
Saat keempat tokoh pendekar itu melihat pedang yang di genggam Cakra Buana, jantung mereka terasa copot saat itu juga. Bahkan untuk bernafas pun terasa sangat sesak sekali.
Siapa yang tidak akan mengalami hal seperti mereka? Mungkin andai kau ada si sana sekalipun, kau akan merasakan hal yang sama.
Bagaimana tidak? Sebuah pedang pusaka yang sangat melegenda, bahkan tenar dan pamornya melebihi tiga pusaka legenda beberapa tahun lalu, sekarang ada di depan mata. Siapa yang tidak merasa sesak?
Dan yang lebih membuat kaget semua orang, pemegangnya masih orang yang sama. Orang yang dulu sempat memegang salah satu tiga pusaka legenda. Sekarang dia memegang pusaka yang bahkan lebih melegenda lagi, siapa yang tidak merasa iri?
Mungkin para dewa pun iri akan keberuntungan nasib Cakra Buana. Kekuatannya sudah hampir tanpa tanding, wajahnya tampan, tubuhnya kekar, memegang senjata legenda pula, siapa yang tidak iri?
Apalagi dengan umurnya yang masih muda. Wanita mana yang tidak menginginkan pria sepertinya? Masalah harta? Jangan diragukan lagi. Siapapun sudah tahu bahwa dia sebenarnya merupakan seorang pangeran. Hanya saja, Cakra Buana tidak mau menyebarkan jati diri aslinya di kalangan dunia persilatan.
Lagi pula, Pendekar Maung Kulon atau Pendekar Tanpa Nama ini bukanlah orang yang suka pamer dan bermewah-mewahan. Baginya tampil sederhana jauh lebih baik.
Lebih baik sederhana tapi hati seluas istana. Daripada sebaliknya.
Dan Cakra Buana tipe orang yang seperti itu.
Suasana di sana hening cukup lama. Mereka baru sadat dari rasa terkejutnya ketika Cakra Buana berbicara.
"Apakah sudah bisa dimulai?" tanyanya.
"Ah, maaf. Mari anak muda, kita mulai," kata Pendekar Pedang Kesetanan.
Dalam hatinya, dia semakin penasaran dan kagum terhadap Cakra Buana. Sosok pendekar muda yang bahkan penuh misteri ini.
Rasa iri langsung terlihat jelas di wajah tiga rekan Pendekar Kesetanan, tapi mereka berusaha menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela.
Sekarang memang masih tahan, tapi tidak tahu kalau nanti.
Pertarungan hampir dimulai. Bahkan sudah dimulai.
Karena hanya sepersekian detik, si Burung Pemangsa sudah menerjang Cakra Buana dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya.
Tubuhnya melesat bagaikan seekor burung elang yang perkasa. Kedua tangannya dia bentangkan lebar sambil menunjukkan cakarnya yang sangat tajam itu.
Seolah dia berkata bahwa dirinya adalah seorang dewa dari para burung dengan segala kegagahan dan ketangkasannya.
Serangan berupa dua cakaran tiba. Kesiur anginnya mampu merobek daun kering. Cakra Buana sendiri merasa tersentak. Ternyata orang ini memiliki kecepatan yang bahkan diluar perkiraannya.
__ADS_1
Tapi bukan Cakra Buana kalau dia kalah hanya dalam sekali serangan. Begitu dua cakar beberapa jengkal mengenai kulit, dia bergerak.
Pedang Naga dan Harimau dia mainkan, tetapi batang pedangnya masih belum dicabut.
Namun walaupun begitu, yang terjadi sungguh membuat siapapun kaget. Angin yang ditimbulkan dari gerakan pedang pusaka itu mampu menggoyahkan serangan Burung Pemangsa. Tapi secepat kilat dia mengembalikan keseimbangan serangannya.
"Wushh …"
"Wushh …"
Cakaran demi cakaran mulai keluar. Sinarnya menyilaukan mata, dan tenaga yang terkandung mampu menggetarkan hati lawan.
Cakra Buana semakin serius. Dia mulai memutarkan Pedang Naga dan Harimau untuk menghalau semua cakaran si Burung Pemangsa.
Gerakannya tidak kalah cepat. Bahkan lebih cepat sedikit dari lawan. Pertarungan sengit mulai terjadi antara dua pendekar tersebut.
Sementara si Pendekar Pedang Kesetanan masih berdiri. Dia tidak gegabah dalam melakukan setiap pertarungan. Apalagi dengan seorang pendekar pedang seperti Cakra Buana ini.
