
"Kau tidak papa paman?" tanya Cakra Buana kepada Pendekar Tangan Seribu.
"Tidak pangeran, untung aku berhasil mengeluarkan racun itu. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah terkapar tewas,"
"Apakah cambuk tadi mengandung racun?"
"Bukan hanya cambuknya, bahkan setiap serangan yang ia berikan mengandung racun cukup ganas,"
"Kalau bukan kau, aku tidak menjamin bisa selamat. Sepertinya aku harus belajar bagaimana menghadapi serangan beracun ganas darimu," kata Cakra Buana sambil tersenyum.
"Kau terlalu merendah pangeran. Justru akulah yang harus banyak belajar kepadamu," ucap Pendekar Tangan Seribu yang kini sudah berdiri kembali.
"Mana bisa begitu. Aku kan lebih muda darimu, harusnya yang tua mengajarkan kepada yang muda," Pendekar Maung Kulon tidak mau kalah, ia tetap mempertahankan ucapannya.
"Tua atau muda tidak masalah. Yang terpenting ilmunya … hahaha,"
"Ah kau ini," ucap Cakra Buana. "Tapi aku yakin, yang tadi itu bukanlah jurus terkahirmu," lanjut Cakra Buana.
"Kau seyakin itu?"
"Tentu. Karena aku tahu sampai di mana tingginya ilmumu,"
"Hemm … benarkah?" Pendekar Tangan Seribu memicingkan matanya.
Sebelum Cakra Buana menjawab, keduanya berjalan menuju sebatang pohon rimbun. Mereka kemudian duduk untuk melepaskan rasa lelah. Setelah itu, lalu Cakra Buana menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Sangat benar. Setidaknya ada satu atau dua jurus yang beberapa kali lebih hebat dari Tangan Neraka Seribu Bayangan. Berani jujur itu hebat," ucap Cakra Buana sambil tersenyum kemenangan.
"Hahaha … aku tidak menyangka ternyata kau juga seorang peramal," ucap Pendekar Tangan Seribu.
"Aku bukan peramal, aku tahu karena dirimu sendiri yang memberitahukan. Kalau memang itu salah satu jurus pamungkasmu, tidak mungkin kau masih setegar ini. Buktinya setelah selesai bertarung, bahkan kau mampu mengeluarkan semua racun ganas dalam dirimu. Ini saja sudah menjadi tanda bahwa kau masih menyimpan tenaga dalam dengan jumlah cukup besar," kata Pendekar Maung Kulon.
"Hemm, kau benar pangeran. Sepertinya aku memang tidak bisa berbohong kepadamu," katanya.
"Bukan tidak bisa. Itu kau saja yang kurang pintar berbohong, hahaha,"
"Kau benar. Berarti aku harus belajar kepadamu supaya pintar berbohong," katanya sambil tertawa.
Dua orang itu tertawa seolah sebelumnya tidak terjadi sesuatu. Bahkan luka-luka yang tadi nampak, kini hilang tanpa bekas. Dalam hati, mereka saling memuji satu sama lain.
"Pangeran, apa yang selanjutnya kita …"
"Sstt …" Cakra Buana memberikan kode supaya Pendekar Tangan Seribu diam. Sontak pria itu tidak melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyannya berbisik.
"Ada orang lain yang sebentar lagi akan datang," kata Cakra Buana.
"Siapa?"
"Entahlah. Mungkin orang-orang kerajaan lagi,"
"Tapi aku tidak merasakan kehadiran mereka," ucap pria berpakaian serba hitam dengan sabuk kain warna merah itu.
"Lihat ke sana," kata Cakra Buana sambil menunjuk ke bekas pertarungannya.
Pendekar Tangan Seribu kaget. Ternyata di bekas pertarungan tadi sudah berdiri enam orang yang berpakaian dan memiliki postur beda-beda.
"Apakah mereka para pendekar kerajaan?"
"Sepertinya begitu," jawab Cakra Buana.
"Ternuata mereka datang lagi," keluhnya.
Di bekas pertarungan tadi, saat ini memang sudah ada enam orang berseragam pendekar. Mereka semua kaget saat melihat keempat rekannya tewas mengenaskan.
"Siapa yang sudah berani membunuh mereka?" tanya seorang berpostur tubuh agak gemuk.
"Pelakunya pasti masih ada di sekitar sini," kata seorang pria berkumis tipis.
