Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tunggu Pembalasanku Bocah


__ADS_3

"Ampun tuan, saya benar-benar belum mendapatkan untung. Kedai saya baru buka," jawab pemilik kedai yang merupakan seorang wanita tua. Nada bicaranya begitu lemah dengan raut wajah sedih dan ketakutan.


"Ah … bohong kau. Minggir!!!" salahsatu dari mereka mengibaskan tangannya ke wanita tua tersebut sehingga dia jatuh tersungukur. Kepalnya membentur ujung papan, sehingga kepalanya sedikit mengeluarkan darah.


Ketiga petani yang merupakan penduduk asli desa tersebut berniat untuk kabur. Tapi belum sempat melakukannya, tiba-tiba salahsatu pendekar yang meminta upeti menghadang ketiga petani itu dan melakukan hal yang sama.


Tentu saja kedua pendekar yang diduga suruhan kepala desa setempat itu sangat marah karena para warga sulit untuk diminta memberikan upeti. Dia langsung menampar para petani tersebut.


Tapi sebelum tangannya mengenai pipi, tiba-tiba saja sebuah cangkir yang terbuat dari bambu terbang ke arah ujung tangannya.


"BUKK …"


"Ughhh …"


Pendekar itu mengeluh pelan. Ternyata lemparan cangkir bambu itu terasa bagaikan sebuah batu yang besar. Buru-buru dia mencari siapa pelakunya, tapi tidak ada siapa-siapa lagi dikedai itu selain tiga petani dan satu orang pemuda tak dikenal. Sontak saja dia langsung menjatuhkan pandangan tajam ke pemuda tersebut.


"Hehh … berani sekali kau melemparku dengan cangkir ini. Rasakan ini …" kata pendekar itu melempar kembali cangkir yang sudah membuatnya sakit.


Tapi dengan santainya pemuda itu menyambut lemparan cangkir bambu yang ternyata sudah diisi tenaga dalam. Hanya dengan satu tusukan jari telunjuk, cangkir bambu pun terbelah menjadi dua bagian.


"KRAK …" terbelah.

__ADS_1


Pemuda itu langsung menghampiri kedua pendekar tadi. Langkahnya pelan, tapi jelas mengandung wibawa dan mencerminkan bahwa dia adalah seorang pendekar.


"Cepat pergi dari sini sebelum aku menghajar kalian. Aku paling tidak suka jika ada orang yang bertindak semena-mena," kata pemuda tersebut yang tak lain adalah Langlang Cakra Buana.


Dia tentu marah melihat perlakuan kedua pendekar yang merupakan suruhan kepala desa tersebut. Bukannya yang kuat melindungi yang lemah, ini malah yang kuat menindas yang lemah.


"Hehh bocah, kau pikir dirimu siapa? Sehingga berani sekali berkata lancang kepada kami," ucapnya dengan marah.


"Aku tidak peduli siapapun kalian. Bagiku jika salah tetap salah. Sekali lagi aku peringatkan, cepat kembali sebelum aku menghajar kalian," ucap Langlang Cakra Buana menyuruh kedua pendekar pergi


Tapi dasar diri sudah dikuasai nafsu. Bukannya menuruti perintah pemuda itu, yang ada malah kedua pendekar tersebut menyerang pemuda yang tak lain adalah Langlang Cakra Buana tanpa bicara sepatah kata apapun.


"Kita bertarung secara jantan disini kalau kalian berani. Jangan bisanya hanya menindas orang-orang yang lemah saja," ucap Langlang Cakra Buana sambil berdiri dengan tegap dan gagah didepan kedua pendekar itu.


Kedua pendekar itu sudah berdiri setelah tadi tersungkur akibat serangan tapak pemuda itu. Keduanya saling pandang sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke Langlang Cakra Buana.


"Kita serang pemuda itu secara bersama Begang (Kurus)," ucap rekannya yang berpenampilan brewok kepada si Begang.


"Baik Wikatma," kata Begang kepada temannya yang ternyata bernama Wikatma.


Keduanya langsung mencabut sebuah golok yang agak panjang dari masing-masing pinggangnya. Mereka maju menyerang Langlang Cakra Buana secara bersamaan.

__ADS_1


Serangan dua buah golok datang ke arah Langlang Cakra Buana dengan tajamnya. Dibawah terik matahari, golok yang sangat tajam itu kadang terlihat mengkilat. Sambarannya cukup bahaya juga ternyata.


Keduanya terus memberikan serangan golok yang tajam. Sinar sambarannya kadang menyilaukan mata. Mungkin karena saking tajamnya. Hingga pada akhirnya Wikatma berhasil memberikan serangan yang hampir melukai perut Langlang Cakra Buana.


"Utss …"


Pendekar Maung Kulon itu menarik tubuhnya ke belakang lalu jungkir balik sekali diudara dan mendarat dengan mulus. Bosan di posisi bertahan, dia mulai menyerang kedua pendekar itu.


Langlang Cakra Buana langsung saja mengeluarkan jurus Cakar Harimau. Kuku-kuku yang agak panjang muncul di kedua tangannya. Gerakannya bagaikan harimau yang mencakar mangsa. Cepat, gesit. Dan menyakitkan.


Benar saja. Baru beberapa kali gerakan, pemuda itu akhirnya bisa melukai Wikatma dibagian kedua tangannya. Sekarang terlihat ada bekas cakaran yang agak panjang di kedua tangan Wikatma.


Tak berhenti sampa disitu, pemuda itu kembali menyerang dengan ganas. Tapi kali ini Wiktma yang menjadi mangsa utamanya. Dia terus memberikan serangan cakaran yang berkelebat dengan tajam kesana kemari. Hingga akhirnya …


"Ahhh …" tewas.


Wikatma terpental beberapa tombak lalu tewas seketika setelah Langlang Cakra Buana berhasil merobek dadanya cukup dalam. Darah pun mulai mengalir keluar.


Begang yang melihat rekannya terbunuh, tanpa berpikir panjang dia langsung melarikan diri dan berniat untuk melaporkan kejadian ini kepada kepala desa.


"Tunggu pembalasanku bocah, aku akan melaporkan kejadian ini kepada kepala desa…" ucapnya sambil berlalu pergi dengan menaiki kudanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2