Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Ayu Pertiwi


__ADS_3

Setelah beberapa saat berlari dan mencari tempat yang aman, akhirnya Cakra Buana berhenti dibawah sebuah pohon kiara yang berukuran dua lingkaran orang dewasa. Letak pohon itu sendiri berada di dalam hutan.


Di pinggir kanan sebelah bawahnya ada sebuah sungai yang memiliki arus cukup deras serta penuh dengan bebatuan.


Cakra Buana meletakkan wanita itu. Sedangkan dia sendiri bergegas mencari tumbuhan yang bisa digunakan sebagai penawar racun. Meskipun dia bukan seorang tabib atau ahli pengobatan, tapi karena dia sudah lama tinggal di hutan bersama mendiang Eyang Resi Patok Pati, maka sedikit banyaknya Cakra Buana mengetahui tentang racun dan pengobatan.


Beberapa saat kemudian, pemuda serba putih itu sudah kembali sambil mengambil beberapa jenis dedaunan. Cakra Buana lalu mengunyah daun itu hingga halus.


Meskipun terbilang tidak sopan, akan tetapi karena tak ada cara lain, maka dia pun membuka sedikit baju pendekar wanita itu pada bagian bahu kanannya yang terluka tadi.


Akan tetapi meskipun dibuka sedikit, dia melihat betapa lembutnya kulit wanita itu. Begitu putih, pantas saja tiga pendekar tadi berniat melakukan perbuatan tercela padanya, pikir Cakra Buana.


Naluri kelelakiannya bergelora, pemuda serba putih itu berusaha sekuat mungkin untuk menekan perasaan tersebut.


Setelah daun yang dikunyah benar-benar halus, Cakra Buana lalu menempelkannya pada bahu yang terluka. Dia merobek ujung pakaiannya sendiri, lalu diikatnya luka yang sudah di popok itu.


Karena perutnya mulai lapar lagi, Cakra Buana pun lalu turun ke sungai untuk mencari ikan. Air sungai itu benar-benar jernih sehingga dasarnya saja bisa terlihat.


Tak perlu membutuhkan waktu lama, hanya beberapa saat kemudian dia pun sudah mendapatkan beberapa ikan nila yang cukup besar. Buru-buru dia mengumpulkan kayu bakar lalu memanggang ikan hasil tangkapannya.


Sepeminum teh kemudian, ikan yang dia bakar pun sudah matang. Bau harum segera menyebar tertiup angin sejuk.


Berbarengan dengan itu, pendekar wanita tadi pun sadar. Betapa kagetnya ketika dia terbangun ada seorang pria didepannya. Lebih kaget lagi ketika dia menengok bahwa bajunya seperti habis dibuka.


"Keparat jahanam … ****** kau …"


Pendekar wanita itu tiba-tiba mengambil pedangnya yang ada di pinggir lalu dengan serentak menyerang Cakra Buana.


Untung saja pemuda serba putih itu sudah tahu akan hal ini. Sehingga ketika pedang itu hampir mengenai punggungnya, Cakra Buana segera melompat melewati bara bekas memanggang ikan.

__ADS_1


"Tenang dulu nyai. Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya membantumu," kata Cakra Buana menenangkan wanita tersebut.


Akan tetapi sepertinya wanita itu sudah dikuasai prasangka buruk. Sehingga dia tidak menghiraukan ucapan Cakra Buana.


"Maling mana ada yang mau mengaku …" katanya sambil kembali bersiap untuk menyerang.


Pedangnya sudah dia tarik hingga ke belakang. Tingga sekali loncat, maka pedang itu akan mengenai pemuda yang ada didepannya. Tapi sebelum dia bergerak menyerang, tiba-tiba bahu kanannya ketarik sehingga wanita itu merasakan sakit yang teramat sangat.


Pedang yang digenggam erat pada tangan kiri seketika terlepas. Dia sendiri langsung lemas dan bertumpu pada kedua lututnya.


"Tenang nyai. Aku tidak bermaksud jahat, sungguh. Tadi kau keracunan, aku membuka bajumu sedikit hanya pada bagian luka. Itupun hanya untuk sekedar mengobati lukamu saja, maafkan jika aku kurang sopan. Karena tidak mungkin aku membangunkanmu yang sedang terluka," kata Cakra Buana sambil mendekati pendekar wanita itu dan membantunya bangun.


