Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Memperebutkan Tiga Pusaka II


__ADS_3

Dewa Pedang Kembar terkesiap untuk beberapa saat. Sebab dia baru melihat ada anak panah yang melesat secepat ini. Tapi walaupun begitu, dia tidak gentar sama sekali.


Jurus mautnya keluar.


Dengan jurus Dua Pedang Menyapu Ombak, tubuhnya berputar sambil tetap memainkan pedangnya. Setiap kibasan itu membawa hembusan angin yang besar.


Serangan Prabu Katapangan gagal di tengah jalan. Tubuhnya sudah mendarat kembali ke tanah. Tak lama, dia kembali menerjang lawan.


Dua pendekar sudah bertarung lagi. Benturan dua pusaka menggelegar meliputi cakrawala. Dewa Pedang Kembar merasakan kedua tangannya bergetar saat pedangnya beradu dengan pedang milik lawan.


Dua pertarungan ini disaksikan oleh banyak pendekar. Semua yang melihat merasa sangat tegang. Walaupun mereka tidak ikut bertarung, tetap saja ketakutan menyelimuti benaknya.


Prabu Katapangan masih terus menggempur Dewa Pedang Kembar. Panah sakti itu mengeluarkan ribuan anak panah tiada hentinya. Sayangnya, semua serangan tersebut tidak membuahkan hasil.


Pertarungan keduanya telah memasuki jurus ke tiga puluh. Sekarang giliran Dewa Pedang Kembar yang berada dalam posisi menyerang.


Pedang itu dimainkan dengan keterampilan tinggi dan jurus yang indah namun sangat berbahaya. Sinar yang keluar dari pusaka tersebut membelah langit yang mendung. Gempuran dua pedang tak dapat dihindari lagi oleh Prabu Katapangan.


Mau tidak mau dia harus menangkisnya sebisa mungkin. Sebab kalau lolos satu sabetan saja, maka tubuhnya sudah pasti akan menjadi sasaran empuk.


Pedang di tangan kanan Dewa Pedang Kembar bergetar hebat. Dia menyerang lagi, sekali serang, tiga jurus berbahaya telah keluar.


"Trangg …"


"Trangg …"


Semua tusukan dan sabetan berhasil ditangkis oleh Prabu Katapangan. Tetapi sayangnya dia tidak mampu menangkis serangan terkahir dari lawan.


"Plakk …"


Dada Prabu Katapangan menjadi sasaran empuk lawan. Untung bahwa dia hanya terkena bagian tengahnya yang tidak tajam. Tetapi walaupun begitu, tetap saja raja itu terpental tiga langkah.


Dadanya terasa sesak. Untuk sesaat dia tidak berhenti bernafas.


Baru saja dia menyalurkan hawa murni, gempuran sudah datang lagi. Dengan jurus Menyapu Pasir di Pantai, Dewa Pedang Kembali mengirimkan sejumlah serangan beruntun.

__ADS_1


Dua pedangnya di ayunkan seperti menyapu pasir. Gerakannya luwes namun mematikan. Selain itu, serangan tersebut penuh dengan tipuan.


Bentakan demi bentakan keluar dari mulut kedua orang yang sedang bertarung itu. Lawan masih menggempur tanpa kenal lelah, serangannya benar-benar membuat Prabu Katapangan kewalahan.


Benturan senjata lima kali terdengar. Panah Raden Arjuna bisa menghalau badai serangan tersebut. Saat seperti itulah Dewa Pedang Kembar mengubah gaya bertarungnya. Pedang di tangannya dia putar, satu totokan gagang pedang berhasil memukul pergelangan tangan Prabu Katapangan.


Saking kagetnya, sampai-sampai dia tidak mampu mempertahankan Panah Raden Arjuna. Pusaka itu jatuh ke tanah, sedangkan dia sendiri terpental karena tendangan Dewa Pedang Kembar.


"Hoekk …"


Prabu Katapangan memuntahkan darah kehitaman. Sebenarnya dia terlalu memaksakan diri, tubuhnya masih terluka saat bertarung melawan Kera Gila. Dan dia mengalami luka dalam yang cukup parah. Oleh sebab itulah raja itu tidak mampu mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya.


"Ayah …"


"Prabu …"


Raden Kalacakra dan yang lainnya panik. Mereka berniat untuk menolong, sayangnya sebelum bertindak lebih, Dewa Tombak dan Dewa Trisula Perak sudah melompat dari tempatnya lalu menghalangi mereka.


"Masih ada kami di sini. Jangan berpikir untuk bisa melakukan sesuatu sesuka kalian," kata Dewa Tombak.


