Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur


__ADS_3

"Kalau memang itu permintaan kakek, aku yang muda tentu tidak berani menolaknya," kata Cakra Buana tenang.


"Hahaha, anak baik. Bagus, buktikan kepada orang-orang yang ada di sini bahwa kau memang layak menjadi seorang pemimpin besar," kata Kakek Tongkat Kiri.


"Semoga saja aku bisa membuktikannya kek,"


Setelah berkata demikian, Cakra Buana lalu mundur beberapa langkah. Prabu Katapangan dan yang lainnya turun, bergabung bersama para pendekar yang ada di bawah. Suasana menjadi tegang untuk beberapa saat.


Pertarungan yang menarik, sebentar lagi akan segera berlangsung. Orang-orang itu tidak mau menyia-nyiakan pertarungan yang pasti aku seru ini. Semuanya tak ada yang bicara.


Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur mengambil posisi. Jarak antara Cakra Buana hanya terpaur sekitar tujuh langkah. Hawa berubah menjadi dingin. Hembusan angin mendadak berhenti.


Di bawah cahaya bulan purnama yang indah ini, pertarungan tingkat tinggi akan segera terjadi. Walaupun ini hanya merupakan ujian semata, tapi tetap saja orang-orang yang hadir di sana merasakan ketegangan.


"Silahkan dimulai pangeran," kata Kakek Tongkat Kanan mempersilahkan Carla Buana untuk memulai duluan.


Pendekar Maung Kulon mengangguk. "Maaf kalau aku berlaku tidak sopan," katanya.


Selesai berkata demikian, ia langsung menjejakkan kakinya lalu maju menerjang. Tanpa sungkan lagi Cakra Buana mengeluarkan serangakaian jurus dari Kitab Maung Mega Mendung.


"Harimau Mengejar Mangsa …"


Serangan pertama datang membawa hawan panas yang lumayan. Kedua tokoh tua itu bergerak menyambut serangan. Tongkatnya mulai ia mainkan dengan lincah. Baru satu serangan saja, keadaan di sana bertambah tegang.


Untuk diketahui, Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur adalah dua orang kakak beradik. Seperti julukannya, mereka memang kembar. Usianya sekitar tujuh puluh tahun lebih. Tapi walaupun sudah tua, mereka masih memiliki kepandaian yang sangat tinggi.


Namanya harum di mana-mana. Mereka di kenal sebagai dua orang pendekar pembela kebenaran. Karena semua yang mereka lakukan adalah hal-hal baik, maka kalangan pendekar yang satu aliran sangat menghormatinya.

__ADS_1


Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur tinggal di daerah pinggiran hutan bernama Ci Manggu Bodas. Daerah yang bisa dibilang sangat pelosok, tapi kaya akan hasil alamnya. Mereka berdua sengaja datang ke Bukit Maut karena mendapatkan undangan langsung dari Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Walaupun tidak muda lagi, tapi jiwa patriot keduanya masih tumbuh. Bahkan mungkin sudah mendarah daging. Sampai mati, mereka akan selalu berjuang melawan ketidakadilan.


Keduanya mempunyai julukan tersendiri. Yang satu dikenal Kakek Tongkat Kanan, karena ia selalu memegang tongkat di tangan kanannya. Sedangkan yang satu lagi, merupakan kebalikannya.


Cakra Buana masih berada dalam posisi menyerang. Pendekar Maung Kulon mulai mengeluarkan setengah kemampuan. Dia tidak mau mengecewakan orang-orang yang sudah percaya kepadanya, karena itulah, Pendekar Maung Kulon tidak main-main lagi.


Hawa di sekitar arena pertarungan selalu berubah-ubah. Sesaat panas, sesaat dingin. Cakra Buana bergerak mengincar salah satu di antara keduanya. Karena menurut pengamatannya, kalau seorang terluka, pasti kekuatannya juga akan sedikit menurun.


Akan tetapi berbicara memang lebih mudah daripada melakukan. Sampai dua puluh jurus pun, Pendekar Maung Kulon belum berhasil melukai satu di antara mereka.


Setiap dia hampir memberikan serangan telak, maka yang satu akan membantu. Hal ini menjadikannya sulit untuk menggempur lawan.


Memasuki jurus ketiga puluh, Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur mulai bergerak. Dari yang tadinya posisi bertahan, sekarang berbalik jadi posisi menyerang.


