
"Omong kosong,"
"Wuttt …"
Tiga buah jarum berwarna hitam meluncur deras ke arah Ling Zhi. Jarum hitam itu di lemparkan oleh salah seorang anggota Sepuluh Pendekar Saudara.
"Tapp …"
Dengan mudah Ling Zhi mampu menangkap jarum tersebut. Bahkan dia menjepitnya hanya dengan dua buah jari –jari kanan dan jari tengah–.
"Mainan anak-anak jangan kau perlihatkan di depanku, aku kembalikan lagi padamu,"
"Wuttt …"
Ling Zhi melemparkan kembali jarum hitam itu kepada pemiliknya. Jarum tersebut meluncur lebih deras daripada sebelumnya. Untung bahwa si pengguna lebih ahli kalau masalah jarum, sehingga dia bisa menghindari jarum-jarum miliknya sendiri.
"Boleh juga kau gadis nakal," kata salah seorang.
"Diam kau gendut!" kata Ling Zhi sedikit menghardik anggota Sepuluh Pendekar Saudara yang bertubuh gendut mirip sebuah gentong.
"Wanita keparat,"
"Wushh …"
Sebuah tambang berduri melesat cepat berniat menyabet mulut Ling Zhi yang aduhai itu. Namun lagi-lagi gadis blasteran tersebut mampu menghindari tambang itu. Bahkan ia hempaskan dengan pengerahan sedikit tenaga dalam sehingga tambang tadi berbelok arah jadi menuju ke rekannya.
Si pengguna buru-buru menarik senjatanya kembali, andai saja ia telat sedikit, maka tambang berduri itu akan mengenai rekannya sendiri.
"Sudahlah, kembali saja ke meja kalian dan segera makan. Jangan ganggu aku lagi. Aku malas bermain dengan orang-orang bodoh seperti kalian ini," kata Ling Zhi berniat untuk duduk.
Tapi sebelum ia berhasil duduk, tiba-tiba bangku yang akan ia duduki itu hancur berkeping-keping. Salah seorang anggota Sepuluh Pendekar Saudara menghancurkannya memakai tenaga dalam.
"Braggg …"
Meja tempatnya makan terbelah jadi dua setelah Ling Zhi menggebraknya. Wajah yang tadinya cantik, seketika berubah menjadi bengis.
"Aku sudah beberapa kali peringatkan kalian. Tapi kalian tetap keras kepala, mau kalian apa sebenarnya?"
__ADS_1
"Aku mau kau bersujud dan meminta maaf pada Sepuluh Pendekar Saudara,"
"Maaf, aku bukan seekor binatang. Cuihhh …" Ling Zhi meludahi muka Sandira.
Gadis itu lepas kendali. Rencana yang di buat oleh Prabu Katapangan, gagal ia jalankan. Menurutnya, sepuluh orang ini tidak pantas jika hanya diberikan sedikit pelajaran. Yang benar adalah harus diberikan banyak pelajaran.
Sepuluh Pendekar Saudara tentu saja merasa sangat marah. Apalagi melihat pemimpin atau kakak tertua mereka di ludahi wajahnya.
"Benar-benar wanita yang cari ******,"
"Haittt …"
Satu orang maju melayangkan pukulan. Dengan sigap Ling Zhi mampu menahan pukulan yang mengarah ke wajah itu dengan hanya telapak tangan kanannya saja. Telapak tangan ia putarkan lalu di hentak ke depan sembari di saluri tenaga dalam. Akibatnya anggota Sepuluh Pendekar Saudara itu terjengkang ke belakang. Saudara yang lainnya langsung menahan supaya tidak sampai jatuh.
Karena situasi sudah tidak memungkinkan untuk berdamai, maka Ling Zhi langsung pergi ke luar. Dia lalu berdiri tegak di halaman depan penginapan. Tak lama Sepuluh Pendekar Saudara mengikutinya dari belakang. Mereka mengurung gadis cantik itu.
Untuk di ketahui, Sepuluh Pendekar Saudara ini adalah sepuluh kakak beradik. Yang paling tua sekaligus menjadi pemimpin bernama Sandira. Mereka ini merupakan orang-orang dunia persilatan. Sepuluh Pendekar Saudara bukan berasal dari perguruan. Tidak ada yang tahu secara pasti tentang kesepuluh saudara tersebut, bahkan siapa gurunya juga belum ada yang tahu.
Tapi dalam rimba hijau, Sepuluh Pendekar Saudara lumayan memiliki nama. Mereka terkenal sebagai orang-orang bayaran, siapapun yang memerintahkan mereka, asalkan harga cocok, maka ia akan menyanggupi. Selain itu, Sepuluh Pendekar Saudara juga terkenal dengan kelakuannya yang tidak bermoral. Mereka kadang suka merampok, membunuh, memperkosa, dan kegiatan-kegiatan jahat lainnya yang sering kali mereka lakukan.
