
Kesepuluh orang utusan tersebut tidak menolak. Mereka akhirnya menuju ruang makan. Setelah makan, Prabu Katapangan Kresna membawa kembali tamunya itu ke ruangan utama.
Di sana tidak ada orang lain kecuali keluarga Prabu Katapangan sendiri serta Sepasang Kakek Dan Nenek Sakti. Dua tokoh tua itu memang selalu ada di sisi keluarga raja, sebab mereka merupakan orang kepercayaannya yang utama.
"Prabu, kau pasti sudah tahu bukan kedatangan kami kemari," ucap salah seorang yang diduga pemimpin dari sepuluh orang itu.
"Tentu pendekar Sandira, kami sudah tahu utusan kalian. Pasti Yang Mulia Prabu Ajiraga menyuruh Sepuluh Pendekar Saudara ini untuk menagih upeti bukan?"
"Bagus kalau memang tahu. Cepat berikan upetinya supaya kami bisa segera pulang kembali," kata seorang pendekar bernama Sandira, pemimpin dari Sepuluh Pendekar Saudara.
"Apakah Sepuluh Pendekar Suadara tidak mau bermalam dulu di sini?"
"Tidak perlu. Kami buru-buru,"
"Hemm … maaf sebelumnya. Aku lupa, upeti untuk Kerajaan Kawasenan belum aku siapkan. Bagaimana kalau kalian menunggu barang tiga hari di sini? Hitung-hitung untuk menebus kesalahanku. Sungguh, aku benar-benar lupa," kata Prabu Katapangan Kresna.
Dia memang sengaja berkata demikian supaya bisa sedikit memberikan pelajaran kepada Sepuluh Pendekar Saudara. Menurutnya, kalau tidak diberikan pelajaran pasti mereka akan selalu berbuat semena-mena. Selain itu, Prabu Katapangan juga mempunyai rencana lain untuk memulai gesekan antara Kerajaan Tunggilis dan Kerajaan Kawasenan.
"Bragg …"
Sandira menggebrak meja dengan kencang. Bahkan barang-barang yang ada di meja itu sampai melonjak.
"Kau … berani sekali menunda-nunda tugas ini. Kami bisa di marahi oleh Prabu Ajiraga. Dasar raja tak tahu diri," bentak Sandira dengan geram.
Orang-orang yang ada di samping raja naik darah. Hampir saja nereka menyerang utusan kerajaan itu, untungnya sang prabu segera memberikan perintah untuk tidak bertindak. Sehingga mereka tak jadi menyerang.
"Baik, baik. Aku minta maaf, sudah kukatakan bahwa aku sungguh lupa. Biarlah nanti aku yang bertanggungjawab kalau Yang Mulia Prabu Ajiraga marah kepada kalian," ucap Prabu Katapangan Kresna.
Wajah Sepuluh Pendekar Saudara nampak geram. Terutama Sandira. Detik berikutnya, wajah pimpinan itu tersenyum licik.
"Baik, kami akan menunggu selama tiga hari. Asalkan kau beri lebih jatah upeti itu untuk kami. Hitung-hitung upah menunggu," kata Sandira.
"Baik. Aku akan memberikan jatah untuk kalian juga,"
"Bagus. Kami akan menunggu di penginapan kotaraja. Tiga hari lagi kami akan kembali ke sini," kata Sandira sambil melangkah pergi tanpa permisi.
"Silahkan pendekar. Kalian bebas makan dan minum di sana, biar nanti aku yang membayar semuanya," ucap Prabu Katapangan.
Sepuluh Pendekar Saudara tidak mengindahkan ucapan raja itu. Mereka langsung berjalan ke luar untuk menuju ke penginapan yang dimaksud.
__ADS_1
Setelah utusan Kerajaan Kawasenan di pastikan keluar dari istana, Prabu Katapangan Kresna dan yang lainnya berjalan kembali ke ruangan belakang.
"Paman, aku sudah tidak tahan lagi. Berani sekali mereka berkata seperti itu padamu," kata Cakra Buana. Wajahnya memerah dan matanya mencorong memancarkan kemarahan.
"Tidak masalah Cakra. Aku punya rencana, eh … apakah kau mendengar semua yang aku bicarakan?"
"Tentu saja. Bahkan aku mendengarkan dengan jelas," tegas Cakra Buana masih belum reda amarahnya.
Prabu Katapangan di buat tertegun. Masalahnya jarak ruangan utama ke ruangan belakang itu cukup lumayan. Tapi anehnya, keponakannya tersebut ternyata mampu mengetahui semuanya.
"Tunggu, bagaimana caranya kau bisa melakukan hal itu Cakra?"
"Karena aku punya Ajian Saptapangrungu paman," jawab Cakra Buana jujur.
"Hah?? Kau … kau punya ajian itu?"
Cakra Buana hanya mengangguk sambil tersenyum. Paman dan keponakan itu ternyata kompak, mereka bisa saling mengagetkan satu sama lainnya. Karena tidak mau membahas panjang lebar, akhirnya Cakra Buana angkat bicara terkait Sepuluh Pendekar Saudara.
"Paman, rencana apa yang kau maksudkan tadi?"
"Hemm, begini … aku tahu bahwa Sepuluh Pendekar Saudara sangat gila wanita, bahkan menurut kabar, mereka itu merupakan pendekar cabul. Entah sudah berapa banyak anak gadis yang di renggut olehnya,"
"Keparat …"
"Ah, maaf paman. Silahkan teruskan," ucap Cakra Buana.
