Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Benci dan Cinta


__ADS_3

Ayu Pertiwi tentu tidak terima dengan ucapan Cakra Buana barusan. Sebab menurutnya, itu sama saja dengan merendahkan atau secara tidak langsung mengatkan bahwa mereka berdua lemah dan tidak mampu melawan Cakra Buana.


Padahal, Ayu Pertiwi tahu sampai di mana kemampuan Cakra Buana ketika mereka bertemu beberapa tahun lalu. Di mana dia pernah bertarung bersama pihak Cakra Buana bersama beberapa datuk rimba hijau lainnya.


Dalam pertarungan tersebut, guru dan saudara seperguruannya tewas semua. Bahkan termasuk suaminya, Raden Buyut Sangkar, juga tewas. Dan pembunuhnya adalah Cakra Buana.


Dia sendiri dulu mengalami luka parah, untung bahwa dirinya masih selamat dan bisa bertahan hingga saat ini.


Setelah kejadian itulah secara perlahan rasa cinta kepada Cakra Buana mulai memudar. Walaupun memang masih ada, sebab pemuda itu cinta pertamanya, tetapi rasa tersebut masih bisa dikalahkan dengan rasa benci.


Benci dan cinta.


Ketika dua rasa itu menjadi satu dalam diri, maka siapapun tidak akan bisa menjelaskan bagaimana rasanya kecuali orang itu sendiri.


Namun di sisi lain, si pria yang mengaku sebagai kekasih Ayu Pertiwi, justru lebih marah lagi. Dia tidak tahu bagaimana hubungan kekasihnya dengan si pemuda pada masa lalu.


Ucapannya barusan, jelas sangat menghina dirinya. Dia bersifat gampang marah, bagaikan rumah di siram minyak tanah terus di bakar. (Ya kebakaran lah)


Maksudnya, bagaikan kompor di siram minyak tanah. Api amarah dalam dirinya seketika langsung berkobar.


"Bangsat. Lancang sekali mulutmu. Kau kira aku tidak bisa mengalahkanmu heh? Jangankan mengalahkan, membunuhmu pun aku masih sanggup," kata pria itu dengan marah.


Dalam hatinya, Cakra Buana tertawa geli. Dia sudah dapat menakar sampai di mana kekuatan pria itu, sehingga baginya, bukan suatu masalah besar kalaupun dia tetap nekad ingin bertarung dengannya.


Jangankan satu lawan satu, tiga-tiganya maju sekaligus pun, Cakra Buana masih sanggup.


"Brawan, jangan terlalu terbawa emosi. Kita belum tahu sampai di mana kemampuan anak muda itu," ucap Wanita Berhati Iblis.


Dia memang belum mengetahui persis bagaimana kemampuan Cakra Buana. Tetapi melihat kejadian sebelumnya di saat dia mampu memadamkan api, wanita tua itu setidaknya dapat memastikan bahwa si pemuda bukanlah pendekar sembarangan.


Kekasih Ayu Pertiwi yang dipanggil Brawan, seketika langsung menunduk. Dia tidak berani melawan guru barunya itu.


Benar, guru baru. Wanita Berhati Iblis memang gurunya, tetapi baru beberapa minggu lalu.


"Nenek tua, aku harap kau mau bertarung denganku sampai mampus. Masalah kita ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan bicara. Bagiku, kau sudah keterlaluan," kata Cakra Buana mulai marah saat teringat kejadian beberapa waktu lalu.


"Hahaha, baik, baik. Aku bersedia. Tapi apakah kau sudah yakin? Bagaimana jika rekan-rekanku mencarimu?"


"Siapa yang kau maksudkan? Manusia Pasir Besi Panas? Atau si Hantu Tanpa Wajah? Hahaha … kedua rekanmu sudah jadi mayat. Lagi pula, aku tidak pernah takut kepada mereka,"

__ADS_1


"Deggg …"


Wanita Berhati Batu tergetar. Dia tidak percaya sepenuhnya atas ucapan Cakra Buana. Tetapi hatinya mengatakan bahwa ucapan itu benar adanya.


"Kauu … laknat …"


"Hiyaa …"


Dia menyerang.


Serangan pertama langsung memakai tenaga dalam besar. Kedua tangannya bergerak sampai mengeluarkan sinar hitam lalu melesat cepat ke arah Cakra Buana.


Namun si pemuda masih berdiri tenang.


Dia sedang menunggu datangnya dua sinar tersebut.


Ketika dua sinar itu dekat, barulah Cakra Buana mengambil tindakan.


