Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Desa Waluh


__ADS_3

Keempat pendekar yang terpaut usia sangat jauh itu pun segera memakan ayam panggang secara bersama. Mereka menyantap ayam hutan itu dengan lahap. Terlebih lagi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Agaknya kedua tokoh tua tersebut memang sudah lapar berat. Apalagi keduanya baru lepas dari kematian. Selama menyantap ayam panggang, tak ada suara dari keempatnya. Mereka sama-sama terdiam.


"Walaupun ayam panggang ini seadanya, tapi sungguh nikmat luar bisa. Rasanya tubuhku sudah kembali segar," kata Kakek Sakti begitu selesai menyantap daging terkahir.


"Benar, ini memang lezat sekali," ucap Nenek Sakti membenarkan perkataan pasangannya.


"Syukurlah kalau kalian menikmatinya. Oh iya, kek, nek, aku rasa kita harus berdiam di sini untuk beberapa hari ke depan. Soalnya luka yang kalian derita belum pulih sepenuhnya," kata Cakra Buana yang baru saja selesai makan.


Menurut perhitungannya Cakra Buana, setidaknya Sepasang Kakek dan Nenek Sakti akan pulih tidak dalam waktu beberapa hari ke depan. Penyembuhan itu bisa berjalan lebih cepat karena kedua pendekar tua tersebut memiliki tenaga dalam dan kepandaian yang tinggi. Sehingga tubuhnya bisa pulih dari luka lebih cepat daripada manusia pada umumnya.


"Tidak perlu Cakra, besok sore kami akan pergi saja. Kami rasa, besok kondisi kami sudah lebih baik," kata Kakek Sakti kepada Cakra Buana.


"Kau yakin kakek? Lukamu sangat parah, kemungkinan kalau besok belum pulih sepenuhnya," kata Cakra Buana mengkhawatirkan dua tokoh tua itu.


"Jangan khawatir. Kami bisa menjaga diri,"


"Baiklah kalah begitu. Sekarang, mari kita istirahat," ajak Cakra Buana.


Mereka pun lalu memilih tempat tidurnya masing-masing. Keempatnya tidur berdampingan. Meskipun hanya beralaskan tanah, tapi mereka bisa tertidur dengan lelap. Udara dingin dari luar tidak bisa menembus masuk ke dalam goa, sehingga baru beberapa saat saja mereka sudah tertidur pulas karena kehangatan dari bara api yang masih sedikit tersisa.


###


Waktu terus berjalan dengan cepat tanpa berhenti. Saking betahnya kita hidup di dunia, kadang kala seminggu pun baru sehari. Selama kita menjalankan kehidupan dengan penuh kebahagiaan, maka kita akan merasakan bahwa perjalanan hidup amatlah sebentar.


Tapi kalau kita menjalankan kehidupan dengan penuh penderitaan, maka kita akan merasakan betapa lamanya hidup ini sehingga semakin membuat diri tersiksa.


Karena itu, bahagialah. Karena bahagia itu diciptakan, bukan dicari. Bahagia yang sebenarnya itu teramat sederhana, namun banyak orang yang tidak faham.

__ADS_1


Hari sudah sore, matahari semakin condong ke barat memberikan sinar keemasan ke bumi. Hamparan pesawahan dan pohon-pohon, berkilau indah ditempa cahaya matahari. Burung-burung sudah beterbangan kembali lagi ke sarangnya. Mereka telah mencari nafkah seharian untuk keluarganya.


Cakra Buana, Ling Zhi, serta Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sedang duduk berhadapan di dalam goa. Saat ini adalah waktu perpisahan lagi bagi mereka.


"Cakra, setelah ini kau akan menuju ke mana?" tanya Nenek Sakti.


"Kami berdua berencana untuk pergi ke Kerajaan Tunggilis nek. Kami mendapatkan tugas dari eyang guru," jawab Cakra Buana.


"Hemmm … kalau begitu, berhati-hatilah. Karena di sini masih banyak para pendekar golongan hitam," kata Kakak Sakti.


"Terimakasih sudah mengingatkan kek. Kalian sendiri akan ke mana setelah ini?" tanya Ling Zhi yang dari tadi hanya menjadi pendengar.


"Kami akan mengembara kembali. Suatu saat nanti kita akan berjumpa lagi," jawab Nenek Sakti.


"Ah iya … jika kalian akan pergi ke Kerajaan Tunggilis, berikanlah lencana ini supaya kalian bisa masuk ke dalamnya," kata Kakek Sakti sambil memberikan sebuah lencana berwarna perak bergambar dua batang pedang bersilang.


