
Tak terasa seminggu sudah berlalu semenjak kedatangan Cakra Buana ke Kerajaan Tunggilis. Selama seminggu itu, Cakra Buana dan Ling Zhi diperlakukan dengan sangat baik. Apalagi setelah Prabu Katapangan mengumumkan siapa kedua pendekar muda itu.
Tentu saja takkan ada yang berani macam-macam. Semua orang yang ada di lingkup Istana Kerajaan, menaruh rasa hormat dan rasa segan kepadanya.
Hubungan Cakra Buana bersama keluarganya semakin bertambah erat. Apalagi dengan anak dari Prabu Katapangan yaitu Raden Kalacakra Mangkubumi. Keduanya sangat cocok. Dua pria tampan dan gagah.
Bahkan dayang-dayang istana pun diam-diam menaruh hati kepada Cakra Buana. Tapi untuk mengungkapkannya, mereka pun sadar diri.
Begitu juga dengan Ling Zhi, wanita itu amat disegani dan banyak disukai baik oleh pria maupun wanita. Dia dikenal dengan wanita yang ramah serta lembut. Bahkan hubungan dengan Ratu Dewi Nila Ningrum pun sudah sangat dekat. Seperti anak kepada ibunya.
Saat ini hari sore hari. Keadaan di istana damai seperti biasanya. Orang-orang penting Istana Kerajaan sedang makan bersama. Termasuk Cakra Buana sendiri.
Cakra Buana makan sedikit buru-buru sebab teringat akan janjinya kepada Pengusa Gunung Waluh. Hari ini adalah tepat seminggu, artinya nanti alam merupakan bulan purnama.
"Paman, maafkan aku. Aku harus pergi dulu, aku ada janji bersama kawanku," bisik Cakra Buana kepada Prabu Katapangan.
"Baiklah. Jangan lama-lama," jawab Prabu Katapangan. Dia sedikir curiga, hanya saja hal itu tidak di ungkapkan.
Cakra Buana dan Ling Zhi undur diri dari acara makan bersama tersebut. Keduanya langsung pergi bersiap-siap. Setelah semuanya beres, mereka langsung menuju ke kandang kuda.
"Paman, berikan aku dua kuda terbaik," kata Cakra Buana kepada penjaga kandang kuda.
"Baik den. Mohon tunggu sebentar," jawabnya.
Beberapa saat kemudian, penjaga kandang kuda itu sudah membawakan dua kuda putih yang kekar. Tanpa menunggu lagi, Cakra Buana dan Ling Zhi langsung menaiki kuda itu lalu menghentakkan tali kekang. Mereka berdua langsung berlari dengan kudanya dengan sangat cepat.
###
Hari sudah hampir tengah malam ketika Cakra Buana dan Ling Zhi tiba di Perguruan Gunung Waluh. Ternyata perguruan itu lumayan besar.
Di belakang perguruan, ada sebuah gunung yang unik. Gunung itu berbentuk waluh jika dipandang sekilas. Maka dari itulah gunung tersebut diberi nama Gunung Waluh.
Kedua pasangan muda itu tiba di pintu gerbang perguruan. Di sana ada empat orang penjaga yang sedang bicara dengan rekannya.
"Sampurasun …" kata Cakra Buana
__ADS_1
"Rampes. Siapa kamu malam-malam seperti ini datang kemari?" tanya salah seorang penjaga.
"Siapa aku tidak ada urusannya denganmu. Aku di undang ulah guru besar kalian. Minggirlah!" kata Cakra Buana menyuruh mereka untuk minggir.
"Tidak bisa. Beritahukan dulu kau siapa, baru boleh lewat," katanya ngotot.
"Buka pintunya. Biarkan dia masuk, jangan halangi tamu kehormatan itu," terdengar suara dari dalam yang serak parau.
Seketika, para penjaga gerbang pun mengikuti perkataan suara tadi. Mereka langsung membuka gerbang dan mempersilahkan masuk kepada Cakra Buana dan Ling Zhi.
Kini keduanya sudah masuk ke dalam Perguruan Gunung Waluh. Ternyata di sana semuanya sudah siap. Arena pertarungan sudah di tentukan. Di setiap pojok di pasang obor yang menyala dengan terang. Para murid perguruan sudah berjejer membentuk lingkaran besar.
Di sebuah mimbar, ada seorang pria tua dengan dua orang pria di kanan kirinya. Dilihat dari penampilan, sepertinya dialah Penguasa Gunung Waluh.
