
Kelima pendekar semakin berada di posisi yang tidak menguntungkan. Semua serangan mereka berhasil dipatahkan sebelum tiba pada sasarannya. Ruang gerak mereka tertutup karena Cakra Buana menyerang dari segala arah dan ke semua sisi.
Namun mereka bukanlah pendekar biasa, sebisa mungkin kelimanya tetap berusaha menahan gempuran dahsyat dari Cakra Buana walaupun itu sangat sulit.
Memasuki jurus ke enam puluh, Cakra Buana membentak nyaring lagi. Kekuatan yang lebih dahsyat terpancar keluar dari dalam tubuhnya.
"Harimau Menyongsong Rembulan …"
"Grrrr …"
Auman keras terdengar lagi. Tapi yang terjadi sekarang lebih keras dan lebih hebat lagi. Kelima tubuh pendekar yang menjadi lawannya tergetar hebat. Bahkan organ dalam mereka terasa terguncang keras.
Detik berikutnya, Pendekar Tanpa Nama menggempur lawan lagi dengan gerakan berbeda. Lebih keras, lebih cepat, tentunya lebih dahsyat juga.
Kedua tangannya seperti sedang berusaha menyongsong sesutau. Tubuhnya bergerak secepat bayangan. Dia menari di depan lima pendekar yang berusaha menangkis jurusnya.
Sepak terjang Cakra Buana benar-benar membuat lawan terdesak. Tidak ada yang mampu bertahan lama lagi di antara mereka.
Jurus Harimau Menyongsong Rembulan ini memang hebat. Beberapa kali Cakra Buana menerjang lawan dari bawah ke atas mengincar dada ataupun dagu lawan.
Kedua tangannya menebarkan hawa panas dan dingin secara bersamaan. Kakinya berputar mengikuti gerakan badan. Tubuhnya lenyap di antara sinar merah dan biru yang dia ciptakan sendiri.
Tepat memasuki jurus ketujuh puluh enam, serangan terakhir Cakra Buana berupa hentakkan kedua tangan mampu membuat lima pendekar tercerai berai. Sinar merah dan biru menerjang mereka.
Kelima pendekar terpental lima belas langkah. Mereka langsing tewas seketika karena bagian dalam organ tubuhnya terguncang keras oleh kekuatan dahsyat.
Darah mengucur dari setiap lubang di tubuh mereka. Semuanya tewas tanpa mengucapkan sepatah kata atau bahkan suara sekalipun.
Keempat tokoh yang dari tadi menyaksikan pertarungan tersebut benar-benar merasa salut kepada pendekar muda itu.
"Hebat, hebat. Julukan Pendekar Tanpa Nama memang bukan omong kosong. Terbukti kau mampu menunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya," kata Pendekar Pedang Kesetanan sambil bertepuk tangan.
Cakra Buana hanya tersenyum dan mengucapkan rasa terimakasihnya. Dia tidak terlalu suka atas pujian yang dilemparkan kepadanya.
__ADS_1
Setelah pertarungan selesai, secara diam-diam Cakra Buana memulihkan tenaga dalamnya dengan metode yang diajarkan oleh Kitab Tenaga Dalam Langit dan Bumi.
"Kau hebat anak muda. Julukan Pendekar Tanpa Nama sangat cocok untukmu. Aku jadi teringat kepada seorang pendekar yang memiliki julukan sama denganmu. Apakah kau punya hubungan dengannya?" tanya Pendekar Sembilan Jari kepada Cakra Buana.
Dia merasa penasaran, bagaimana bisa ada seorang pendekar yang memiliki julukan sama? Sekalipun kurun waktunya berbeda, tetapi kehebatannya hampir sama. Bahkan menurut si Burung Pemangsa yang usianya paling tua, jurus yang dikeluarkan pemuda itu hampir mirip. Bahkan sangat mirip sekali.
Cakra Buana merasa sangsi menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, dia juga mengerti ke mana arah pembicaraan nantinya. Karena berbagai macam alasan, akhirnya Cakra Buana lebih memilih untuk sedikit berbohong.
"Ah maaf tuan, aku tidak mengenal pendekar besar itu. Hanya saja, guruku pernah bertemu dengan beliau Pendekar Tanpa Nama. Dan menurutnya, dia mempelajari jurus pendekar kesohor itu. Lalu guru menurunkan jurus hasil ciptaannya kepadaku sekaligus bersama julukannya. Sebagai murid, tentu saja aku tidak berani menolak," kata Cakra Buana menjelaskan serius supaya keempat tokoh percaya.
Keempat tokoh pendekar itu sebenarnya sedikit tidak percaya atas penjelasan Cakra Buana. Tetapi mereka tidak mau memaksa pemuda itu lebih jauh.
Karena hal tersebut memang merupakan rahasia seseorang. Walaupun meraka tokoh aliran hitam, tapi sifat pendekar masih melekat di benaknya.
