Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Orang Tua Aneh


__ADS_3

Melihat dengan mudahnya Cakra Buana menghancurkan cangkir bambu itu, kedua pendekar tersebut mau tidak mau merasa cukup kagum.


"Hehe, pantas saja kau berani bertingkah. Ternyata memiliki kepandaian yang lumayan," kata si pendekar tua lalu menghampiri Cakra Buana.


Sedangkan si pendekar yang lebih muda, dia segera melangkah keluar entah pergi ke mana.


Si pendekar tua duduk di depan Cakra Buana. Sekarang tampangnya tidak seseram tadi. Dia menjadi lebih ramah dan lebih sopan.


"Anak muda, siapa namamu?" tanya si pendekar tua.


Karena melihat gelagat si orang tua sudah berubah, mau tidak mau Cakra Buana pun menurunkan lagi emosinya. Setelah diam beberapa saat, dia menjawab perlahan.


"Cakra Buana," jawabnya jujur.


"Hemm, kau pasti bukan asli sini?" tanya si orang tua terlihat keheranan. Sepertinya dia tidak mengenal Cakra Buana sama sekali.


"Benar. Aku datang dari jauh," kata Cakra Buana.


"Pantas saja aku tidak mengenal siapa dirimu," kata si pendekar tua.


"Mungkin. Paman sendiri, siapa?" tanya balik Cakra Buana.


"Aku? Hahaha, orang-orang menyebutku Orang Tua Aneh. Aku berasal dari daerah sini," jawab orang itu yang ternyata berjuluk Orang Tua Aneh.


"Pantas saja orang-orang takut kepadamu. Sepertinya julukan itu bukan suatu julukan biasa,"


"Alah, hanya julukan kosong saja. Tidak lebih. Bagaimana kalau kita meminum arak di tempatku?" usul si Orang Tua Aneh yang kini berubah semakin ramah.


Cakra Buana berpikir sebentar, tapi tak lama dia mengangguk tanda setuju.


Dia memesan arak dua kendi terlebih dahulu. Setelah membayarnya, dia segera pergi keluar bersama si Orang Tua Aneh.

__ADS_1


Mungkin julukan itu sangat pas untuknya. Sebab orang itu memang terlihat aneh. Tadi pas awal masuk marah-marah, justru dalam seketika langsung berubah menjadi ramah.


Keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh. Orang Tua Aneh berada di depan sebagai penunjuk jalan. Sedangkan Cakra Buana mengikutinya dari belakang. Kecepatan Orang Tua Aneh tidak bisa dipandang rendah, ilmu meringankan tubuhnya benar-benar hebat. Hanya segelintir orang yang bisa melakukan hal seperti ini.


Setelah melewati hutan dan gunung, akhirnya si Orang Tua Aneh berhenti tepat di depan sebuah goa dekat tebing curam. Goa itu tidak terlalu besar. Di pinggir kanannya ada sebuah saung sederhana dari anyaman bambu. Di belakangnya ada beberapa palawija.


Sepertinya memang Orang Tua Aneh tinggal di sini.


"Sudah sampai, ini tempat tinggalku selama ini," kata Orang Tua Aneh sambil berjalan lalu duduk di saung bambu.


Cakra Buana segera duduk di pinggirnya. Arak yang sudah dibeli sudah dia siapkan.


"Kau tunggu sebentar. Aku akan mencari daging kelinci untuk menemani minum kita," ucapnya lalu segera pergi tanpa menunggu jawaban Cakra Buana.


Pendekar Maung Kulon hanya diam di sana. Dia menikmati pemandangan yang memang sangat indah dipandang mata. Dari sini, beberapa kota terlihat sangat jelas. Sungai-sungai meliuk seperti ular raksasa berwarna putih. Sawah dan ladang berwarna hijau mencolok.


Alangkah indahnya. Alangkah sejuknya udara di sini.


Setalah menunggu sekitar sepeminum teh, akhirnya Orang Tua Aneh sudah datang. Dia membawa daging yang sudah dibakar dengan menggunakan wadah daun pisang. Bau harum segera tercium ke seluruh tempat sekitar.


Tanpa menunggu lama, dia mulai memakan daging lalu minum arak.


Mau tidak mau Cakra Buana juga harus mengubah persepsinya terhadap orang ini. Sebab sebenarnya Orang Tua Aneh adalah orang yang baik dan ramah.


"Maafkan atas sikapku tadi saat di kedai Cakra," katanya sambil terus minum.


