
Tak berapa lama, Cakra Buana sudah tiba di sana. Tetapi pemuda itu tidak melihat siapapun kecuali si Orang Tua Aneh sendiri. Padahal sebenarnya, Tiga Setan Timur baru saja beranjak pergi dari sana.
Cakra Buana hanya terlambat sedikit. Tapi yang sedikit itu mampu mengubah segalanya. Dia langsung memburu ke arah kakek tua itu ketika melihat dirinya terkapar di tanah dalam keadaan telungkup.
Cakra Buana segera membalikan badannya. Tubuh orang tua itu sudah bersimbah darah. Wajahnya sudah pucat pasi.
"Paman, siapa yang melakukan ini kepadamu? Siapa?" tanya Cakra Buana penuh amarah.
Tidak ada jawaban sama sekali. Dia terus menggoyangkan tubuh kakek tua itu. Entah suatu keajaiban atau apa, tapi tiba-tiba mulut Orang Tua Aneh bergumam pelan. Matanya terbuka meskipun hanya sedikit.
"Kau sudah kembali?" tanya Orang Tua Aneh lemah.
"Sudah. Aku sudah kembali, arak juga sudah aku belikan," kata Cakra Buana.
"Hahaha, bagus. Mana, aku ingin minum," ucapnya sambil menjulurkan tangan dengan lemah.
"Tidak. Kau harus aku obati dulu, aku akan menyalurkan tenaga dalam kepadamu,"
"Anak bodoh. Percuma saja, luka yang aku derita sangat parah. Lagipula aku tidak keberatan kalau memang harus mati. Sudahlah, mana araknya," pinta Orang Tua Aneh sedikit memaksa.
Dalam keadaan bingung, Cakra Buana lalu menyodorkan satu kendi arak kepada Orang Tua Aneh. Dengan susah payah kakek tua itu meneguk kendi arak tersebut.
"Cakra, kita bersulang,"
"Bersulang untuk apa?"
"Untuk pertemuan kita. Aku senang karena disaat mau mati, ternyata ada orang yang peduli kepadaku," kata Orang Tua Aneh, suaranya semakin melemah.
"Kau memang aneh,"
"Kan memang julukanku Orang Tua Aneh, haha …" ucapnya tertawa lembut, tapi tak lama dia langsung batuk darah.
"Cepat bersulang. Ini arak perpisahan," kata si Orang Tua Aneh semakin melemah.
Cakra Buana mengangguk. Mereka bersulang lalu meneguk araknya. Tapi tak ada kebahagiaan seperti sebelumnya. Yang ada hanyalah sebuah kesedihan.
"Siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanya Cakra Buana.
"Tiga Setan Timur," jawab Orang Tua Aneh.
"Di mana mereka sekarang?"
__ADS_1
"Pergi. Cakra, kitab itu …"
Perkataannya tidak sempat diselesaikan sebab nyawanya sudah lepas. Cakra Buana menggoyang-goyangkan tubuh kakek tua itu. Tapi percuma, sebab dia sudah menghembuskan nafas terkahir.
Pemuda itu menangis sedih. Baru bertemu, baru saja menjadi seorang sahabatnya, baru saja dia bisa tertawa lepas, tapi kini dia harus bersedih lagi.
Setelah menguatkan diri, akhirnya Cakra Buana menguburkan jasad Orang Tua Aneh tepat di belakang goa tempat tinggalnya. Dia memberikan penghormatan terakhir sebelum pergi dari sana.
Keadaan di hutan tersebut sunyi sekali. Tak ada suara binatang, tak ada rembulan dan tak ada bintang. Semuanya gelap. Seperti gelapnya hati Cakra Buana saat ini.
Pemuda itu ingin segera pergi dari sana, tapi sebelum itu telinganya mendengar ada suara yang mencurigakan.
"Kalau memang punya nyali, keluar!!" bentak Cakra Buana dengan penuh amarah.
Suaranya menggelegar menyeramkan. Sinar matanya berkilat penuh amarah di malam yang gelap. Tiba-tiba dari balik semak keluar tiga orang tak dikenal.
Cakra Buana yang sedang dalam keadaan kalap seperti saat ini, tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia teringat bahwa pembunuhnya Tiga Setan Timur, pria atau wanita dia sendiri tidak tahu. Tapi ketika melihat orang yang keluar tersebut merupakan tiga orang, amarah Cakra Buana semakin meluap.
