
"Memangnya kenapa? Bukankah benar begitu kenyataannya? Yang sudah mati ya sudah, jangan di ingat lagi. Jangan menjadi lelaki lemah. Kalau seperti ini, bagaimana kau akan memimpin sebuah wilayah yang besar?" orang itu semakin bernada tinggi.
Dia berkata bukan karena bertujuan baik, melainkan menampakkan kebencian dan rasa tidak suka kepada Cakra Buana.
Orang-orang sepertinya memang gampang sekali berucap. Dia gampang berkata seperti itu karena belum merasakan apa yang Cakra Buana rasakan.
Dia berkata lemah, padahal dia tidak sadar bahwa semua manusia itu lemah. Tidak ada yang kuat menyangkut soal hati. Kecuali menguatkan.
Mendengar ucapan orang tersebut, bukan hanya Cakra Buana saja yang terpancing emosinya. Bahkan semua orang yang ada di sama pun merasakan hal yang sama dengannya.
"Tutup mulutmu!" bentak Pendekar Tangan Seribu.
"Kenapa? Apakah ucapakanku ini merupakan kebohongan?"
"Tarik ucapanmu dan segera pergi dari sini," kata Cakra Buana dengan geram.
"Kau kira siapa berani mengusirku? Kau hanyalah calon raja, bukan seorang raja," kata orang tersebut.
Sebenarnya niat orang itu berkata sembarangan hanya karena ingin membuat orang-orang yang ada di sana benci terhadap Cakra Buana dan menyetujui ucapannya. Hanya saja diluar dugaan, justru semua orang membela Cakra Buana.
"Plakk …"
Tanpa banyak bicara lagi Cakra Buana langsung menampar orang tersebut. Hanya sekali tampar, sudut bibir orang itu sudah mengeluarkan darah segar. Tapi kakinya tidak bergeser sedikit pun.
Cakra Buana kaget, dia tidak menyangka orang itu mampu bertahan tanpa bergeser dari tamparannya. Tiba-tiba dia merasakan hal lain dari diri orang tersebut.
"Berani sekali kau menamparku," bentak orang tersebut.
"Jangan banyak bicara. Katakan siapa kau sebenarnya?"
Mendengar perkataan Cakra Buana, semua orang yang ada di sana kaget. Mereka serempak berdiri siap siaga dan menanti perintah Cakra Buana.
Asalkan dia memberi perintah untuk membunuh orang tersebut, pasti mereka langsung bergerak.
"Kau akan tahu siapa aku setelah bertarung denganku," katanya lalu keluar ruangan.
Cakra Buana mengikutinya dari belakang. Kini halaman tersebut sudah dikelilingi orang-orang tadi.
"Bernyali juga kau berani berkata seperti itu," kata Cakra Buana dingin.
"Kenapa tidak? Karena aku yakin bahwa mereka tidak akan menyerangku,"
"Hemm, sebenarnya kau siapa?"
"Aku sudah bilang. Bertarung dulu denganku supaya kau tahu,"
"Baik. Aku terima tantanganmu," tukas Cakra Buana.
Selesai dia berkata, orang itu langsung menyerang. Serangan pertamanya datang dengan sangat cepat. Sebuah pukuan yanh mengarah tepat ke ulu hati Cakra Buana.
__ADS_1
Kecepatannya sukar diikuti mata. Bahkan serangan tersebut mengandung kekuatan dahsyat. Orang-orang yang melihat gerakan ini, semuanya kaget. Tidak ada yang tidak terkejut. Sebab serangan seperti ini hanya bisa dilakukan oleh seorang guru dalam sebuah perguruan.
Tetapi serangan itu bukan masalah bagi Cakra Buana. Dia masih berdiri dengan tenang menanti datangnya serangan.
Kemarahannya akan dia lampiaskan kepada orang kurang ajar ini.
Begitu serangan tiba, Cakra Buana langsung menahannya dengan satu tangan kanan. Dia tidak mau basa-basi lagi. Semua amarah dia keluarkan bersama kekuatannya yang dahsyat.
Tangan kanannya mencengkeram kuat tangan orang tadi. Tak lama, dia menghentakkannya hingga orang tersebut terpental lima langkah.
Dia berjumpalitan di udara sebelum mendarat dengan mulus. Begitu mendarat ke tanah, serangan kembali dilancarkan. Kali ini sebuah cengkraman dan pukulan yang dahsyat mengincar titik penting di tubuh Cakra Buana.
Sekali menyerang, dua jurus keluar.
Orang itu mengira bahwa saat seseorang marah, tentu dia akan bertarung dengan gegabah dan tanpa perhitungan sehingga celah akan diciptakan dengan sendirinya. Bagi orang lain mungkin hal tersebut memang berlaku. Tapi bagi Cakra Buana sama sekali tidak berlaku.
Justru dalam kemarahannya ini, kecepatan serangan, kekuatan dahsyat dan sebagainya, bersatu dalam amarah itu sehingga menciptakan sesuatu hal yang luar biasa.
Serangan kedua datang. Cakra Buana hanya berkelit sedikit lalu memukul punggung orang itu dengan punggung tangannya. Tetapi kali ini lawan tidak tersungkur, sebaliknya, dia langsung berbalik lalu kembali melancarkan jurus berikutnya.
