Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Bertemu Eyang Resi-Akan Diwarisi Ajian Tiwikrama


__ADS_3

Setelah memandang kemegahan dan keindahan Kerajaan cukup lama, Langlang Cakra Buana lalu berniat untuk memasukinya. Kini dia berjalan dengan tenang ke arah penjaga gerbang yang berjumlah enam orang.


"Sampurasun paman sekalian, perkenalkan nama saya Langlang Cakra Buana," ucapnya dengan membungkuk hormat kepada mereka.


"Rampes, kalau boleh tahu, dari mana dan mau apa nak Langlang kemari?" tanya salahsatu penjaga itu.


"Saya dari desa Pasir Maung dan ingin bertemu dengan guru saya, Eyang Resi Patok Pati," jawabnya.


"Eyang Resi? Eyang Penasihat itu?" tanya pengawal itu sambil sedikit terkejut.


"Benar paman, beliau adalah guru saya. Dan saya ingin bertemu dengannya," kata Langlang Cakra Buana.


Penjaga itu tidak menjawab. Dia kini terdiam dan memandangi pemuda asing yang ada dihadapannya ini dari atas sampai bawah. Cukup lama dia mengamati Langlang, tapi pemuda itu masih berdiri dengan tenangnya.


"Suruh anak muda itu masuk. Dia adalah muridku," sebuah suara yang menyuruh anak muda itu tiba-tiba terdengar oleh mereka. Tapi entah siapa, tidak ada yang mengetahui siapa dan darimana asal sumber suara tersebut. Tapi tiba-tiba saja ada seorang pengawal yang mengatakan bahwa suara barusan adalah suara Eyang Resi Patok Pati.


Tentu saja penjaga yang lain tidak langsung percaya. Tapi mereka tidak juga mengatakan bahwa kawannya itu berbohong, akhirnya dengan ragu-ragu penjaga gerbang itu mempersilahkan masuk kepada Langlang Cakra Buana. Salahsatu dari mereka lalu mengantarkannya ke dalam.


Mungkin memang terdengar ganjil jika seseorang bisa mengirimkan suara atau bahkan mengetahui apa yang terjadi meskipun orang itu tidak ada di lokasi kejadian.


Tapi memang begitulah, orang-orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dan sudah membersihkan hatinya dari sifat angkata murka, maka dia bisa melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan.


Langlang Cakra Buana kini sudah memasuki Kerajaan Kawasenan, betapa indah dah megahnya kerajaan itu jika dilihat dari jarak yang lebih dekat. Jarak dari gerbang ke Kerajaan sekitar seratus tombak jauhnya. Istana kerajaan dikelilingi oleu benteng yang tingginya hampir dua tombak.


Kerajaan Kawasenan bahkan terbilang indah. Ada bunga-bunga dengan ragam warna yang tumbuh disana. Ada juga sebuah danau buatan yang cukup besar dibagian kanan dan kiri.

__ADS_1


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya pemuda itu sudah tiba di pintu masuk utama. Langlang Cakra Buana disuruh menunggu dan pengawal tadi akan melaporkan kepada Eyang Resi Patok Pati bahwa ada seorang pemuda yang mengaku sebagai muridnya.


Sambil menunggu, Langlang Cakra Buana melihat-lihat keadaan disekitarnya. Ada tiga buah patung harimau putih yang terbuat dari batu marmer. Bahkan lukisan tiga ekor harimau putih itu sedemikian indahnya.


Pahatannya begitu halus dan lembut tanpa adanya cacat sedikitpun. Menjadikan tiga patung ini benar-benar seperti hidup. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dari dalam kerajaan terlihat ada seorang sepuh yang berjalan keluar menuju ke arahnya.


Jalannya saja begitu berwibawa, bahkan para punggawa kerajaan pun begitu menaruh hormat kepada sepuh itu. Dengan memakai pakaian putih dan udeng putih pula, seolah menggambarkan bahwa sepuh itu begitu bersih baik lahir maupun batin.


Pancaran aura yang keluar pun menjadikan siapapun yang melihatnya akan segan dan menaruh hormat. Dialah Eyang Resi Patok Pati, guru dari Langlang Cakra Buana sendiri.


Begitu melihat gurunya datang keluar untuk menjemput, Langlang Cakra Buana langsung berlutut dihadapannya.


"Terimalah salam hormat untuk Eyang Resi dari muridmu ini," kata Langlang Cakra Buana sambil menunduk.


Langlang Cakra Buana seketika itu juga langsung bangun. Kemudian guru dan murid itu masuk ke dalam, ke ruangan Eyang Resi sendiri.