"Gadis keparat, aku ingatkan sekali lagi. Menyerahlah sebelum terlambat. Cukup bersujud untuk meminta maaf dan hibur kami, maka nyawamu akan selamat," kata Sandira.
"Iblis. Lebih baik aku mati daripada harus bersujud kepada kalian," bentak Ling Zhi dengan marah.
Selesai berkata demikian, Ling Zhi memutarkan kakinya di bawah. Mengincar kaki semua lawan. Tapi tendangan memutar itu bisa dihindari dengan mudah oleh Sepuluruh Pendekar Saudara. Mereka melompat bersamaan lalu mundur satu langkah ke belakang.
"Lihat serangan …"
"Wuttt …"
Seorang anggota Sepuluh Pendekar Saudara menyerang Ling Zhi secara tiba-tiba dari arah samping kanan. Orang itu bertubuh agak tinggi, tapi sangat kurus. Mirip seperti mayat hidup. Dia memberikan pukulan jarak jauh lalu disambung dengan serangan tapak yang mengincar pundak.
Karena Ling Zhi sudah siap dan menduga hal seperti ini, maka dengan mudah ia mampu melewati dua serangan tersebut. Gadis itu memiringkan tubuhnya ke samping kiri. Kedua serangan dari si mayat hidup, luput mengenai sasaran.
Namun begitu mengetahui serangannya gagal, dia kembali memberikan serangan berupa pukulan yang mengarah ke ulu hati. Pukulan itu mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi, tapi Ling Zhi bisa bergerak cepat
Kedua tangannya menahan pukulan lawan, kemudian ia putarkan dengan cepat. Bahkan tubuh lawan ikut berputar. Dia memberikan sentakan sehingga penyerang terpental.
__ADS_1
"Bukkk …"
"Ughh …" orang kurus kering itu terpental dua langkah.
Melihat bahwa Ling Zhi tidak bisa di anggap enteng, dua orang anggota Sepuluh Pendekar Saudara maju untuk membantu rekannya. Kedua orang ini bertubuh sama, bahkan wajahnya juga sama. Mereka sepertinya kembar, yang membedakan hanyalah senjata. Satu memakai tongkat, satu lagi memakai tombak.
Keduanya langsung menyerang menggunakan senjata pusaka mereka. Serangan yang datang jauh lebih bertenaga dari si kurus kering.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Dua serangan datang bersamaan. Ling Zhi menghindar dengan cara melenting tinggi ke belakang. Kemudian ia turun sambil memberikan serangan tapak jarak jauh.
"Wuttt …"
Sinar merah melesat cepat ke arah lawan. Tapu kedua lawan itu sudah siap. Sehingga mereka bisa menahan serangan Ling Zhi menggunakan ujung senjata mereka yang telah di aliri tenaga dalam.
"Blarrr …" ledakan kecil terdengar akibat benturan tenaga dalam tersebut. Mereka sama-sama terpundur.
Di sisi lain, sejak dari pertama Cakra Buana beserta yang lainnya sedang mengawasi Ling Zhi di atas dahan pohon, tak lupa juga raga Prabu Katapangan hadir di sana. Raja itu mempunyai firasat bahwa Ling Zhi pasti akan terpancing emosi, apalagi dia seorang wanita. Sehingga bisa dipastikan rencananya gagal, dan firasat itu benar-benar terjadi.
"Paman, bagaimana ini? Ling Zhi lepas kendali. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Cakra Buana sedikit cemas.
"Tenang Cakra, kita lihat saja dulu sampai di mana Ling Zhi mampu bertahan. Jika dia sudah tidak mampu, baru kau nanti turun tangan sendiri," ucap prabu dengan tenang.
"Tapi rencanamu sudah gagal paman. Tolong jangan marah padanya. Dia hanya bersikap wajar sebagai seorang wanita," kata Cakra Buana berusaha membela Ling Zhi.
"Tenanglah. Aku tidak marah padanya, karena rencana sudah gagal, maka habisi saja mereka,"
"Tapi paman, bagaimana nanti kau akan bicara pada pihak Kerajaan Kawasenan?"
"Itu urusanku. Sekarang lakukan saja apa yang aku perintahkan. Lakukan dengan baik, aku pergi dulu," tegas Prabu Katapangan.
Setelah berkata demikian, dia langsung pergi bersama yang lainnya. Kini di atas pohon hanya ada Cakra Buana sendiri.
"Baiklah. Hahh …" Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1