
Makan ikan bakar sudah selesai. Cakra Buana dan Ayu Pertiwi masih duduk dibawah pohon kiara tersebut. Keduanya terdiam dalam diam.
Tak ada yang keluar dari mulut mereka. Hanya semilir angin saja yang mendesah membelai keduanya dengan lembut.
Keduanya lalu mengambil posisi duduk bersila. Keduanya pun memejamkan matanya secara bersamaan. Mereka melakukannya berbarengan, padahal tidak ada kata yang diucapkan.
Kedua pendekar muda itu lalu bersemedi menembus alam lain sendiri-sendiri. Menenggelamkan diri dalam ketenangan. Menghampiri kesunyian. Sejenak dunia dilupakan jika sedang dalam kondisi seperti itu.
Keduanya sudah memasuki alam lain. Dunia seperti tidak ada. Alam pun seperti terdiam. Tak ada suara gaduh kecuali alunan bambu yang saling bergesekan tertiup angin.
Suara-suara kera terdengar lirih dari kejauhan.
Cakra Buana bersemedi untuk memulihkan tenaganya karena dia berniat untuk memberikan pelajaran kepada adipati Surya Wilaloni. Sedangkan Ayu Pertiwi bersemedi untuk memulihkan tubuhnya dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, dua pendekar muda itu sudah selesai bersemedi. Keduanya merasakan bahwa tubuh mereka menjadi jauh lebih segar daripada sebelumnya.
"Ayu, mari kita segera pergi dari sini," ajak Cakra Buana tanpa basa-basi lagi.
"Kemana?"
"Ke kediaman adipati. Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan," jawab Cakra Buana.
Seperti sebelumnya, Ayu Pertiwi tidak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk saja.
Tanpa menunggu lama lagi, Cakra Buana segera pergi dari sana diikuti oleh Ayi Pertiwi untuk menuju ke kediaman sang adipati.
Menuntut keadilan rakyat kadipaten Priangan yang kebahagiaannya sudah direbut oleh adipati Surya Wilaloni.
Tak perlu waktu lama untuk menuju kesana. Hanya sepeminum teh kemudian, keduanya sudah tiba di tempat tujuan.
Didepan Cakra Buana dan Ayu Pertiwi, kira-kira seratus langkah dari mereka berdua, berdiri sebuah bangunan mirip kerajaan kecil.
Didepannya ada sebuah pintu dari kayu jati yang mengkilap. Disana ada dua orang penjaga bersenjatakan lengkap. Tak lupa juga dengan pakaian keprajuritan. Siapa lagi kalau bukan prajurit adipati Surya Wilaloni.
Cakra Buana segera menghampiri kedua penjaga itu. Diikuti oleh Ayu Pertiwi dibelakangnya.
"Selamat siang paman …" kata Cakra Buana sambil membungkuk hormat.
Kedua penjaga itu tidak langsung menjawab. Mereka memperhatikan Cakra Buana dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Siapa ki dulur? Ada keperluan apa?" tanya dua penjaga.
"Aku Cakra Buana. Ingin bertemu dengan adipati Surya Wilaloni," jawab Cakra Buana.
__ADS_1
"Apakah ada bukti undangan dari kanjeng adipati?"
"Tidak ada,"
"Kalau begitu ki dulur tidak bisa masuk,"
"Kenapa?"
"Karena ki dulur tidak punya bukti undangan," kata penjaga.
Cakra Buana kebingungan. Ternyata memang susah jika ingin bertemu dengan seorang adipati, pikirnya.
Dalam kebingungan itu, tiba-tiba Ayu Pertiwi maju melangkah dengan lemah gemulai.
"Sampurasun kang …" kata Ayu Pertiwi dengan senyuman yang memikat.
Seketika dua penjaga itu diam beberapa kejap seperti patung. Mata mereka sedikit terbelalak, mulut mereka sedikit membentuk huruf O.
Cantik sekali, dia pasti bidadari. Bukan manusia, mungkin begitu pikiran penjaga tersebut.
"Ra-rampes. Ada perlu apa nyi?" tanya penjaga sedikit gagap.
"Aku ingin bertemu adipati, ada? Aku kawan lamanya," kata Ayu Pertiwi. Kali ini dia menambah senyumannya yang lebih manis.
"Ahhh … bo-boleh. Silahkan … silahkan," kata penjaga itu sambil memberikan isyarat dengan tangannya.
Melihat ini, Cakra Buana sedikit geram. Bagaimana tidak, dia meminta masuk sungguh sulit sekali. Sedangkan saat wanita cantik bicara, dengan mudahnya mereka memberikan izin.
"Ayu, apakah kau memakai pengasihan?" tanya Cakra Buana ketika berjalan memasuki kediaman adipati.
"Tidak. Aku hanya iseng saja, tapi mereka malah memberikan izin. Pria memang begitu," kata Ayu Pertiwi.
