
Dua Golok Hitam Dari Utara kaget beberapa saat ketika tiba-tiba di hadapan mereka ada seorang pemuda yang tadi mereka temui. Tapi kekagetan itu hanya sebentar dan langsung di gantikan dengan gelak tawa keduanya.
"Hahaha … ternyata ada pahlawan kesiangan. Mau jadi pahlawan untuk seorang bidadari, tidak tahunya terlambat … hahaha …" salah seorang dari mereka menertawai Cakra Buana yang kemudian diikuti rekannya.
Suara mereka bergema di antara bebatuan sungai. Menandakan bahwa keduanya memiliki tenaga dalam yang lumayan tinggi. Cakra Buana tidak meladeni ejekan lawan, dia lebih terfokus kepada pertarungan yang mungkin akan segera terjadi.
"Tidak usah banyak mulut. Lebih baik kalian pergi sebelum terlambat," kata Cakra Buana dengan tenang.
"Pergi? Kau menyuruh kami pergi? Hahaha … apakah kau tidak tahu siapa kami? Pantang bagi Dua Golok Hitam Dari Utara pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkan,"
"Hemmm … jangan pernah bermimpi untuk bisa menyentuh temanku ini," kata Cakra Buana dengan nada datar dan ekspresi yang dingin.
"Cihhh … mengganggu saja …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Tanpa basa-basi lagi, Dua Golok Hitam Dari Utara langsung melesat memberikan serangan kepada Cakra Buana.
"Ling Zhi, kau menjauhlah sebentar. Biar aku bereskan dulu dua tikus keparat ini," kata Cakra buana kepada Ling Zhi. Gadis itu tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya lalu mundur beberapa langkah sambil memegangi luka.
"Haittt …"
"Trangg …"
Dua golok lawan bertemu dengan tangan Cakra Buana. Menimbulkan suara nyaring layaknya logam bertemu logam. Dua lawan sedikit terkejut ketika menyadari tangan lawan sekeras baja, tapi mereka segera melancarkan kembali serangannya.
Mereka meneruskan serangan yang tertunda. Keduanya memberikan sabetan dan bacokan golok ke Cakra Buana. Dengan mudah Pendekar Maung Kulon itu berkelit menggunakan kelincahan yang ia miliki.
Tubuhnya melesat ke sana kemari. Setiap kali lawan merasakan sudah mengayunkan senjata dengan tepat, setiap itu pula Cakra Buana menghindar. Sehingga semua serangan Dua Golok Hitam Dari Utara hanya menemui tempat kosong.
Cakra Buana tak tinggal diam. Kali ini giliran pemuda serba putih itu yang menyerang. Kedua tangannya di kembangkan membentuk sebuah cakar. Kakinya menjejak bebatuan hitam lalu melesat ke arah dua lawannya.
Gerakannya cepat seperti angin. Sehingga dua lawan sedikit kelimpungan.
Dua buah serangan tapak dengan telak mengenai bahu kanan dan kiri lawan, sehingga membuat keduanya terpukul mundur. Dua Golok Hitam Dari Utara merasakan bahunya panas seperti terbakar.
Mereka melirik bekas serangan lawan, keduanya mendapati bahwa bahu mereka sedikit menghitam.
__ADS_1
"Kurang ajar …"
"******* …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Mereka kembali menyerang. Serangan kali ini berbeda daripada sebelumnya. Keduanya memberikan serangan beruntun kepada Cakra buana. Sambaran golok membawa hawa panas dan bau busuk. Sehingga terpaksa Cakra Buana menahan nafas ketika jaraknya dekat dengan lawan.
"Dua Golok Kematian …"
"Wuttt …"
Serangan lawan berubah kembali. Kali ini lebih berbahaya, tempo serangan keduanya pun patut di puji. Beberapa kali Cakra Buana harus mundur untuk menyelamatkan diri dari serangan lawan.
Pertarungan sengit terus berlanjut. Cakra Buana sudah tidak ingin berlama-lama lagi. Dengan gerakan sukar diikuti mata, dia melompat lalu kembali melesat memberikan serangan dengan jurus yang baru selesai dia pelajari.
"Ajian Tapak Es …"
"Wuttt …"
Kedua telapak tangannya memberikan masing-masing satu serangan tapak ke ulu hati lawan. Dua Golok Hitam Dari Utara merasakan adanya hawa dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh mereka dengan cepat.
