Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Penyusup


__ADS_3

Rapat para petinggi dari dua kerajaan yang kini sudah menjalin kerjasama dan kesepakatan pun selesai dilaksanakan. Pada akhirnya rapat itu disetujui bahwa jika perang besar nanti dapat dimenangkan, maka kedua kerajaan sepakat untuk membagi hasilnya secara rata.


Sampai sekarang sayangnya Prabu Karta Kajayaan Pasundan belum juga memberikan keputusan untuk melebur kerajaannya dan bersatu dengan Kerajaan Kawasenan.


Tapi pihak Kerajaan Pasundan terutama Eyang Resi Patok Pati dan Juga Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma bisa memahami hal itu, memang bukanlah hal mudah untuk mengajak kerajaan lain bersatu dengannya sehingga membentuk kerajaan besar.


Hal ini karena tak lain mereka pun masih ingin dan masih menikmati statusnya menjadi raja yang mendapat penghormatan dan kekuasaan. Entah itu karena nafsu ataupun hanya bakti belaka.


Semoga saja nantinya semua kerajaan di tanah Pasundan bisa meleburkan kerajaannya masing-masing lalu membuat sebuah kerajaan yang lebih besar lagi. Sehingga rakyat yang khususnya berada di tatar Pasundan berada pada satu naungan pemerintahan yang sama. Kurang lebih begitulah harapan Eyang Resi Patok Pati.


Sekarang para petinggi itu sedang berada di ruang makan untuk melakukan sarapan dan sebagai jamuan bagi tamu agung mereka. Hidangan yang disiapkan oleh Kerajaan Kawasenan pun sangat mewah.


Maklum, tamu mereka kali ini merupakan seorang raja, dan tentu saja jika tidak diperlakukan dengan sangat layak maka mereka akan merasa tidak dihargai atau bahkan lebih daripada itu.


Bau semerbak harum aroma wangi dari hidangan mulai memenuhi ruang makan. Bau itu begitu khas karena dibalut dengan bumbu dan rempah-rempah khas nusantara, khususnya Pasundan.


"Mari, silahkan dimakan prabu. Jangan merasa sungkan lagi, anggap saja ditempat sendiri," kata Prabu Ajiraga kepada Prabu Karta.


"Hahaha … baik, baik. Tentu kalau begitu aku tidak sungkan lagi," jawabnya sambil tertawa.

__ADS_1


Tenteram rasanya hati jika melihat dua orang penguasa akur. Apalagi keduanya menjalankan tugas masing-masing secara adil dan bijaksana. Mereka pun mulai sarapan sambil diselingi dengan obrolan-obrolan ringan.


###


Hari sudah berganti malam, begitu cepatnya waktu berlalu. Hingga yang harusnya terasa lama pun akan terasa sebentar.


Malam ini bulan hanya bersinar separuhnya, langit tampak sedikit diselimuti awan mendung. Tapi keadaan ini tak menghalangi harumnya bunga-bunga yang mekar. Harum itu sungguh membuat siapapun merasa jiwanya tenteram.


Sekarang ini keadaan di istana tampak lebih sepi daripada biasanya. Orang-orang disana sudsh beristirahat dengan pulas. Mungkin karena mereka merasa kelelahan.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi Langlang Cakra Buana. Saat ini pemuda itu malah berdiam sendiri ditaman kerajaan. Dia sedang memandangi ikan-ikan emas yang ada dikolam dari atas jembatan yang dibuat sedikit melengkung.


Betapa bahagianya sang ikan emas itu. Dia hidup dalam kebebasan. Tanpa adanya beban yang harus mereka pikul. Berenang kesana-kemari tanpa halangan. Mengibaskan ekor dengan tenangnya, ah … sungguh indah jika hidup dalam sebuah kebebasan.


Pemuda itu merasakan firasat buruk. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi entah apa itu.


Benar saja, tak lama pemuda itu menangkap sebuah pergerakan. Telinganya begerak-gerak sendiri saat menangkap suara tersebut.


Langlang Cakra Buana lalu memandang berkeliling dan melihat situasi. Tapi tidak ada apa-apa. Yang ada hanyalah kesunyian. Tidak ada orang disana selain dirinya.

__ADS_1


"Ahhh … mungkin perasaanku saja," gumam Langlang Cakra Buana.


Tapi baru saja berkata demikian, tiba-tiba pemuda serba putih itu merasakan adanya aura kegelapan yang pekat. Buru-buru dia berkeliling ke seluruh istana kerajaan.


Betapa marahnya pemuda itu saat melihat para penjaga tertidur dengan pulasnya. Bahkan mereka tidur sampai berdengkur dan juga sebagian dari mereka yang sampai tumpang-tindih.


Dia mencoba untuk membangunkan para penjaga itu, tapi tidak berhasil. Lalu mencoba untuk menggoyang-goyangkan tubuhnya, tidak bangun juga. Ditampar pun bahkan mereka seperti tidak merasa kesakitan.


"Ilmu sirep. Benar, pasti ini ilmu sirep yang sengaja dilakukan oleh seseorang yang berniat buruk. Tapi siapa dan dimana orang itu?" Langlang Cakra Buana menanyakan entah kepada siapa.


Tapi tak lama kemudian dia melihat ada dua buah bayangan yang berkelebat dengan cepat diatas genteng istana. Buru-buru dia menyusul ke atas ganteng sana. Ternyata dua bayangan tadi saat ini posisinya tepat berdiri diatas kamar sang prabu.


"Siapa kalian?" bentak Langlang Cakra Buana dari belakang mereka sehingga kedua penyusup tersebut kaget.


Kedua bayangan yang tak lain merupakan penyusup itu langsung berbalik saat ada suara di belakangnya. Mereka lebih terperanjat ketika tau suara itu berasal dari seorang pemuda asing.


Tanpa bicara sepatah katapun, salahsatu dari mereka melemparkan jarum-jarum rahasia yang diduga mengandung racun kepada Langlang Cakra Buana.


"Wushh …"

__ADS_1


"Utsss …" Langlang Cakra Buana menghindari lemparan jarum beracun itu dengan memiringkan badannya.


Sedangkan kedua bayangan tadi langsung berusaha melarikan diri setelah melemparkan jarum-jarum beracun itu.


__ADS_2