"Nah maksudku, mereka itu kan menginap di penginapan kotaraja. Kita beri pelajaran mereka. Dalam hal ini Ling Zhi sebagai pelaku utama. Dia harus berpura-pura seperti seorang pendekar wanita yang sedang mengembara. Ling Zhi harus masuk ke penginapan itu dengan alasan pura-pura pesan makan. Melihat kecantikannya, Sepuluh Pendekar Saudara pasti akan tergoda. Nah di saat itu, Ling Zhi harus pura-pura takut atau menghindar ke tempat sepi. Di tempat sepi itu barulah kau dengan kekasihmu ini berikan sedikit pelajaran kepada mereka. Tapi ingat, jangan sampai di bunuh dulu,"
"Tapi paman, apakah kau yakin cara ini akan berhasil? Dan kalau Ling Zhi terluka, bagaimana?"
"Kau tenang saja. Aku bisa mengukur sampai di mana kekuatan Sepuluh Pendekar Saudara itu. Ling Zhi sanggup menghadapi mereka untuk beberapa saat. Ketika nanti Ling Zhi mulai terdesak, barulah kau muncul dan bantu kekasihmu ini. Tapi kau jangan perlihatkan siapa dirimu, kau harus menutupi wajahmu,"
"Baik, kita berangkat sekarang juga. Aku sudah tidak sabar lagi," ucap Cakra Buana 'keukeuh'.
"Hahh … baiklah, baiklah. Kau dari kecil memang keras kepala," kata Prabu Katapangan sambil tersenyum simpul.
"Terimakasih paman. Ayo Ling Zhi, kita hajar mereka," ajak Cakra Buana.
Ling Zhi hanya mengangguk tanda setuju. Keduanya lalu pergi untuk memberikan pelajaran kepada Sepuluh Pendekar Saudara. Tak lupa juga Prabu Katapangan menyuruh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti untuk mengawasi Cakra Buana. Dia khawatir keponakannya berbuat berlebihan.
__ADS_1
Sepuluh Pendekar Saudara baru saja tiba di penginapan yang cukup besar. Penginapan itu terletak di tengah kotaraja. Saat malam seperti ini, penginapan memang pasti ramai. Bahkan kehidupan di kotaraja jauh lebih ramai. Yang tidak ada di desa-desa, pasti ada di kotaraja.
"Pelayan, siapakan sepuluh kamar mewah. Dan untuk saat ini, berikan kami makanan dan minuman terbaik," pinta Sandira kepada pelayan.
Pelayan mengangguk. Dia langsung menyiapkan sesuai pesanan. Selama menunggu, Sepuluh Pendekar Saudara terutama Sandira, berjalan-jalan mengelilingi meja makan yang ditempati para gadis. Mereka mulai memperlihatkan sifat kekurangajarannya. Dan tepat pada saat itu, Ling Zhi masuk ke restoran untuk melancarkan rencananya.
"Pelayan, berikan aku nasi ayam bakar ya," kata Ling Zhi memesan makanan. Suaranya dia buat semerdu mungkin dan agak kencang. Ini bertujuan supaya target mendengarnya.
Dan rencananya berhasil. Sepuluh Pendekar Saudara mulai mendekati meja yang di duduki Ling Zhi. Mereka mengelilingi gadis cantik tersebut dan mulai menggodanya.
"Nona manis, apakah kau sendirian?" tanya salah satu dari Sepuluh Pendekar Saudara.
"Apakah aku kelihatan berdua?" jawab Ling Zhi sedikit ketus.
"Ah, ternyata dia wanita yang galak," bisik yang lainnya.
"Mari kita makan bersama saja nona. Kebetulan meja kami masih ada kursi kosong, kau bisa duduk di sampingku," kata Sandira mulai menggoda.
"Terimakasih pendekar. Tapi aku tidak mau," jawab Ling Zhi sedikit ramah.
"Jangan menolak ajakanku manis. Marilah ikut aku," goda Sandira semakin bertindak kurang ajar. Dia mulai memegangi kedua pundak Ling Zhi. Bahkan sampai mencubit pelan dagunya.
Pada awalnya Ling Zhi memang masih menjalankan rencana. Tapi lama kelamaan gadis itu mulai lepas kontrol karena sikap sepuluh utusan itu semakin kurang ajar.
"Sekali lagi kau menyentuhku, jangan salahkan aku kalau sampai bertindak," kata Ling Zhi sambil menatap tajam.
"Aih kau benar-benar ganas cantik," kata Salindra yang berniat memegang dagu Ling Zhi lagi.
Tapi sebelum tangannya sampai ke dagu, Ling Zhi langsung menamparnya dengan keras.
"Plakkk …"
Pipi kanan Salindra seketika memerah. Suasana di sana mendadak ricuh. Ada yang tertawa, ada juga yang bergidik ngeri melihat keganasan Ling Zhi.
"*******. Kau berani menamparku," geram Salindra.
Tanpa diduga, dari sisi kanan datang sebuah pukulan salah satu anggota Sepuluh Pendekar Saudara. Untung Ling Zhi sudah mengetahui hal itu, maka begitu tangan hampir mendekat, serta merta tangan gadis itu kembali menampar pipi lawan.
"Plakk …" kali ini tenaga yang di keluarkan lebih besar. Sehingga lawan yang ia tanpar langsung terpelanting hampir roboh.
__ADS_1
"Gadis sialan," gumamnya.
"Sekarang juga aku ingatkan kalian untuk segera kembali ke meja masing-masing. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika bertindak lebih kasar," kata Ling Zhi.