"Tidak mengapa paman. Maaf juga bahwa aku sempat bicara kasar. Aku sedang menghadapi masalah, oleh sebab itu emosiku cepat naik," katanya jujur.


"Aish pantas saja. Kalau boleh tahu, masalah apa yang sedang kau hadapi?" tanya Orang Tua Aneh.


Cakra Buana terdiam sebentar. Dia nampak ragu untuk mengatakannya. Sebab bagaimanapun juga, dia baru mengenal Orang Tua Aneh ini.

__ADS_1


Orang Tua Aneh yang mengetahui gelagat Cakra Buana, seketika dia langsung bicara, "Kalau keberatan tidak masalah. Mungkin masalah pribadimu," katanya pelan.


"Tidak, baiklah aku akan bercerita," jawab Cakra Buana yang entah mengapa bisa tiba-tiba timbul rasa percaya kepada Orang Tua Aneh.


Dia mulai menceritakan kisah sedihnya mulai dari perang besar, terbunuhnya Ling Zhi, dia hendak di angkat menjadi raja, bahkan sampai kisah bertemu dengan mantan kekasihnya dia ceritakan. Semuanya dia ceritakan dengan gamblang dan jelas. Semua masalah yang dia hadapi, dia tumpahkan saat ini. Termasuk niat pembalasan dendamnya. Tak ada yang terlewat sama sekali.


Sepanjang Cakra Buana bercerita, si Orang Tua Aneh tidak bicara sepatah kata pun. Dia diam menjadi pendengar yang baik sambil kadang-kadang minum arak dan makan daging kelinci.


Dia hanya manggut-manggut sampai Cakra Buana selesai bercerita.


"Sudah?" tanyanya.


"Sudah," jawab Cakra Buana.


"Ya sudah kalau begitu," katanya acuh tak acuh.


Cakra Buana menjadi kesal sendiri. Dia berharap bakal mendapat masukan dari orang yang umurnya di atas dia sendiri. Tak disangka orang yang dia harapkan malah merespon seperti itu. Seketika wajahnya menjadi merah menahan amarah.


Orang Tua Aneh yang melihat hal itu hanya tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Cakra Buana dingin.


"Hahaha, anak muda memang selalu berdarah muda. Baik, baik, aku akan serius," jawabnya langsung mengubah ekspresi wajah.


"Sebelumnya mohon maaf kalau aku tidak sopan dan memakai tatakrama seperti orang lain saat menghadapi pangeran atau raja. Aku tidak biasa seperti itu," katanya mengawali pembicaraan.


"Tidak masalah. Lagipula aku tidak bangga dengan semua itu. Kalau aku boleh memilih, aku akan memilih untuk menjadi orang biasa yang bisa hidup bebas tanpa menanggung beban berat," kata Cakra Buana.


"Terimakasih kalau begitu. Begini, semua manusia yang hidup di dunia, tak pernah lepas dari yang namanya takdir. Siapapun dia, sehebat apapun dia, pasti tidak akan mampu melawan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Orang-orang yang kau sayangi telah pergi, itu merupakan takdir. Beban masalah berat yang sedang kau hadapi saat ini, itu juga merupakan takdir. Kau tak bisa lari dari takdir itu sendiri. Kesedihan dan kebahagiaan selalu berdampingan. Seperti siang dan malam, bulan dan bintang,"


"Kau tidak perlu melawan takdir itu. Kau hanya perlu menghadapinya dengan segenap jiwa dan raga. Apa yang telah tuhan berikan kepadamu, memang itu bagaianmu. Mau itu kesedihan kek, kebahagiaan kek, cobaan kek, semua itu adalah bagianmu. Kau hanya bisa menjalaninya sebaik mungkin, pasrahkan kepadanya. Kau harus ingat bahwa kau ini manusia, kau hidup karenanya, di dalam peraturannya, jalani saja semua itu dengan lapang dada,"

__ADS_1


"Kemarin kau terlalu bersedih, hari ini kau harus bahagia. Setiap orang berhak bahagia. Dalam sedih pun kau harus bisa bahagia. Yang membuat bahagia adalah dirimu sendiri. Bahagia itu diciptakan, bukan dicari,"


"Aku lihat umurmu baru sekitar 25 tahun, pantas saja kau belum bisa mengendalikan diri. Tapi itu wajar, kalau aku di posisimu, mungkin aku bisa lebih parah darimu. Apalagi masalah percintaan. Semua manusia pernah menangis karena cinta. Siapapun dia," kata Orang Tua Aneh bicara panjang lebar, dia berhenti sebentar untuk meminum arak kembali.


__ADS_2