Keduanya berusaha untuk menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, tapi sayangnya hal itu tak kesampaian. Karena Cakra Buana sudah kembali menyerang keduanya dengan serangan yang lebih ganas lagi.
"Haaa …"
"Blarrr …"
Sebuah energi berwarna putih transparan menghantam keras Dua Golok Hitam Dari Utara. Mereka terpental tiga tombak lalu mendarat tepat di depan sebuah batu kali hitam seukuran kerbau. Kepala keduanya terbentur dengan sangat keras hingga pecah. Mereka tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.
Setelah berhasil membunuh lawan, Cakra Buana segera menghampiri Ling Zhi. Gadis itu semakin pucat, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.
"Tahan sebentar, kita cari tempat aman untuk menyembuhkan lukamu. Racun ini lumayan ganas," kata Cakra Buana kepada Ling Zhi.
Ling Zhi mengangguk lemah. Tubuhnya seperti mati rasa semua. Dengan gerakan cepat, Cakra Buana langsung memondong Ling Zhi lalu pergi mencari tempat yang cocok.
Hanya butuh beberapa saat saja, dia sudah menemukan sebuah goa yang lumayan lebar. Cakra Buana lalu masuk ke dalam, memeriksa keadaan. Setelah dirasa aman, dia lalu menurunkan Ling Zhi, menyenderkannya ke dinding goa.
__ADS_1
"Kau tunggu di sini. Aku akan mencari daun yang mampu mengobati lukamu," kata Cakra Buana lalu melesat keluar.
Hampir satu jam Cakra Buana mencari bahan yang dia perlukan untuk mengobati Ling Zhi, ternyata cukup susah mencari ramuan di hutan ini.
"Ling Zhi, lukamu parah. Racun sudah mulai menyebar ke tubuhmu. Jika tidak segera ditangani, saat malam datang mungkin sangat susah untuk di obati,"
"Bagaimana cara mengobatinya?"
Cakra Buana terdiam sebentar. Dia berpikir keras, rasanya dia sangat malu. Tapi hanya itu satu-satunya jalan.
"Harus aku sedot lukamu," kata Cakra Buana memberanikan diri.
Kali ini gantian, giliran Ling Zhi yang terdiam. Gadis itu berpikir beberapa lama. Masalahnya luka yang dia terima berada di atas buah dadanya, hal itulah yang membuatnya menimbang-nimbang.
"Bagaimana, apakah kau bersedia jika aku menyedot lukamu?"
"Euuu …"
"Cepat, waktu kita tidak banyak," kata Cakra Buana sedikit menekan suaranya.
"Ba-baiklah. Kau boleh melakukannya," jawab Ling Zhi setengah hati.
Begitu mendengar jawaban Ling Zhi, Cakra Buana langsung bergerak. Tangannya merobek sedikit baju gadis itu sehingga memperlihatkan kulit yang halus serta sesuatu yang menonjol.
Darah mudanya berdesir. Otaknya mulai ngawur, tapi secepat mungkin dia kembali memfokuskan diri. Buru-buru dia menempelkan bibirnya tepat di luka yang diderita Ling Zhi.
Cakra Buana merasakan mulutnya menyentuh sesuatu yang begitu lembut. Tangannya seperti memegang sebuah sesuatu yang sedikit kenyal. Kembali pikirannya tidak karuan, tapi lagi-lagi dia sebisa mungkin untuk tetap fokus.
Di sisi lain, Ling Zhi sudah memejamkan matanya sedari tadi. Dia merasakan panas dingin. Gadis itu mulai terangsang, apalagi ketika dadanya ditekan oleh tangan Cakra Buana.
Setelah sekitar sepeminum teh, akhirnya Cakra Buana berhasil mengeluarkan racun yang ada di tubuh Ling Zhi. Darah yang tadinya hitam, kini sudah berangsur memerah kembali.
Pemuda serba putih itu lalu segera membalurkan ramuan yang sebelumnya sudah ia tumbuk tepat ke luka yang di derita oleh Ling Zhi. Saat membalurkan ramuan tersebut, mata Cakra Buana tak henti-hentinya menatap dua buah tonjolan yang indah. Darah mudanya segera berdesir kembali saat itu juga.
###
Hai … hai, maaf ya baru up hehe. Beberapa hari lalu, author kurang enak badan😊maaf ya. Jadi bukan "Tidur, Lupa ataupun Habis Jalan Cerita", cuma karena sakit jadi ngga sempet up. Sebagian pembaca tau sii hehe😁
Semoga terhibur …
__ADS_1