Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kemarahan Cakra Buana-Sapuan Dewa Angin


__ADS_3

Amarah Rendra semakin membara. Sudah beberapa kali Ling Zhi menyebutnya dengan tikus busuk. Baginya, ini sama saja dengan sebuah penghinaan. Salah satu murid senior Perguruan Gunung Waluh itu lalu mencabut golok yang dia taruh di pinggang kiri.


Golok itu agak panjang. Lebih panjang sedikit dari golok pada umumnya.


"Sringg …"


Golok sudah di cabut. Rendra mengacungkan golok itu sebelum bergerak menebaskan ke leher Ling Zhi. Sedangkan Ling Zhi, dia tampak tidak takut sama sekali. Bahkan matanya melotot menatap golok panjang tersebut.


"Trangg …"


"Krakkk …" patah.


Sebelum niat untuk menebas leher Ling Zhi terlaksana, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghantam keras golok milik murid perguruan Gunung Waluh itu hingga patah menjadi dua.


Semua murid langsung terperanjat. Mereka menengok serentak ke arah kanan seperti asalnya sesuatu tadi.


Di arah kanan, Cakra Buana yang tadi sedang bersemedi seperti orang meninggal, kini dia sudah kembali sadar. Matanya masih terpejam. Tapi tangan kanannya menggenggam beberapa kerikil kecil. Kerikil itulah yang Ia lemparkan hingga membuat golok panjang tadi patah.


Pendekar Maung Kulon itu membuka mata perlahan. Seiring di bukanya mata itu, hembusan angin di arena tersebut tiba-tiba kencang.


"Wushhh …"


Angin besar menyapu debu-debu bahkan sampai menerbangkan atap perguruan. Cakra Buana bangkit berdiri. Pemuda serba putih itu nampak lebih berwibawa daripada sebelumnya. Matanya sedikit menguning dan memandang tajam ke arah semua murid.


"Buggh …"


Bumi bergetar saat Pendekar Maung Kulon menghentakkan kakinya. Beberapa murid yang masih kelas rendah, bahkan sampai terjatuh.


"Kakang, akhirnya kau sadar di waktu yang tepat," gumam Ling Zhi yang langsung terduduk lesu karena sudah tak kuasa lagi menahan sakit. Tak lama, Ling Zhi langsung tergeletak lemas.


Cakra Buana tidak menjawab. Bahkan tidak meliriknya sama sekali. Wajah dia sangat jelas menggambarkan kemarahan kepada semua murid yang ada di situ.

__ADS_1


"Tadinya aku ingin berbaik hati kepada kalian. Tapi melihat kalian berani melukai bahkan berniat membunuh gadis itu, maka niat baik itu aku kubur dalam-dalam," ucap Cakra Buana. Suaranya serak parau memberikan kesan angker.


Sebagian murid bahkan langsung bergidik ngeri mendengarnya.


"Omong kosong. Serang …" Rendra berteriak kembali menyuruh semua murid untuk menyerang Cakra Buana.


Tak perlu di komando dua kali, semua murid langsung serentak maju. Senjata kembali di acungkan. Suasana menjadi riuh seperti sebelumnya. Mereka menyerang dengan penuh ketegangan. Sebaliknya, yang di serang hanya diam mematung penuh ketenangan.


"Kalian yang menghendaki aku untuk bertindak kejam. Kalian menjual, maka akan aku beli dengan senang hati," kata Cakra Buana tegas dam berwibawa.


Kini tenaga dalam Pendekar Maung Kulon itu sudah kembali penuh. Bahkan racun yang menjalar ke tubuhnya telah hilang. Tak ada yang tahu bagaimana dia bisa sembuh secepat itu. Yang jelas, apa yang dilakukan oleh Cakra Buana tidak selalu bisa dilakukan oleh setiap pendekar.


Murid Ki Wayang Rupa Sukma Saketi itu melebarkan kakinya. Kedua tangannya dia gerakan ke kanan dan ke kiri secara anggun. Sekilas gerakannya memang tidak bertenaga, tapi yang terjadi berikutnya hebat.


Tiba-tiba angin berhembus kencang. Ada energi besar yang saat ini terkumpul pada kedua tangan Cakra Buana.


