Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertempuran Berdarah


__ADS_3

"Apa yang gawat guru?" tanya Bayu semakin kebingungan.


"Cepatlah sekarang kau pergi menemui semua murid. Jangan lupa, cari juga Sanca dan Dadung Amuk," kata Kakek Rajawali menyuruh Bayu.


"Baik guru,"


Setelah mendapatkan perintah dari sang guru, tanpa banyak bicara lagi dia segera menemui semua murid Perguruan Rajawali Sakti. Bayu sangat terkejut saat mendapati bahwa hampir semua murid perguruan sudah terkapar lemas tak berdaya.


Dari tujuh puluh murid, hanya tersisa sekitar tiga puluh murid saja yang tidak terkena Racun Pemusnah Tenaga Dalam. Sedangkan sisanya sudah tergeletak, bahkan beberapa ada yang sudah pingsan. Murid yang masih terjaga panik melihat rekan mereka tiba-tiba pusing dan mual, untung bahwa Bayu segera datang, sehingga mereka jadi mengerti apa yang sudah terjadi.


"Cepat bantu aku cari Sanca dan Dadung Amuk," ucap Bayu memberikan perintah.


Semua murid yang tidak terkena Racun Pemusnah Tenaga Dalam mulai bergerak, mereka mencari ke segala tempat yang terdapat di Perguruan Rajawali Putih. Sayangnya setelah sekian lama mencari, ternyata kedua orang tersebut tidak ditemukan. Mereka hilang tanpa jejak.


Di ruangan belakang, Sari dan Ratih sedang di obati oleh Kakek Rajawali. Keduanya duduk bersila dengan posisi tangan di atas lutut. Kakek Rajawali di belakang mereka sambil menempelkan kedua tangannya ke punggung lalu menyalurkan tenaga dalam untuk menetralisir racun tersebut.


Racun Pemusnah Tenaga Dalam tidaklah terlalu berbahaya. Racun ini sangat jarang menyebabkan korban. Hanya saja, dalam waktu tiga hari tiga malam, si korban akan merasakan tubuhnya lemas dan kepala sakit seperti dipukul. Meskipun tidak sampai berujung maut, tapi Racun Pemusnah Tenaga Dalam ternasuk dalam daftar salah satu racun ganas.


Sekuat apa pun orang tersebut, tidak akan bisa melawan keganasan Racun Pemusnah Tenaga Dalam. Yang dapat menangkalnya hanyalah mereka yang sudah berilmu sangat tinggi dan mengetahui jenis-jenis racun.


Setelah di saluri bantuan tenaga dalam oleh Kakek Rajawali, kondisi Ratih dan Sari mulai sedikit membaik. Tenaga dalam mereka sudah bisa di keluarkan, yang tersisa hanyalah rasa lemas saja.


Tepat ketika dirinya selesai mengobati, Bayu baru saja tiba di ruangan belakang dan melaporkan kejadiannya.


"Guru, hampir semua murid terkena Racun Pemusnah Tenaga Dalam. Yang selamat hanya dari racun itu tersisa sekitar tiga puluh murid," ucap Bayu melaporkan.


"Keparat. Aku yakin Sanca dan Dadung Amuk dalang di balik kejadian ini. Cepat cari mereka sampai dapat. Kalau kalian sudah menemukan orangnya, bawa dia kemari," kata Kakek Rajawali yang menahan kemarahannya.

__ADS_1


"Baik guru," kata keempat murid kompak.


Namun, belum sempat mereka menjalankan tugas yang diberikan gurunya, tiba-tiba dua orang murid penjaga gerbang lari tergopoh-gopoh.


"Guru, gawat guru. Gawat," kata salah seorang murid dengan nafas tersengal-sengal.


"Apanya yang gawat? Katakan dengan jelas, tenang saja dulu," kata Bayu agak membentak.


"Pokoknya gawat guru. Puluhan orang sedang bergerak menuju ke sini. Sepertinya mereka berniat untuk menyerang," ucap murid tersebut.


"apa?" Kakek Rajawali kaget bukan kepalang. Matanya melotot seperti mau keluar. Bukan hanya dirinya, bahkan keempat muri inti pun merasa sangat terkejut dengan kabar itu. Mereka bingung harus melakukan apa. Sebab lebih dari separuh murid sudah terkena racun.


