
"Wushh …"
Tiga sinar tersebut semakin cepat melesat ketika jarak sasarannya semakin dekat.
Cakra Buana bukannya tidak tahu. Dia tahu dan bahkan sangat tahu.
Namun Pendekar Tanpa Nama sengaja tidak ingin menangkis ataupun menghindar. Dia ingin tahu seberapa kuat tiga senar tersebut.
Tenaga dalam telah dia salurkan ke seluruh tubuh. Cakra Buana tahu, kalau sampai tiga sinar tersebut menghantam telak dirinya, bukan tidak mungkin bahwa rasa sakit akan menerpanya.
Hanya saja, Cakra Buana sengaja melakukan semua itu. Dia pun tahu siapa yang melancarkan serangan.
Orang yang sedang terluka hatinya, biasanya dia akan nekad melakukan hal apapun. Bahkan bukan tidak mungkin dia berani melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
Satu-satunya cara untuk mengobati rasa sakit orang yang sedang terluka hatinya, adalah membiarkan apa saja yang dilakukan.
Dan Cakra Buana melakukan hal itu. Dia membiarkannya begitu saja sebagai rasa kepedulian terhadap si penyerang.
"Blarrr …"
Sebuah ledakan keras terdengar. Gelombang kejut sampai mematahkan beberapa dahan pohon. Dua batang pohon terbakar.
Ternyata sinar tadi tidak berhasil menghantam tubuh Pendekar Tanpa Nama. Sebab saat hampir mencapai tubuhnya, sebuah sinar kuning melesat dari arah pinggir sebelah kanan dan berbenturan dengan tiga sinar tadi.
Akibat yang ditimbulkan dari benturan sinar itu memang cukup hebat. Tetapi sayangnya belum cukup untuk mementalkan tubuh Cakra Buana.
Sebelum benturan terjadi, dia sudah melayang menghindarinya.
Saat ini, di hadapan Cakra Buana telah berdiri seorang wanita cantik. Kecantikannya bak seorang bidadari yang turun dari khayangan.
Pakaian merah mudanya berkibar anggun tertiup angin malam. Rambutnya digerai terurai dbiarkan begitu saja.
Penampilannya memang terbilang biasa. Tetapi kecantikannya sungguh luar biasa.
Siapa lagi kalau bukan Bidadari Tak Bersayap?
"Kakang, kau tidak papa?" tanya si gadis kepada kekasihnya.
"Kau jangan khawatir Sinta. Aku tidak terluka sedikitpun," jawab Cakra Buana lembut.
__ADS_1
Dia menghampiri kekasihnya.
Di depan sana, si penyerang yang tadinya ingin langsung pergi, tiba-tiba mengurungkan niatnya.
Dia melayang memperpendek jaraknya dengan Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap.
"Siapa wanita ini?" tanya orang yang menyerang dengan wajah kesal dan nada tidak senang.
Hatinya terasa panas. Api cemburu membakar dirinya. Hati yang sudah terluka, ditambah luka satu lagi, lengkap sudah penderitaannya.
Memang benar, yang menyerang Cakra Buana barusan adalah Ayu Pertiwi. Entah dari mana dia bisa mendapatkan tenaga dalam dan jurus seperti itu. Seingat Cakra Buana, dulu mantan kekasihnya tersebut tidak mempunyai serangan semacam itu.
Keyakinan Cakra Buana bahwa Ayu Pertiwi telah berpindah jalan menjadi semakin yakin setelah melihat kejadian barusan.
"Aku kekasihnya. Dan kau sendiri siapa?" tanya balik Bidadari Tak Bersayap.
Kekasihnya? Apakah Ayu Pertiwi tidak salah dengar? Benarkah gadis maha cantik tersebut kekasih Cakra Buana?
Dia ingin tidak percaya, tapi mana bisa? Karena apa yang di ucapkan si gadis memang sebuah kenyataan.
Kenyataan yang baginya sangat membahagiakan. Tapi bagi Ayu Pertiwi, kenyataan tersebut sangat penuh penderitaan.
"Kakang, apakah yang dia katakan itu benar?" tanyanya kepada Cakra Buana.
Seorang wanita, kalau ada wanita lain yang berani kurang ajar terhadap kekasihnya, maka wanita itu mampu berubah menjadi seekor harimau hanya dalam waktu sekejap mata.
