Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Segerombolan Serigala Yang Lapar


__ADS_3

Orang-orang yang berkumpul di sana belum ada yang bergerak. Bahkan tidak ada yang bicara sama sekali. Agaknya kalau ada jarum yang jatuh, pasti akan terdengar dengan jelas.


Sebab saat ini, dunia seolah berhenti berputar. Angin menghilang. Suara binatang yang biasanya ramai menyambut pagi, saat ini mereka menghilang entah kemana.


Yang ada hanyalah kesunyian. Yang ada hanyalah ketegangan. Terlebih bagi Cakra Buana.


Pendekar Maung Kulon itu semakin merasa gentar. Apalagi setelah merasakan tekanan yang diberikan oleh empat datuk dunia persilatan semakin menekan dirinya. Benar-benar merepotkan.


Empat datuk dunia persilatan bukan lain adalah mereka yang menguasai rimba hijau. Mereka rata-rata sudah berusia lanjut. Sayangnya keempat datuk tersebut berada pada jalan yang salah.


Jika mereka sudah turun gunung, maka dunia persilatan semakin kacau. Sebab datuk persilatan yang beraliran putih lebih sedikit jumlahnya, paling hanya dua orang saja. Itu pun sudah mengundurkan diri dari dunia yang penuh pertarungan ini.


Mereka sangat jarang bahkan mungkin tidak lagu sudi untuk turun tangan kembali. Kecuali memang keadaan sudah benar-benar di luar kendali.


Satu dari keempat datuk tersebut merupakan seorang perempuan tua. Sedangkan sisanya pria.


Empat datuk tersebut masing-masing memiliki julukan, yaitu Dewi Maut, Kera Gila, Tengkorak Muka Putih, dan Raja Sembilan Nyawa.


Entah siapa yang terkuat di antara mereka. Yang jelas, setiap datuk rimba hijau, pasti memiliki ajian-ajian yang mampu membunuh lawan dengan mudah. Pengalaman mereka pun sudah luas, dan pertarungan yang sudah mereka lalui pastinya tak terhitung lagi.


Karena alasan itulah Cakra Buana merasa gentar dan tidak yakin akan selamat dari "jeratan maut" saat ini. Jika harus menghadapi satu atau dua orang, mungkin dia masih sanggup meskipun harus mati-matian.


Tapi jika menghadapi semua datuk dalam sekaligus, dan belum lagi di tambah enam pendekar lainnya, maka sangat mustahil bagi Cakra Buana bisa selamat.

__ADS_1


"Apakah kau yang bernama Cakra Buana?" tanya salah seorang dari enam pendekar.


Dia merupakan pria tua bertubuh kurus dengan kumis melintang. Di pinggangnya terselip sebatang golok yang besar. Wajahnya angker, mencerminkan bahwa dia merupakan orang yang biasa bertindak kasar.


"Benar. Aku Cakra Buana, apa yang ingin kalian inginkan dariku?" tanya Cakra Buana sambil mencoba menekan perasaan gentar di hatinya.


"Aku yakin kau sudah tahu maksud kedatangan kami kemari. Lebih baik kau menyerah dan serahkan Pedang Pusaka Dewa secara baik-baik," kata pria kurus tersebut.


"Jadi memang kalian ingin nyawaku dan Pedang Pusaka Dewa ya? Hemmm … baik, baik. Lalu, bagaimana dengan datuk-datuk ini? Apakah kalian juga mempunyai niat yang sama? Atau ada niat lain?" tanya Cakra Buana kepada empat datuk rimba hijau.


Nadanya seolah dia tidak takut sama sekali, bahkan agak tinggi seperti sedikit menantang. Padahal kenyataannya, Pendekar Maung Kulon itu sedang menutupi rasa gentarnya.


"Tenang saja bocah, kami tidak akan turun tangan. Kami kesini hanya ingin melihat kemampuanmu saja, karena menurut kabar yang beredar, kau itu sangat hebat," kata Dewi Maut, satu-satunya datuk rimba hijau berjenis kelamin perempuan.