Dalam sekejap mata, Pendekar Maung Kulon langsung menyerang ketiganya tanpa basa-basi lagi.
Tiga orang asing itu kaget saat menyadari dirinya diserang. Tapi dengan gerakan sederhana, ketiganya berhasil menghindari serangan Cakra Buana.
Melihat tiga lawannya menghindar, Cakra Buana semakin yakin bahwa ketiga orang inilah pelakunya yang telah membunuh Orang Tua Aneh.
Mendapat serangan berbahaya, ketiga orang tersebut berusaha menangkis dengan kekuatannya masing-masing. Benturan tangan dan kaki tak dapat dihindarkan lagi.
Cakra Buana melompat mundur ke belakang. Bukan untuk melarikan diri, tetapi justru untuk mengeluarkan jurus yang lebih dahsyat lagi.
"Ajian Tapak Dewa Nanggala …"
"Wushh …"
Dia melompat setinggi dua tombak. Kaki kanannya dilipat dan tangan kanan dihentakkan ke depan sekuat tenaga membentuk sebuah tapak.
Berbarengan dengan itu, sinar putih transparan terlihat keluar dari telapak tangannya. Sinar tersebut mengandung tenaga dalam besar, dan ketiga orang tadi mengetahui hal itu. Maka tanpa basa-basi lagi, mereka serempak mengeluarkan jurusnya pula.
Tiga ajian dahsyat keluar secara bersamaan. Saking hebatnya, dedaunan pun sampai rontok dan mengering. Hawa panas jelas terasa, tiga jurus maut berbenturan di udara.
"Glegarr …"
Dentuman dahsyat terdengar menggelora. Keempat pendekar tersebut sama-sama terpental. Tapi untungnya tidak ada yang terluka parah diantara mereka.
__ADS_1
Saat Cakra Buana berniat untuk menyerang kembali, tiba-tiba saja seorang di antara ketiganya membuka suara.
"Tahan," kata seorang pria. Suaranya terdengar serak parau.
Mau tidak mau Cakra Buana pun menahan serangannya.
"Ada apa?"
"Kenapa kau tiba-tiba menyerang kami?" tanyanya.
"Bukankah kalian Tiga Setan Timur yang sudah membunuh paman Orang Tua Aneh?" tanya Cakra Buana menahan amarah.
"Hah? Tentu saja bukan. Kami sahabat lama Orang Tua Aneh atau yang dulu sering dikenal sebagai Elang Pemburu Mangsa," jawab orang tua itu.
"Apa yang paman katakan itu benar?" tanya Cakra Buana semakin selidik.
"Tentu saja. Apa kau melihat bahwa wajahku berbohong?"
Cakra Buana terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena merasa tidak enak, akhirnya Cakra Buana meminta maaf atas kelancangannya.
"Tidak perlu sungkan. Sebentar anak muda, apakah yang kau katakan tadi adalah benar, bahwa sahabat kami sudah meninggal?"
Cakra Buana hanya mengangguk. Kemudian dia membawa ketiganya ke belakang goa, tempat di mana Orang Tua Aneh dikuburkan.
"Apakah benar yang membunuhnya Tiga Setan Timur?" tanya seorang diantara ketiganya. Orang yang bertanya itu merupakan wanita tua, kira-kira dia sudah berumur lima atau enam puluh tahun.
"Benar, paman bilang sendiri sebelum dia meninggal,"
"Hemm, untuk apa mereka datang jauh-jauh ke sini?" tanya yang lain.
"Sepertinya mereka masih mencari dua kitab itu," kata rekan mereka.
"Kita harus segera mencarinya sekarang juga. Kematian sahabat kita, kita harus segera membalasnya," ucap si nenek tua.
"Benar,"
"Benar,"
"Anak muda, terimakasih. Aku harap di lain waktu kita dapat bertemu kembali. Sampai jumpa," kata si orang tua.
Setelah berkata seperti itu, ketiga orang tersebut langsung melesat entah ke mana. Dalam hitungan detik saja, mereka sudah ditelan gelapnya malam.
__ADS_1
Padahal sebenarnya Cakra Buana ingin bertanya lebih jauh lagi siapa mereka dan dua kitab apa yang dimaksud, sebab Orang Tua Aneh sendiri belum menceritakannya dengan jelas. Tapi apa daya, dia tidak sempat mengatakannya.
Setelah ketiga orang tersebut pergi, Cakra Buana pun segera pergi dari sana sambil menenggak kendi arak untuk menghilangkan kesedihannya.