Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kejadian-kejadian Aneh


__ADS_3

Tetapi pada akhirnya Cakra Buana berhasil juga sampai ke sana. Dia terus 'ngesot' karena ingin menuju sampai ke ujung goa. Setidaknya walaupun dia harus mati, jangan sampai jasadnya di makan oleh binatang liar.


Membayangkan hal tersebut, hatinya ciut juga. Bagaimana kalau ada binatang liar semisal serigala atau yang lainnya datang ke goa itu dan mencabik-cabiknya?


Dalam keadaan seperti sekarang ini, jangankan untuk melawan serigala. Andai kata ada seorang anak kecil memukulnya pun, dia tidak akan sanggup melawan.


Menjelang siang hari saat matahari tepat di atas kepala, Cakra Buana telah sampai di ujung goa sebelah kanan. Wajahnya semakin pucat dan pakaiannya telah basah oleh keringat. Akibat hal tersebut, bajunya menjadi lengket dan debu menempel di seluruh pakaian.


Tapi dia tidak peduli, Cakra Buana tidak memikirkan apa-apa kecuali penyesalan. Terlalu banyak penyesalan yang dia hadapi. Terlalu besar tanggungjawab yang harus dia tanggung.


Cakra Buana memejamkan matanya. Mencoba untuk mengatur nafas dan menenangkan diri. Dia mulai bersemedi untuk mengisi tenaga dalam. Ternyata setelah sekian lama memejamkan mata, dia gagal. Tidak ada tenaga dalam yang terisi kecuali sedikit sekali.


Pemuda itu baru menyadari bahwa keadaan di dalam goa sangat kotor. Bahkan di sisi kirinya terdapat tumpukan jerami. Tanpa sengaja dia bergeser mendekati jerami tersebut karena ingin merebahkan diri kembali.


Tapi tiba-tiba, suatu kejadian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya terjadi. Mendadak tumpukan jerami amblas, bahkan dia sendiri ikut terperosok ke dalamnya.


Cakra Buana tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Lagi pula, memang tidak ada hal yang bisa dia perbuat untuk menyelamatkan diri. Karena alasan itu, dia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya jatuh.


Entah itu jatuh ke jurang, ke sarang serigala mungkin, atau juga ke kawah gunung. Dia tidak peduli. Cakra Buana sudah pasrah kepada keadaannya. Dia menyerahkan semuanya kepada Sang Hyang Widhi.


Bukankah hidup dan matinya manusia ada di tangan Dia? Bukankah apa yang terjadi dalam hidup sudah diatur olehNya? Termasuk musibah yang menimpa diri juga disebabkan karenaNya bukan? Bukankah tujuannya supaya manusia mau berserah diri kepadaNya?


Kalau iya, lalu kenapa banyak sekali manusia sombong yang tidak mau berserah diri kepadaNya? Teramat banyak manusia yang menganggap dirinya mampu. Sangat banyak sekali manusia yang menganggap bahwa dia itu kuat.


Padahal sejatinya manusia hanyalah manusia. Seonggok daging yang diisi nyawa dan tulang serta sebagainya. Makhluk yang lemah, tidak memiliki apa-apa. Tapi kenapa sombong? Sadarkah akan hal ini?


Berbagai macam pikiran mulai menyelimuti hati Cakra Buana. Hingga pada akhirnya, kegelapan berubah menjadi cahaya terang. Dan tak lama …

__ADS_1


"Byurrr …"


Cakra Buana jatuh di sebuah danau. Danau yang luas dan dalam. Pemuda itu kelimpungan karena tidak bisa bergerak sama sekali. Harapannya untuk hidup semakin tipis. Dia memang bukan jatuh ke jurang. Tapi ke danau.


Lalu apa bedanya? Sama-sama mati juga, pikir Cakra Buana.


Bagaimana dia akan berenang jika tubuhnya saja tidak bertenaga? Cakra Buana semakin pasrah.


Perlahan tubuhnya semakin jatuh ke air danau yang dalam itu. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba saja dia iseng menggerakan tangannya. Dan sesuatu diluar dugaan kembali terjadi.


Mendadak tangannya mempunyai tenaga. Dia mencoba untuk menggerakan lebih keras tangan dan kakinya. Benar saja, tenaganya sudah puluh kembali.


