Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tuan Santeno Tanuwijaya


__ADS_3

Bidadari Tak Bersayap sedang berusaha menangkis sebisa mungkin, tiga buah serangan tersebut tidak dapat dia tahan seluruhnya. Satu buah serangan yang berasal dari pedang berhasil menggores paha kanan gadis cantik tersebut.


Darah segera muncrat keluar. Sinta Putri Wulansari sontak berteriak karena terkejut. Dia melompat mundur ke belakang untuk menotok lukanya supaya darah berhenti keluar.


Saat itu, dua tokoh kelas atas yang tadi sedang memulihkan diri, kini sudah kembali lagi ke arena pertempuran.


Melihat si gadis terluka cukup dalam akibat goresan pedang, kelimanya merasa gembira. Dengan penuh nafsu ingin membunuh, lima tokoh kelas atas tersebut melesat dengan senjatanya masing-masing.


Tidak tanggung-tanggung, mereka melancarkan dua serangan sekaligus. Satu dengan senjata, satu lagi dengan tangan kosong yang sudah dilambari tenaga dalam hebat.


Cakra Buana mendengar jeritan tertahan dari kekasihnya, tetapi untuk memberikan pertolongan, rasanya sangatlah mustahil.


Sebab dia sendiri sedang menghadapi gempuran sepuluh serangan yang sangat dahsyat. Bahkan posisinya juga sedang tidak menguntungkan. Kesepuluh tokoh kelas atas itu terus mendesaknya sehingga dia mati langkah.


Walaupun ada kekuatan besar yang terus merembes keluar, nyatanya itu saja belum cukup untuk menandingi kekuatan gabungan dari sepuluh tokoh tersebut. Kalau misalkan hanya lima orang saja, dia yakin masih bisa memenangkan pertarungan.


Tapi kalau sepuluh, ceritanya lain lagi. Sekalipun dia hampir mencapai tahapan pendekar tanpa tanding, namun bukan berarti tidak terkalahkan. Seekor harimau kalau di keroyok sepuluh singa juga sudah pasti akan kewalahan.


Tapi kalau yang menyerang satu-satu, maka hasil ataupun ceritanya akan berbeda lagi.


Namun, bagaimana bisa mereka menyerang Cakra Buana seperti itu? Selain membutuhkan waktu yang lama, penulisnya juga lelah kalau terus menerus mendeskripsikan pertarungan dengan gaya berbeda supaya tidak bosan.


Belum lagi pembacanya yang akan merasa jenuh. Jadi jalan satu-satunya, bertempur mempertaruhkan nyawa sekaligus, bisa dibilang itulah jalan terbaik.


Cakra Buana tidak takut mati. Karena dia juga sadar, sebagai seorang pendekar, orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan, kematian bisa terjadi dan datang kapan saja. Bahkan saat tidur pun, bukan hal mustahil jika tidak bisa bangun lagi.


Namun untuk mati saat ini, dia sangat menyayangkannya. Selain belum mencapai tujuannya, masih banyak juga tugas yang belum Cakra Buana selesaikan.


Lima tokoh kelas atas yang menyerang Bidadari Tak Bersayap semakin dekat jaraknya. Pada saat itu, secara tiba-tiba, entah siapa yang melakukannya, sebuah sinar kuning emas menghantam kelima tokoh bahkan mengabaikan serangan mereka.


"Blarrr …"


Ledakan terdengar keras menggetarkan gendang telinga. Kelima tokoh tersebut sangat terkejut. Bagaimana mungkin ada orang yang mampu menggagalkan serangannya? Kalau pun ada, sudah pasti pelakunya merupakan tokoh setingkat mereka.


Di sisi lain, hal yang sama juga terjadi pada pertempuran Cakra Buana.

__ADS_1


Di saat sepuluh tokoh kelas atas sedang mendesak dan dia sendiri menangkis semuanya, dari arah kiri secara mendadak meluncur empat macam sinar berbeda warna.


Sinar-sinar tersebut menembus gelapnya malam dan bahkan membuyarkan serangan lawan.


Cakra Buana bereaksi cepat, dia segera menghantamkan telapak tangan ke depan sehingga meluncur dua buah sinar biru dan merah.


"Blarrr …"


Benturan tenaga dalam antara dia dan musuhnya menimbulkan bunyi keras. Gelombang kejutnya bahkan membuat ranting pohon retak.


Dua pertempuran berbeda, tapi mengalami hal yang sama dan kejadian mengejutkan.


Pertempuran para pendekar tersebut berhenti. Selain untuk mengatur nafas dan menyalurkan hawa murni, mereka juga sama-sama merasa penasaran siapa gerangan yang telah mengirimkan serangan secara tiba-tiba tersebut.


