Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Hutan Larangan II


__ADS_3

Serpihan pohon yang sudah hancur berterbangan bersama burung-burung. Tiga orang serba hitam sudah dekat jaraknya dengan Pendekar Tanpa Nama.


Pedang mereka sudah di cabut dan siap untuk membabat habis pemuda bernama Cakra Buana.


Tapi sasarannya masih terlihat tenang-tenang saja. Bahkan tidak terlihat melakukan persiapan apapun. Dia hanya berdiam sambil menanti tiga lawan tiba tepat di depannya.


Begitu ketiganya tiba, Cakra Buana langsung menghindar dengan cara melompat tinggi lalu mundur ke belakang.


Tiga orang penyerang tersebut tampak kesal karena serangan gabungan mereka gagal total. Tanpa banyak tingkah, ketiganya sudah menerjang Pendekar Tanpa Nama kembali.


Untuk kali ini, Cakra Buana tidak tinggal diam. Dia tidak melompat lalu mundur seperti barusan.


Sekarang, Cakra Buana justru mulai Bertindak saat tiga pedang kembali menyambarnya.


Dengan gerakan gesit sekali, kedua tangannya telah menotok pangkal lengan tiga orang serba hitam tersebut.


Mereka terpental lima langkah. Kalau pegangan tangannya kurang kuat, sudah pasti masing-masing pedang mereka sudah jatuh.


Untung bahwa Cakra Buana tidak menyerang sepenuh tenaga. Dia hanya menggerakan kedua tangan dengan kekuatan seadanya saja.


Hal tersebut memang sengaja dia lakukan untuk menyadarkan para penyerang secara tidak langsung. Niat Pendekar Tanpa Nama justru ingin "memperpanjang" umur mereka.


Hanya saja, tiga orang anggota kelompok Organisasi Tengkorak Maut itu, tidak menyadari hal tersebut.


Bukannya meminta maaf atau pergi, mereka justru malah menyerangnya lagi.


Serangan yang datang kali ini jauh berbeda dari sebelumnya. Sebab serangan yang sekarang, mengadung lebih banyak tenaga dalam dan aura misterius.


Untungnya, lawan mereka bukanlah orang sembarangan.


Dia adalah Cakra Buana. Si Pendekar Maung Kulon ataupun yang kini biasa disebut Pendekar Tanpa Nama.


Nama besarnya sudah terkenal ke pelosok penjuru. Siapapun pasti tahu kepadanya.


Begitu mendapati serangan seperti sekarang, tentu dia tidak panik sama sekali.


Hanya dengan menambah daya tenaga dalam dan hawa sakti sedikit, baginya hal itu sudah lebih dari cukup.


Saat tiga serangan tiba. Pendekar Tanpa Nama bergerak cepat.


Lebih cepat dari pada apapun.

__ADS_1


Tubuhnya mendadak lenyap dari pandangan. Tidak ada yang dapat melihat dengan pasti. Namun kejadian berikutnya membuat tiga penuedsng tersebut tersentak kaget.


Tiba-tiba saja semua pedang mereka sudah berpindah tangan. Sedangkan mereka sendiri, kini hanya memegang ranting pohon. Ketiganya mendapatkan jatah yang sama.


"Apakah kalian mencari ini?" tanya Cakra Buana sambil memperlihatkan tiga pedang hasil rampasan.


"Ba-bagaimana kau bisa melakukan hal itu? Tanya salah seorang anggota Organisasi Tengkorak Maut.


Mereka benar-benar tidak percaya atas kejadian yang menimpanya.


"Kalian tidak perlu tahu. Tapi kalau kalian ingin kembali senjata murahan ini, ambil saja," ucap Cakra Buana.


Setelah mengucapkan kata barusan, Pendekar Tanpa Nama langsung melemparkan tiga pedang rampasan milik anggota Organisasi Tengkorak Maut tersebut.


Tiga batang pedang meluncur deras bagaikan tiga batang anak panah. Kecepatannya sangat sulit untuk diikuti mata biasa.


Bahkan ketiga anggota organisasi tersebut juga tidak dapat melihatnya dengan jelas. Mereka hanya sempat melihat seberkas cahaya putih terang melesat cepat ke arahnya.


Dan hanya sekitar dua detik kemudian, tiga anggota Organisasi Tengkorak Maut merasakan ada benda dingin menusuk tepat ke jantung mereka.


Awalnya tidak terasa apapun. Sesaat kemudian, mereka merasakan perih yang tiada terkira. Darah merah segar mulai merembes keluar. Wajah ketiganya mulai memucat.


