
Ayu Pertiwi memilih berdiam diatas sebuah dahan pohon kihujan untuk menunggu kembalinya Cakra Buana. Letaknya tidak jauh dari kediaman adipati Surya Wilaloni, jadi tentu saja pemuda serba putih itu bisa menemukannya dengan mudah, pikirnya.
Di kediaman adipati Surya Wilaloni, kini Cakra Buana sudah dikepung oleh orang-orang disana. Para prajurit sudah melingkari dirinya. Tiga tokoh sakti pun sudah ada dihadapannya, yaitu Ki Jangkung, Ki Begang, dan adipati Surya Wilaloni sendiri.
Ketiga pendekar itu sangat marah kepada Cakra Buana ketika melihat Ayu Pertiwi bisa lolos dari sana. Masing-masing senjata pusaka merka sudah digenggam dengan erat.
Ki Begang sudah memutar-mutarkan cambuk beracun, Ki Jangkung sudah memegang belati kembarnya dan siap menyayay-nyayat Cakra Buana. Sedangkan adipati Surya Wilaloni sudah siap dengan keris pusaka luk sembilan miliknya.
"Keparat jahanam!!! Kau pikir bisa menang melawan kami bertiga heh? Sehingga dengan beraninya kau melepaskan temanmu itu," bentak adipati Surya.
"Tidak, aku menyuruh dia pergi hanya karena aku tak mau dia melihat kalian tewas ditanganku," ucap Cakra Buana sambil tersenyum sinis.
Bukan main marahnya tiga tokoh itu mendengar perkataan Cakra Buana. Wajah merka semakin memerah dan sorot matanya memperlihatkan kebencian yang mendalam.
"Bocah sombong. Buah jatuh memang selalu tak jauh dari pohon. Gurunya pengkhianat dan tak tahu tatakrama, ternyata muridnya juga sama. Menyedihkan …" ejek adipati Surya Wilaloni.
"Tutup mulutmu Surya. Jangan berani sekali-kali lagi kau menyebut nama guruku dengan mulut busukmu. Kau pikir aku takut karena kau seorang adipati? Jangan mimpi. Tunggu apalagi? Ayo kita mengadu nyawa!!!" tantang Cakra Buana.
Nada bicara pemuda serba putih itu menjadi berbeda, tidak seperti sebelumnya. Tentu saja, murid mana yang akan terima jika gurunya dihina didepan mata kepala sendiri?
"Lancang sekali mulutmu. Jangan salahkan aku jika kerisku menusuk jantungmu …" kata adipati Surya Wilaloni langsung menyerang maju.
Adipati itu langsung menggerakkan keris luk sembilannya dengan cepat. Keris itu seolah-olah sudah siap untuk menusuk-nusuk jantung Cakra Buana.
Tidak sampai disitu saja, Ki Begang dan Ki Jangkung pun sudah turut andil dalam pertarungan tersebut. Para prajurit masih berkumpul disana menantikan perintah dari junjungannya.
Kecepatan gerakan ketiganya hampir sama, keris luk sembilan menyerang dari depan dengan sasaran jantung.
Belati kembar Ki Jangkung sudah siap menyayat leher Cakra Buana. Sedangkan cambuk beracun Ki Begang, siap untuk menampar seluruh tubuh pemuda serba putih itu.
Cakra Buana sudah memperkirakan hal ini, maka dengan mudahnya Pedang Pusaka Dewa dia gerakkan untuk menangkis tiga serangan bersama itu.
"Trangg …"
"Trangg …"
"Trangg …"
Keempat senjata pusaka berbenturan menimbulkan percikan kembang api yang indah namun mengancam.
Keempatnya terpundur beberapa langkah, mereka kembali menyerang Cakra Buana sekaligus setelah bertumpu pada kaki lalu meloncat ke depan.
__ADS_1
Baru beberapa saat saja, keempat pendekar itu sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit dan menegangkan.
Tombak, belati, dan cambuk terus mengincar bagian terlemah Cakra Buana. Tapi dengan mudahnya pendekar muda itu menghindari semua serangan.
Cakra Buana melompat mundur ke belakang lalu kembali menyerang. Gerakannya berubah total, tidak seperti tadi. Kali ini dia tidak mau bermain-main lagi.
Dia langsung mengerahkan jurus kedelapan dari ajaran Kitab Dewa Bermain Pedang.
"Dewa Pedang Mengoyak Gunung …"
Pedang Pusaka Dewa sudah tidak nampak. Yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan hitam menggulung ketiga musuhnya.