"Haaa …"


Dia mengibaskan tangan kanan dan kirinya secara bersamaan. Berbarengan dengan itu, pada murid pun sedikit lagi hampir mengenai Cakra Buana. Tak di nyana, mereka semua langsung terpental secara bersamaan karena di hantam kekuatan besar.


Hanya satu kali serangan, enam puluh murid berhasil di pukul mundur. Beberapa orang terlihat langsung sekarat. Mereka yang sekarat mengalami serangan yang mengguncangkan organ dalamnya.


Bahkan para murid senior pun terpental akibat serangan Cakra Buana barusan. Sekali pun pemuda serba putih itu tampak tidak mengeluarkan tenaga, tapi efeknya membuat lawan terperanjat.


"Gila. Dia bukan manusia, andia saja aku terlambat melindungi diri dengan tenaga dalam, sudah pasti aku bisa ******," gumam Rendra geram.


Untung bahwa dia merupakan seorang murid yang terbilang tinggi ilmunya, sehingga Rendra tidak mengalami luka yang sangat serius. Kecuali luka dalam ringan.


Dalam hati semua murid Perguruan Gunung Waluh, mereka semua merasa jera kepada Cakra Buana. Jangankan untuk menyerang, menatap matanya pun tidak berani.


Tapi di sisi lain, nafsu sudah berhasil menguasai pars murid tersebut. Sekali pun mereka sadar bahwa lawannya bukanlah seorang pendekar sembarangan, tetap saja para murid senior menyerukan suara lantang untuk menyerang kembali.

__ADS_1


"Ayo kita serang lagi. Lebih baik kita mati demi untuk membalaskan dendam guru-guru kita daripada hanya berdiam diri. Mari kita pertaruhkan nyawa untuk guru," kata seorang murid senior berteriak keras memberikan semangat kepada junironya.


Jika nafsu sudah menguasai sepenuhnya, maka manusia akan berada di antara sadar atau tidak sadar. Biasanya, apa yang dilakukan saat nafsu amarah menguasai, maka nanti penyesalan akan datang menghampiri ketika diri sudah tenang kembali.


Seperti yang terjadi pada para murid Perguruan Gunung Waluh, mereka semua sudah di kuasai nafsu dan dendam membara. Maka ketika ada senior yang menyerukan untuk menyerang lagi, mereka pun menurutinya.


Dengan sisa tenaga dan kekuatan yang ada, para murid maju lagi menyerang Cakra Buana. Kali ini bukan hanya senjata saja yang dikeluarkan, bahkan tenaga dalam dan ajian-ajian pun turut di lancarkan.


Suara mendesing dan gemuruh terdengar untuk yang kesekian kalinya.


Cakra Buana sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi, maka sekarang dia tidak mau sungkan lagi. Pendekar Maung Kulon itu memejamkan matanya untuk berkonsentrasi.


Tenaga dalam mulai ia salurkan ke seluruh tubuh. Terutama ke telapak tangan kanan dan kiri. Kakinya terpentang sedikit melebar. Kedua tangan membentuk tamparan. Keanehan mulai terjadi, terdengar suara bergemuruh yang lebih besar lagi. Tanah kembali bergetar.


Berbagai macam senjata sudah di lemparkan para murid kepada Cakra Buana. Serangan jarak jauh berapa tenaga dalam pun sudah melesat berbagai macam warna. Tepat ketika jarak semua serangan beberapa langkah lagi, Cakra Buana membuka mata mengambi tindakan.


"Sapuan Dewa Angin …"


"Haaa …"


Cakra Buana menggerakan kedua tangannya dari bawah ke atas. Gelombang energi besar berwarna putih transparan tiba-tiba melesat dari belakangnya. Gelombang itu begitu kuat dan mengandung hawa panas.


"Wuttt …"


"Wushhh …"


"Blarrr …"


"Blarrr …"


"Brugg …"

__ADS_1


Gelombang energi yang dilancarkan oleh Cakra Buana bertemu dengan gelombang energi para murid. Beradunya dua gelombang itu menimbulkan suara bergemuruh lagi. Untuk beberapa saat gelombang tersebut seperti menempel.


Tapi detik berikutnya, gelombang Cakra Buana berhasil menghancurkan gelombang lawan. Gelombang energi yang ia ciptakan melesat secepat angin menghantam semua murid Perguruan Gunung Waluh.


__ADS_2