"Lencana apa ini kek?" Cakra Buana kebingungan mendapatkan lencana seperti itu, sebab sepengetahuannya, lambang Kerajaan Tunggilis bukanlah seperti itu.


Cakra Buana dan Ling Zhi pun membalas hormat tersebut. Keempatnya lalu berdiri, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti berjalan ke luar goa. Keduanya membalikan badan lalu pergi dalam sekejap mata.


Tidak hanya Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, begitu kedua pendekar tua itu menghilang dari pandangan, maka Cakra Buana dan Ling Zhi pun segera meninggalkan goa.


###


Hari sudah malam ketika Cakra Buana dan Ling Zhi tiba di sebuah desa bernama Waluh. Desa Waluh ini sebenarnya cukup ramai, tapi entah kenapa saat ini nampak begitu sepi.


Bahkan seperti tidak ada kehidupan di sana. Cakra Buana dan Ling Zhi memasuki gapura yang menandakan pintu masuk desa. Keduanya berjalan sambil mengamati keadaan.


Ternyata Desa Waluh benar-benar seperti desa mati. Para warga yang biasanya berkumpul di luar, kini tak ada lagi. Semua warga sudah masuk rumah. Hanya ada beberapa tempat yang terlihat pintunya terbuka, itupun hanya terbuka sedikit.

__ADS_1


Malam ini rembulan tertutup awan. Udara pun terasa lebih mencekam. Sepertinya di desa ini telah terjadi sesuatu.


Cakra Buana memutuskan untuk mendatangi penginapan yang ada di sana. Ada satu penginapan yang masih buka, keduanya lalu menuju penginapan tersebut.


Begitu Cakra Buana akan masuk, tiba-tiba seorang kakek tua menahannya.


"Tahan, si-siapa kalian? Jangan mengganggu kami. Pergi! Atau kalau tidak, aku akan membunuhmu," kata si kakek tua itu sambil memegang golok panjang.


Cakra Buana kebingungan melihat tingkah kakek tua tersebut. Dia belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf kek, apa maksudmu? Kami tidak akan mengganggu. Kami hanya mencari penginapan di sini," ucap Cakra Buana sambil berusaha meyakinkan.


Kakek tua itu tidak menjawab. Dia menatap Cakra Buana dan Ling Zhi dari atas sampai bawah. Tatapan matanya begitu menyelidik, sementara itu, kedua muda-mudi tersebut hanya melemparkan senyum saat ditatap seperti demikian.


"Maafkan aku, silahkan duduk," ucap kakek tua tersebut. Seketika nada bicaranya menurun saat tidak menemukan kecurigaan dalam didi Cakra Buana dan Ling Zhi.


"Terimakasih kek. Maaf kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang sudah terjadi di desa ini kek? Kenapa orang-orang seperti ketakutan," tanya Cakra Buana. Pendekar Maung Kulon itu benar-benar dibuat penasaran.


"Sebentar den, aku akan membiarkan teh dulu untuk menghangatkan badan kalian," ucap kakek tersebut lalu pergi ke belakang.


Setelah beberapa saat, kakek tua itu datang lagi sambil membawa baki kecil. Di atasnya ada tiga cangkir teh hangat. Kakek itu lalu menaruhnya di atas meja, setelah selesai, mulailah dia bercerita.


"Warga Desa Waluh ini memang sedang di landa ketakutan den. Sudah hampir satu purnama desa kami mendapatkan malapetaka. Setiap tujuh hari sekali, desa kami akan di jarah. Harta kami di rampok dan anak gadis akan di culik. Siapa yang melawan, maka dia dipastikan tewas," kata kakek itu sambil terus menceritakan apa yang sedang terjadi dk Desa Waluh ini.


"Kejam, siapa yang melakukan semua itu kek? Apakah tidak ada pendekar yang mencoba untuk menolong warga sini?"


"Mereka berjuluk Tiga Iblis Gunung Waluh den. Mereka itu orang-orang jahat yang berilmu sangat tinggi, bahkan beberapa pendekar yang mencoba menolong pun mereka bunuh. Katanya, mereka berasal dari perguruan sesat, tapi entah apa namanya," kata kakek itu sambil bergidik ngeri.


"Aku baru mendengar nama itu, kalau begitu nanti kami akan mencoba menghadang mereka," ucap Cakra Buana.

__ADS_1


"Jangan den, lebih baik aden dan nona ini pergi saja sekarang, aku tidak mau orang yang tidak berdosa turut menjadi korban iblis itu,"


"Tenanglah kek, kami bisa menjaga diri," kata Cakra Buana sambil memegangi pundak si kakek tua.


__ADS_2