
Setelah semua lawannya tewas, Raden Kalacaka Mangkubumi pun segera pergi dari sana. Dia masih benriat untuk mencari lawan berikutnya. Entah siapa yang akan mendapat giliran selanjutnya, yang jelas jika menurutnya pantas, maka dia akan menantangnya untuk bertarung.
Matahari semakin menggeser ke sebelah barat. Panasnya saat ini sudah lebih mendingan daripada sebelumnya. Semilir angin terasa mendinginkan amarah para pendekar yang masih bertarung.
Sejauh ini, pihak Kerajaan Tunggilis tetap mendominasi pertarungan. Walaupun prajurit mereka hanya sisa tidak lebih dari seperempatnya, tapi itu masih mendingan daripada prajurit Kerajaan Kawasenan yang kini tinggal tersisa beberapa ribu saja.
Pada pendekar yang membantu dari segala penjuru pun, lebih mending Kerajaan Tunggilis daripada Kerajaan Kawasenan.
Jika keadaan terus seperti ini, maka bisa dipastikan menjelang malam nanti, perang ini akan segera berakhir dan kemenangan akan diraih oleh Kerajaan Tunggilis. Tapi itu semua hanya prediksi, karena kita tidak akan pernah tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dalam hal apapun, tak terkecuali kehidupan nyata. Selaku manusia kita hanya bisa berharap, dan memprediksi tanpa bisa memberikan kepastian. Tugas manusia hanya berusaha dan berencana, bukan memastikan.
Perang ini semakin lama semakin mengerikan. Korban sudah semakin banyak. Langit terus dipenuhi oleh berbagai cahaya dari berbagai macam ajian tingkat tinggi.
Suara binatang kalah dengan suara benturan senjata dan bentakan nyaring para pendekar. Bau harum semerbak bunga mekar, kalah dengan bau amisnya darah yang mulai mengering. Hawa sejuk, kalah dengan hawa kematian yang terus menghantui setiap orang-orang yang ada di sana.
Jiwa mereka tidak ada yang tenang. Semuanya merasa ketegangan. Sebab setiap detik, bisa saja mereka yang menjadi giliran untuk pergi ke alam baka.
Di tengah-tengah peperangan, berdiri dua orang yang sangat gagah. Tubuh mereka sama-sama tegap dan kekar. Wajahnya sama tampan walaupun usia mereka sudah tidak terbilang muda lagi.
Pakaiannya sama-sama mewah dilapisi kain sutera yang halus. Pernak-pernik yang mereka pakai membuat siapapun betah memandang berlama-lama.
Tak lain dan tak bukan, keduanya adalah Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma dan Prabu Katapangan Kresna. Dua sosok manusia yang sama-sama memiliki pengaruh besar di Tanah Pasundan.
Mereka sedang berhadapan dengan perasaan campur aduk. Ada rasa segan, rasa dendam dan sebagainya. Pakaian mewah mereka berkibar anggun terkena angin yang dingin.
Di tangan mereka sama-sama terdapat senjata pusaka yang menjadi rebutan semua orang. Pusaka tersebut digenggam dengan erat seolah takut terhempas diterpa angin kencang.
__ADS_1
"Ajiraga, mari kita selesaikan masalah yang sudah terpendam lama ini. Aku mewakili Prabu Bambang Sukma Saketi, hari ini akan menuntut balas kepadamu," kata Prabu Katapangan dengan suaranya yang gagah.
"Hahaha … Katapangan, Katapangan. Kau memang seorang yang sangat setia. Aku memujimu dengan tulus. Baik, baik. Kalau memang itu maumu, aku akan meladeninya. Aku juga sekalian akan menuntut balas tentang kematian ayahku. Hemm, tapi sebenarnya ini kurang tepat. Harusnya aku bertarung dengan pemuda itu," balas Prabu Ajiraga.
"Bagus kalau kau mau. Aku senang mendengarnya. Biarlah, kalau memang kau ditakdirkan bertarung dengannya, nanti pun dia akan ke sini. Tapi sebelum itu, biarlah aku dulu yang bertarung denganmu,"
"Baik, usul yang bagus. Sudah lama juga aku memendam kekuatanku. Andai aku mati sebelum pemuda itu datang, tak apalah. Toh kau masih ada hubungan darah dengannya. Aku akan senang jika bisa mati di tangan salah satu dari kalian," ucap Prabu Ajiraga dengan tulus.
"Tentu. Akupun sama denganmu. Aku akan menghadap Sang Hyang Widhi dengan senyuman jika kau bisa membunuhku. Tapi aku rasa, sangat sulit menentukan siapa yang akan bertahan di antara kita,"
"Hanya pertarungan nyata yang akan menjawab. Kita lakukan saja dengan segera. Aku sudah tidak sabar lagi," ucap Prabu Ajiraga.
