
Sepuluh Pendekar Saudara sudah melesat kembali menyerang Cakra Buana. Sepuluh serangan datang secara beruntun. Kerja sama sepuluh saudara itu pantas di puji. Mereka saling melindungi satu sama lainnya.
"Trangg …"
"Trangg …"
"Wushh …"
Dentingan suara senjata pusaka terdengar saat beradu dengan tangan Cakra Buana. Sepuluh jarum hitam melesat secepat kilat di bawah gelapanya malam. Jarum-jarum itu datang dari arah belakang, tapi dengan cekatan Cakra Buana memutarkan tubuhnya. Sehingga sepuluh jarum itu gagal mengenai sasaran dan terus meluncur sampai menancap di sebatang pohon besar.
Tak ada yang terjadi kepada pohon tersebut. Sebatang pohon itu masih tetap berdiri, hanya saja Cakra Buana di buat kaget saat menyadari bahwa pohon yang terkena jarum tadi menjadi layu seketika.
"Jarum beracun," gumamnya.
Lolos dari jarum beracun, serangan tak berhenti. Sebaliknya dari sisi kanan dan kiri, tombak dan tambang berduri sedang melesat ke arahnya. Para penonton yang melihat kejadian ini bepikir bahwa Cakra Buana tak akan bisa lolos. Sebab segala pintu keluar sudah di tutup rapat.
Siapa sangka, begitu semua senjata hampir mengani tubuhnya, Cakra Buana malah merentangkan kedua tangannya.
Semua senjata terhenti. Sepuluh Pendekar Saudara merasakan keanehan. Mereka merasa senjatanya tak bisa di tarik kembali. Bahkan perlahan malah tersedot mendekati Cakra Buana dengan sendirinya.
Seiring berjalannya waktu, senjata itu semakin terasa berat. Cakra Buana masih tetap dalam posisi merentangkan kedua tangan. Sepuluh Pendekar Saudara juga tetap dalam posisi mempertahankan senjata pusaka mereka.
Diam-diam sebenarnya Cakra Buana mengeluarkan jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari yang baru saja ia pelajari. Pendekar Maung Kulon itu ingin mencoba kehebatan jurus tersebut.
Sepuluh Pendekar Saudara semakin merasa tertekan. Udara yang seharusnya dingin, tiba-tiba menjadi panas dan pengap. Keringat mulai mengucur membasahi tubuh. Cakra Buana menambah daya hisapnya, sehingga senjata lawan terasa semakin tersedot.
Akhirnya, Sepuluh Pendekar Saudara secara terpaksa melepaskan senjata mereka. Karena hanya inilah jalan satu-satunya. Begitu senjata di lepaskan oleh lawan, seketika itu juga Cakra Buana langsung mementalkannya kembali.
"Wushh …"
Sepuluh senjata tersebut berbalik arah jadi melesat cepat ke arah tuan mereka. Sepuluh Pendekar Saudara kaget, mereka mencoba menghindari serangan dari pusakanya sendiri.
Tapi karena kecepatannya di luar nalar, maka pada akhirnya dua orang anggota Sepuluh Pendekar Saudara ada yang tewas terkena tusukan tombak dan golok. Senjata makan tuan.
Hal ini menambah amarah Sepuluh Pendekar Saudara yang tersisa. Dengan sisa tenaga dalam yang ada, kedelapan orang itu lalu mengeluarkan jurus-jurus pamungkas miliknya.
Di sisi lain, Cakra Buana juga bertindak. Dia mengumpulkan tenaga dalam di kedua telapak tangannya dengan jumlah besar. Cakra Buana melakukan gerakan tertentu untuk melancarkan jurusnya.
__ADS_1
"Wushh …"
"Wushh …"
Delapan jurus pamungkas sudah melesat. Sinar berwarna-warni meluncur bagaikan lesatan anak panah ke arah Cakra Buana. Malam menjadi terang akibat warna dari tenaga dalam itu.
Cakra Buana pun berteriak kencang begitu dia mengeluarkan jurusnya.
"Kedua Tapak Menghisap Matahari …"
"Wushh …"
Kedua tangannya di julurkan lurus ke depan dengan posisi tubuh dan kaki kanan agak condong ke depan. Dari telapak tangannya keluar sinar kuning keemasan yang menyala terang. Udara di sekitar arena pertarungan semakin terasa panas.
Delapan jurus itu bertemu di pertengahan jalan. Mereka kembali adu tenaga dalam. Tapi sekarang lebih serius dan lebih hebat lagi, sebab inilah detik-detik sebagai penentu siapa pemenangnya.
