
"Trangg … trangg … trangg …"
Dentingan senjata terus terdengar tiada henti. Percikan api semakin jelas terlihat. Hawa di sana semakin mencekam karena kali ini ketiga pendekar tersebut sudah bertarung dengan segenap tenaga mereka.
Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit sudah melancarkan serangan yang sulit ditebak. Pola serangan mereka selalu berubah-ubah setiap saat.
Adipati Wulung Sangit melompat mundur empat langkah mengambil ancang-ancang, kemudian dia kembali menerjang Cakra Buana.
"Tusukan Maut …"
"Wuttt …"
Keris Naga Bumi bergerak menusuk lambung Cakra Buana. Di tengah hujan serangan yang dilancarkan oleh Munding Aji, Cakra Buana menjadi sedikit kerepotan. Tapi ketika dia melihat bahwa Keris Naga Bumi bergerak menuju lambungnya, Cakra Buana segera melompat untuk menghindar. Tapi …
"Brett …"
"Ahhh …" Cakra Buana melompat mundur sambil memekik tertahan.
Ternyata tusukan Keris Naga Bumi yang tadi mengarah ke lambung itu hanyalah tipuan belaka. Yang benar adalah Keris Naga Bumi menusuk ke bagian bahu kanan.
Kali ini, Pendekar Maung Kulon itu terluka kembali. Tapi rasa sakitnya jauh lebih perih yang sekarang daripada yang sebelumnya.
Cakra Buana langsung menyalurkan hawa murni untuk menetralkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh Keris Naga Bumi itu. Tapi belum juga selesai, Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit sudah menyerangnya lagi.
"Keparat …" kata Cakra Buana sambil melompat mundur untuk menghindari serangan.
Darah muda Cakra Buana semakin berkobar. Dadanya sudah terasa sesak oleh amarah. Matanya berkilat seperti layaknya mata seekor harimau.
"Haaa …"
Cakra Buana menghentakkan kakinya ke tanah. Seketika tanah sedikit bergetar dam waktu seolah berhenti. Tanpa memperdulikan rasa sakit, Cakra Buana sudah bergerak menyerang lawan.
"Ilusi Pedang Kematian …"
__ADS_1
"Wuttt …"
Cakra Buana menghilang dari pandangan semua orang. Sedangkan Munding Aji dam Adipati Wulung Sangit merasa seperti di alam yang berbeda. Mereka merasakan tubuhnya sulit untuk di gerakkan.
"Wuttt … wuttt …"
"Brettt …"
"Ahhh …"
Munding Aji dan Adipati Wulung sangit berteriak kesakitan. Entah bagaimana caranya Cakra Buana bisa menyerang mereka tanpa terlihat sedikit pun. Tahu-tahu, ada beberapa luka yang kini terlukis di beberapa bagian tubuh Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit.
"Sekarang terimalah kematian kalian berdua …"
"Murka Sang Dewa …"
"Wuttt …"
Pedang Pusaka Dewa mengeluarkan asap hitam yang pekat. Pedang pusaka itu benar-benar mengeluarkan pamornya. Cakra Buana memang ingin segera mengakhiri pertarungannya saat ini, maka dia langsung mengeluarkan jurus terkahir dari Kitab Dewa Bermain Pedang.
Segenap kemampuannya sudah di keluarkan hanya demi mengeluarkan jurus tersebut. Cakra Buana tidak mau terlalu mengandalkan ajian yang diberikan oleh ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Baginya ajian pamungkas yang diajarkan oleh pendekar nomor satu itu hanya akan digunakan jika benar-benar terdesak dan nyawanya terancam. Jika tidak demikian, Cakra Buana merasa sungkan untuk menggunakannya.
