
Cakra Buana dan Ling Zhi baru berani mengangkat kepala setelah Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat benar-benar menghilang dari sana.
Kedua pasangan itu sama-sama menangis. Sama-sama merasakan kesedihan yang mendalam.
Terlebih lagi Cakra Buana, hatinya sangat sakit saat teringat perkataan Ling Zhi yang diakuinya keluar secara tiba-tiba itu.
Mereka pun akhirnya segera kembali ke raganya masing-masing dengan air mata masih terus mengalir jatuh.
Sukma Cakra Buana dan Ling Zhi telah kembali ke raganya. Ternyata, raga mereka pun sama meneteskan air mata.
Malam semakin larut saat Cakra Buana menyelesaikan perjalanan sukmanya, suasana di Kerajaan Tunggulis sangat sepi. Yang lain sudah tertidur pulas bersama mimpi. Tapi Cakra Buana, masih tetap terjaga sampai sekarang.
Bahkan sampai kembali tersadar pun, Pendekar Maung Kulon masih memikirkan tentang perkataan Ling Zhi. Entah kenapa, dia merasa tidak tenang saat ini.
Sampai pagi tiba, dia tidak mampu memjamkan matanya kembali. Setelah semua orang telah bangun, Cakra Buana langsung pergi untuk menemui Ling Zhi.
Dan ternyata, secara kebetulan Ling Zhi pun berniat untuk menemui Cakra Buana. Keduanya bertemu di tengah-tengah, tanpa banyak bicara mereka segera pergi keluar mencari tempat yang nyaman.
Bukit di belakang Kerajaan Kawasenan adalah tempat yang cocok untuk menyepi. Apalagi di saat pagi seperti ini. Keindahan alamnya bukan main, suara burung bernyanyi riang menyambut pagi yang cerah.
Cakra Buana duduk di pinggir tebing bersama Ling Zhi. Gadis itu duduk menyenderkan kepalanya ke bahu sebelah kanan Cakra Buana.
Keduanya masih merasa sedih. Sedih yang sulit untuk di gambarkan.
"Kakang …"
"Eumm …" Cakra Buana menyahut pelan lalu menoleh kepadanya. "Ada apa?"
"Aku, aku masih belum percaya atas kejadian semalam. Apakah itu sebuah kenyataan?"
"Haahh …" Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam. "Semua itu memang nyata Ling Zhi. Guru kita sudah memutuskan jalan hidupnya sendiri. Kita bisa apa? Kecuali hanya bisa bersabar menerima kenyataan ini,"
"Tapi, aku masih belum rela kakang,"
"Apakah kau pikir aku sudah rela? Sama sekali belum Ling Zhi. Bahkan aku masih ingin bertemu mereka. Melewati hari-hari bersama seperti dulu. Tapi apa boleh buat? Sang Hyang Widhi berkata lain," kata Cakra Buana menahan tangis.
"Kau benar. Mau tidak mau kita harus menerimanya dengan lapang dada,"
"Yah … mau bagaimana lagi?"
"Kakang …"
"Kenapa?"
"Kalau aku pergi … apakah kau juga akan merasa sedih?"
"Maksudmu pergi ke mana? Kenapa kau ini selalu bicara yang tidak-tidak,"
"Aku hanya ingin tahu perasaanmu saja kakang. Tidak lebih,"
"Tentunya aku merasa sedih. Bahkan mungkin akan menangis seharian,"
__ADS_1
"Benarkah ucapanmu itu?"
"Kapan aku berbohong kepadamu?"
"Hemm … kau harus janji kepadaku satu hal,"
"Janji apa?" Cakra Buana mulai tidak mengerti.
"Kalau aku suatu saat pergi, kau tidak akan pernah melupakan aku untuk selamanya,"
"Ling Zhi kau ini kena-,"
Ling Zhi segera menghentikan ucapan Cakra Buana dengan cara menempelkan telunjuknya di bibir sang kekasih. "Aku hanya ingin kau berjanji kepadaku," pinta Ling Zhi.
"Aku berjanji. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah melupakanmu,"
"Sungguh?"
"Tentu saja sayang,"
"Apakah kita akan selalu bersama?"
"Tentu saja. Apapun rintangannya, aku akan selalu ada untukmu. Tak ada yang memisahkan kita kecuali maut. Bahkan kalau bisa, aku ingin mati bersamamu,"
"Mana bisa begitu,"
"Memangnya kenapa? Justru itu bukti betapa dalamnya cintaku kepadamu,"
"Tidak bisa. Kalau aku mati, kau jangan ikut mati. Justru kau harus hidup menjalankan semua tugasmu. Tugas yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi,"
"Aku tidak sakit, aku sehat-sehat saja,"
"Lalu kenapa dari tadi kau terus mengucapkan hal-hal seperti itu?"