"Haaa …" Cakra Buana berteriak.
Delapan jurus milik lawan mulai tersedot akibat kehebatan jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari. Sinar bermacam warna itu mulai mengecil karena terhisap oleh jurus Cakra Buana.
Setelah sekian lama bertahan dalam posisi adu tenaga dalam, delapan sinar itu lalu semakin kecil hingga akhirnya lenyap tersedot telapak tangan Cakra Buana.
Sedangkan Sepuluh Pendekar Saudara yang kini tersisa tinggal delapan orang, tak mampu mengendalikan diri. Tubuh mereka terbang satu tombak dari tanah dengan posisi lemah. Tangan mereka terkulai lemas ke bawah. Tapi wajah mereka masih menunjukkan permusuhan dan dendam.
"****** kalian …"
"Haaa …"
Cakra Buana menghentakkan kedua tangannya ke depan dengan keras. Berbarengan dengan itu, sinar keemasan tadi melesat menyambar lawan.
"Blarrr …"
"Ahhh …"
Suara menggelegar bagaikan gemuruh guntur terdengar. Delapan lawan terpental menabrak pepohonan sampai tumbang. Sepuluh Pendekar Saudara tewas dengan kondisi organ dalam hancur. Mulut mereka terus mengeluarkan darah segar tanpa henti.
Orang-orang yang menyaksikannya terpukau dengan apa yang dilakukan oleh pemuda serba putih tersebut. Beberapa pendekar mematung tak percaya. Begitu juga dengan Ling Zhi. Gadis itu tidak menyangka kalau Cakra Buana sudah menguasai jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari dengan sempurna.
__ADS_1
Setelah kematian Sepuluh Pendekar Saudara, orang-orang yang tadi memenuhi halaman penginapan, perlahan mulai kembali ke tempatnya masing-masing. Cakra Buana pun sudah menghampiri Ling Zhi.
"Bocah ini benar-benar tidak bisa di anggap remeh. Bahkan dia mempunyai jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari. Aku harus hati-hati kalau begini caranya. Hemm … sepertinya sesutu yang di bungkus kain putih itu merupakan Pedang Pusaka Dewa. Aku harus segera mendapatkan pedang itu," gumam seorang pendekar tua di kerumunan orang yang tersisa.
"Ling Zhi, kau tidak papa?" tanya Cakra Buana.
"Tidak kakang. Aku hanya terluka sedikit, tapi ini hanyalah luka ringan saja," jawab Ling Zhi.
"Syukurlah. Ayo kita segera kembali ke istana. Jika terlalu lama di sini, pasti akan berbahaya," ajak Cakra Buana.
Ling Zhi mengangguk. Keduanya segera melesat pergi dari sana dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Kedua pasangan muda-mudi itu langsung menghadap ke Prabu Katapangan Kresna yang sudah menunggu sejak tadi. Raja itu di temani oleh anak istrinya.
"Akhirnya kalian pulang. Bagaimana dengan Sepuluh Pendekar Saudara?" tanya Prabu Katapangan kepada Cakra Buana.
"Mereka tewas olehku paman. Aku terpaksa membunuhnya," jawabnya.
"Hemm … baguslah. Aku juga sudah muak mendengar ucapannya yang seenak hati. Ling Zhi, apa kau terluka?" tanya Prabu Katapangan saat melihat Ling Zhi sedang menahan sakit.
"Tidak papa baginda. Aku hanya terluka sedikit,"
"Kalau begitu pergilah ke ruangan tabib. Suruh dia mengobati lukamu," perintah sang prabu.
"Baik baginda," jawab Ling Zhi sambil melangkah pergi ke ruangan tabib.
Setelah kepergian Ling Zhi, Cakra Buana lalu menceritakan pertarungannya saat melawan Sepuluh Pendekar Saudara. Raja itu hanya mengangguk saja sambil tersenyum bangga
"Paman, bagaimana ke depannya? Apakah tidak akan ada masalah? Aku takut pihak Kerajaan Kawasenan mengetahui siapa yang sudah membunuh orang-orang suruhannya.
"Kau tenang saja. Aku akan mengirimkan surat untuknya,"
"Baiklah kalau begitu,"
"Cakra, kau persiapkan diri. Pulihkan kondisimu, tujuh hari lagi aku akan menyusun rencana untuk perang besar. Kematian Sepuluh Pendekar Saudara, akan jadi gesekan awal antar kerajaan," tutur Prabu Katapangan.
"Baik paman," Cakra Buana lalu segera pergi dari sana untuk beristirahat.
__ADS_1