Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Naga Terbang di Angkasa


__ADS_3

Keempat pendekar sudah mulai bersiap kembali untuk melanjutkan pertarungan mereka yang sempat terhenti beberapa saat. Cakra Buana juga sudah siap untuk mengeluarkan jurusnya yang lebih hebat lagi.


Dia memang sengaja tidak berani mengeluarkan jurus berlebihan, sebab efeknya justru bisa membahayakan dia sendiri kalau terlalu sering menggunakan jurus tingkat tinggi. Dan juga, ini pertama kalinya Cakra Buana menggunakan jurus itu dalam sebuah pertarungan serius.


Selain itu, Cakra Buana juga harus adaptasi terhadap semua yang ada dalam dirinya. Baik itu jurusnya maupun kekuatannya. Di tambah, Pendekar Tanpa Nama pernah menulis pesan dalam kitabnya bahwa orang yang berjodoh dengan kitab tersebut, tidak boleh mengeluarkan jurus tingkat tinggi secara sembarangan. Kalau tidak terdesak hebat, lebih baik jangan.


Sebagai murid yang taat kepada guru, tentunya saja dia akan melakukan semua hal itu.


Saat Cakra Buana baru saja siap dengan kuda-kudanya, mendadak si Gada Pemukul Gunung melemparkan gada tersebut dengan kekuatan besar.


Gada itu akibatnya menjadi berputar tanpa henti seperti sebuah kincir angin yang berputar karena terjangan angin dahsyat. Begitupun dengan senjata pusaka itu, angin yang ditimbulkannya sangat besar.


Beberapa anggota organisasi bahkan ada yang terlempar dibuatnya.


Cakra Buana sudah menentukan langkah berikutnya. Begitu gada sudah tiba di depannya. Pemuda itu mulai bergerak.


Tenaga dalam berhawa panas dia kumpulkan di tangan kanan. Tangannya dia tarik ke belakang lalu dengan hentakkan keras dibarengi tenaga dalam dahsyat, di julurkan tangannya ke depan.


"Haaa …"


"Blarrr …"


Bentura keras terdengar menggema di tengah malam. Percikan bunga api berpijar menerangkan gelap malam untuk beberapa saat.


Si Gada Pemukul Gunung terlempar sepuluh langkah. Tubuhnya muntah darah dan dia langsung tewas seketika itu juga.


Sedangkan gada saktinya jangan ditanya lagi. Senjata itu bahkan sudah hancur menjadi serpihan debu akibat hentakkan tenaga dalam Cakra Buana yang dahsyat barusan.


Kejadian ini sungguh membuat terkejut Tubuh Baja Pukulan Besi dan Banteng Tanpa Ampun. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa rekannya bisa langsung tewas saat beradu tenaga dalam.


Terlebih lagi yang tidak masuk akal adalah, bagaimana gada itu bisa hancur? Padahal keduanya tahu seperti apa hebatnya gada tersebut. Tidak disangka, di hadapan seorang pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama, justru pusaka itu tidak ada artinya sama sekali.

__ADS_1


Keduanya mulai kalap. Dalam hitungan detik, mereka sudah maju menyerang Cakra Buana secara serempak. Pukulan dan tendangan sudah dilancarkan oleh kedua orang musuhnya.


Karena mereka menyerang dalam keadaan marah besar, maka akibat yang ditimbulkan pun lebih dahsyat lagi. Terlebih lagi keduanya mengeluarkan jurus paling ampuh yang mereka miliki.


Kedua tangan si Tubuh Baja Pukukan Besi mengeluarkan cahaya berwarna kuning terang. Cahaya tersebut sempat menyilaukan mata Cakra Buana untuk beberapa saat.


Walaupun hanya sekejap, tapi akibatnya cukup mengejutkan pendekar muda itu. Karena tiba-tiba saja dari arah belakang ada sebuah pukulan dahsyat yang menerjangnya.


Cakra Buana terlempar ke depan. Belum sempat dia mendapatkan posisi, sesuatu yang keras kembali menghantam telak tubuhnya.


Kepala si Banteng Tanpa Ampun menyeruduk Cakra Buana. Rasa sakit mulai menyebar ke seluruh tubuh.


Untuk beberapa kali, dia menjadi bahan pelampiasan kemarahan dua orang tersebut.


Tapi detik selanjutnya, dia mulai marah. Kekuatannya langsung dikeluarkan hingga empat puluh persen.


Sata tubuhnya melayang di udara, dengan gerakan mendadak, Cakra Buana justru malah melenting tinggi ke atas dan sempat berjungkir balik beberapa kali.