Matanya melihat setiap gerakan yang dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Nama. Beberapa kali pendekar itu menarik nafas. Seolah dia merasakan bahwa lawan muda kali ini sangat berat. Bahkan dia sendiri menjadi tidak punya keyakinan untuk menang melawannya setelah melihat sepak terjang si pemuda itu.
"Giwangkara Baruga, kenapa kau masih diam saja? Bantu aku," kata Burung Pemangsa kepada Pendekar Pedang Kesetanan yang bernama asli Giwangkara Baruga.
Mengingat hal tersebut, jiwa sebagai pendekar pedang yang selalu mencari lawan tangguhnya mulai berkobar.
Suaranya yang cukup besar menggelegar membelah kesunyian hutan. Sekali menghentakkan kaki ke tanah, tubuhnya sudah meluncur deras ke depan.
Beberapa tarikan nafas kemudian, dia sudah tiba di hadapan Cakra Buana dengan pedang yang siap mencabik-cabik tubuhnya.
Pedang Haus Darah.
Seperti namanya, pedang itu memang selalu haus akan darah pendekar pedang yang tangguh seperti Pendekar Tanpa Nama ini.
'Gila. Orang ini ternyata memiliki kecepatan luar biasa. Bahkan hanya setingkat di bawahku,' batin Cakra Buana kaget.
Di saat Burung Pemangsa sedang berusaha menggempur Cakra Buana. Saat itulah Pendekar Pedang Kesetanan mengeluarkan taringnya. Pedang Haus Darah memperlihatkan kemampuannya dalam meminum darah lawan.
Tebasan dari kanan ke kiri mengarah ke leher sudah dilancarkan. Kecepatannya bahkan dua kali lipat lebih cepat daripada Burung Pemangsa.
"Trangg …"
__ADS_1
Benturan pedang pusaka terjadi. Percikan api membumbung tinggi ke udara lalu lenyap begitu saja.
Pendekar Pedang Kesetanan tersentak. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa anak muda itu mampu menahan serangannya. Bahkan dia tidak tahu kapan anak muda itu mencabut pedangnya
Padahal serangan pertama yang dia lancarkan merupakan salah satu jurus yang dapat dia andalkan.
"Membunuh Satu Tarikan Nafas …"
Seperti juga namanya. Dia mampu membunuh lawan hanya dalam satu tarikan nafas. Kalau tidak tewas, minimal lawan akan langsung terluka parah.
Tapi sekarang? Jangankan tewas atau terluka, kewalahan pun tidak. Dia bahkan masih tetap kokoh dengan pondasi kuda-kudanya.
Yang lebih membuatnya kaget lagi, Cakra Buana mampu menahan dua serangan hebat dalam satu kali gerakan saja. Cakaran dari si Burung Pemangsa tertahan di tangan kirinya yang memegang sarung pedang.
Kejadian ini terjadi hanya beberapa saat saja. Dan detik berikutnya, Cakra Buana memberikan perlawanan.
Dia mementalkan dua senjata lawan lalu mencecar si Burung Pemangsa dengan ganas. Serangan pertama yang dia lancarkan memiliki tekanan hebat. Sebab tenaga dalamnya yang sakti sudah disalurkan.
Baru beberapa gebrak, si Burung Pemangsa sudah mulai keteteran. Beberapa kali dia mencoba menghindari gempuran sabetan dan tusukan pedang Cakra Buana.
Sayangnya, anak muda itu selalu dapat menebak ke mana dia menghindar dan mencecar dirinya tanpa memberikan ruang.
"Kilat Menyambar Bumi …"
"Wushh …"
Jurus pertama dari Jurus Pedang Kilat sudah keluar. Serangan Pedang Naga dan Harimau semakin mengerikan.
Kecepatannya meningkat dua kali lipat. Bagaikan sebuah kilat menyambar bumi di tengah kegelapan. Cahayanya menyilaukan mata yang memandang. Ada rasa ngeri tersendiri bagi siapapun yang melihat kilat itu.
Hal itulah yang kini diraskaan oleh si Burung Pemangsa. Gempuran Cakra Buana mulai bertambah ganas seiring berjalannya waktu pertempuran.
Permainan pedangnya sangat cepat. Kalau ada orang biasa yang melihat pertarungan ini, mungkin mereka hanya mampu melihat cahaya putih menyilaukan berkelebat saja tanpa mampu melihat wujud pedangnya.
###
Maaf ya agak telat hehe. Tadi repot, sekaligus up novel yang satu lagi. Yang baru.
Jangan lupa baca juga ya hhi😆
__ADS_1
Jangan lupa bacanya sambil minum kopi☕