
Cakra Buana terkejut melihat hasil dari hantaman yang gagal tersebut. Andai kata dia telat sedikit menarik tubuhnya, sudah pasti dirinya kini telah berubah menjadi gumpalan daging tanpa tulang.
Si Gada Pemukul Gunung semakin marah. Dia mengangkat gadanya lalu kemudian berputar-putar dengan merentangkan kedua tangannya. Tubuhnya dalam sekejap saja sudah tergulung dalam sinar dari gada tersebut.
Dia seperti pusaran angin yang mampu membawa apa saja di sekitarnya. Semakin lama, ayunan dan pusaran tersebut semakin cepat dan dahsyat.
Seluruh tubuh Cakra Buana menjadi sasaran empuk baginya. Dari sisi sebelah kanan, ada si Tubuh Baja Pukulan Besi sedang menyiapkan jurusnya pula. Dari sisi kiri sendiri, si Banteng Tanpa Ampun terus menggempurnya dengan berbagai macam serangan hebat.
Cakra Buana terkepung. Dia tidak bisa lagi lari ke mana-mana.
Melihat bahwa pemuda itu hanya diam saja seperti mematung, tiga pengawas dan pelindung cabang organisasi itu nampak gembira. Mereka semakin menambah daya kekuatan dalam masing-masing jurusnya.
Keyakinan bisa mengalahkan lawan semakin tumbuh subur dalam benak mereka.
Tetapi kenyataannya tidak demikian. Mematungnya Cakra Buana justru sedang menyiapkan sebuah jurus yang dahsyat. Mereka belum menyadari hal ini.
Lagi pula, ketiganya belum tahu kekuatan sebenarnya yang dimiliki oleh Pendekar Tanpa Nama ini.
Tiba-tiba angin menderu ke arah tubuh empat pendekar itu. Cakra Buana sudah menyiapkan jurus saktinya. Pemuda itu melipat kedua tangan di dada. Begitu tiga lawan tiba dengan masing-masing serangan, Cakra Buana mengambil tindakan.
"Naga Menerjang Mengeluarkan Badai …" dia berteriak dengan suara menggelegar.
"Wushh …"
Tubuhnya berputar persis seperti Gada Pemukul Gunung. Hanya saja Cakra Buana jauh lebih cepat dan lebih dahsyat lagi. Hanya tiga kali putaran tubuh, sebuah energi transparan sudah terbentuk.
Cakra Buana menerjang ketiga lawannya dalam sekali serangan.
Badai dilawan badai lagi.
Dua badai hebat bertemu di tengah-tengah. Benturan keras itu menimbulkan gelombang kejut. Beberapa anggota terlempar karena dahsyatnya benturan dua jurus itu.
__ADS_1
Si Gada Pemukul Gunung juga terpental dua langkah karena dia yang dijadikan sasaran utama oleh Cakra Buana. Dua rekannya tidak dapat mendekati tubuh pendekar muda itu.
Sekarang posisinya sudah berbalik. Kalau tadi Cakra Buana dipaksa harus berada dalam posisi bertahan, maka saat ini giliran dia yang berada dalam posisi menyerang dengan ganas.
Pendekar muda itu terlihat seperti seekor naga perkasa yang menerjang hebatnya badai. Kedua tangannya memberikan gempuran serangan dahsyat. Kedua kakinya menerjang ke segala titik penting di tubuh manusia.
Berbagai macam jurus cakaran dan hantaman sudah dilepaskan oleh Cakra Buana. Dia berputar tanpa henti sambil terus melancarkan serangan-serangan yang menggiriskan.
Ketiga lawannya dibuat keteteran hanya dalam beberapa kali gebrak. Beberapa hantaman dan tendangan dengan telak mendarat di tubuh ketiga lawannya.
Mereka meringis menahan rasa sakit. Tapi sayangnya suara itu tertutup oleh sebuah suara gemuruh yang dihasilkan dari semua sepak terjang Cakra Buana.
Hanya dalam hitungan kejap, keadaan berbalik total. Cakra Buana sudah berada di atas angin. Ke mana lawan bergerak, ke situ juga Cakra Buana akan menggempur tanpa ampun.
Semua gerak-geriknya ini tak lepas dari perhatian beberapa orang yang masih setia melihat sepak terjang Pendekar Tanpa Nama. Berbagai macam pujian terlelontar secara otomatis dari mulut orang-orang tersebut.
"Benar-benar hebat. Pemuda itu pasti akan menjadi lawan berat bagi kita," kata salah seorang.
