
"Guru …" Cakra Buana langsung bersujud memberikan hormatnya kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Perkenalkan, nama murid Cakra Buana. Izinkan murid mempelajari semua kitab hasil ciptaanmu. Murid akan menjalankan semua perintah guru," ucapnya lalu kemudian bangkit dari sujudnya.
Setelah itu, dengan mantap Cakra Buana keluar dari goa diikuti dua kera dan seekor harimau sahabatnya.
Begitu sampai di pinggiran danau dua warna, Cakra Buana duduk kembali di atas bebatuan hitam. Si kera paling besar pergi, tak lama dia datang sambil membawa dua batok kelapa yang berisi air. Warna air di batok masing-masing berbeda.
Satu warna hijau, satu lagi warna biru.
Si kera itu mengisyaratkan Cakra Buana supaya segera meminumnya. Cakra Buana keheranan melihat dua air tersebut. Setelah menanyakannya kepada si kera, kera itu menunjuk-nunjuk danau dua warna tersebut.
Kemudian dia menirukan gaya orang meminum sambil mengangkat kedua tangannya di gerak-gerakan menunjukkan otot.
Cakra Buana yang sudah terbiasa dengan isyarat seperti itu langsung mengerti dalam sekilas pandang.
"Maksudmu kedua air di batok ini adalah jamu berasal dari tumbuhan yang dulu aku ambil di dasar danau? Kau menyuruhku untuk minum untuk menyempurnakan tenaga dalam dan membuat tubuhku kekar, begitu?" tanya Cakra Buana.
Si kera mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali kemudian berjingkrak memutarka tubuhnya. Tebakan Cakra Buana tepat sekali. Ketiga sahabatnya terlihat sangat senang.
Tanpa berlama-lama, pemuda itu segera meminumnya. Ternyata rasa jamu itu juga masing-masing berbeda. Satu rasanya dingin agak manis. Sedangkan yang satu panas sedikit pahit.
Saat jamu sudah diminum, kemudian kera tadi menyuruh Cakra Buana untuk melakukan semedi mengatur tenaga dalam. Dia menurut, pemuda itu segera bersila lalu bersemedi.
Ada dua hawa yang masuh ke dalam tubuhnya sekaligus. Dingin dan panas. Cakra Buana segera mengatur dan mengendalikan hawa tersebut.
Setelah beberapa lama, Cakra Buana akhirnya menyelesaikan semedi itu. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Tetapi dia merasa sangat segar dan sangat bertenaga.
Cakra Buana mengambil dua kitab lalu menanyakan yang mana dulu harus dilatih. Si kera menunjuk ke Kitab Tenaga Dalam Langit Bumi.
Dia paham, maka dengan segera Cakra Buana mempelajari cara mengolah tenaga dalam dan menyalurkannya dengan baik dan benar. Kitab Tenaga Dalam Langit Bumi berisikan tentang ajaran bagaimana menghimpun tenaga dalam dengan cepat.
Bagaimana mengeluarkan tenaga dalam menjadi dua hawa berbeda dengan sekaligus. Singkatnya, jika sudah menguasi kitab tersebut, maka Cakra Buana dapat mengeluarkan tenaga dalam dahsyat yang berbeda hawa secara berbarengan.
Dia terus mempelajari kitab tersebut siang dan malam. Di kitab itu juga terdapat beberapa ajaran lain seperti cara menyembuhkan racun ganas serta bagaimana cara mengeluarkannya. Atau bahkan mengubah racun menjadi tenaga. Meskipun tidak semua racun bisa dilakukan seperti ajaran kitab tersebut, tetapi itu semua sudah jauh dari kata cukup.
Setelah berhasil menguasai Kitab Tenaga Dalam Langit Bumi selama tiga bulan, Cakra Buana langsung melanjutkannya mempelajari Kitab 7 Jurus dan Harimau beserta 3 Jurus Pedang Kilat.
__ADS_1
Sama seperti sebelumnya, dia terus berlatih setiap hari tanpa kenal lelah. Pemuda itu istirahat hanya untuk sekedar melakukan hal-hal utama seperti makan dan membersihkan diri.
Selama kurang lebih tiga bulan, Cakra Buana berhasil juga menguasainya dengan sempurna. Sekarang, semuanya sudah meningkat pesat. Dua tenaga sakti dengan hawa berbeda bisa dia keluarkan secara bersamaan. Tujuh jurus dahsyat dan tiga jurus pedang mengerikan sudah dia hapal semuanya.