"Wutt …"


Raden Kalacakra geram, seketika dia langsung mengirimkan sebuah pukulan dahsyat kepada Dewa Tombak. Serangkum angin dingin lebih dulu datang menerpa sebelum pukulan aslinya tiba.


Dewa Tombak tidak bergeming. Dia tetap berdiri tegak di posisinya. Bajunya berkibar tertiup angin pukulan Raden Kalacakra, begitu serangan hampir tiba, dia hanya memiringkan tubuhnya lalu menepak tangan anak muda itu dengan punggungnya.


Walau hanya bergerak sedikit, tapi lawan terhempas tiga langkah.


"Kau sendiri belum cukup untuk melawanku," ucap Dewa Tombak tersenyum dingin.


"Diam kau manusia iblis …"


"Wutt …"


Raden Kalacakra kembali menerjang. Kali ini dia tidak sendiri, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta Jalak Putih pun ikut menyerang dari belakang. Senjata mereka sudah keluar dan dihunuskan.

__ADS_1


Di sisi lain, Ling Zhi, Gagak Bodas dan Pendekar Tangan Seribu juga tak tinggal diam. Ketiganya serentak menyerang Dewa Trisula Perak dengan senjatanya masing-masing, kecuali Pendekar Tangan Seribu yang memang tidak menggunakan senjata.


Empat pertarungan dahsyat tak terhindarkan lagi. Perang yang seharusnya sudah berakhir, kini telah kedatangan sebuah hal tak diinginkan.


Pertarungan di bagian lain sudah berhenti total. Sekarang kebanyakan orang yang ada di sana adalah pihak Kerajaan Tunggilis. Mereka bukannya tidak mau membantu, tetapi lebih kepada sadar diri bahwa turun tangan pun tak ada gunanya. Justru akan menjadi beban bagi junjungan mereka.


"Sepertinya ini akan menjadi pertunjukan yang menarik," gumam Penguasa Kegelapan mengawasi pertarungan sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih.


Prabu Katapangan saat ini sedang menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Dia tidak mampu lagi untuk bertarung, kalau dipaksakan itu akan membuat nyawanya terancam.


Dewa Pedang Kembar melangkah mendekati raja itu, dia berniat untuk membunuhnya. Namun sebelum niat itu dilakukan, Penguasa Kegelapan melarang tindakan muridnya itu.


"Jangan bunuh dia. Dia sedang terluka, kita masih harus bertindak sebagai orang-orang dunia persilatan," kata Penguasa Kegelapan.


"Baik guru. Murid mengerti," katanya lalu mundur selangkah lagi.


"Ambil Panah Raden Arjuna dan Tongkat Dewa Batara," perintah Penguasa Kegelapan.


Dia mengangguk, Dewa Pedang Kembar kemudian melangkah kembali untuk mengambil dua pusaka tersebut. Prabu Katapangan berniat untuk menghalanginya, tapi baru saja dia bergerak, tubuhnya terasa sangat lemah sekali. Selain itu, dia juga mendengar ancaman dari Penguasa Kegelapan.


"Kalau kau berani bergerak, aku jamin tidak sampai setengah langkah, nyawamu melayang," ucapnya tegas.


Raja itu tidak menjawab. Dia hanya menatapnya penuh kebencian. Sedangkan yang di tatap tersenyum dingin.


Dua benda pusaka legenda telah berada di tangan musuh. Tinggal satu lagi, yaitu Pedang Pusaka Dewa yang kini ada di tangan Cakra Buana.


Dan saat ini, dia sedang bertarung sangat sengit melawan Dewa Tapak Racun. Lima puluh jurus sudah mereka lewati. Tetapi belum ada yang mau menyerah di antara mereka. Tentu saja, sebab bagi para pendekar sejati, lebih baik tewas dalam pertarungan daripada harus menyerah.


Sekarang Cakra Buana sudah mengeluarkan jurus-jurus dahsyat dari Kitab Maung Mega Mendung. Dia menyerang ganas dengan jurus Harimau Mencabut Nyawa.


Sepak terjangnya membuat Dewa Tapak Racun sedikit terkaget. Sebab dia tidak menyangka bahwa anak muda yang menjadi lawannya, telah menguasai kitab pusaka tingkat tinggi.


Tetapi bagaimanapun juga, dia merupakan murid dari Pengusa Kegelapan. Seorang kakek tua yang merajai dunia persilatan.


Dengan seluruh kemampuannya, dia melayani Cakra Buana sampai mana pun juga.

__ADS_1


__ADS_2