Bagi Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap, hal ini tentu sangat berarti. Ternyata Sang Hyang Widhi belum mengizinkan kedua pendekar muda itu tewas. Sehingga "pertolongan" yang tidak diduga sebelumnya, justru datang secara tiba-tiba.


Tetapi bagi pihak lawan, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang paling tidak di inginkan oleh mereka. Sebab kalau sampai pertolongan datang seperti ini, itu artinya usaha untuk membunuh dua pendekar muda yang sedang naik daun tersebut, akan semakin susah lagi.


Bahkan bukan tidak mungkin bahwa mereka sendiri yang akan terbunuh.


Di bagian Cakra Buana berdiri empat bayangan baru. Sedangkan di depan Bidadari Tak Bersayap, nampak juga dua bayangan yang merupakan seorang wanita tua.


Pemimpin cabang Organisasi Tengkorak Maut bersama tokoh kelas satu lainnya menjadi sangat terkejut. Sebab mereka tahu betul siapa gerangan enam orang yang baru datang tersebut.


Santeno Tanuwijaya.


Benar, dialah yang datang.


Maha guru dari Perguruan Tunggal Sadewo, ayah dari Tuan Muda Margono Tanuwijaya yang beberapa waktu lalu terbunuh dan ditemukan di kamar Cakra Buana.


Bahkan menurut berita, pemuda itu sendiri yang telah membunuhnya. Tetapi kenapa sekarang mereka datang dan bahkan membantu Cakra Buana? Datangnya lengkap bersama guru Perguruan Tunggal Sadewo pula.


"Ah, aku kira siapa yang datang. Ternyata Tuan Santeno Tanuwijaya. Mohon maaf karena hamba tidak bisa menyambut kedatangan Tuan," ucap pemimpin cabang Organisasi Tengkorak Maut sambil membungkuk memberikan hormat.


"Hemm …" dengus Tuan Santeno Tanuwijaya. "Malembo Kahamana si Manusia Kejam Langkah Seribu, jangan berpura-pura lagi. Aku tidak sudi menerima hormatmu," jawab Tuan Santeno kepada pemimpin cabang atau yang dia sebut Manusia Kejam Langkah Seribu.

__ADS_1


Malembo Kahamana tersentak. Hatinya langsung tidak terima ketika maha guru itu mengatakan seperti barusan. Namun untuk bertindak kurang ajar, dia masih belum berani. Sebah dia tahu benar siapa dan bagaimana kehebatan orang tersebut.


"Maksud Tuan Santeno? Hamba tidak mengerti. Mohon kalau ada masalah pribadi, kita selesaikan baik-baik setelah kami berhasil membunuh dua bocah keparat itu," kata Malembo sambil menunjuk Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap.


Tuan Santeno hanya tertawa dingin.


"Justru aku memang mempunyai urusan. Bahka bukan hanya dengan kalian saja, tetapi dengan semua anggota Organisasi Tengkorak Maut," tegasnya.


Malembo Kahamana dibuat terkejut lagi. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya atas apa yang terjadi saat ini. Sebab seingatnya, pihak Organisasi Tengkorak Maut tidak pernah ada masalah dengan Perguruan Tunggal Sadewo.


Bahkan kedua belah pihak sudah membuat kesepakatan ingin membunuh pemuda bergelar Pendekar Tanpa Nama. Lalu, kenapa sekarang dia malah membantu pemuda itu?


"Masalah apakah yang Tuan maksudkan. Aku tidak mengerti sama sekali,"


"Tentang anakku,"


"Mendiang Tuan Muda Margono Tanuwijaya? Bukankah pembunuhnya ada di belakang tuan sendiri? Tuan jangan khawatir. Kami akan membuatnya tak berdaya, setelah itu, terserah tuan mau di apakan pembunuh tersebut," ujar Malembo penuh semangat.


"Tidak perlu. Aku sudah tahu siapa pelaku sebenarnya,"


"Siapa?"


"Kalau bukan kau sendiri, siapa lagi? Bukankah sebelumnya kau mengajak anakku pergi. Selain itu, ada Wanita Berhati Batu yang ingin menyelamatkan muridnya, Ratih Kencana. Bukan begitu?"


"Degg …" Malembo Kahamana tersentak. Jantungnya tiba-tiba berpacu kencang.


###


Sabar ya hehe, semoga tidak bosan karena bertarung terus. Lagian, ini kan fantasi wkwk. Semua yang terjadi berhubungan erat dengan pertarungan, kematian.


Author berusaha membuat novel ini penuh dengan misteri, intrik, teka-teki dan lain sebagainya.


Supaya para kakang dan nyai sekalian tidak bosan ya … hihi


Jangan lupa kopinya ah☕

__ADS_1


__ADS_2