Si wanita tidak menjawab. Dia kemudian duduk lagi dibawah pohon kiara. Tangan kirinya meraba bahu kanan yang terluka.


Kemudian dia seperti mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padanya.


"Tidak masalah. Bukan, aku hanya kebetulan mendengar pertarungan saja. Karena penasaran, maka akupun menuju ke suara itu dan melihat nyai yang sedang bertarung sengit," ujar Cakra Buana.


"Lalu … dimana ketiganya?"


"Mereka tewas. Tenang saja nyai," ujar Cakra Buana.


Sejenak wanita itu melamun. Sepertinya dia masih mencoba menahan sakit yang mulai mendera tubuhnya.


"Celaka …" katanya. Tiba-tiba wajahnya menjadi panik.


"Celaka? Celaka apanya?" tanya Cakra Buana yang menjadi kebingungan melihat wanita itu.


"Tenangkanlah dirimu dulu. Disini aman, tidak ada siapa-siapa. Perkenalkan, aku Cakra Buana. Jika kau sudah tenang, jelaskanlah apa maksudmu seperti barusan itu,"

__ADS_1


"Ah … maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku Ayu Pertiwi. Terimakasih sudah menolongku Cakra. Yang aku maksudkan celaka adalah tentang kematian tiga manusia iblis itu. Jika mereka benar sudah tewas, maka masalahnya akan semakin rumit," kata wanita itu yang ternyata bernama Ayu Pertiwi.


"Memangnya dia siapa? Jika tidak keberatan, ceritalah padaku. Barangkali aku bisa membantumu," kata Cakra Buana.


"Mereka itu adalah murid dari Padepokan Biruang Kidul (Beruang Selatan). Murid dari Jagal Patenggang si Raja Biruang,"


"Coba jelaskan lebih rinci, aku belum mengerti. Kenapa kau bisa bertarung dengan mereka?" tanya Cakra Buana semakin kebingungan.


"Awalnya aku pura-pura berniat untuk menjadi murid di Padepokan Biruang Kidul itu, aku diperintahkan oleh guruku untuk mengambil sebuah selendang pusaka milik guru yang sudah dicuri oleh Jagal Patenggang si Raja Biruang. Aku berguru disana hampir satu tahun, dan beberapa waktu lalu, karena aku sudah tahu dimana dia menyimpan selendang guruku, maka aku berniat untuk mengambilnya. Selendang itu sudah aku dapatkan, tapi aku juga ketahuan sehingga dikejar oleh murid suruhannya kemanapun aku pergi. Hingga kejadiannya seperti yang kau lihat ini. Dan itu artinya, jika ketiga murid kesayangan Jagal Patenggan tewas, maka dia akan mencariku untuk menuntut balas," kata Ayu Pertiwi menjelaskan.


"Bagaimana kau bisa yakin bahwa guru dari tiga pendekar tadi akan tahu akan kematiannya?"


"Tentu saja yakin, karena aku tahu bahwa mereka sudah memiliki ikatan batin yang kuat. Apapun yang terjadi diantara mereka, pasti akan tahu. Karena itulah aku khawatir, sedangkan kemampuan dia jauh berada diatasku. Mungkin setara dengan guruku atau bahkan bisa lebih. Tapi perjalananku masih cukup jauh dari sini," kata Ayu Pertiwi dengan cemas.


"Kalau begitu, kau ikut denganku saja. Kemana tujuanmu?"


"Ke hutan Ci Danghiyang, Bantam (Banten),"


"Bagus. Kita satu arah, jika kau mau, mari lanjutkan perjalanan denganku. Tapi aku harus menyelesaikan urusanku dulu disini," kata Cakra Buana.


Ayu Pertiwi nampak bingung. Bagaimanapun juga, dia belum mengetahui secara pasti siapa pemuda yang ada dihadapannya ini.


"Itu jika kau mau. Jika tidak, tidak mengapa. Tapi aku berani bersumpah, aku tidak segolongan dengan murid Jagal Patenggan," ucap Cakra Buana meyakinkan.


Sejenak wanita itu berpikir kembali. "Ba-baiklah. Terimakasih," katanya sedikit ragu-ragu.


"Sudahlah, kita bicarakan hal itu nanti. Sekarang kita makan saja dulu. Ikan bakar sudah matang," kata Cakra Buana mengajak Ayu Pertiwi makan.


Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2