"Wuttt …"
Cakra Buana sudah mengayunkan Pedang Pusaka Dewa, selarik sinar sudah siap untuk menebas kepala Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit yang kini hanya terdiam karena mereka merasakan tubuhnya seperti terkunci. Akan tetapi ketika sinar itu sudah demikian dekat …
"Blarrr …"
Tiba-tiba, dari arah pinggir sebelah kanan, ada selarik sinar biru yang menghantam jurus Cakra Buana hingga menyebabkan Munding Aji dan Adipati bahkan dirinya pun, terpental sampai tujuh langkah.
Cakra Buana jatuh bergulingan. Dadanya benar-benar terasa sesak. Seluruh tubuhnya sakit bukan main. Tenaga dalam yang sudah dia keluarkan, berbalik menyerang dirinya sendiri.
Sedangkan Munding Aji dan Adipati terlempar enam tombak. Keduanya langsung muntah darah. Mereka terlempar lebih dekat karena tertahan oleh sesuatu.
__ADS_1
Debu mengepul menyelimuti arena dan mengaburkan pandangan.
Cakra Buana sudah berdiri kembali setelah dia berusaha keras. Pedang Pusaka Dewa dia tancapkan untuk menopang dirinya.
Betapa kagetnya Pendekar Maung Kulon itu ketika di hadapannya saat ini, ada enam orang pendekar. Bahkan yang satu usianya sudah sangat tua. Kira-kira mencapai enam puluh tahun. Rambutnya digelung ke atas dengan pakaian merah yang sudah lusuh. Tangan kanan dan kirinya menggengam sepasang tongkat pendek.
Tapi yang paling membuat Cakra Buana kaget adalah sisanya yang lima orang. Pendekar Maung Kulon itu tentu saja masih mengenal mereka. Bahkan dua tahun lalu, Cakra Buana bertarung dengannya.
Mereka tak lain adalah Raden Buyut Sangkar, Nyai Kembang Ros Beureum, Citra Kirana, Dyah Rengganis dan tentunya Ayu Pertiwi. Cakra Buana hanya mengenal mereka saja, sedangkan sosok kakek tua itu, dia tidak mengenalnya. Bahkan berhadapan pun baru sekarang ini.
"Guru …" kata Munding Aji sambil mencoba berdiri untuk memberi hormat kepada kakek tua itu.
Ternyata dia adalah guru dari Munding Aji yaitu Ki Ragen Denta. Salah satu datuk sesat dunia persilatan yang kabarnya sudah lama mengundurkan diri. Tapi entah bagaimana dia bisa tiba di hadapannya sekarang.
"Tenanglah. Biar aku yang menghadapi pemuda itu, dia bukan pemuda sembarangan," kata Ki Ragen Denta kepada Munding Aji.
"Tapi guru, bagaimana guru bisa tahu bahwa aku ada di sini?" tanya Munding Aji penasaran.
"Ceritanya panjang. Nanti saja aku akan menceritakannya setelah membunuh pemuda itu," katanya.
Berbarengan dengan itu juga, Raden Buyut Sangkar membantu Adipati Wulung Sangit untuk berdiri.
"Ayahanda tidak papa?"
"Tidak. Ananda jangan khawatir," jawab Adipati.
Tepat, ternyata Raden Buyut Sangkar adalah putera dari Adipati Wulung Sangit. Jadi tidak heran jika keduanya memiliki kemiripan dalam hal prilaku.
Sedangkan Nyai Kembang Ros Beureum beserta dua muridnya termasuk Ayu Pertiwi, hanya terdiam saja. Mereka terlihat menatap benci kepada Cakra Buana. Sedangkan Ayu Pertiwi biasa saja, hanya tatapannya yang nampak redup. Dia terus memandangi Cakra Buana, tapi sayangnya tak ada seucap kata pun yang dia lontarkan.
"Sialan. Pertarungan ini malah semakin panjang dan masalah akan semakin rumit," gumam Cakra Buana.
Kemunculan enam tokoh itu sangat di luar dugaan. Maka menghadapi situasi seperti saat ini, Cakra Buana pun nampak kebingungan juga.
__ADS_1