Dia menjajakan kakinya ke tanah lalu meloncat tinggi ke atas. Tangan kanannya menyapu. Sinar merah keluar berbenturan dengan sinar hitam milik Wanita Berhati Batu.


Bentura keras seketika terdengar. Tiga sinar itu musnah menjadi pijatan api yang membumbung tinggi.


Sebelum Wanita Berhati Batu menyerang Cakra Buana kembali, terlihat dua bayangan lebih dulu melesat ke arah pemuda itu.


Brawan dan Ayu Pertiwi.


Sepasang kekasih itu nekad menyerang Cakra Buana. Dua batang pedang langsung menghujani tubuh Pendekar Tanpa Nama dengan cepatnya.


Jurus hebat yang mereka kuasai langsung digelar dengan penuh percaya diri.


Percaya bahwa mereka mampu mengalahkan si pemuda yang di anggap sombong itu.


Sayangnya, mereka terlalu percaya.


Terkadang jika kita berlebihan percaya, memang selalu membuahkan kekecewaan.


Seperti yang terjadi di antara Brawan dan Ayu Pertiwi saat ini.


Keduanya telah menyerang sepuluh jurus. Tetapi belum ada satu pun jurusnya yang berhasil mengenai tubuh Cakra Buana. Seolah tubuh itu menghilang secara tiba-tiba ketika akan ditebas.

__ADS_1


Di posisi lain, Cakra Buana masih belum tega menurunkan tangan kejam. Bagaimanapun juga, Ayu Pertiwi adalah gadis yang pernah dia cintai. Kenangan manis pernah dia lewatkan bersamanya.


Untuk beberapa saat, Cakra Buana memilih untuk berdiam tanpa perlawanan. Dia hanya bertahan seenaknya saja.


Hingga pada akhirnya, sebuah sabetan pedang dengan telak menggores pinggangnya. Walaupun tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk mendatangkan rasa perih.


Pelakunya adalah Ayu Pertiwi.


Awalnya Cakra Buana tidak yakin bahwa gadis itu berani melukai atau bahkan membunuhnya. Tetapi sekarang, Cakra Buana sudah benar-benar yakin.


Yakin bahwa gadis tersebut telah berubah. Baik itu sifatnya, ataupun perasaannya.


Cakra Buana tidak bisa tinggal diam lagi. Dia mulai membalas serangan sepasang kekasih itu. Luka yang dia terima sengaja tidak diobati. Dia membiarkan darah mengucur seenaknya dan berhenti semaunya.


Dua puluh jurus sudah berlalu. Dan posisi bertarung telah berubah hanya dalam waktu sekejap mata. Yang tadinya Cakra Buana terlihat terdesak dan terus bertahan, kini secara tiba-tiba, pemuda itu sanggup membalas semua serangan.


Sasaran utamanya tentu si Brawan. Dia sudah muak kepada si pria karena kesombongannya.


Kedua tangan Cakra Buana bergerak cepat. Sebuah hantaman telapak tangan terus dia lancarkan.


Ajian Dewa Tapak Nanggala keluar.


Baginya melawan pendekar seperti dia, tidak perlu mengeluarkan jurus pamungkas. Hanya dengan menggunakan jurus Ajian Dewa Tapak Nanggala pun sudah lebih dari cukup.


Cakra Buana terus menyerang. Pedang yang digunakan oleh Brawan beberapa kali berhasil mengenai tubuh Cakra Buana. Anehnya, tubuh itu tidak terlihat terluka. Sama sekali tidak ada bekas bacokan pedang.


Justru sebaliknya, pedang tersebut perlahan mulai bengkok dan menjadi tumpul.


Itu tubuh atau baja? Di tebas kok gak mempan.


Menjelang jurus ketiga puluh, Cakra Buana mengambil tindakan keras.


Dia menerjang sambil terus mengeluarkan jurus Ajian Dewa Tapak Nanggala. Tangan kanannya berhasil bersarang di dada Brawan.


Pria itu terpental sepuluh langkah sampai menabrak pohon. Dia langsung muntah darah. Organ dalamnya terluka.


Wanita Berhati Batu sengaja belum mau turun tangan. Dia ingin melihat sampai di mana kemampuan murid barunya itu. Sayang, harapan terkadang tidak sama dengan kenyataan.


Melihat Brawan terluka, baik Ayu Pertiwi maupun Wanita Berhati Batu, keduanya sama-sama semakin marah kepada Cakra Buana.

__ADS_1


__ADS_2