
Begitu Prabu Ajiraga menarik serangan ke belakang, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Prabu Katapangan. Dengan gerakan gesit, dia mengirimkan sebuah tendangan kaki kanan dari samping kanan ke samping kiri, mengincar pelipis kanannya.
Angin tendangan itu berhembus dingin dan mengandung kekuatan dahsyat. Andai batu hitam yang ditendang, mungkin batu itu akan hancur saat terkena anginnya saja.
"Wutt …"
Prabu Ajiraga kaget bukan kepalang, sebab dalam keadaan darurat, ternyata lawan bisa mengirimkan serangan balasannya.
Dia kembali mundur ke belakang sejauh dua langkah. Tapi seperti Prabu Katapangan tidak mau melepaskan dia, sehingga walaupun sudah mundur, serangan susulan lainnya terus mengejar tanpa henti.
Satu tendangan gagal, muncul tendangan lain. Panah Raden Arjuna yang terkenal keras juga di sabetkan ke segala arah. Kadang-kadang dia menggunakan ujung busur untuk menotok beberapa jalan darah Prabu Ajiraga.
Pertarungan terus berlangsung. Serangan demi serangan sudah dilancarkan oleh kedua belah pihak. Sepuluh jurus sudah berlalu, keadaan masih terlihat imbang untuk sejauh ini.
Prabu Ajiraga melenting sambil menerjang ke depan. Tongkat Dewa Batara dia ayunakan dari bawah ke atas. Berbarengan dengan sabetan tersebut, sebuah tenaga besar terads bagaikan pusaran angin topan yang menyerbu sangat cepat.
Prabu Katapangan tersentak, buru-buru dia menahan serangan dahsyat itu dengan batang Panah Raden Arjuna.
Benturan tenaga dahsyat tak terhindarkan lagi. Keduanya terpundur sejauh tiga langkah.
Pertarungan ini walaupun baru berjalan sebentar, tapi semua jurus yang dikeluarkan merupakan jurus-jurus berbahaya. Sekali jurus yang keluar mampu melawan puluhan pendekar kelas bawah. Setiap tenaga yang keluar selalu mengeluarkan suara bergemuruh dan hawa kematian.
"Katapangan, ternyata ilmumu sudah meningkat pesat. Aku terkesan," kata Prabu Ajiraga sambil terus memberikan dengan Tongkat Dewa Batara.
"Hahaha, terimakasih. Ternyata tidak sia-sia juga aku berlatih selama ini. Tapi kau juga mengalami kemajuan pesat, rasanya aku harus mengeluarkan banyak tenaga jika ingin membunuhmu," balas Prabu Katapangan sambil menahan semua terjangan Tongkat Dewa Batara.
"Tentu. Kalau tidak begitu, tidak mungkin selesai pertarungan kita ini,"
"Bagus, sekarang terimalah jurusku," kata Prabu Katapangan lalu dia melompat tinggi ke atas di saat ada kesempatan.
Tali busur Panah Raden Arjuna dia tarik ke belakang dengan kuat. Segumpal energi terlihat mengerikan.
"Panah Manggala Yudha …"
"Wushh …"
Dua buah anak panah melesat secepat kilat. Kecepatannya sulit dibayangkan, dua anak panah berwarna biru dan merah itu membawa kekuatan tersendiri. Satu bersifat panas, satu lagi bersifat dingin.
__ADS_1
Aura yang dahsyat segera di rasakan oleh para pendekar yang ada di sekitar tempat kejadian, suara bergumuruh seperti roh penasaran menggema di alam raya.
Prabu Ajiraga terkejut untuk sesaat. Detik berikutnya, dia pun turut menghimpun tenaga dalamnya.
"Gerbang Dewa …"
"Gelegar …"
Dia menghantamkan Tongkat Dewa Batara ke tanah. Seketika tanah bergetar hebat. Bumi berguncang bagaikan kiamat. Dari dalam tanah, muncul sebuah gerbang ghaib yang memancarkan hawa luar biasa kuat. Prabu Ajiraga menyilangkan tongkatnya di depan dada.
"Blarr …"
Ledakan yang mengguncangkan arena peperangan berguncang. Debu mengepul ke seluruh area. Dua jurus dahsyat yang berbenturan barusan itu, benar-benar membuat perang terhenti beberapa detik.
Dua manusia yang memiliki pengaruh besar sedang beradu tenaga dalam lewat senjata pusaka mereka. Kaki kedua raja tersebut bahkan sampai melesak ke dalam tanah. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pertarungan mereka.
