cakra Buana.
"Plakk …"
Pendekar Maung Kulon tersentak ke belakang dua langkah. Tangan yang terkena serangan lawan terasa lumpuh beberapa saat.
Sepertinya Dewa Tapak Racun tidak mau memberikan kesempatan kepada Cakra Buana, maka begitu Pendekar Maung Kulon tersentak, dia langsung melancarkan jurus susulan lainnya.
Serangan dua tapak beracun kembali menghantui Cakra Buana. Kali ini datangnya lebih cepat dan mengerikan. Sepertinya dia sudah mengeluarkan seluruh kemampuan.
Tubuhnya melesat seperti anak panah kelas dari busur, kedua tangannya memukul berbagai titik penting di tubuh Cakra Buana. Kakinya mulai turut serta mewarnai pertarungan.
Kedua pendekar mulai bertarung lebih serius. Serangan yang meraka lancarkan membuat siapapun yang melihat menjadi bergidik ngeri.
Julukan Dewa Tapak Racun memang bukan bualan belaka. Setiap jurus yang dikeluarkan selalu menebarkan bau busuk yang menyengat hidung. Cakra Buana sendiri beberapa kali hampir celaka jika dia tidak berhati-hati.
Untungnya dia sudah pengalaman bertarung dengan seorang pendekar ahli racun. Karena alasan itulah Pendekar Maung Kulon tahu kapan waktu yang tepat untuk menangkis dan menghindar.
__ADS_1
Di sisi lain, Prabu Katapangan juga sudah bertarung sengit melawan Dewa Pedang Kembar. Keduanya telah mengeluarkan senjata andalannya masing-masing. Prabu Katapangan dengan Panah Raden Arjuna, sedangkan lawan menggunakan pedang kembar.
Benturan benda keras terdengar beberapa kali saat mereka bertukar serangan. Gerakan keduanya sangat sulit diikuti oleh mata telanjang. Bagi mereka pendekar kelas menengah pun, mungkin tidak bisa menyaksikan pertarungan ini dengan jelas.
Saat ini Prabu Katapangan sedang berada dalam posisi bertahan. Panah Raden Arjuna bergerak menangkis semua serangan lawan. Panah itu berkelebat kemudian memutar.
Dewa Pedang Kembar merasa kesulitan untuk menembus pertahanan yang kokoh bagai benteng tersebut. Tetapi dia tidak kehilangan akal, pedang di tangannya dia sabetkan dari kanan ke kiri mengarah ke leher. Sedangkan pedang yang di tangan kiri bergetar ujungnya sambil memberikan tusukan mematikan.
Datangnya serangan itu terjadi sangat cepat sekali. Tahu-tahu dua pedang sudah tiga jengkal lagi kayaknya.
Prabu Katapangan mengambil tindakan, dia kembali memutarkan Panah Raden Arjuna yang terkenal dengan kerasnya.
"Trangg …"
Sabetan pertama berhasil di tangkis.
"Trangg …"
Tusukan kedua pun bisa dilalui. Tetapi siapa sangka, begitu serangannya gagal, Dewa Pedang Kembar kembali menyerang.
"Dua Pedang Menari di Awan …"
"Wutt …"
Dua pedangnya berputar cepat. Tubuh Dewa Pedang Kembar tertutup oleh sinar pedang yang dia ciptakan sendiri. Gerakannya indah dan mematikan.
Prabu Katapangan merasa sedikit kewalahan karena lawan menyerang tanpa jeda. Terpaksa dia terus menggerakan Pedang Panah Arjuna terus-menerus.
Di saat seperti itulah, Panah Raden Arjuna mengeluarkan taringnya. Panah itu mencelat ke atas, Prabu Katapangan sendiri ikut melompat.
Begitu panahnya sudah digenggam, dia langsung mengeluarkan jurus mautnya.
"Anak Panah Menembus Gunung …"
"Wutt …"
Tiga anak panah melesat ke arah Dewa Pedang Kembar. Anak panah itu mengeluarkan suara desingan angin tajam dan memburu.
__ADS_1