Mereka memecahkan diri menjadi dua sisi. Kakek Tongkat Kanan bergerak lebih dulu. Tongkat yang terbilang unik itu meliuk-liuk bagaikan seekor ular. Tongkat itu seperti punya mata yang tajam. Ke mana Cakra Buana mengelak, pasti tidak bisa lepas dari kejaran tongkat.


Kerja sama Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur, patut di acungi jempol. Perkataan orang bahwa sangat sedikit sekali pendekar yang bisa melepaskan diri dari jurus "Dua Tongkat Mengurung Kera" yang sedang dimainkan saat ini, bukan isapan jempol belaka.


Kalau lawannya bukan Cakra Buana, tentu dari tadi dia sudah kalah. Andai kata ini adalah pertarungan hidup dan mati, mungkin sudah dua atau tiga kali tewas.


Orang-orang yang menyaksikan pertarungan ini tidak ada yang berani berkedip. Seolah mereka takut sekali terlewatkan satu jurus. Dada mereka terasa sesak karena pertarungan dahsyat ini.


Hembusan angun bertiup cukup kencang mengibarkan rambut Cakra Buana yang sudah sebahu. Keringat sudah membasahi ketiga orang tersebut. Pertarungan berhenti beberapa saat.


Namun tak lama, mereka kembali melanjutkannya. Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur mengubah gaya serangannya. Kali ini dua saudara kembar itu mengerahkan jurus "Dua Tongkat Menyodok Mega".

__ADS_1


Mereka menyerang dari arah depan silih berganti. Cakra Buana semakin merasa kewalahan sebab kedua tongkat tersebut semakin gencar menyerangnya. Tak ada waktu baginya untuk menghirup nafas dengan tengan. Seolah kedua tokoh tua itu tidak mengizinkannya.


Saat gempuran tongkat menyerang dengan ganas, Kakek Tongkat Kanan berteriak kepada Cakra Buana.


"Pangeran, gunakan senjatamu sekarang. Kita lihat sampai di mana pertarungan ini,"


Cakra Buana sempat ragu untuk mengeluarkan senjata. Karena kalau ia mengeluarkan senjata, itu artinya Pedang Pusaka Dewa yang keluar. Sepertinya sebagian para pendekar yang ada di sini belum mengetahui bahwa Cakra Buana memegang pusaka yang menggetarkan dunia persilatan itu.


Tapi karena serangan dua tokoh tua semakin hebat, maka tak ada jalan lain lagi. Cakra Buana melompat ke atas lalu berputar satu kali. Begitu mendarat, sebuah pedang hitam sudah tergenggam erat di tangan kanannya.


Pendekar Maung Kulon menyalurkan tenaga dalam kepada Pedang Pusaka Dewa. Ia tidak mau menghancurkan senjata lawan, toh ini hanya ujian baginya. Maka tenaga dalam yang ia salurkan itu, bertujuan untuk mempertumpul Pedang Pusaka Dewa. Sehingga jika terjadi benturan, pusaka Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur tidak akan patah.


Baru saja tenaga dalamnya tersalur, dua batang tongkat meluncur dari atas ke bawah mengincar bahu kanan dan kiri Cakra Buana. Secepat kilat dia mengangkat Pedang Pusaka Dewa lalu menahan kedua pusaka tersebut.


"Tranggg …"


Benturan yang di khawatirkan akhirnya terjadi. Tongkat dua saudara kembar itu memang tidak patah. Namun tongkat sampai pangkal lengannya bergetar hebat. Tenaga mereka seperti terhisap oleh pedang tersebut.


Pedang Pusaka Dewa mulai mengeluarkan pamornya secara otomatis. Asap hitam perlahan keluar menyelimuti seluruh bagian pedang.


Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur semakin kerepotan. Bahkan kali ini tubuhnya pun ikut bergetar. Di saat seperti itulah Cakra Buana menarik diri sambil melepaskan Pedang Pusaka Dewa dari kedua senjata lawan.


Nafas dua kakek tua itu terengah-engah. Tenaga dalamnya yang terhisap lumayan banyak. Dari keningnya, jatuh beberapa tetes air kata sebesar biji kacang kedelai.


"Terimakasih karena kakek sudah mengalah," kata Cakra Buana sambil memberikan hormat.


Dia segera membungkus kembali Pedang Pusaka Dewa dengan kain putih.

__ADS_1


"Hebat. Ilmumu sungguh luhur pangeran. Tapi, aku sepertinya kenal dengan pedang hitammu itu," kata Kakek Tongkat Kanan.


"Benar, sepertinya dulu aku sempat melihatnya," ucap Kakek Tongkat Kiri menyahuti perkataan saudaranya.


__ADS_2