"Baiklah. Aku juga sama. Kita mulai sekarang. Bersiaplah," kata Prabu Katapangan penuh semangat yang berapi-api.
Sekilas pemandangan seperti itu terdengar lucu. Dua orang yang sudah jadi musuh bebuyutan, pada akhirnya bisa bicara secara terbuka di saat menjelang pertarungannya. Tetapi begitulah dunia persilatan, para pendekar yang sudah hampir mencapai taraf sempurna, terlebih dahulu akan mengucapkan satu atau dua kata sebelum memulai pertarungan.
Saat ini baik Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma maupun Prabu Katapangan Kresna sama-sama sedang menghimpun tenaga dalam mereka. Beberapa saat kemudian, sinar merah yang tipis keluar dari tubuh Raja Kerajaan Kawasenan. Sedangkan dari tubuh Raja Kerajaan Tunggilis, keluar sinar kuning emas sedikit menyilaukan.
Pertarungan yang paling dinantikan akan segera terjadi. Dari semua pertarungan sebelumnya, mungkin pertarungan dua raja ini yang dinantikan semua orang di sana.
"Wutt …"
"Wutt …"
Dua sosok bayangan agung melesat secepat kedipan mata secara bersamaan.
"Trangg …"
__ADS_1
Benturan keras langsung terjadi. Panah Raden Arjuna beradu dengan Tongkat Dewa Batara. Percikan api membumbung tinggi ke udara lalu lenyap diterpa angin. Kedua raja itu masih berada di udara dengan pusaka menempel.
Detik berikutnya, mereka sudah mendarat di tanah lalu mulai melancarkan serangan. Sabetan dan sodokan terlihat menimbulkan sinar terang. Panah milik Prabu Katapangan berkelebat dari kanan ke kiri. Tongkat milik Prabu Ajiraga menyodok dari atas sampai bawah.
Pertarungan ini walau baru berjalan sesaat, tetapi sudah dapat menyedot perhatian semua orang. Tanpa sadar, pertarungan yang lainnya berhenti untuk beberapa saat. Mereka sama-sama terpaku menyaksikan pertarungan sang raja.
Prabu Katapangan melompat mundur mengambil jarak. Dia menarik tali busur lalu melepaskannya. Seketika keluar ratusan anak panah yang melesat secepat kilat ke arah Prabu Ajiraga.
Raja Kerajaan Kawasenan itu tersenyum puas. "Jurus yang bagus," pujinya dengan tulus.
Detik selanjutnya dis mengayunkan batang tongkat. Sekali ayun, hembusan angin besar tercipta menerpa ratusan anak panah tadi. Sebagian anak panah terpental kembali, sebagian lagi terus melesat ke arahnya.
Prabu Ajiraga lalu memainkan Tongkat Dewa Batara menahan semua serangan anak panah. Sinar kuning emas memancar setiap kali tongkatnya digerakkan. Lima jurus berikutnya, semua anak panah tersebut berhasil ditahan semuanya oleh Prabu Ajiraga.
Kalau tadi Prabu Katapangan yang menyerang lebih dulu, kali ini giliran Prabu Ajiraga.
"Terima serangan pertamaku ini Katapangan," teriak Prabu Ajiraga. Suaranya menggelegar bagaikan germuruh guntur, orang-orang yang disekitarnya tergetar saat mendengar suara itu.
"Wushh …"
Serangan pertama datang. Tongkat Dewa Batara dia ayunkan dari samping kanan ke kiri sampai beberapa kali. Inilah jurus Kibasan Dewa Batara. Setiap satu kali kibasannya mampu menerbangkan gunung. Bisa dibayangkan betapa kuat tenaga yang terkandung di dalamnya.
Prabu Katapangan mulai serius. Panah Raden Arjuna dia mainkan. Karena panah itu keras, jadi dia bisa menahan ya dengan batang panah. Benturan kembali terdengar beberapa kali, Prabu Katapangan terhentak beberapa langkah ke belakang karena tenaganya kalah sedikit dengan tenaga lawan.
"Haaa …"
Prabu Katapangan membentak. Kakinya mencoba menyapu kedua kaki Prabu Ajiraga. Sesaat lawan bingung, kalau ditarik maka serangannya gagal, tapi kalau diteruskan, otomatis kakinya akan terkena sapuan lawan.
__ADS_1
Pada akhirnya Prabu Ajiraga menarik kembali serangannya. Dia memilih untuk menyelamatkan kedua kakinya tersebut.