Hingga pada akhirnya tiga orang tersebut roboh ke tanah tertusuk senjatanya masing-masing.


Cakra Buana tidak berlama-lama. Dia langsung melesat pergi kembali untuk menyusuri Hutan Larangan. Dia masih belum sepenuhnya yakin bahwa situasi sudah aman.


Sementara itu di tempat lain, Bidadari Tak Bersayap juga mengalami hal yang sama seperti Pendekar Tanpa Nama.


Gadis cantik itu bertemu dengan lima orang berpakaian serba hitam.


Kalau bukan anggota Organisasi Tengkorak Maut, siapa lagi?


Kelimanya setara dengan pendekar kelas menengah. Walaupun begitu, ternyata mereka bisa bekerjasama dengan sangat baik dan teratur.


Kini enam orang itu telah bertarung.


Lima anggota organisasi telah membagi posisi. Merela menyerang dari segala sisi. Lima batang pedang telah terhunus dan ditebas beberapa kali ke arah Bidadari Tak Bersayap.


Walaupun serangan mereka terbilang cukup hebat dan mengesankan, tetapi masih belum ada apa-apanya jika di hadapan si wanita cantik Bidadari Tak Bersayap.


Dengan gemulainya, dia mengelak dari sambaran lima serangan. Kelima pedang lawan dibuat hanya menebas tempat kosong.

__ADS_1


Kulit yang halus serta tubuh seperti gitar Spanyol itu, melenggak-lenggok anggun menghindari setiap serangan lawan.


Bidadari Tak Bersayap berpikiran sama seperti Cakra Buana. Dia tidak mau berlama-lama sebab urusannya masih banyak. Bahkan tugasnya juga belum selesai.


Begitu mengetahui sampai di mana kekuatan lima lawan, wanita cantik tersebut langsung menentukan langkah.


Pertama-tama dia melompat tinggi ke atas lalu turun menukik seperti seekor burung rajawali yang perkasa. Dia berputar sambil melancarkan serangan hebat.


Desiran angin tajam dan cukup kencang tercipta akibat serangan tersebut. Kelima anggota Organisasi Tengkorak Maut terlempar lima langkah.


Namun, mereka langsung segera bangun kembali. Sebab serangan barusan memang tidak terlalu melulai.


Di saat kelima orang tersebut menyerang dengan sabetan dan tusukan pedang, saat itu juga Bidadari Tak Bersayap sudah siap.


Dia membentangkan kedua tangannya. Sejumlah tenaga dalam sudah keluar bersama dengan hawa saktinya.


Lima serangan dari segala sisi telah tiba. Tapi pedang mereka tidak mampu untuk menembus tubuh Bidadari Tak Bersayap.


Jangankan melukai, menyentuhnya saja pun tidak bisa.


Tubuh halus itu seperti dilindungi oleh pelindung tak kasat mata.


Sedetik berikutnya, Bidadari Tak Bersayap menghentakkan kedua tangannya.


Lima orang tersebut terpental ke segala arah. Beberapa pohon jadi sasaran. Tubuh mereka terasa remuk.


Tidak ada yang dapat bangun kembali. Sebab begitu jatuh ke tanah, nyawa mereka telah melayang saking kerasnya benturan yang terjadi.


Bidadari Tai Bersayap hanya menggeleng pelan. Dia langsung melesat kembali menembus pinggiran hutan untuk memastikan keamanan di sana.


Di dalam hutan, rombongan yang dipimpin oleh Nyai Tangan Racun Hati Suci, telah hampir tiba di tengah-tengah. Mereka semua tidak mendapatkan halangan berarti sejauh ini.


Para tokoh menganggap bahwa si wanita tua itu memang sangat hapal jalur untuk menuju ke markas utama Organisasi Tengkorak Maut.


Terbukti, sejauh ini, mereka sama sekali tidak mendapatkan halangan apapun.


Semuanya lancar seperti air yang mengalir sampai jauh.


Kini, meraka sedang berhenti sebentar. Nyai Tangan Racun Hati Suci seperti sedang menyelidiki di kedalaman hutan sana.


"Jangan ada yang bergerak. Semakin kita ke dalam, semakin ketat juga penjagaannya. Bahkan, jebakan yang akan kita temui juga akan semakin banyak," kata datuk rimba hijau tersebut.

__ADS_1


Semua orang mengangguk. Namun tidak ada yang berani mengangkat suara. Karena kalau bersuara dan sampai terdengar oleh pihak musuh, habis sudah harapan mereka.


__ADS_2