Orang-orang didalam istana tampak keheranan siapa gerangan anak muda itu, tapi tentu saja tidak ada yang berani menanyakannya jika bersama Eyang Resi Patok Pati.


Kemudian keduanya masuk kepada ruangan khusus yang cukup besar. Didalam ruangan itu pun bahkan terbilang mewah, banyak barang-barang antik dan bernilai tinggi.


"Langlang, bagaimana kabarmu? Dan pengalaman apa saja yang kau dapat selama pengembaraan kemarin?" tanya Eyang Resi setelah keduanya duduk pada sebuah kursi bertilam sutera.


"Aku baik-baik saja eyang, …"


Langlang Cakra Buana lalu bercerita bahwa dirinya sudah mewarisi sebuah ilmu bernama Ajian Dewa Tapak Nanggala dan juga Ajian Sapta Pangurungu dari Eyang Banu Raga. Dilanjut dengan hal-hal lainnya yang dia alami dan dirasa penting.

__ADS_1


Kemudian pemuda serba putih itu menceritakan pengalamannya selama pengembaraan kemarin, dia dia pernah bertarung membantu Perguruan Kuda Sembrani untuk melawan Perguruan Goa neraka.


Dia juga menceritakan bahwa dirinya berhasil membunuh maha guru Padepokan Goa Neraka yaitu Braja Suta. Lalu pemuda itu menceritakan juga kejadian bersaka Ki Jaya Wikalpa dan juga menitipkan salam untuk dirinya.


"Bagus Langlang. Tidak kusangka dalam waktu singkat sebentar lagi kau dapat mengungguliku. Semakin bangga saja aku kepadamu muridku. Sebenarnya, aku menyuruh kau kesini ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu menyangkut kerajaan ini Langlang," ucap Eyang Resi.


"Hal apakah itu Eyang Resi? Kiranya begitu pentingnya persoalan itu?" Langlang Cakra Buana terlihat sedikit kebingungan.


"Sangat penting. Dimana dalam waktu dekat kita akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Sindang Haji, kerajaan itu menantang kita. Bahkan merasa bahwa kerajaannya paling hebat. Karena hal itu dan beberapa hal lainnya aku mengusulkan kepada Prabu Ajiraga supaya melakukan penyerangan sekaligus untuk memperluas wilayah kekuasaan. Dan karena itulah aku menyurhmu kesini dengan harapan kau mau mengulurkan tangan," kata Eyang Resi Patok Pati menjelaskan.


"Ampun eyang, tentu saja aku mau. Bahkan aku siap mempertaruhkan nyawaku demi baktiku kepada Eyang Resi dan juga kepada kerajaan,"


"Hemmm … terimakasih muridku. Sekarang istirahatlah dahulu, beberapa hari lagi aku akan menurunkan sebuah ajian yang belum pernah aku ceritskan kepadamu, dimana ajian ini sangat cocok untuk menghadapi perang besar nanti," ucap Eyang Resi Patok Pati.


###


Beberapa hari telah terlewati. Sebelumnya Langlang Cakra Buana juga sudah bertemu dengan Prabu Ajiraga dan juga yang lainnya. Mereka pun menerima pemuda itu dengan gembira, apalagi ketika mengetahui bahwa Langlang Cakra Buana merupakan murid tinggal Eyang Resi.


Hal ini menjadi sebuah harapan besar bagi Kerajaan Kawasenan. Tentunya sudah tidak diragukan lagi bahwa pemuda itu memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sebagaimana gurunya sendiri.


Sekarang Langlang Cakra Buana dan Eyang Resi Patok Pati sedang berada di halaman belakang kerajaan. Dimana halaman itu merupakan tempat latihan orang-orang kerajaan.


Sesuai janjinya beberapa hari lalu, Eyang Resi Patok Pati akan menurunkan sebuah ajian yang belum pernah dia ceritakan kepada murid tunggalnya itu.


"Langlang, eyang akan memberikan sebuah ajian yang tidak mungkin dimiliki orang lain. Tapi ingat, ajian ini jangan kau gunakan secara sembarangan. Bahkan mungkin ajian ini lebih tinggi daripada Ajian Gelap Ngampar. Dan ajian ini bernama Ajian Tiwikrama. Dimana jika kau menggunakan ajian ini, maka kau akan berubah menjadi raksasa yang sukar dicari tandingannya. Aku rasa hanya kaulah yang mampu mewarisi ajian digdaya ini," kata Eyang Resi Patok Pati.

__ADS_1


__ADS_2