
Cakra Buana di buat bengong. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dalam waktu tiga hari, Ling Zhi benar-benar mampu menguasai semua tahapan jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa. Walaupun baru menguasai sekitar tujuh puluh persen, tapi itu saja sudah merupakan pencapaian yang luar biasa.
Ling Zhi masih belum berhenti. Ia terus memainkan jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa, mengulanginya lagi dari tahapan pertama. Semakin lama gerakannya semakin ulet. Wanita itu mulai terbiasa sekarang.
Di saat seperti itulah, Cakra Buana melompat ke arena lalu langsung menyerang Ling Zhi. Ia ingin menguji kekasihnya.
Lompatan Cakra Buana membuat Ling Zhi sedikit terkejut. Apalagi Pendekar Maung Kulon langsung melancarkan serangan.
Meskipun begitu, Bidadari Penebar Maut tidak kehilangan konsentrasi. Sebaliknya, ia menyambut serangan Cakra Buana dengan jurus Bidadari Mengintai.
Ia berputar-putar mengelilingi Cakra Buana. Dengan gerakan tiba-tiba, Ling Zhi menyerang lebih dulu. Tak tanggung-tanggung, tenaga dalamnya di kerahkan saat serangan pertama tersebut.
Cakra Buana tersenyum penuh arti. Ia membalasa serangan Ling Zhi dengan jurus yang lain. Latih tanding tidak dapat dihindari lagi.
Keduanya mulai beradu pukulan yang sudah di aliri tenaga dalam. Walaupun tidak benar-benar bertarung, andai kata pendekar kelas bawah terkena pukulan mereka, bisa langsung terkapar di tanah.
Cakra Buana menambah kecepatan serangannya. Kedua tangannya bergerak semakin cepat mengincar ke beberapa bagian tubuh.
Ling Zhi tidak mau kalah, ia pun menambahkan kecepatannya. Gerakannya semakin indah bagaikan seorang penari kelas kakap. Seluruh tubuhnya bergerak mengikuti irama lawan. Kakinya berputar di ikuti kedua tangan menahan serangan.
Saat ada kesempatan, kaki itu akan berubah. Dari berputar, jadi maju menyerang. Tangan Ling Zhi seperti sudah terlatih. Ia memainkan jurus kedua dari tiga tahapan jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa.
"Bidadari Memetik Bunga …"
Ia memainkannya semakin sempurna. Cakra Buana di buat sedikit kerepotan. Terpaksa Pendekar Maung Kulon mengubah gerakannya.
Begitu ia mengubah gerakan, Ling Zhi pun mengubahnya lagi.
"Tangan Maut Bidadari …"
Kedua tangannya berubah. Seluruh tenaga dalam ia salurkan di dalamnya. Ling Zhi tidak perlu khawatir Cakra Buana akan terluka. Justru sebaliknya, kalau ia tidak sungguh-sungguh, maka dirinya sendiri yang akan celaka akibat serangan Cakra Buana.
Pertarungan keduanya semakin sengit. Cakra Buana bergerak mencari celah. Ia yang menciptakan jurus ini, maka dia sudah pasti tahu di mana titik lemahnya. Yang jadi masalah adalah bagaimana dia menembus titik lemah itu. Sebab semakin lama, Ling Zhi semakin terlihat seperti bayangan.
"Menjejak Tanah Menyongsong Pucuk Daun …"
"Wuttt …"
Kaki Cakra Buana menjejak ke tanah. Tubuhnya meluncur deras dan dia berputar. Dengan tangan kanan di julurkan ke depan, Cakra Buana mirip seperti anak panah.
Ling Zhi menahannya dengan konsentrasi penuh. Tapi sayang, ia kelabakan sendiri sebab Cakra Buana mengubah arah tujuan. Dari yang tadinya mengarah ke jantung, mendadak berubah arah jadi ke pinggang.
__ADS_1
"Bukkk …"
Tangan kanan Cakra Buana berhasil memukul pinggangnya. Ling Zhi berputar-putar beberapa kali lalu kehilangan keseimbangan. Tubuhnya melayang di udara.
Di saat tubuhnya akan jatuh ke tanah, tiba-tiba tubuh mulus itu justru malah jatuh ke pelukan Cakra Buana. Seutas senyum masing-masing mereka berikan untuk kekasihnya.
Pertarungan yang romantis.
Hutan yang berantakan dan binatang yang ketakutan menjadi saksi bagaimana sekarang kekasih itu melakukan pertarungan. Tapi selain mereka, ada juga sepasang mata yang memperhatikannya dari jarak cukup jauh.
