Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Bertemu Pendekar Tangan Seribu


__ADS_3

Hari terus berlalu dengan cepat. Satu tahun telah berlalu lagi. Selama itu, Cakra Buana terus pergi mengembara tanpa arah tujuan. Berbagai pertarungan kecil pernah dia lewati.


Baik itu karena membantu orang, atau memang dia sendiri yang mempunyai masalah. Di zaman ini, apalagi di dunia persilatan, setiap persoalan pasti akan diselesaikan dengan jalan pertarungan. Sebelum ada yang tewas di antara kedua orang bersangkutan, maka pertarungan tak akan pernah berhenti.


Dan selama pengembaraan ini pula, Cakra Buana entah sudah beberapa kali mengalami kekalahan dan kemenangan. Dendam yang telah mendarah daging, sedikit banyak sudah terbalaskan.


Yang tersisa hanyalah masalah dendam-dendam besar dan dendam kepada para pendekar ternama, atau orang-orang yang mempunyai pengaruh besar.


Tapi selain itu, tentu saja banyak pula orang-orang yang tidak menyukai Cakra Buana. Entah berapa banyak orang yang ingin membunuhnya, dan entah berapa banyak orang juga yang ingin menyingkirkan dirinya.


Saat ini hari masih pagi sekali. Kehidupan baru saja dimulai. Orang-orang kampung mulai mengerjakan kewajiban mereka setiap harinya.


Beberapa waktu terkahir, ternyata Cakra Buana sudah berada di Tanah Jawa. Sebuah negeri yang bertetanggaan dengan Tanah Pasundan. Sebuah negeri yang katanya selalu bergejolak. Baik itu dalam dunia politik, maupun dalam dunia persilatan.


Karena Cakra Buana sudah berada di Tanah Jawab selama beberapa bulan dan pergi ke sana kemari, sedikit banyak orang-orang dunia persilatan sudah mengenal dirinya.


Sekarang dia sudah berada di sebuah kedai makan. Seperti hari-hari biasanya, dia selalu melakukan sarapan pagi. Uang pemberian pamannya dulu sudah lama habis untuk kebutuhan hidupnya. Tetapi walaupun begitu, dia masih bisa mendapatkannya lagi dengan cara bekerja membantu orang lain.


Keadaan di kedai tersebut lumayan ramai. Terlihat ada beberapa pendekar yang sedang melakukan sarapan juga. Di lihat dari tampangnya, mereka ini bukan orang-orang baik-baik. Tapi karena Cakra Buana tidak mempunyai dendam dengannya, maka sudah tentu dia tidak akan mencari masalah.


Setelah sarapannya selesai, dia segera pergi dari kedai tersebut. Entah ke mana tujuannya, yang jelas dia akan pergi mengikuti dua kakinya.


Saat di tengah jalan yang agak kecil dan sepi, Cakra Buana berhenti sejenak. Dia merasa ada sesuatu yang ganjil. Pemuda itu memandang berkeliling, tapi tidak ada yang mencurigakan.


Cakra Buana berjalan kembali, belum jauh kakinya melangkah, dia kembali merasakan hal seperti sebelumnya.


Kali ini Cakra Buana memejamkan matanya sebentar. Dia berkonsentrasi mempergunakan kemampuannya.


"Kau yang ada di dahan pohon, turunlah. Jangan hanya mengikutiku terus. Silahkan tunjukan siapa dirimu," kata Cakra Buana dengan tenang.


Untuk sesaat tidak ada kejadian yang mencurigakan. Tapi tak berapa lama, benar saja, dari sebatang pohon asem, seorang pria memakai pakaian serba hitam dengan sabuk merah, melompat dan turun tepat di hadapannya.


"Apakah kau masih mengenalku?" tanya orang yang baru datang itu.


Cakra Buana terdiam sebentar. Dia memandang orang tersebut dengan penuh selidik. Dari atas sampai bawah, dia pandangi dengan seksama.


"Paman Pendekar Tangan Seribu?" tanya Cakra Buana sedikit terkejut.


"Hahaha, akhirnya kau masih mengenali orang tua ini," ucap orang tersebut yang tak lain Pendekar Tangan Seribu.


Keduanya tertawa riang, mereka berpelukan beberapa saat untuk melepaskan rindu yang sudah dipendam selama ini.

__ADS_1


"Bagaimana paman bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Cakra Buana keheranan.


"Tentu saja tahu. Karena siapapun orang yang dekat denganku, maka aku bisa mengetahui mereka ada di mana," jawab pria serba hitam itu.


"Sepertinya aku harus belajar kepadamu," kata Cakra Buana penuh tawa.


"Hahaha, kau ini. Bagaimana kabarmu?"


"Baik, paman sendiri bagaimana?" tanya Cakra Buana.


"Baik, tapi ya beginilah. Aku terus bertambah tua, hahaha,"


"Yang lainnya bagaimana pula (yang dimaksud orang-orang penting kerajaan)?"