Tapi meskipun begitu, Cakra Buana tidak mau panjang lebar. Dia hanya mengiyakan saja, meskipun sebenarnya dia tahu maksud dari tujuan empat datuk itu tentu saja ingin merebut juga Pedang Pusaka Dewa yang kini tersimpan rapi di punggungnya.


Hanya saja untuk saat ini mereka seolah tidak mau ikut campur. Sebab dalam dunia persilatan, seorang tokoh selalu memiliki harga diri yang tinggi. Jika para pendekar tahu bahwa empat datuk menyerang seorang pemuda, apa kata dunia?


Tentu saja mereka tidak mau melakukan hal tersebut. Kecuali kalau memang keadaan memaksa.


"Baiklah, jika memang kalian menginginkan nyawaku dan Pedang Pusaka Dewa, silahkan rebut jika mampu," kata Cakra Buana menantang keenam pendekar yang daritadi sudah siap untuk menyerang.


Setelah berkata demikian, Cakra Buana lalu mengambil sikap kuda-kuda yang kokoh. Kaki kanannya maju selangkah ke depan, kaki kiri ditarik ke belakang dan ditekuk sedikit.

__ADS_1


Kedua tangannya sudah siap dengan tenaga yang besar. Tanpa berlama-lama, seluruh tenaga dalamnya langsung di salurkan ke seluruh tubuh. Segenap kemampuannya langsung dia kerahkan, sebab kali ini bukan waktu untuk bermain-main lagi.


Keenam pendekar pun sama. Mereka mengambil sikap kuda-kuda dengan caranya masing-masing. Keempat datuk rimba hijau melompat beberapa langkah ke belakang. Mereka ingin menyaksikan pertarungan para generasi muda yang sebentar lagi akan segera terjadi.


Mentari pagi semakin meninggi. Suasana di sana semakin mencekam ketika berbagai macam aura mulai keluar dari tubuh masing-masing para pendekar.


Keenam pendekar itu terlihat seperti segerombolan serigala yang lapar. Sedangkan Cakra Buana bagaikan seekor kijang, di kepung dari berbagai sisi tanpa celah. Tapi meskipun begitu, Pendekar Maung Kulon tersebut sudah siap menanggung resikonya.


"Wuttt …"


Keenam pendekar bergerak secara bersamaan. Mereka melompat dari berbagai sudut mengincar bagian-bagian tubuh Cakra Buana. Desingan angin tajam mulai terdengar ketika senjata-senjata mereka di arahkan kepada Cakra Buana.


"Wuttt …"


"Trangg … trangg … trangg …"


Dunia seolah terhenti seketika itu juga. Semua pendekar yang ada disana langsung terkejut. Bahkan para datuk rimba hijau pun sama. Sebab rasanya baru kali ini mereka melihat ada seorang pendekar muda yang seperti Cakra Buana.


Bagaimana tidak, keenam pendekar itu bukanlah pendekar sembarangan. Rata-rata mereka adalah pendekar pilih tanding. Setiap serangan mereka bisa saja membunuh dua atau tiga nyawa sekaligus. Tapi kali ini, serangan yang biasanya mampu membuat mental lawan terjatuh, seolah tidak ada artinya di hadapan seorang pendekar bernama Cakra Buana.


Serangan mereka berhasil digagalkan. Entah bagaimana caranya, karena begitu dia bergerak, tiba-tiba saja keenam senjata seolah tertarik sebuah magnet. Sedangkan Cakra Buana sendiri berputar beberapa kali lalu berdiri di atas keenam senjata yang kini bersatu menjadi tumpuannya.


"Anak ini memang luar biasa. Berita yang tersebar ternyata bukan omong kosong," gumam seorang pria tinggi dengan pakaian serta kulit berwarna hitam, dialah si Naga Hitam Dari Barat. Dia cukup terpukau ketika menyaksikan kehebatan Cakra Buana.

__ADS_1


"Kau benar Naga Hitam. Tapi mari kita lihat lebih jauh saja sampai di mana kekuatan bocah itu," sahut Kera Gila. Seorang kakek yang dipenuhi dengan bulu layaknya seekor kera.


__ADS_2