Di saat situasi yang menegangkan tersebut, tiba-tiba dari jarak cukup jauh dari sebelah kanan, terdengar suara seperti auman harimau yang menggelegar di setiap telinga para pendekar.
Suara auman tersebut sedikit lebih keras dari ledakan yang baru saja terjadi. Auman itu juga membawa satu gelombang angin tang sangat dahsyat. Tak sedikit para prajurit yang terbawa beberapa langkah karena tidak kuat menahan terjangan anginnya.
Detik berikutnya, di tengah-tengah pertarungan Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma dan Prabu Katapangan Kresna, telah berdiri seorang pendekar berpakaian serba putih. Rambutnya berkibar tertiup angin.
Cakra Buana!
Pendekar itu memang Cakra Buana si Pendekar Maung Kulon. Dia berdiri dengan kedua tangan di lipat di dada. Aura yang menekan terasa terus keluar tanpa henti dari tubuhnya.
Dua raja yang sedang bertarung itu terkejut. Mereka tidak tahu kapan Cakra Buana datang. Tahu-tahu, pendekar muda itu telah berada di tengah-tengah keduanya.
Senjata pusaka yang tadi masih menempel, kini telah dilepaskan. Mau tidak mau pertarungan pun berhenti karena kehadiran Cakra Buana.
"Hemm, inikah Cakra Buana yang sekarang?" tanya Prabu Ajiraga dengan tatapan menyelidik. Matanya terus memandangi Pendekar Maung Kulon dari atas sampai bawah dan kembali lagi.
"Benar. Ini aku, Cakra Buana. Murid Eyant Resi Patok Pati dan anak dari Prabu Bambang Sukma Saketi," kata Cakra Buana dengan penuh wibawa.
"Hahaha, tidak disangka kau telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa,"
"Jangan memujiku, aku tidak butuh pujianmu. Aku harap kau sudah tahu kedatanganku kemari," ucap Cakra Buana dingin.
__ADS_1
Wajahnya yang biasa bersinar cerah bagaikan sinar mentari pagi, kini wajah itu telah berubah seluruhnya. Wajah itu menggambarkan kekosongan. Hanya ada gambaran kebencian dan amarah yang meluap. Cakra Buana seperti manusia yang tidak memiliki perasaan.
"Aku tahu, kau pasti ingin bertarung denganku bukan?"
"Lebih tepatnya ingin mencabut nyawamu untuk membalaskan dendamku," ujar Cakra Buana penuh amarah.
"Aku sudah tahu. Bahkan aku sudah menunggumu dari tadi, hanya saja karena kau tidak muncul, terpaksa aku bertarung lebih dulu bersama pamanmu,"
"Hemm, apakah kau kaget atas kedatanganku yang tiba-tiba?"
"Tidak sama sekali,"
"Bagus. Berarti kau memang siap mati di tanganku,"
"Benar. Aku memang sudah diap sejak lama. Bahkan aku bersyukur kau masih bisa hidup sampai detik ini. Itu artinya kau memang bukan pendekar muda sembarangan. Dan juga, kau memang pantas bertarung denganku," kata Prabu Ajiraga.
"Apakah tidak setiap pendekar pantas bertarung denganmu?"
"Tepat, hanya orang-orang tertentu saja yang pantas bertarung dengan Ajiraga Wijaya Kusuma,"
"Termasuk aku dan pamanku?"
"Benar. Kalian berdua memang pantas,"
"Baik, kalau begitu kita segera mulai. Aku tidak akan mengecewakanmu," kata Cakra Buana lalu mengambil sikap kuda-kuda.
Prabu Ajiraga pun sudah mengambil persiapan. Tongkat Dewa Batara dia perang dengan kedua tangan di julurkan ke depan.
"Cakra, berhati-hatilah. Kekuatannya sedikit melebihi pamanmu ini," kata Prabu Katapangan mengingatkan Cakra Buana.
"Paman tenang saja. Aku sudah yakin bisa membunuhnya,"
"Baiklah. Paman percaya padamu. Paman akan melihat dari pinggir, sehingga kalau ada apa-apa, paman bisa langsung turun tangan," ucapnya lalu mundur lima langkah.
"Terimakasih paman," balas Cakra Buana.
Dia berjalan lalu berdiri lima langkah di depan Prabu Ajiraga. Tangan kanannya menarik Pedang Pusaka Dewa yang tersoren di punggung.
__ADS_1
Pertarungan dua senjata pusaka sepertinya akan terulang lagi. Perang ini benar-benar perang istimewa. Sebab semua orang bisa melihat kejadian-kejadian yang sangat jarang terjadi dalam dunia persilatan.