"Benar. Tapi kita jangan khawatir soal itu, toh banyak tokoh yang akan membantu kita. Lagi pula, ada dia yang akan bergerak dengan caranya sendiri," timpal seorang yang bersuara serak parau.
Sementara itu, pertarungan di antara keempat pendekar semakin berjalan lebih seru dan menegangkan.
Sekarang ketiga lawannya baru menyadari betul bahwa Pendekar Tanpa Nama alias Cakra Buana ini memiliki kekuatan yang ternyata jauh melebihi perkiraan mereka.
Gada Pemukul Gunung terus-menerus di cecar dengan berbagai macam serangan hebat oleh Cakra Buana. Tubuh Baja Pukulan Besi berusaha sebisa mungkin menghindari benturan tenaga dengan pemuda itu saat dirinya mendapat giliran. Sedangkan si Banteng Tanpa Ampun sedang mencari celah untuk melancarkan serangan karena amarahnya sudah tidak tebrendung lagi.
Ketiga pendekar tersebut masing-masing sedang mencari cara untuk meloloskan diri mereka dari bulan-bulanan Cakra Buana.
Hebat memang sepak terbang pemuda itu. Kelemahan tiga orang tersebut justru jika di pisahkan. Dan Cakra Buana sudah melakukan hal tersebut dari tadi.
Terbukti sekarang ketiganya seperti seseorang tenggelam yang sedang mencari pegangan.
__ADS_1
Pegangan untuk membebaskan diri.
Namun memang tidak percuma juga mereka diakui sebagai tokoh yang mempunyai pengaruh di sebuah organisasi. Ketika Cakra Buana sudah menggempur beberapa saat, tiga lawannya bahkan masih saja bisa bertahan walau sedikit kesulitan.
Si Banteng Tanpa Ampun memiliki pandangan mata yang sangat tajam dan juga teliti. Dia melihat ada sedikit celah untuk memberikan serangan agar dirinya dan dua kawannya lepas dari amukan Cakra Buana.
Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan tersebut.
"Kena kau …" teriaknya ketika mendapatkan kesempatan.
Tubuhnya segera mencelat menembus pusaran angin yang mengelilingi tubuh Cakra Buana. Kedua tangannya berniat memberikan hantaman telak ke arah pinggang.
Cakra Buana sedikit terlambat menyadari titik lemahnya ini. Kalau dia meneruskan serangannya, salah satu lawan pasti akan terluka. Namun selain itu, dia sendiri juga akan terkena hantaman berkekuatan dahsyat dari si Banteng Tanpa Ampun. Sedangkan pilihannya lainnya, dia harus membatalkan serangan supaya selamat. Tetapi juga harus rela melepaskan mangsanya.
Karena pilihannya tidak ada lagi, maka Pendekar Tanpa Nama memilih pilihan yang kedua. Dia lebih baik membebaskan lawan lebih dulu. Yang penting dirinya selamat.
Dan begitu hantaman si Banteng Tanpa Ampun hampir mengenai pinggangnya, Cakra Buana segera menarik diri ke belakang.
Dirinya bebas dari hantaman. Bayarannya adalah dua lawan lepas dari maut.
Pertarungan mereka berhenti untuk beberapa saat. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuh Cakra Buana. Walaupun rasa lelah sudah melanda, tapi nafasnya masih sedikit tenang.
Sebaliknya, tiga lawan merasa hal lain dalam diri mereka. Keringat panas dan dingin sudah membasahi seluruh tubuh. Dari pelipis mereka mengalir butiran keringat sebesar kacang tanah.
Seumur hidup, ketiga orang ini baru melihat adanya seorang pendekar muda setingkat Pendekar Tanpa Nama ini.
Mimpi pun tidak pernah bahwa mereka akan mengalami hal seperti sekarang yang pelakunya seorang pemuda.
Nafas mereka memburu. Detak jantung tidak beraturan. Masih terbayang jelas bagaimana pemuda tersebut menggempur mereka. Masih tergambar jelas seperti apa sepak terjangnya.
Mengingat semua ini, mau tidak mau ketiga tokoh Organisasi Tengkorak Maut tersebut merasa gentar juga. Andai saja mereka di suruh memilih, maka ketiganya mungkin memilih untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Tapi sayang, pilihan itu tidak ada. Dan bahkan mungkin kalau ada pun, mereka lebih memilih untuk terus bertarung daripada kabur sebagai pengecut.
Mau di taruh di mana muka mereka?