Pukulan dahsyat dan cengkraman kuat kembali mengincar Cakra Buana. Tetapi pemuda yang kini sedang marah besar itu sudah tidak mau bermain-main lagi.
Tenaga dalamnya dia kumpulkan di kedua telapak tangan. Begitu serangan lawan tiba, dia langsung menyambutnya dengan indah. Tangannya bergerak menangkis setiap pukulan, kakinya bergerak mengikuti irama lawan.
Dua pendekar telah bertukar belasan jurus. Serangan yang mereka lancarkan menimbulkan suara bergema. Adu pukulan dan tendangan terdengar sangat keras.
Lawan masih berusaha membuat Cakra Buana terdesak. Tetapi sayangnya semua usaha itu sia-sia sebab Pendekar Maung Kulon sudah serius.
Lawan kaget, dia berniat untuk menghindari serangan Cakra Buana, tapi sayangnya tidak sempat sebab tangan kanan Cakra Buana sudah bergerak mengubah arah serangan.
Dengan gerakan cepat, dia mengirimkan sebuah serangan tapak yang sangat dahsyat serta tepat mengenai dada lawan.
"Heughh …",
Dia terpukul mundur sepuluh langkah. Orang tersebut langsung muntah darah.
Cakra Buana menghampirinya dengan langkah penuh tenaga.
"Katakan siapa kau sebenarnya?" tanya Cakra Buana sambil mencengkram leher orang tersebut.
"Aa-ku …" orang tersebut tidak menyelesaikan ucapannya karena ternyata dia telah bunuh diri dengan cara menyerang organ dalamnya sendiri.
Darah segar segera mengalir dari mulutnya. Dia tewas tanpa memberitahukan siapa dia sebenarnya.
"Keparat. Dia bunuh diri," ucap Cakra Buana dengan geram.
Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung melemparkan jasad tersebut kemudian pergi tanpa sepatah kata pun.
Orang-orang yang di sana kebingungan. Tetapi mereka tidak ada yang berani bicara.
__ADS_1
Mereka segera kembali lagi ke ruangan tadi untuk membicarakan beberapa hal. Pada akhirnya, Prabu Katapangan terpaksa harus mengemban tugas besar sambil menunggu kesiapan Cakra Buana.
Semua orang yang ada di sana akhirnya setuju dengan usulnya. Dalam beberapa waktu ke depan, kerajaan akan segera digabungkan dan seluruh Tanah Pasundan akan berada di bawah kerajaan besar nanti.
Dalam waktu dua atau tiga tahun, mungkin kerajaan megah yang baru sudah berdiri di tanah ini.
###
Keesokan paginya, Cakra Buana sudah bangun pagi-pagi sekali. Dia pergi ke ruang makan untuk melakukan sarapan bersama. Setelah selesai makan, Cakra Buana meminta waktu kepada Prabu Katapangan untuk berbicara dengannya sebentar. Kini keduanya sudah berada di sebuah ruangan yang tidak ada siapa-siapa kecuali mereka.
"Ada apa Cakra?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu kepada paman,"
"Katakanlah," ucap Prabu Katapangan.
"Aku ingin pergi mengembara untuk mencari para pembunuh Ling Zhi dan para pendekar yang kemarin membantu pihak Kerajaan Kawasenan. Aku akan membalaskan dendam orang-orang yang sudah berjasa bagi kerajaan ini,"
"Tapi Cakra, hal ini akan berbahaya sekali. Lebih baik kau ditemani beberapa orang,"
"Tidak perlu paman. Aku ingin pergi mengembara sendiri. Sekaligus aku akan merebut kembali tiga pusaka legenda,"
Prabu Katapangan sebenarnya ingin melarang Cakra Buana. Tapi dia tahu bahwa itu hanya sia-sia saja. Apalagi, orang tua itu paham betul bagaimana sifat Cakra Buana.
"Baiklah kalau memang itu maumu. Paman tidak bisa melarang lagi. Paman hanya minta supaya kau bisa menjaga diri,"
"Terimakasih paman,"
"Kapan kau akan berangkat?"
"Sekarang," tegas Cakra Buana.
"Ta-tapi. Tidakkah kau menunggu beberapa hari lagi?"
"Tidak,"
"Haishh, baiklah. Sebentar, paman akan membawakan sedikit bekal untukmu,"
Cakra Buana mengangguk. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Prabu Katapangan datang membawakan sekantung emas dan satu bilah pedang.
"Pedang ini pernah paman pakai waktu muda dulu. Walaupun bukan pusaka legenda, setidaknya entah sudah berapa banyak nyawa yang tewas di pedang ini,"
"Terimakasih paman. Pedang yang bagus," puji Cakra Buana tulus.
"Hahaha, kau pandai memuji ternyata. Namanya Pedang Pencabut Nyawa. Setiap kali pedang itu keluar, maka dia tidak akan mau lagi masuk sebelum mendapatkan korban. Paman harap kau tidak sembarangan menggunakannya,"
"Baik paman. Kalau begitu aku pergi sekarang," ucap Cakra Buana.
Dua orang itu kemudian berpelukan hangat. Mereka akan berpisah dan entah kapan akan bertemu kembali. Ada rasa sedih di hati keduanya. Apa boleh buat, setiap manusia mempunyai tujuannya masing-masing.
__ADS_1
Pada akhirnya, Cakra Buana pergi seorang diri meninggalkan Kerajaan Tunggilis tanpa ada yang mengetahuinya.