"Jaga bicaramu wanita jalang. Kau pikir dirimu siapa heh? Berani sekali memanggilnya kakang di hadapanku,"
Bidadari Tak Bersayap marah. Jelas, dia tidak bisa menerimanya.
Tapi Ayu Pertiwi juga tidak terima. Mana bisa dia diam saja ketika dirinya disebut wanita jalang?
"Bangsat. Lancang sekali mulutmu. Aku bukan wanita jalang seperti yang kau bilang. Tarik ucapanmu sebelum aku bertindak lebih jauh," bentak Ayu Pertiwi.
Kedua gadis yang sama-sama cantik itu mulai bertengkar mulut.
Seorang wanita, siapapun dia, sudah pasti menyukai pertengkaran mulut.
Cakra Buana mulai bingung. Seorang pendekar yang hampir tanpa tanding saja bingung saat menghadapi dua wanita yang bertengkar hanya karena dirinya.
__ADS_1
Apalagi kau yang bukan seorang pendekar?
Pendekar Tanpa Nama merasa seperti orang bodoh. Dia bolak-balik berusaha menenangkan dua gadis tersebut.
"Diam!!!"
Saking pusingnya, Cakra Buana berteriak sambil mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya hebat, gelombang kejut tercipta dan menyapu deduanan.
Dua wanita yang tadi sedang bertengkar, kini mendadak keduanya terdiam. Tidak ada yang berani bicara lagi.
"Sinta, kau tenangkan dirimu. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Begitupun denganku Ayu, tenanglah. Semua ini bisa kita bicarakan baik-baik," ucap Cakra Buana.
Kedua gadis itu tidak ada yang menjawab. Keduanya masih menatap tajam satu sama lain. Bedanya, kali ini mereka tidak ada yang berani bergerak walau dua langkah.
"Sinta, gadis itu adalah mantan kekasihku beberapa tahun yang lalu ketika aku baru memulai pengembaraan di dunia persilatan. Namanya Ayu Pertiwi, dan kami baru bertemu sekarang ini setelah tidak bertemu sekian tahun semenjak pertarungan terkahir melawan guru dan suaminya," jelas Cakra Buana kepada Bidadari Tak Bersayap.
Sinta Putri Wulansari menghela nafas. Akhirnya dia merasa lega setelah mendengarkan ucapan kekasihnya. Walaupun belum percaya sepenuhnya, tetapi dia yakin bahwa ucapan tersebut bukan sebuah dusta.
Apalagi Bidadari Tak Bersayap melihat keseriusan dalam ucapan Cakra Buana.
"Dan kau Ayu, perkenalkan, ini kekasihku yang sekarang. Namanya Sinta Putri Wulansari," kata Cakra Buana memperkenalkan kekasihnya kepada sang mantan.
Bagaikan petir menyambar jantungnya. Ayu Pertiwi tergetar. Sekarang giliran dia yang menjadi sangat yakin bahwa gadis itu memang kekasih Cakra Buana.
Hatinya menjerit keras. Andai kata suaranya dapat terdengar, mungkin suara itu akan lebih keras daripada suara seorang ibu yang memanggil anaknya.
Nafasnya terasa terhenti. Walaupun rasa cintanya tidak sebesar dulu, tetapi juga belum lenyap. Bahkan mungkin tidak bisa lenyap untuk selamanya.
Walaupun sekarang dia telah menerima kenyataan pahit yang bahkan lebih pahit dari pada diabaikan oleh si dia, tapi rasa cintanya kepada Cakra Buana akan tetap ada.
Hanya saja, rasa cinta itu semakin terkubur bersama rasa sakit yang teramat sangat. Lebih sakit daripada berharap kepada seseorang yang dikira akan membayar hutang, tapi sayangnya hanya janji semata.
Besok, besok, besok, sampai ujungnya tidak ingat sama sekali.
Ayu Pertiwi tidak menjawab. Mulutnya seakan terkunci. Hanya tetesan air mata saja yang akan keluar. Tapi dia berusaha sekeras mungkin untuk menahan supaya air mata tersebut tidak menetes.
"Selamat …"
Hanya kata itu yang dapat dia ucapkan. Setelah itu, Ayu Pertiwi segera membalikan badan lalu pergi entah ke mana.
__ADS_1
Dia melesat cepat dengan ilmu meringankan tubuhnya. Deraian air mata semakin menetes deras membasahi pipinya.
Selain berlari sambil menangis, apakah ada sesuatu yang lebih menyakitkan lagi?