
Gerakan keempat senjata lawan langsung terhenti. Cakra Buana bersama empat pendekar kelas menengah sedang beradu tenaga dalam lewat senjata pusaka mereka.
Sehingga untuk beberapa saat, kelima pendekar tersebut diam seperti patung. Walaupun keempat pendekar itu bergabung, namun rasanya mereka masih belum cukup untuk mengalahkan Cakra Buana yang sekarang.
Sedangkan Cakra Buana sendiri sengaja tidak mengeluarkan kekuatannya sampai ke puncak. Selain dilarang oleh Pendekar Tanpa Nama, dia juga tentu saja tidak mau membuang-buang tenaga secara berlebihan.
Kalau memakai tenaga sedang saja sudah cukup, untuk apa mengeluarkan tenaga berlebih? Dan itulah yang dilakukan oleh Cakra Buana.
Dia mengeluarkan beberapa bagian tenaga dalamnya. Keempat senjata lawan terpental.
Tapi mereka berbeda dengan sepuluh pendekar yang kini masih merasakan sakit. Begitu senjata nereka dipentalkan, keempatnya segera menerjang Cakra Buana kembali.
Gerakan mereka sudah mencapai titik maksimal. Bahkan jurus pamungkas sudah dikeluarkan untuk mengalahkan pendekar muda itu.
Benturan senjata kembali terdengar membahana di angkasa. Empat batang senjata mencecar Cakra Buana dengan ganas dan penuh nafsu.
Tetapi yang mereka lawan bukanlah pendekar muda biasa. Dia merupakan pendekar muda luar biasa. Baik dari postur tubuh, kemujuran nasib, kekuatan bahkan semua jurusnya. Semuanya luar biasa.
Begitu empat senjata hampir telak mengenai tubuhnya, Cakra Buana bergerak.
"Pedang Seribu Bayangan …"
"Wushh …"
Jurus keenam dari rangkaian Kitab Dewa Bermain Pedang sudah digelar oleh Cakra Buana. Kalau dengan kekuatannya yang dulu saja mampu menimbulkan efek hebat, apalagi sekarang? Jika memakai Pedang Pusaka Dewa saja mampu menggetarkan nyali lawan, apalagi kalau menggunakan Pedang Naga dan Harimau?
Dengan gerakan yang ganas, Pendekar Tanpa Nama mulai memainkan jurus Pedang Seribu Bayangan.
Pedang Naga dan Harimau berkilat memecah malam. Desingan angin yang tercipta mampu mendirikan bulu roma. Suara pedang menggetarkan sukma. Sedangkan gerakan pedang mampu membuat yang memandang tergetar.
__ADS_1
Pedang Naga dan Harimau terlihat menjadi seribu banyaknya. Cakra Buana terus bergerak. Dia memberikan serangan bernuntun tanpa mengenal kata ampun. Pedang Naga dan Harimau berputar cepat. Gulungan pedang terlihat berwarna hitam pekat.
Benturan berbagai senjata terjadi lagi. Tetapi kali ini tidak ada adu tenaga dalam. Tidak ada kata berhenti sejenak. Karena begitu senjata keempat lawan beradu dengan Pedang Naga dan Harimau, keempat pusaka itu langsung patah menjadi dua bagian. Bahkan ada yang sampai tiga bagian.
Kejadian seperti sebelumnya, kini terjadi lagi. Keempat pendekar kelas menengah sangat marah menyaksikan hal ini. Dengan serentak, mereka melemparkan masing-masing senjatanya ke arah Cakra Buana.
Luncurnanya memang cepat. Tetapi jangan bermimpi untuk dapat melukai Pendekar Tanpa Nama.
Hanya dengan memutar tangan dan menghentakkannya ke depan, luncuran potongan senjata sudah berbalik arah menjadi meluruk ke tuan mereka.
Bahkan luncurannya dua kali lebih cepat lagi.
Sontak keempat pendekar kaget bukan alang kepalang. Mereka ingin menghindar, tapi sayangnya sudah terlambat. Karena detik selanjutnya, potongan senjata sudah menembus tubuh mereka.
Empat pendekar kelas menengah tewas hanya dalam beberapa saat saja. Kejadian ini membuat keenam pendekar kelas atas kaget.
Walaupun keempat pendekar tadi merupakan kelas menengah, tapi setidaknya mereka berbeda dengan pendekar yang sepadan lainnya. Sebab keempat orang tersebut memiliki keahlian khusus dalam hal membunuh.