"Anak muda, pulihkanlah dulu tenagamu. Kami ingin bertarung dengan adil supaya tidak ada pihak yang dirugikan," kata Singa Ekor Lima yang diikuti anggukan oleh tiga tokoh pendekar lainnya.
Pada awalnya Cakra Buana ingin menolak, tetapi dia takut dikira terlalu sombong dan tidak memandang mereka. Karena alasan itulah akhirnya Cakra Buana mengangguk.
"Terimakasih atas kebaikan tuan sekalian. Tunggu sebentar," katanya kemudian segera bersila dan bersemedi.
Setelah sepeminum teh kemudian, Pendekar Tanpa Nama itu sudah bangun dari semedinya.
Cakra Buana segera berjalan dengan tenang ke empat tokoh pendekar sakti tersebut.
"Aku sudah siap tuan. Kalau mau segera dimulai, silahkan," katanya sambil tersenyum.
"Siapa yang ingin kau pilih menjadi lawan pertama?" tanya Singa Ekor Lima.
Cakra Buana berpikir sebentar. Dia sudah sering bertarung menggunakan tangan kosong. Tapi saat memulai kembali pengembaraannya, Cakra Buana belum pernah lagi menggunakan pedang. Karena itulah kemudian dia bicara, "Aku memilih Pendekar Pedang Kesetanan dan Burung Pemangsa untuk menjadi lawanku yang pertama,"
Keempat tokoh itu terkejut. Bagaimana mungkin pemuda itu berani menantang dua orang di antara mereka sekaligus? Padahal, kekuatan seorang di antara mereka saja dua tingkat lebih tinggi daripada keenam pendekar tadi.
"Apakah kau sungguh-sungguh?" tanya Pendekar Pedang Kesetanan.
__ADS_1
"Aku serius. Bukan maksud untuk sombong, tetapi aku hanya ingin menambah pengalaman dalam bertarung menggunakan pedang. Semoga saja karena pertarungan ini, permainan pedangku semakin meningkat," kata Cakra Buana ramah.
Pendekar Pedang Kesetanan tersenyum penuh makna. Di antara keempat tokoh pendekar aliran hitam yang ada di sana, memang dialah yang paling tenang sekaligus banyak bicara. Selain itu, hanya dia juga yang memiliki sifat cukup bersahabat dan cocok bagi Cakra Buana.
"Baiklah. Kalau kau memang serius, tetapi jangan sebut kami tidak tahu aturan karena mengeroyok pendekar muda sepertimu," ucap si Pendekar Pedang Kesetanan.
Entah kenapa, baik Cakra Buana ataupun si Pendekar Pedang Kesetanan, keduanya seperti memiliki kecocokan tersendiri.
Dan untuk diketahui bahwa sebenarnya si Pendekar Pedang Kesetanan ini tidak memiliki dendam terhadap Cakra Buana. Bahkan bertemu pun baru kali ini.
Dia ikut kemari karena di ajak oleh tiga tokoh lainnya. Karena dia mempunyai sifat gemar beradu kepandaian dengan pendekar yang katanya mempunyai kemampuan lebih. Terutama mereka pendekar pedang.
Dan saat mengetahu bahwa Cakra Buana juga merupakan ahli pedang, maka sifat sebagai pendekar pedangnya berkobar. Karena alasan itulah dia mau bertarung dengan Pendekar Tanpa Nama.
"Tentu saja aku tidak berani berkata seperti itu, apalagi terhadap kalian ini," ujar Cakra Buana.
"Baik, mari kita mulai anak muda," kata si Burung Pemangsa.
Cakra Buana mengangguk. Dia berjalan bersama dua lawannya mencari tempat yang lebih leluasa. Setelah menemukan tempat cocok, ketiganya segera bersiap.
Si Burung Pemangsa bertarung menggunakan senjata berupa tiga cakar yang terbuat dari baja hitam murni. Cakar itu menempel di punggung tangannya dan dua jari lebih panjang dari jari tangan.
Bisa dibayangkan kalau sampai terkena senjata itu, mungkin kulit pohon sekalipun akan terkelupas. Apalagi kulit manusia?
Si Pendekar Pedang Kesetanan sudah mencabut pedang kesayangannya. Pedang bersarung merah darah kesayangannya. Entah sudah berapa banyak korban yang terbunuh di ujung pedang pusaka itu. Bahkan dia mengangkat nama di dunia persilatan juga menggunakan senjata tersebut yang dia berni nama Pedang Haus Darah.
Sedangkan Cakra Buana sendiri, dia mengambil pedang pusakanya yang selalu dibungkus kain itu.
Dia membuka kain, kemudian segera terlihat sebuah pedang bersarung indah dengan gambar naga dan harimau yang gagah perkasa.
Dan namanya memang itu.
Pedang Naga dan Harimau.
__ADS_1
Sebuah pedang pusaka legenda yang sempat dipakai oleh seorang pendekar sakti puluhan tahun lalu.