"Guru, bagaimana ini?" tanya Bayu semakin panik.


"Kita hadapi mereka sampai titik darah penghabisan. Segera perintahkan murid yang terjaga untuk bersiap. Kita akan segera berperang melawan orang yang berani macam-macam dengan Perguruan Rajawali Putih," ucap Kakek Sakti.


"Baik guru,"


Sementara itu, dari arah selatan Perguruan Rajawali Putih, serombongan orang yang berjumlah sekitar lima puluh itu sedang bergerak cepat ke arah perguruan tersebut.


Sebagian dari mereka ada yang menggunakan kuda sekaligus ada juga yang berlari mengandalkan ilmu meringankan tubuh. Orang-orang tersebut memakai pakaian serba hitam berlambangkan ular sendok (kobra) di punggungnya. Kalau bukan Perguruan Ular Sendok, siapa lagi?


Jumlah anggota Perguruan Ular Sendok yang ikut menyerang kali ini ada sekitar lima puluh orang. Masing-masing murid inti memimpin sepuluh kelompok.


Di sisi lain, tanpa ada yang mengetahui bahwa dari tadi Cakra Buana dan Pendekar Tangan seribu sedang duduk mengintai di atas dahan pohon berukuran cukup besar. Keduanya sengaja belum keluar karena tidak ingin mencampuri urusan orang lain.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu masih terus memperhatikan apa yang akan terjadi. Mereka sepakat akan membantu jika Perguruan Rajawali Putih benar-benar terdesak. Bagi Cakra Buana, ini merupakan sebuah pelajaran bagi para guru besar perguruan tersebut.

__ADS_1


Tak berselang lama, derap langkah kaki kuda terdengar semakin jelas. Sebagian dari mereka ada yang sudah sampai lebih dulu dan langsung bertengger di atas benteng atau atap perguruan.


Di sisi lain, para murid Perguruan Rajawali Putih yang tersisa pun sudah bersiap siaga. Mereka akan bertarung sampai titik darah penghabisan seperti apa yang di perintahkan oleh gurunya.


Dua belah pihak sudah saling berhadapan. Senjata pun sudah terhunus. Tinggal menunggu komando dari pemimpinnya, maka pertumpahan darah ini tak terelakkan lagi.


"Selamat datang di perguanku. Mohon beritahukan apa maksud kedatangan kalian ini," ucap Kakek Rajawali sambil memberikan hormatnya.


Lalu seorang pria berumur enam puluh tahun turun dari kudanya. Dia memberikan membalas salam tersebut.


"Tujuan kami ke sini hanya satu. Yaitu ingin menghancurkan Perguruan Rajawali Putih dan merebut wilayah ini," kata kakek tua itu.


"Hehhh … Racun Tua, seenaknya saja kau bicara. Kalau kau memang ingin semuanya, ambillah kalau mampu," tantang Kakek Rajawali dengan posisi siaga.


"*******. Serang!!" teriak orang yang dipanggil Racun Tua itu.


Racun tua merupakan guru besar dari Perguruan Ular Sendok. Dia terkenal dengan jurus-jurusnya yang sangat berbahaya karena mengandung racun ganas. Oleh sebab itulah dirinya dijuluki Racun Tua.


Setelah memberikan perintah kepada semua muridnya untuk menyerang, maka murid yang berjumlah sekitar lima puluhan itu langsung menyerang secara bersamaan.


"Serang …"


"Maju …"


"Ayo …"


Teriakan demi teriakan dari kedua belah pihak mulai terdengar memecahkan keheningan malam. Dentingan senjata tajam berupa pedang, golok, tombak dan sebagainya mulai terdengar. Suara-suara itu semakin lama semakin terdengar keras tanpa henti.

__ADS_1


Malam yang harusnya dilewati dengan tenang, kini malah sebaliknya. Malam ini, pertempuran berdarah terjadi. Awan menghitam dan rembulan kini tak lagi mau bersinar.


Pertarungan antar perguruan tersebut sudah berjalan hampir dua puluh menit. Walau pun baru berjalan sebentar, tapi korban jiwa sudah mulai berjatuhan. Baik itu dari Perguruan Rajawali Putih, maupun Perguruan Ular Sendok.


__ADS_2