Buru-buru Cakra Buana berenang ke daratan. Dan anehnya tenaga itu memang ada.


Setelah beberapa saat, Cakra Buana pun akhirnya tiba di pinggir danau. Dia naik ke sebuah batu yang cukup besar dan duduk di sana. Ternyata airnya sangat dingin sekali. Dia baru menyadari hal tersebut.


Cakra Buana memutar otak. Mencoba untuk merangkai kejadian dari awal. Tapi sayangnya beberapa kali mencoba, tetap saja dia tidak menemukan alasan yang pasti.


"Heran, kenapa semua ini bisa terjadi serba aneh begini. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Dan di mana aku sekarang?" Cakra Buana bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Dia memandang ke sekeliling. Ternyata pemandangan alam di tempat tersebut sangat indah sekali. Belum pernah Cakra Buana melihat pemandangan seperti yang dia lihat sekarang ini.


Danau yang airnya hijau dan biru terbentang di depan mata. Dinding batu mengelilingi danau tersebut. Ternyata dia baru tahu, bahwa di sebelah kanan bagian atas, terdapat satu lobang cukup besar.


'Mungkin aku terjatuh dari sana,' batinnya.


Dia memandang lagi. Pohon-pohon berbuah tampak banyak sekali. Sayangnya dia belum pernah melihat buah-buahan seperti sebelumnya. Tetapi karena perutnya mulai lapar, Dia pun berjalan ke arah pohon tersebut dan mengambil cukup banyak buah-buahan.

__ADS_1


"Mau buah racun atau bukan, aku tidak peduli. Toh akhinya aku akan mati juga karena racun. Lebih baik makan saja sekalian. Setidaknya aku bisa menikmati keindahan dan ketenangan di sini sebelum tiba kematianku," kata Cakra Buana kepada dirinya sendiri.


Setelah buah sudah di dapatkan, dia segera duduk kembali di batu besar tadi sambil memakannya satu persatu.


Buah itu seperti jambu kristal. Tetapi dia yakin bukan, mungkin hanya mirip sekilas. Karena buah tersebut berwarna merah darah dan rasanya sangat manis pula.


Tak terasa dia telah menghabiskan tujuh buah. Dan anehnya, rasa sakit di sekujur tubuhnya hilang. Walaupun lukanya masih nampak, tetapi sakitnya lenyap tanpa bekas.


Rasa lapar hilang, tenaga pulih. Siapa yang tidak akan senang jika dalam keadaan seperti Cakra Buana sekarang ini? Siapapun pasti akan merasa senang.


Dan hal itu dirasakan juga olehnya. Cakra Buana sangat gembira. Bahkan dia lompat-lompat seperti seorang anak kecil.


Setelah merasa puas dia pun segera berhenti dari kegembiraannya. Karena merasa gerah, Cakra Buana memutuskan untuk berenang.


Dan lagi, hal itu benar-benar dilakukannya. Dia langsung melompat ke danau dengan riang gembira. Menyelam ke sana, menyelam ke sini.


Di saat sedang asyik berenang, tiba-tiba dia melamun. Ada hal aneh yang kembali dia alami.


"Aneh, kenapa air yang berwarna biru rasanya dingin seperti es. Sedangkan air yang warnanya hijau malah hangat?" tanyanya entah kepada siapa.


Karena rasa penasaran, Cakra Buana pun kembali mencoba hal yang sama. Dan memang benar, air biru rasanya dingin dan air hijau rasanya hangat.


Akhirnya dia pun kembali lagi ke daratan. Kejadian aneh terulang lagi. Tubuhnya justru terasa jauh lebih segar bugar. Tenaganya telah kembali lebih dari tujuh puluh persen.


Bahkan tiba-tiba saja ada dua ekor kera berukuran besar menghampirinya. Di belakang kera ada juga seekor harimau jantan mendekat ke arahnya.


Cakra Buana hanya diam memandangi tiga ekor binatang yang sedang mendekat.

__ADS_1


Kejadian yang berlangsung hari ini benar-benar kejadian paling aneh dalam hidupnya. Entah kenapa, karena dia sendiri masih belum dapat memecahkan persoalan ini.


__ADS_2