"Hanya ingin,"
"Hemmm …" Cakra Buana mendengus.
"Sudahlah kakang. Saat ini aku ingin tenggelam dalam buaianmu," kata Ling Zhi memanjakan diri.
Tiba-tiba ia menubruk tubuh Cakra Buana sampai tertidur. Ia mulai menciumi wajah kekasihnya itu.
Dalam sekejap, kedua pasangan tersebut sudah tenggelam dalam lautan kenikmatan bersama ombak kecintaan yang bergelora menghantam diri mereka.
Pagi-pagi, keduanya telah tenggelam mencurahkan perasaan mereka.
Siang harinya, Cakra Buana dan Ling Zhi kembali lagi ke Istana Kerajaan. Tak ada yang menanyakan mereka berdua dari mana. Lagi pula, siapa yang berani menanyakan hal itu kepada seorang pangeran?
Saat Cakra Buana baru sampai di Istana Kerajaan, tiba-tiba Pangeran Kalacakra Mangkubumi datang menemuinya.
"Kakang, kau sedang ada kegiatan?" tanya Raden Kalacakra.
__ADS_1
"Tidak, memangnya ada apa Raden?"
"Kalau begitu, mari ikut aku sekarang," ajak Raden Kalacakra.
Tubuhnya menggambarkan kecemasan, sehingga Cakra Buana merasa ada yang tidak beres.
"Kemana?"
"Nanti kau akan segera tahu sendiri," katanya.
Tak lama mereka segera pergi dari Istana Kerajaan menggunakan kuda.
Sepeminum teh kemudian, ketiganya telah sampai di sebuah tempat. Tempat itu berupa sebuah sungai penuh bebatuan hitam yang agak besar.
Di sana tergeletak dua orang mayat pria berpakaian prajurit Kerajaan Tunggilis.
Tanpa banyak bicara lagi, Cakra Buana segera menghampiri dua mayat tersebut. Begitu sampai, wajah Cakra Buana berubah total.
Ekspresinya menggambarkan kemarahan besar. Matanya berkilat menyeramkan.
"Siapa mereka kakang?" tanya Ling Zhi.
"Sanca dan Dadung Amuk …"
"Hahh? Siapa yang telah berani membunuh mereka?" tanya Ling Zhi kaget lalu menghampiri Cakra Buana.
"Entahlah. Siapapun pembunuhnya, pasti mereka ada maksud tersendiri. Di lihat dari caranya membunuh, mereka pasti seorang yang kejam dan berilmu tinggi,"
"Hemm, apa maksud orang-orang ini," gumam Raden Kalacakra.
"Entahlah, tapi aku merasa bahwa orang-orang itu masih ada di sekitar sini. Sekarang lebih baik kita bawa pulang lalu kuburkan jasad Sanca dan Dadung Amuk terlebih dahulu," ucap Cakra Buana.
Ucapannya mendapat persetujuan dari Ling Zhi dan Raden Kalacakra. Mereka segera kembali naik ke atas.
Namun sebelum menaiki kuda, tiba-tiba saja dari balik semak-semak, muncul kira-kira sepuluh orang berpakaian seragam hitam. Di depan sepuluh orang itu berdiri dua orang tua dengan tatapan kejam.
Pakaian dua orang itu memiliki sebuah simbol berupa ular sendok (kobra).
Cakra Buana merasa kenal dengan simbol ini, sebab seingatnya simbol seperti ini hanya dimiliki oleh anggota Perguruan Ular Sendok. Karena tidak mau penasaran, maka dia pun segera mengajukan tanya.
"Apakah kalian berasal dari Perguruan Ular Sendok?"
"Hahaha, bagus, bagus, ternyata kau masih ingat terhadap perguruan itu," kata salah seorang di antara mereka berdua.
"Hemmm, tidak salah lagi, pasti kalian yang sudah membunuh Sanca dan Dadung Amuk,"
"Hahaha … kau pintar juga ternyata. Memang kami yang membunuh mereka,"
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Karena mereka berani mengkhianati perguruan dan memilih jadi bagian Kerajaan,"
__ADS_1
"Apa salahnya? Mereka hanya ingin berubah menjadi yang lebih baik,"
"Tidak peduli alasan apapun. Pengkhianat, tetap pengkhianat," katanya dengan marah.