Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Apakah Kau Sudah Menikah?


__ADS_3

Tiga datuk sudah lenyap dari pandangan terkena sambaran angin yang di akibatkan Ajian Saciduh Metu Saucap Nyata milik Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Sedangkan satu datuk, tewas dengan kondisi mengenaskan terkena Ajian Curuk Dewa.


Saat ini yang ada di sana hanyalah Cakra Buana, Ling Zhi, Eyang Rembang, Nini Hideung dan juga Irma Sulastri, gadis yang di cari-cari Cakra Buana belakangan ini.


Namun sekarang, Cakra Buana merasakan adanya perbedaan dalam diri Irma Sulastri. Gadis itu selalu diam, bahkan tidak mengucapkan kata-kata. Dia dingin seperti es, bahkan mungkin melebihi es.


Cakra Buana sempat ingin bertanya kepada Irma Sulastri, tapi dia batalkan karena Nini Hideung bicara lebih dulu. Tak sopan rasanya memotong pembicaraan orang tua, toh Cakra Buana sendiri belum tahu siapa wanita tua tersebut.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu bahkan bisa melihat ilmu Eyang Rembang. Kejadian ini takkan pernah aku lupakan. Tanpa mengurangi rasa hormat, kami pamit undur diri. Masih banyak hal yang harus kami kerjakan. Sampai berjumpa lagi Eyang," kata Nini Hideung lalu melesat dengan ilmu meringankan tubuh di ikuti oleh Irma Sulastri.


"Sampai jumpa," jawab Eyang Rembang sambil memandang ke arah perginya Nini Hideung.


Walaupun baru sesaat, tapi nenek tua itu sudah tak kelihatan lagi. Yang ada hanyalah kepulan debu yang terbang terekana angin kecepatan Nini Hideung. Dalam hati, Cakra Buana memuji nenek tua tersebut. Dia juga menyadari bahwa nenek tua itu adalah guru Irma Sulastri. Tapi siapa namanya, dia belum tahu.


"Terimakasih Eyang sudah sudi menyelamatkanku. Sungguh, hari ini aku berasa mimpi bisa bertemu dengan tokoh legendaris," kata Cakra Buana sambil memberikan hormat.


Eyang Rembang tersenyum melihat pemuda di hadapannya ini. Sekali lihat, ada rasa suka di hatinya. Dia menilai bahwa Cakra Buana adalah pemuda yang memiliki budi pekerti luhur. Dan memang pandangannya itu tak pernah salah.


"Tak perlu berlebihan kepadaku anak muda. Maaf, apakah aku yang tua ini boleh bertanya?" tanya Eyang Rembang. Suaranya halus, tenang dan menyejukkan.


"Tentu saja Eyang. Sebuah kehormatan bagiku bisa berlama-lama bersama Eyang. Pertanyaan apapun, pasti akan aku jawab dengan jujur," jawab Cakra Buana.


Sekali lagi kakek tua itu memuji Cakra Buana. Benar-benar pemuda berbudi pekerti luhur, pikirnya.


"Kalau aku tidak salah lihat, bukankah ilmu yang terkahir kau gunakan itu adalah Ajian Curuk Dewa milik kakang Wayang Rupa Sukma Saketi?"


Cakra Buana diam sejenak. Tak disangkanya pertanyaan itu yang akan keluar. Setelah berpikir, akhirnya dia pun menjawab jujur.


"Benar Eyang. Itu Ajian Curuk Dewa, tapi aku belum menguasai secara sempurna. Bahkan setengahnya pun belum,"


"Tak salah. Apakah kamu muridnya?"


"Be-benar Eyang. Aku murid Ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Apakah ada yang salah Eyang?"

__ADS_1


"Tidak. Justru aku sangat bangga, akhirnya aku bisa bertemu dengan murid pendekar nomor satu di tanah Pasundan. Kau sedang terburu-buru atau tidak anak muda?"


"Tidak Eyang. Memangnya kenapa?"


"Kalau begitu, kiranya mohon supaya kau sudi menerima tawaranku. Marilah kita bicara di kediamanku saja," kata Eyang Rembang.


Tanpa berpikir panjang lagi, Cakra Buana langsung mengiyakan. Dia akan ikut ke kediaman tokoh tua itu tanpa rasa curiga. Toh Eyang Rembang bukanlah pendekar beraliran sesat, untuk apa takut?


Setelah Cakra Buana mengiyakan, maka mereka bertiga pun segera pergi dari hutan tersebut. Ketiganya pergi menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah tingkat atas.