"Kau tidak papa?"
"Aku tidak papa kakang. Hanya saja barusan sedikit lengah,"
"Tak masalah. Ini hanya latih tanding. Ternyata kau benar-benar berjodoh dengan jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa. Aku kagum akan kecerdasanmu," kata Cakra Buana.
"Ini semua berkatmu kakang,"
Keduanya tersenyum lagi. Semilir angin berhembus menerpa tubuh keduanya. Mengibarkan pakaian dan rambut mereka. Saat seperti itu, terdengar suara tepuk tangan yang semakin mendekat.
"Hebat, aku kagum atas kepandaian kalian berdua. Aku kagum," kata seorang yang masih muda memakai pakaian mewah. Kedua tangannya lalu di lipat ke belakang. Ia menghampiri Cakra Buana dan Ling Zhi.
"Hahaha …, maaf sudah mengganggu kalian," katanya sambil terus berjalan mendekat.
Tak salah lagi, dialah Raden Kalacakra Mangkubumi. Putera dari Prabu Katapangan Kresna.
"Tidak raden, sama sekali tidak. Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Cakra Buana.
"Sejak dari awal kalian melakukan pertarungan,"
"Apakah ada sesuatu yang perlu di sampaikan?"
"Ada kakang, ayahanda menyuruh kakang Cakra Buana untuk menghadap sekarang juga,"
"Kalau begitu baiklah. Kita pulang sekarang," ucap Cakra Buana diikuti anggukan oleh Raden Kalacakra dan Ling Zhi.
Ketiganya lalu segera kembali ke Istana Kerajaan Tunggilis. Sesampainya di istana, Cakra Buana langsung menghadap kepada Prabu Katapangan.
Di ruangan utama seperti biasanya, banyak para pendekar yang sedang berbincang dengan sang raja.
"Sampurasun …"
__ADS_1
"Rampes …" jawab Prabu Katapangan.
"Apakah Baginda Raja memanggilku?"
"Benar pangeran,"
"Adakah yang perlu saya lakukan?"
"Tidak ada,"
"Lalu?" Cakra Buana sedikit bingung. Ia mengerutkan keningnya.
"Aku hanya memintamu supaya tidak keluar dari lingkungan istana selama tiga hari ke depan. Sebab paman Gagak Bodas dan Jalak Putih akan segera datang dan membawa kabar terkait persiapan kita," ucap Prabu Katapangan Kresna.
"Baiklah kalau begitu. Aku mendengar semua perkataan Baginda Raja," kata Cakra Buana lalu pamit undur diri.
###
Waktu yang ditunggu telah tiba. Tiga hari sudah berlalu. Itu artinya, hari ini adalah jadwal kedatangan Gagak Bodas dan Jalak Putih yang kemarin mendapatkan perintah dari Prabu Katapangan Kresna untuk mengumpulkan semua pendekar yang ada di pihak mereka.
Prabu Katapangan Kresna, Cakra Buana dan yang lainnya sedang menunggu kedatangan dua saudara seperguruan itu di ruangan biasa –tempat rapat–.
"Kira-kira kapan mereka akan tiba?" tanya Prabu Katapangan kepada Cakra Buana.
"Menurutku sebentar lagi. Saat matahari tepat di atas kepala, mungkin tak lama mereka juga akan tiba," jawab Cakra Buana.
"Benarkah?"
"Mungkin. Kita lihat saja nanti," ucap Cakra Buana ngasal. Ia memang asal-asalan menjawabnya.
Hari sudah siang. Matahari begitu panas menyengat kulit. Tak ada awan yang menghalanginya, sehingga panas yang terasa pun beberapa kali lebih hebat. Orang-orang penting Kerajaan Tunggilis masih menunggu kedatangan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti dan dua saudara seperguruan –Jalak Putih dan Gagak Bodas–.
Tak berselang lama, pintu di keutk oleh seseorang dari luar.
"Masuk," ucap Prabu Katapangan Kresna.
Empat orang masuk secara serempak. Tak salah lagi, merekalah orang yang sedang ditunggu-tunggu. Ucapan Cakra Buana ternyata terbukti. Prabu Katapangan meliriknya sambil melemparkan senyum.
Keempat orang yang baru pulang dari tugasnya itu langsung memberikan salam hormat. Sang raja mempersilahkan mereka untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan. Setelah beristirahat sebentar, pembahasan yang lebih serius segera di lanjut.
"Apakah ada kabar yang baik?" tanya Prabu Katapangan Kresna.
__ADS_1