"Mereka juga baik. Tapi entah untuk saat ini, sebab sudah lama aku belum kembali ke kerajaan," katanya.


Mereka kembali bercengkrama sambil melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, keduanya terus bersenda gurau.


"Apakah paman sedang menghadapi persoalan?" tanya Cakra Buana.


"Benar, aku sedang menghadapi persoalan. Dan persoalan ini cukup rumit, oleh sebab itu aku mencarimu. Karena aku merasa sungkan minta bantuan kepada yang lain. Lagi pula, posisimu jaraknya lebih dekat," kata pria itu.


"Kalau boleh tahu, persoalan apa yang sedang paman Lingga hadapi?" tanya Cakra Buana kepada Pendekar Tangan Seribu yang bernama asli Lingga.


"Siapa yang berani memfitnahmu?"


"Orang-orang dari Perguruan Merpati Wingit. Aku di fitnah telah membunuh salah seorang guru di sana, dan yang lebih parah, orang yang tewas itu adalah sahabat kecilku sendiri,"


"Aishh, bagaimana hal itu bisa terjadi?"


"Saat itu aku mengunjunginya di perguruan, beberapa hari aku menginap di sana dan tidak terjadi hal mencurigakan. Tapi begitu aku pergi, keesokannya beberapa murid perguruan mengejarku dan menyangka bahwa aku telah membunuh sahabtku itu,"


"Kalau begitu, pasti ada yang tidak beres. Mungkin mereka memang sengaja ingin menghancurkan namamu paman," kata Cakra Buana.


"Mungkin saja,"


"Kau sudah menjelaskan semuanya?"


"Sudah. Tapi mereka tidak percaya, bahkan mereka berniat untuk membunuhku,"


"Hemm, kalau boleh tahu, apa yang kau bicarakan saat berkunjung ke sana?"

__ADS_1


"Aku memberitahukan kepada sahabatku bahwa ada beberapa orang yang ingin mencoba berkhianat kepada perguruan,"


"Apakah sahabatmu itu percaya?"


"Tentu. Dia tahu siapa aku, karena itulah dia bilang akan menyelidiki masalah ini. Namun sayangnya, sebelum bertindak, dia malah tewas lebih dulu,"


"Hemm, kalau begitu, pasti orang yang berkhianat itu sudah mengetahui semuanya. Oleh sebab itu untuk menghilangkan jejak buruknya, dia sengaja membunuh sahabatmu dan memfitnah bahwa kau yang melakukannya,"


"Mungkin saja. Tapi kenapa mereka tidak langsung saja membunuhku?"


"Karena mereka tahu sampai di mana ilmu yang kau miliki," ucap Cakra Buana dengan penuh percaya diri.


Pendekar Tangan Seribu termenung seketika. Dia seperti sedang memikirkan suatu hal, lama sekali dia termenung sehingga beberapa kali Cakra Buana memanggilnya namun tidak dijawab.


"Paman," panggilnya agak kencang.


"Eh, iya, kenapa?"


"Aku memanggilmu dari tadi, kau tetap tidak mendengarkan,"


"Hahaha, maafkan aku pangeran. Aku sedang berpikir,"


"Apa yang kau pikirkan?"


"Aku sedang berpikir bahwa masalah ini harus segera diselesaikan. Sebah masih banyak masalah lain yang sedang terjadi. Dunia persilatan di Tanah Pasundan kembali bergejolak,"


"Hemm, aku juga sedang menghadapi beberapa persoalan. Tapi sudahlah, lebih baik kita selesaikan dulu masalahmu," kata Cakra Buana.


"Kau mau membantuku?"


"Tentu saja,"


"Terimakasih pangeran," katanya lalu berlutut memberi hormat.


"Sudah, jangan seperti ini. Aku sedang menutupi jati diri. Lebih baik kita segera pergi ke Perguruan Merpati Wingit sekarang juga," kata Cakra Buana.


"Baiklah kalau begitu. Mari ikuti aku," ujar Pendekar Tangan Seribu.


Selesai berkata, kedua orang itu segera pergi ke arah Selatan. Cakra Buana sendiri kurang mengetahui letak perguruan yang akan ditujunya. Tapi baginya itu bukan masalah, karena membantu orang, apalagi sahabat sendiri, baginya itu merupakan sebuah kewajiban.


Untuk diketahui, Perguruan Merpati Wingit sebenarnya merupakan perguruan kelas menengah. Perguruan ini berdiri di perbatasan sebelah Selatan Tanah Pasundan.

__ADS_1


Perguruan Merpati Wingit adalah salah satu perguruan yang cukup berpengaruh di dunia persilatan dan berada di dalam golongan merdeka atau tengah-tengah.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk segera sampai ke tempat tujuannya. Menurut pria serba hitam itu, jika tidak ada halangan selama perjalanan, setidaknya dibutuhkan waktu tiga hari untuk sampai ke sana.


__ADS_2