Hutan itu kini kembali sunyi senyap. Tak ada gemuruh berisik, tak ada ledakan keras lagi. Yang ada hanyalah sisa-sisa pertarungan hebat. Pohon-pohon gosong dan tumbang. Daun kering berserakan.


Binatang liar masih menyembunyikan keberadaannya. Mereka masih dilanda ketakutan atas apa yang dilakukan oleh makhluk bernama manusia. Hutan itu kembali angker. Ditambah dengan mayat-mayat, terutama mayat salah datu datuk rimba hijau, keangkerannya bertambah beberapa kali lipat.


###


Setelah beberapa saat, akhirnya Cakra Buana pun tidak di kediaman Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Kediamannya tidak terlalu besar, bahkan itu bisa disebut bukan rumah. Lebih mirip kepada gubuk seperti rumah.


"Selamat datang di gubuk tuaku anak muda. Aku tinggal di sini berdua, bersama Ling Zhi muridku," kata Eyang Rembang.


"Terimakasih Eyang. Tempat ini sungguh nyaman, sangat cocok untuk memperdalam ilmu," ucap Cakra Buana memuji kenyamanan tempat tersebut.


Memang nyaman, sebab tempatnya di bawah bukit. Tak seberapa jauh dari sana, ada sebuah sungai yang berair jernih. Ada air terjun untuk tempat mencuci, ikan-ikan di sungai itu pun terbilang banyak dan besar.


Ketiganya melangkah pelan menuju gubuk. Setelah sampai di depan, Eyang Rembang menyuruh Cakra Buana untuk duduk di dipan bambu. Sedangkan Ling Zhi di suruh untuk memberikan suguhan.


Belum sempat bicara panjang lebar, Ling Zhi sudah keluar kembali. Gadis itu keluar membawa nampan berisikan tiga gelas air teh. Ada juga beberapa ubi dan singkong rebus yang masih hangat.


"Anak muda, siapa namamu? Aku lupa"


"Nama saya Cakra Buana Eyang," jawab Cakra Buana.


"Oh, nama yang bagus. Silahkan dinikmati suguhan sederhana ini. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepadamu Cakra," kata Eyang Rembang sambil menikmati singkong rebus, makanan kesukaannya.

__ADS_1


"Aku akan menjawab semampuku Eyang,"


"Apakah kau benar murid Kakang Wayang?"


"Benar Eyang. Aku tak berani berbohong, hanya saja tidak ada yang mengatahui hal ini kecuali Eyang dan juga murid eyang. Guru menyuruhku untuk tidak menyebutkan aku murid siapa, baru kali ini aku berani membuka rahasia ini," kata Cakra Buana.


"Syukurlah. Aku senang Kakang Wayang masih hidup, dimana dia sekarang?'


"Di Gunung Kidul, Bantam Eyang,"


"Hemmm … baiklah. Tunggu sebentar," kata Eyang Rembang.


Tanpa menunggu jawaban, dia langsung masuk ke dalam.


Otomatis yang ada di sana hanyalah Cakra Buana bersama Ling Zhi. Keduanya malu-malu, belum ada yang berani bersuara. Tapi kedua mata insan itu selalu bertemu pandang.


"Emmm … nona, kau bukan asli orang Pasundan?" tanya Cakra Buana basa-basi.


"Iya, aku berdarah Pasundan Tiongkok. Ayahku dari Tiongkok, sedangkan ibu dari Pasundan. Kebetulan ibuku adalah murid dari Eyang Rembang. Jadi dia adalah kakekku guruku," katanya sambil malu-malu.


Bagaikan di sambar petir di siang hari. Sama sekali Cakra Buana tidak menyangka bahwa gadis itu memiliki hubungan dekat sekali dengan Eyang Rembang. Jika cucu muridnya secantik ini, bagaimana dengan ibunya?


"Ah … maaf, aku tidak tahu,"


"Tidak perlu sungkan kakang. Kau sendiri, asli dari mana?"


Kakang? Seketika Cakra Buana gugup. Pendekar muda yang terkenal digdaya, kini bisa bergetar hanya karena sebutan "kakang" dari seorang gadis muda.


"Aku berasal dari desa Pasir Maung. Aku sedang mengembara, jadi sampai ke tempat jauh seperti sekarang. Apakah kau sudah menikah?"


Pertanyaan terkahir itu entah bagaimana caranya bisa keluar dari mulut Cakra Buana. Padahal dia tidak berniat mengatakannya, tapi kenapa mulutnya bisa lancang seperti demikian.


"Ma-maaf nona, aku tidak sengaja," katanya gugup.

__ADS_1


__ADS_2