Namun hal itu hanya berlaku sebelumnya. Karena sekarang, empat pendekar itu sudah pergi ke alam baka.
Cakra Buana menyarungkan Pedang Naga dan Harimau kembali. Setelah itu dia segera berdiri kokoh bagaikan batu hitam.
Bajunya berkibar tertiup angin malam. Rambutnya yang sudah agak panjang hingga ke punggung itu meriap-riap. Dia menatap enam tokoh kelas atas yang kini ada di hadapannya.
"Hebat, hebat. Sungguh hebat. Pantas kau berani berulah hingga membunuh Tuan Muda Margono Tanuwijaya," kata seorang kakek tua yang memegang tongkat pendek di tangan kirinya.
"Terimakasih atas pujiannya, tapi aku merasa belum pantas untuk menerima. Kalau terkait pembunuhan itu, aku bahkan berani bersumpah bahwa pelakunya bukanlah aku," jawab Cakra Buana dengan tenang.
Tidak aka keraguan ataupun ketakutan dalam tatapan matanya. Walaupun enam tokoh kelas atas sudah berjajar, dia sama sekali tidak jeri.
__ADS_1
Karena Cakra Buana yakin akan dirinya. Yakin akan pedangnya. Dan yang terpenting, dia yakin akan kemampuannya.
"Hahaha, kau jangan melempar batu sembunyi tangan. Kami tidak akan percaya akan omong kosongmu itu," timpal si orang tua tadi.
"Benar, aku memang sudah tahu bahwa kalian tidak akan percaya dengan penjelasanku,"
"Kalau sudah tahu, lalu kenapa kau masih berani bersilat lidah di hadapan kami?" bentak tokoh yang lain kepada Cakra Buana.
"Hemm, setidaknya aku berusaha untuk membela diriku yang tidak bersalah. Bukankah membela diri adalah sebuah hak setiap manusia? Yang salah saja berhak membela diri, apalagi aku yang merasa tidak salah?"
Enam tokoh kelas atas itu terdiam. Mereka mati kutu seketika saat Cakra Buana berkata demikian.
Bukankah faktanya memang begitu? Siapapun berhak membela dirinya sendiri. Sekalipun itu hanyalah dalih sebagai pembenaran semata, tapi tidak ada salahnya. Toh semua manusia mempunyai haknya masing-masing.
"Aku tahu, kalian ingin membunuhku bukan hanya karena papan pengumuman itu saja bukan? Tetapi ada alasan lain di balik semua ini. Entah karena kalian sudah tahu sepak terjangku, siapa diriku, atau memang punya dendam tersendiri kepadaku. Papan pengumuman itu hanya menjadi penambah alasan untuk mencabut nyawaku, bukan begitu?" tanya Cakra Buana sambil memandang ke enak tokoh tua tersebut.
Mereka tidak langsung menjawab pertanyaan Cakra Buana. Keeenam tokoh kelas atas kembali dibuat bingung untuk menjawab. Karena mau bagaimanapun juga, ucapan Cakra Buana memang ada benarnya.
Mereka ingin membunuh Cakra Buana salah satu alasannya karena takut dan jeri kepada anak muda itu. Walaupun belum lama di Tanah Jawa, tapi sosoknya sudah mulai terkenal sebagai pendekar pembasmi kejahatan.
Apalagi jurus dan ilmunya terkenal dahsyat. Siapa yang tidak jeri dengan kabar ini? Semua pasti merasa jeri. Terlebih mereka pendekar dan tokoh aliran hitam.
Sekarang ada kesempatan bagus untuk membunuhnya, siapa yang akan menyia-nyiakannya?
Dengan alasan membunuh karena perintah papan pengumuman yang dibuat oleh Perguruan Tunggal Sadewo, tentu siapapun berani melakukannya. Karena secara tidak langsung, siapapun yang membela pendekar muda itu, sudah pasti akan menjadi musuh perguruan besar tersebut.
Dan lagi, siapa yang berani mencari masalah dengan perguruan besar dan memiliki jaringan luas itu? Mungkin hanya orang bodoh saja yang berani melakukannya.
"Hahaha, hebat. Lagi-lagi kau membuat kami kagum. Tetapi sayangnya, kau akan segera pergi ke neraka," kata seorang tokoh yang memegang pedang.
__ADS_1
"Hemm, benarkah? Siapa yang akan membuatku segera pergi ke neraka? Apakau hanya kau? Jika hanya kau seorang, aku sarankan urungkan saja niatmu itu," kata Cakra Buana dengan penuh ketenangan dan penuh wibawa.