Keduanya terus melangkah masuk menuju kediaman adipati Surya Wilaloni.
Ternyata kediaman adipati itu memang luas. Bangunan itu dikelilingi benteng dari kayi jati. Bahkan, bangunan rumah besar itu dibuat dari kayu jati juga.
Bangunan yang kokoh serta megah. Kayu jati yang sudah dipoles hingga mengkilap, menjadikan suasa nyaman tersendiri.
Didepan kediaman adipati itu ada sebuah kolam ikan. Didalamnya ada ikan mas dan beberapa ikan lainnya. Ada juga pancurannya.
Cakra Buana dan Ayu Pertiwi segera diarahkan ke ruangan adipati setelah sebelumnya menjelaskan kedatangan mereka kepada para penjaga lainnya.
Keduanya pun memasuki ruangan itu.
__ADS_1
Ruangan yang cukup megah. Ada lukisan dari kulit kijang, ada beberapa tokoh wayang kulit. Ada juga patung kerbau dari kayu jati, sungguh elok.
Saat ini didepan mereka ada seorang pria yang gagah dengan pakaian keprajuritan berpangkat. Wajahnya agak tampan, kulitnya kuning langsat dan rambutnya setengah bahu.
Dia tersenyum simpul, akan tetapi pandang matanya tajam ketika mengarah ke Ayu Pertiwi. Seperti menyiratkan sesuatu.
"Sampurasun. Salam hormat untuk kanjeng adipati," kata Cakra Buana sambil menghormat menekuk lutut.
Tangan kanannya ditaruh diatas lutut kanan, sedangkan tangan kirinya menggantung disebelah lutut kiri. Begitupun dengan Ayu Pertiwi
"Rampes … silahkan duduk. Siapakah ki dulur dan nyi dulur ini?" tanya adipati Surya Wilaloni.
"Saya Cakra Buana, dan ini sahabat saya, Ayu Pertiwi," kata Cakra Buana.
"Dua nama yang bagus. Seperti pemiliknya," tutur adipati sambil kembali memandang Ayu Pertiwi.
"Ada keperluan apa kalian kesini?"
"Ah … tidak, kami hanya ingin bicara dengan kanjeng adipati," kata Cakra Buana.
"Dalam hal apa?"
"Tentang keadaan rakyat, kanjeng," ucap Cakra Buana.
Mendengar kata itu, senyuman di wajah adipati Surya Wilaloni perlahan menghilang. Keningnya berkerut, dan tatapan matanya tajam mengarah kepada Cakra Buana.
"Memangnya kenapa?"
"Saya melihat keadaan rakyat serba kekurangan, padahal biasanya sebuah kadipaten itu kehidupan rakyatnya selalu berkecukupan. Karena bagaimanapun juga, jika sebuah wilayah dijadikan kadipaten, pasti memiliki tanah yang subur. Kehidupan rakyat bakal sejahtera, tapi yang saya lihat disini malah sebaliknya. Karena itulah saya kesini dengan maksud menanyakan apa yang sudah terjadi," kata Cakra Buana tanpa basa-basi.
"Ada urusan apa kau menanyakan hal itu? Bukankah keadaan rakyat sudah sejahtera?"
"Tidak ada urusan apapun, tapi karena saya juga merupakan asli kelahiran daerah kekuasaan Kerajaan Kawasenan yang kini semakin bertambah luas, saya merasa berhak menanyakan hal ini. Diluar mungkin iya, tapi ketika saya ke pelosok kampung, mereka hidup jauh daripada layak,"
Semakin nampaklah kekesalan dalam wajah adipati Surya Wilaloni. Dia memang paling benci jika ada seseorang yang bicara terkait keadaan rakyatnya. Mungkin takut rahasianya akan terbongkar.
"Hemmm … jangan sok tahu anak muda. Aku lebih faham kondisi rakyatku, sekarang jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan, segeralah kau pergi. Jika tidak ada bekal, aku akan memberikan bekal padamu," kata adipati.
"Aku tidak butuh itu kanjeng adipati. Aku hanya butuh keterangan terkait keadaan rakyat. Apakah memang kondisi tanah yang kurang subur, atau … yang memerintahnya kurang baik?" tanya Cakra Buana langsung ke intinya.
"Lancang. Tutup mulutmu! Berani sekali kau bicara seperti itu pada adipati Surya Wilaloni. Sebenarnya kau siapa?" tanya adipati dengan marah.
"Sudah aku katakan, aku Cakra Buana. Murid Eyang Resi Patok Pati yang merupakan bekas penasihat kerajaan Kawasenan,"
__ADS_1
Mendengar nama itu, adipati Surya Wilaloni membelalakan matanya. Wajahnya merah padam, seolah darah diseluruh tubuhnya dia tumpahkan ke wajah.
"Keparat … rupanya kau murid pengkhianat itu …" bentak adipati.