Jika satu lawan satu diantara mereka bertiga, tentu saja setidaknya Cakra Buana sudah bisa mendesak lawan.
Akan tetapi karena pertarungan ini berat sebelah, maka jurus Dewa Pedang Mengoyak Gunung tidak terlalu memberikan efek. Padahal pamor pedangnya sudah keluar dan menekan lawan.
Hal ini terjadi karena tak lain ketiga pendekar itu mampu bekerjasama dengan sangat baik. Tak mau kalah dengan Cakra Buana, ketiga lawannya pun turut mengeluarkan jurus andalan mereka.
"Keris Pamungkas Naga Siliwung …"
"Belati Kembar Ular Terbang …"
Keris adipati Surya Wilaloni bergerak semakin cepat. Keris itu mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata Cakra Buana.
Belati kembar milik Ki Jangkung sudah digerakkan. Kedua belati itu meliuk-liuk seperti dua ekor ular yang siap mematuk mangsa.
Lain lagi dengan cambuk beracun Ki Begang, dia menyabetkan cambuknya dengan hebat. Setiap sabetan itu mengeluarkan bunyi yang mampu memecahkan gendang telinga. Bahkan hawa beracun dari cambuk itu semakin terasa menyengat hidung.
Menghadapi tiga serangan tingkat tinggi sekaligus, tentu Cakra Buana kerepotan juga. Apalagi yang mengeluarkannya tokoh-tokoh rimba persilatan.
Semakin lama jurus Cakra Buana semakin bisa ditahan. Bahkan saat ini dia hanya bisa bertahan tanpa mampu membalaskan serangan.
"Murka Sang Dewa …"
"Wuttt …"
Tiba-tiba Cakra Buana mampu mementalkan semua serangan musuh sedang berusaha mendesak dirinya.
Cakra Buana seperti kalap, dia baru saja mengeluarkan jurus terakhir dari Kitab Dewa Bermain Pedang. Ini kali pertama dirinya menggunakan jurus itu.
Cakra Buana merasa betapa tangannya seperti begerak sendiri. Bahkan seolah dia tidak bisa mengendalikannya, Pedang Pusaka Dewa mengeluarkan pamor dalam tingkat maksimal.
__ADS_1
Pedang itu mengeluarkan asap kehitaman yang membuat lawan semakin tertekan. Ketiga pendekar itu sangat terkejut melihat jurus yang hebat ini.
Baru beberapa gebrakan saja, Ki Begang, Ki Jangkung, dan adipati Surya Wilaloni terpental sejauh dua tombak ke belakang. Senjata mereka hampir terlepas, dada mereka terasa sesak.
Ketiganya menggeram dengan marah. Mereka berusaha untuk bangkit lagi.
"Keris Maut Naga Siliwung …"
"Belati Kembar Menyayat Samudera …"
"Cambuk Anantaboga …"
"Wuttt …"
Tiga pendekar itu kembali maju menyerang dengan jurus-jurus terakhir mereka sambil diselingi serangan jarak jauh tenaga dalam.
Dentingan keras akibat benturan senjata pusaka semakin memekakkan telinga. Percikan api terus terlihat tiada henti.
Ketiga pendekar semakin menggila. Serangan mereka semakin ganas. Cakra Buana pun sama halnya, tangannya benar-benar tidak bisa dikendalikan.
Seolah tangannya itu digerakkan oleh sesuatu tak kasat mata. Keempatnya bertarung dengan hebat, bagaikan tiga ekor singa mengeroyok seekor harimau.
Ketika Cakra Buana melayani Ki Jangkung dan adipati Surya Wilaloni, tiba-tiba saja Ki Begang melompat ke belakang lalu dengan cepat mengayunkan cambuknya.
"Wuttt …"
"Tarrr …"
"Ahhh …"
Cambuk beracun milik Ki Begang berhasil mengenai punggung Cakra Buana. Bajunya koyak, ada bekas luka yang menghitam disana. Hawa panas segera menyerang tubuhnya.
Hanya beberapa kejap saja, dia dalam posisi terdesak kembali. Hawa panas semakin menyerang dirinya, wajahnya sudah pucat. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.
"Brettt …"
"Ahhh …"
Belati kembar milik Ki Jangkung berhasil merobek lengan kanan Cakra Buana. Seketika itu juga dia jatuh berlutut.
Para prajurit sudah berkumpul siap menangkap. Ketiga lawanya sudah berdiri menentang didepannya. Tapi sebelum semuanya terjadi, tiba-tiba Cakra Buana berteriak keras. Kepalanya dia tengadahkan ke langit.
__ADS_1