"Selamat datang di perguruanku. Aku kira kau tidak berani datang," kata Penguasa Gunung Waluh sambil tersenyum mengejek.
"Terimakasih atas sambutannya. Maaf kalau aku sedikir terlambat, ada urusan yang harus aku selesaikan lebih dulu" kata Cakra Buana.
Pengusa Gunung Waluh lalu melompat. Sekali hentakan, pria tua itu sudah berdiri dengan jarak tiga tombak di depan Cakra Buana. Dua muridnya mengikuti dari belakang.
"Tentu saja aku akan datang. Karena aku bukan pengecut," jawab Cakra Buana.
"Bagus, bagus. Berarti kau sudah siap menerima kematianmu? Hahaha …"
"Hemmm … kau tidak salah bicara? Aku atau kau yang akan mati?" Cakra Buana sengaja mengejeknya supaya lawan segera dikuasai oleh nafsu.
"Ternyata memang benar ucapan anak buahku. Kau seorang pendekar muda yang sombong dan terlalu percaya diri. Hemmm … apakah mulutmu sesuai dengan ilmumu?"
"Ternyata memang benar juga. Kau ini adalah seorang kakek tua bau tanah yang arogan. Bahkan terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri,"
"*******. Jaga bicaramu sebelum kuremukkan rahangmu," teriak seorang murid Penguasa Gunung Waluh.
"Diam kau. Kau bukan lawanku, tak perlu banyak bicara. Cukup diam dan dengarkan perkataan aku dan gurumu,"
"Bedebah. Lihat serangan …"
__ADS_1
"Wuttt …"
Murid Penguasa Gunung Waluh menyerang Cakra Buana secara tiba-tiba. Kedua tangannya membentuk tapak. Ada hawa panas dari balik telapak tangan itu. Di lihat dari segi kecepatan, agaknya dia ini lebih hebat dari Jalabra si Bayangan Hitam.
"Plakkk …"
Cakra Buana menahan serangan itu dengan telapak tangannya. Murid Penguasa Gunung Waluh itu langsung terpental dua langkah. Tangannya terasa bergetar hebat. Bahkan mati rasa untuk beberapa saat.
'Gila, ilmunya memang tinggi. Padahal aku sudah mengeluarkan separuh kekuatanku. Tapi dengan mudahnya dia bisa menahan, ah mungkin hanya kebetulan,' batin orang itu tak menyangka.
"Kau terlalu gegabah Tapak Maut. Kau kira dia seperti yang kau pikirkan?"
"Diam kau Setan Golok," kata si Tapak Maut sedikit membentak kepada rekannya yang berjuluk Golok Setan.
"Hebat, hebat. Kekuatanmu memang bukan omong kosong belaka. Apakah kau ingin mengalahkan dua muridku ini lebih dulu? Atau kau ingin langsung melawan aku?" tanya si Penguasa Gunung Waluh sambil sedikit mengejek Cakra Buana.
"Cih … banyak mulut. Sekaligus bertiga pun akan aku ladeni. Orang-orang seperti kalian hanya besar mulut saja," ucap Cakra Buana tak mau kalah.
"Setan alas. Guruku terlalu tinggi untuk menghajarmu. Terima ini …" si Golok Setan berteriak lalu mengirimkan serangan jarak jauh.
"Wuttt …"
Selarik sinar merah keluar dari telapak tangannya langsung mengarah kepada Cakra Buana. Pendekar Maung Kulon itu tidak tinggal diam. Dia pun menggerakan kedua tangannya ke depan.
"Desss …"
"Blarrr …"
Dua tenaga dalam bertemu di pertengahan jalan. Ledakan cukup keras terdengar saat itu juga. Cakra Buana tidak mengeluarkan seluruh tenaganya, dia hanya menggunakan secukupnya. Tapi akibat yang ditimbulkan lumayan membuat lawan terkejut. Si Golok Setan bahkan sampai terpundur satu langkah ke belakang.
"Kadal buntung …, hiyaa …"
Golok Setan dan Tapak Maut langsung melompat ke depan menerjang Cakra Buana. Keduanya menyerang secara bersama-sama. Ling Zhi memilih memisahkan diri. Ia berdiri di samping arena pertarungan.
Golok Setan dan Tapak Maut sudah melancarkan serangan-serangan ganas kepada Cakra Buana. Keduanya menyerang dengan kekuatan penuh yang mereka miliki.
__ADS_1