"Naga Terbang di Angkasa …"


Cakra Buana seperti seekor naga yang menari di angkasa. Tubuhnya meluruk turun ke bumi dengan sebuah serangan hebat.


Kedua telapak tangan mencecar satu lawan ketika dia sudah tiba di bawah. Sasaran pertama si Banteng Tanpa Ampun. Gempuran hantaman tangan mulai mencecar orang itu.


Bagaimanapun si Banteng Tanpa Ampun menghindar, tetap saja serangan Cakra Buana tidak pernah luput. Sebaliknya, sekeras apapun dia membalas serangan, pemuda itu sama sekali tidak terkena jurusnya karena selalu berkelit seperti terbang.


Hanya dalam sepuluh jurus, Cakra Buana sudah berhasil menghantam batok kepala Banteng Tanpa Ampun. Tak ayal lagi, kepalanya seketika pecah dan dia sendiri sudah tewas.


Masih dengan jurus yang sama, Cakra Buana kembali menerjang si Tubuh Baja Pukulan Besi. Cahaya yang sempat membuatnya silau, kini sama sekali tidak berpengaruh.


Tentu saja, karena Cakra Buana sudah berubah bagaikan seekor naga yang perkasa. Gempuran serangan mulai memburu musuh. Hantaman tangan atau pukulan sudah bersarang di tubuhnya.

__ADS_1


Sama seperti Banteng Tanpa Ampun, si Tubuh Baja Pukulan Besi juga tidak bisa memberikan perlawanan berarti sekarang. Dua belas jurus selanjutnya, Cakra Buana berhasil mematahkan dua lengannya. Setelah itu, dia memberikan hantaman telak ke dada.


Tak ayal lagi, dia langsung terpental sepuluh tombak hingga menabrak pohon dan langsung terkapar tak bergerak lagi. Mati.


Keadaan sunyi kembali. Malam perlahan sudah mulai tenang lagi. Puluhan anggota Organisasi Tengkorak Maut lari terbirit-birit.


Perjalanan Cakra Buana baru dimulai lagi. Tetapi lawan yang menjadi pertarungan perdananya justru tidak tanggung-tanggung.


Dia sekarang semakin memahami makna kehidupan ini.


Semakin pohon menjulang tinggi ke langit, semakin besar pula angin yang menerjangnya. Semakin cantik rupa seseorang, semakin banyak juga orang yang suka dan tkdak suka terhadapnya.


Dan Cakra Buana sudah memahami hal itu. Dia sadar bahwa setiap saat nyawanya terancam. Setiap saat bahaya selalu mengintainya.


Tapi apa mau di kata? Dia sudah ditakdirkan seperti ini. Mau bagaimanapun, Cakra Buana tidak bisa mengubahnya.


Karena semua sudah di atur oleh Yang Maha Mengatur.


Tapi yang jelas, apapun yang terjadi, dia sudah siap dengan semua konsekuensinya.


Dia melangkah pergi meninggalkan hutan itu. Suara gemuruh yang membahana memecah kesunyian malam, kini telah lenyap. Keadaan menjadi sepi kembali. Yang ada hanyalah suara binatang malam mulai meramaikan suasana lagi.


Empat mayat orang dia biarkan begitu saja. Lagi pula anak buahnya masih banyak, mana mungkin mereka membiarkan mayat pemimpinnya, pikir Cakra Buana.


Cakra Buana sudah berada di luar hutan. Dia sedang berjalan di jalanan sepi. Keadaan memang sudah sangat sunyi. Sedikit sekali orang-orang yang masih berkeliaran.


Paling hanya mereka yang melakukan ronda ataupun prajurit istana yang ditugaskan menjaga sekitar kotaraja.


Di saat sedang berjalan mengamati keadaan sekitar, tiba-tiba Cakra Buana melihat ada satu sosok tergeletak di tengah jalan. Awlanya dia ragu, tetapi Cakra Buana memantapkan hatinya.


Dia mendekati sosok tergeletak tersebut yang ternyata merupakan seorang wanita. Pemuda itu berpikir sebentar tentang langkah apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


Apakah di bawa, atau di biarkan begitu saja?


Tadinya dia ingin membiarkannya, tetapi begitu mengenali siapa sosok tersebut, tanpa berpikir panjang lagi, Cakra Buana segera membawanya ke penginapan. Apalagi setelah memeriksa nadi, ternyata sosok tersebut keracunan.


__ADS_2