
Braja Suta dan Eyang Tajimalela pun cukup kaget melihat kekuatan Langlang Cakra Buana. Dalam usia yang masih terbilang muda pun dia sudah memiliki kekuatan luar biasa? Bagaiamana nantinya jika dia sudah tua?
Sekarang Langlang Cakra Buana sudah kembali menyerang Braja Suta dengan jurus dan gerakan silat yang sama. Tapi kekuatannya jauh lebih besar.
Cakaran-cakaran yang sangat kuat dan bahkan mampu merobek kulit pohon yang teramat keras pun kembali dia luncurkan untuk merobek dan mencabik-cabik musuhnya.
Braja Suta pun terus menangkis setiap serangan yang datang itu. Cukup kerepotan juga ternyata ketika pemuda serba putih itu menyerang tanpa kenal lelah. Hingga akhirnya Braja Suta mulai terpojok karena merasa kelelahan.
Hal ini sangat menguntungkan bagi Langlang Cakra Buana, pemuda itu langsung menyerang dengan dua tangan membentuk cakar yang teramat tajam. Dia mengayunkan tangan kanan, lalu disusul dengan tangan kirinya. Begitu seterusnya hingga tiga kali gerakan dan …
"Ahhh …"
Braja Suta mundur dua tombak ke belakang sembari memegangi perutnya. Dia mulai merasa perih dan sakit yang teramat sangat. Hingga akhirnya tangan kiri yang memegangi perut terasa basah, dan ternyata itu bukan air. Tapi melainkan itu adalah darah.
Darah segar perlahan merembes keluar tiada henti, ternyata serangan Harimau Mengguncang Semesta mampu merobek perut Braja Suta cukup dalam. Terbukti sekarang guru besar Padepokan Goa Neraka itu sedang merintih menahan rasa sakit dan perih.
"Setan alas. Dasar kadal buntung, lasun (musang) budug …" Braja Suta terus mengomel sendiri. Dia benar-benar kesal kepada pemuda yang menjadi lawannya kini. Harga dirinya terasa tercoreng karena berhasil dilukai cukup parah oleh seorang anak ingusan.
Buru-buru dia menghentikan darah yang mengalir tersebut. Braja Suta lalu merobek kain dari bajunya, kemudian kain itu dia ikatkan ke luka yang diakibatkan oleh cakaran Harimau Mengguncang Semesta.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati lukanya sendiri, dia kembali bersiap untuk melanjutkan pertarungan. Di sisi lain, Langlang Cakra Buana pun sudah siap untuk mengakhiri pertarungan ini. Dia menggabungkan jurus Harimau Mengguncang Semesta dengan Ajian Dewa Tapak Nanggala.
Kali ini giliran Braja Suta yang menyerang lebih dulu. Tapi meskipun dia masih memakai Ilmu Langkah Iblis, tapi setiap gerakan dan langkahnya tidak secepat tadi. Hal itu terjadi tentunya karena dia sudah terluka dibagian perut. Meskipun sudah diikat kain tapi tetap saja rasa perih masih terasa.
Kelebatan cahaya dan deru angin dari Ilmu Langkah Iblis pun berkurang drastis. Hal ini membuat Langlang Cakra Buana bisa dengan mudah menghindar ataupun menangkis serangan Braja Suta.
Kini bentuk tangan Langlang Cakra Buana berbeda. Yang kanan membentuk tapak sedangkan yang kiri masih berbentuk cakar yang tajam. Gerakannya jauh lebih lincah. Dia terus memberikan serangan ke kanan dan ke kiri.
Langlang Cakra Buana memberikan serangan cakar ke arah wajah Braja Suta. Maha guru itu buru-buru menghindar dengan menarik wajahnya ke belakang. Tapi naas, itu hanyalah serangan tipuan, yang benar adalah Langlang Cakra Buana memberikan serangan tapak yang sangat kuat.
"Bukkk …"
"Ahhh …"
Dia menendang dada Braja Suta kembali dan menyebabkan pendekar tua itu sulit untuk bernafas. Langlang Cakra Buana lalu mencengkeram lehernya dan memaksa Braja Suta untuk berdiri. Pemuda itu lalu mengumpulkan tenaga dalam yang sangat besar ditelapak tangannya.
"Ajian Dewa Tapak Nanggala …"
"Bukkk …"
__ADS_1
"Ughh …" mati.
Maha guru Padepokan Goa Neraka itu tewas dengan pembuluh darah pecah dan dada juga pecah. Mulutnya terus mengeluarkan darah segar. Bau amis mulai tercium dimalam itu.
Langlang Cakra Buana mulai menenangkan dirinya setelah berhasil mengalahkan Braja Suta. Pemuda itu sungguh merasa kelelahan setelah hampir satu jam bertarung sengit dengan seorang maha guru.
Setelah berhasil mengalahkan Braja Suta, Pendekar Maung Kulon itu lalu menghampiri Eyang Tajimalela. Orang tua itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dimana seorang pendekar muda bisa mengalahkan pendekar tua yang bahkan hampir mendekati level tanpa tanding.
Dia masih termenung meskipun Langlang Cakra Buana kini sudah berada disisinya.
"Eyang …" kata Langlang Cakra Buana sembari melambaikan tangannya didepan wajah Eyant Tajimalela.
"Ehh … maaf Langlang. Aku masih tidak percaya bahwa kau bisa mengalahkan tua bangka itu. Tidak kusangka seorang pendekar muda yang akan menyatukan tanah Pasundan serta yang akan mewujudkan cita-cita para leluhur kini telah lahir," kata Eyang Tajimalela memuji Langlang Cakra Buana.
"Eyang terlalu berlebihan kepadaku. Aku bisa mengalahkan Braja Suta tentu saja karena aku hanya melanjutkan pertarungan Eyang. Andai kata aku bertarung dari awal, mungkin aku yang akan tewas," ucap Pendekar Maung Kulon itu merendah.
Memang, sifatnya yang lebih pendiam serta selalu merendah bisa jadi adalah turunan dari Eyang Resi Patok Pati ataupun dari kedua orang tuanya. Dimana ketiga orang yang sangat berarti bagi hidupnya itu selalu memberikan sebuah wejangan.
"Diatas langit masih ada langit. Jadilah seperti padi, dimana dia selalu merendah tapi menyimpan 'isi' yang sangat banyak dan juga padat. Manusia hanyalah manusia. Manusia tidak akan berdaya dan upaya tanpa restu dariNya."
__ADS_1