Berikut isi dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau beserta 3 Jurus Pedang Kilat:
1). Tapak Naga Dewa
2). Naga Menerjang Mengeluarkan Badai
3). Naga Terbang di Angkasa
4). Harimau Bertempur Liar
5). Harimau Menyongsong Rembulan
6). Harimau Marah Besar
7). Naga dan Harimau Bersatu Padu
3 Jurus Pedang Kilat
2). Kilat Mengejar Mangsa
3). Hujan Kilat Sejuta Pedang
Kini semua telah berubah. Tubuh Cakra Buana menjadi lebih kekar dan terlihat semakin gagah. Wajahnya semakin tampan, apalagi dengan tatapan matanya yang menandakan bahwa dia keturunan darah biru.
Sekarang, tak akan ada lagi yang mengenal Cakra Buana. Kecuali kalau dia memberitahukan siapa dirinya itu. Cakra Buana sudah berubah seluruhnya.
Saat ini hari sudah sore. Matahari mulai lenyap di balik bukit. Sinar keemasan menyorot danau dan tempat sekitarnya.
Sekarang dia disuruh mencoba semua jurusnya melawan tiga sahabatnya tersebut. Awalnya Cakra Buana ragu, dia tidak ingin melukai sahabat-sahabat baiknya tersebut. Tetapi ketiga binatang itu terus memaksanya. Mau tidak mau, Cakra Buana harus melakukannya.
Belasan kera dan dua harimau sudah berdiri di pinggir arena pertarungan. Mereka akan menyaksikan pertarungan seru. Di hadapan Cakra Buana sudah berdiri tiga binatang sahabatnya.
Untuk sesaat suasana hening. Tapi itu hanya sekejap, karena detik berikutnya sesuatu yang tidak terduga mulai terjadi.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, satu ekor kera yang paling besar tiba-tiba sudah beridri tepat satu langkah di hadapan dirinya. Dia mengayunkan tangannya lalu memukul pundak Cakra Buana.
Seumur hidup, dia baru melihat ada seekor binatang yang bisa melakukan gerakan secepat ini. Tapi untung saja Cakra Buana sudah siap. Dengan kemampuannya yang sekarang, buka perkara sulit baginya untuk menghindari serangan pertama tersebut.
Secepat si kera memukul, secepat itu pula Cakra Buana melompat ke samping. Tetapi baru saja dia menginjakkan kaki, kera yang satunya sudah kembali menerjang. Dia mencoba kembali untuk menghindari serangan kedua.
Tapi lagi-lagi dia dibuat terkejut, sebab begitu menghindar, si harimau sudah melompat dan memberikan cakaranya yang mematikan.
Cakra Buana berjumpalitan ke belakang sebanyak tiga kali.
Sekarang dia sudah paham bahwa ketiga sahabatnya ini bukanlah binatang sembarangan. Cakra Buana yang awalnya ragu untuk balas menyerang, kini dia sudah menghilangkan keraguan tersebut.
Dengan perhitungan dan keyakinan mantap, dia ingin mencoba hasil latihannya. Jurus pertama sudah dia keluarkan.
"Tapak Naga Dewa …"
Kedua tangannya terbuka membentuk tapak tangan yang kokoh bagaikan benteng. Sekali menyerang, dua hantaman dengan dua hawa berbeda sudah keluar.
Cahaya merah dan biru terang menerjang tiga sahabatnya. Bebatuan dan dedaunan kering beterbangan ke segala arah hanya karena terkena sapuan anginnya saja.
Tapi tiga binatang itu memang bukan binatang sembarangan. Mereka adalah sahabat dari pendekar sakti pada zaman dulu, yaitu Pendekar Tanpa Nama, tentu saja ketiganya berbeda dari binatang sejenisnya.
Dengan cara mereka sendiri, jurus pertama yang dilancarkan oleh Cakra Buana luput dari sasaran.
Jurus Tapak Naga Dewa miliknya menghantam satu batang pohon besar hingga hancur berkeping-keping.
Selanjutnya, si harimau meraung keras. Raungannya menerbangkan bebatuan bahkan batu besar dibuat retak karenanya. Gelombang angin kejut mendorong tubuh Cakra Buana dua langkah.
Belum hilang suara raungan tersebut, dua ekor kera melesat ke arahnya secepat kilat.
"Brett …"
Pangkal lengan kanan dan kirinya terkena cakaran kera.
Dia dibuat kaget. Seumur hidup, rasanya dia baru merasakan pertarungan sehebat ini. Bahkan rasa ketegangan dan ketakutan melebihi saat dia bertarung melawan murid Penguasa Kegelapan sekalipun.
Dia benar-benar mengerti sekarang. Bahwa kekuatan tiga binatang itu, setara atau mungkin lebih hebat sedikit daripada Dewa Tapak Racun dan Dewa Trisula Perak.
__ADS_1
Tiga binatang tersebut benar-benar binatang sakti.