"Kalian yang ada di balik pohon, keluarlah. Jangan bersembunyi seperti itu," kata seorang pria tua berambut sebahu. Matanya mencorong tajam mengarah ke pohon yang ditempati oleh Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
Karena merasa sudah ketahuan, maka keduanya pun segera melompat dan mendarat di hadapan enam orang itu dengan jarak sepuluh langkah.
"Pendekar Tangan Seribu …" kata salah seorang.
"Benar, ini aku tuan. Kenapa kalian ada di sini?"
"Dan sepertinya aku kenal dengan pemuda ini," lanjut orang tadi.
"Aku Cakra Buana," jawab Pendekar Maung Kulon dengan enteng.
"Degg …" keenam orang itu terkejut. Jantung mereka berdetak tidak karuan dan darah serasa naik ke muka. Tatapan matanya langsung menyorot tajam ke arah Cakra Buana.
"Apakah kalian yang melakukan semua ini?" tanya wanita muda tadi.
"Kalau bukan kenapa, dan kalau iya kalian mau apa?" tanya balik Cakra Buana.
__ADS_1
"Kalau bukan, aku tak percaya. Dan kalau iya, tentunya kalian harus bertanggungjawab," ucap wanita tersebut dengan tegas.
"Dengan cara?"
"Dengan cara menyerahkan nyawa kalian,"
"Hemm …" Cakra Buana mendengus perlahan.
"Pangeran, bagaimana ini? Aku rasa keenam orang ini jauh lebih kuat daripada yang tadi," bisik Pendekar Tangan Seribu.
"Kita harus bersikap jantan. Akui saja karena memang kita yang membunuhnya,"
"Tapi nanti masalahnya akan lebih rumit lagi. Dan kita, terutama kau, akan berada dalam bahaya,"
"Tidak masalah. Kita hadapi mereka bersama,"
"Kau yakin bisa mengalahkan mereka?" tanya Cakra Buana.
"Kalau tidak coba, mana bisa tahu?"
"Haishh … terserah kau saja. Aku ikut apa katamu," kata Pendekar Tangan Seribu seperti biasanya.
"Kenapa kalian diam? Apakah kalian bisu? Atau tuli?" wanita muda itu membentak kepada Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
Cakra Buana sendiri sebenarnya tidak yakin bisa mengalahkan mereka sekaligus. Kalau satu atau dua bertarung dan yang lain menunggu, ia masih sanggup. Tapi mana mungkin mereka seperti itu? Kalau sekaligus maju, maka ceritanya lain lagi. Cakra Buana juga manusia yang masih memiliki batas kemampuan. Kalau digabungkan, mungkin keenamnya lebih hebat daripada satu orang datuk dunia persilatan.
Melawan mereka sekaligus sama saja dengan tindakan bodoh. Tapi karena tidak ada jalan lain, pada akhirnya Cakra Buana menjawab dengan jujur.
"Benar, kami yang membunuh empat rekan kalian," ucap Cakra Buana dengan tenang.
Dalam hidup, siapa pun dia pasti akan menghadapi sesuatu yang sulit. Maju tidak bisa, mundur apalagi. Namun apa pun itu, kalau bisa jangan pernah mundur. Terjanglah rintangan yang ada di hadapanmu sebisa mungkin. Walaupun kau tahu bahwa menerjang rintangan itu adalah tindakan bodoh, tetapi tidak ada salahnya juga jika sesekali melakukannya.
Sesekali mencoba keberuntungan dengan mempertaruhkan 'nyawa' tidaklah buruk. Selama kau yakin, Tuhan tidak tinggal diam. Dia akan membantumu tanpa kau sadari. Menjalani hidup itu kadang terasa konyol. Tuhan menguji kita dengan rintangan sulit, tapi di balik itu Dia juga memberitahu bagaimana caranya menghadapi rintangan tersebut. Bukankah ini konyol? Tapi begitulah hidup. Bukan hidup namanya kalau tidak ada kekonyolan.
Mendengar pengakuan Cakra Buana, keenam orang pendekar itu merasa geram. Gejolak dalam tubuh melonjak naik seketika. Udara tiba-tiba terasa menekan. Angin berhembus kencang mengibarkan pakaian para pendekar tersebut.
"Kau memang pantas mati …" kata pria pendek bertbuh kurus dengan marah.
"Aku memang akan mati. Tanpa tangan kalian pun, aku bakal mati. Tapi itu nanti," jawab Cakra Buana masih dalam keadaan tenang.
"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang saja kau mati lewat perantara kami?" ucap pria berkumis tipis.
"Aku rasa tidak bisa. Sebab kalian takkan sanggup mengantarkanku ke alam baka," kata Cakra Buana.
__ADS_1