Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Hutan Larangan III


__ADS_3

Kalau dalam situasi seperti sekarang ini, jangankan bersuara, berdehem sekalipun, hal itu sangat berbahaya sekali.


Satu kali melakukan kesalahan saja, bisa menggagalkan semua rencana yang telah disusun dengan matang.


"Di depan sana, ada dua orang pendekar kelas atas. Kita harus sangat berhati-hati supaya mereka tidak mengetahui kehadiran kita," kata Nyai Tangan Racun Hati Suci.


"Bagaimana caranya?" tanya Tuan Santeno Tanuwijaya.


"Kita harus memancing mereka keluar dari hutan,"


"Lalu, siapa yang akan melakukan hal tersebut?" tanya Raja Tombak Emas dari Utara.


"Aku yang akan melakukannya paman. Kalian teruskan saja, masalah di sini, serahkan kepada kami berdua,"


Sebuah suara memasuki telinga kelima tokoh utama. Tidak perlu ditanyakan lagi suara siapa yang mereka dengar itu.


Sebab semua orang telah tahu, bahwa suara barusan, adalah suara Cakra Buana. Si Pendekar Tanpa Nama.


Sedetik berikutnya, dua buah bayangan merah dan merah muda, melesat secepat kilat dari dua arah berbeda.


Siapa lagi kalau bukan Cakra Buana dan Sinta Putri Wulansari?


Kedua pasangan tersebut sebelumnya sudah melakukan "pembersihan" di beberapa titik Hutan Larangan. Tidak ada suatu hal apapun yang membuat mereka kerepotan.


Sebab yang menjaga di pinggiran hutan, ternyata hanya merupakan pendekar kelas bawah dan kelas menengah.


Tentu saja hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun bagi Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap.


Dua bayangan telah tiba di masing-masing titik yang terdapat satu orang pendekar kelas atas. Keduanya melancarkan serangan ringan untuk memancing.


Dua buah pukulan dilancarkan oleh Cakra Buana dan kekasihnya.


Pancingan mereka berhasil.


Kedua pendekar kelas atas tersebut merasa terganggu. Cakra Buana dan Sinta Putri melesat ke luar hutan.


Bodohnya, dua pendekar kelas atas turut mengejar mereka.


Seperti dua ekor serigala yang sedang mengejar mangsa. Kalau mangsannya belum berhasil didapatkan, maka mereka tidak akan berhenti mengejar sampai ke ujung dunia pun.

__ADS_1


Seperti kau yang mencintai si dia. Jika nyawamu masih ada, mungkin kau tidak akan pernah berhenti mengejar cintanya. Padahal, rasa sakit selalu kau rasakan. Tapi kenapa kau tetap menginginkannya?


Entah suatau kebodohan, atau suatu pembuktian betapa besarnya cintamu. Yang tau hanya kau dan Tuhanmu saja.


Melihat dua pendekar kelas atas telah pergi, rombongan Nyai Tangan Racun Hati Suci langsung melanjutkan pergerakan mereka lagi.


Lima tokoh penting bersama puluhan anggotanya, mulai memasuki Hutan Larangan lebih dalam lagi.


Semua orang-orang itu bergerak tanpa mengeluarkan suara, kecuali sedikit. Hanya hembusan angin menggoyangkan dedaunan yang tiada hentinya saja. Atau juga kelebatan puluhan bayangan lewat sangat cepat.


Di luar hutan, Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap telah berhenti berlari.


Keduanya kini sedang berdiri menantang berhadapan dengan dua orang asing. Kedua orang yang dimaksud adalah para pendekar kelas atas di dalam hutan tadi.


Mereka menampilkan wajah kesal karena telah diserang tanpa sebab. Keduanya belum sadar apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Siapa kalian dan apa alasan menyerang kami berdua?" salah seorang pendekar kelas atas bertanya dengan nada tidak senang.


"Kalian yang rendahan ini, tidak patut mengetahui siapa kami berdua," ujar Cakra Buana tersenyum sinis.


Dia memang sengaja menampilkan senyuman itu untuk memancing emosi lawan.


Di bilang rendahan oleh pendekar muda asing, tentu kedua pendekar kelas atas dari Organisasi Tengkorak Maut tidak terima. Mereka semakin merasakan bajwa amarahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun.


Untungnya, kedua pendekar itu sudah matang di dunia persilatan. Sehingga mereka tidak mau gegabah. Terlebih lagi, mereka belum tahu siapa dua sosok pendekar muda di hadapannya.


"Sekali lagi aku tanya, siapa kalian dan ada tujuan apa datang kemari? Bahkan dengan lancangnya kau berani menyerangku," kata seorang pendekar menahan amarah yang sudah memuncak.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Namun kalau kalian tetap memaksa, kalahkan kami dulu, baru akan kami beritahu," tantang Cakra Buana.


Menurut pemuda tersebut, tidak ada jalan lain kecuali pertarungan. Berlari? Lari kemana?


Dua pendekar kelas atas itu tentu sudah mengetahui seluk-beluk Hutan Larangan. Sehingga kemanapun dua pasangan muda tersebut melarikan diri, sudah pasti mereka akan ketahuan.


Bukan tidak mungkin keduanya akan salah jalan dan malah tersesat.


Jalan terbaik untuk keluar dari masalah saat ini hanyalah sebuah pertarungan.


Siapa yang menang, dia akan terus menjalani kehidupan. Dan siapa yang kalah, itu artinya dia tidak akan bisa lagi melihat matahari esok pagi.

__ADS_1


"Kau menantang kami? Hemmm, kita lihat sampai di mana kehebatanmu bocah-bocah laknat …"


Kedua pendekar kelas atas dari Organisasi Tengkorak Maut langsung membuka serangan pertama.


Serangan yang mereka lancarkan pertama kali berupa pukulan dan tendangan yang hampir secara bersamaan.


Keduanya melompat terlebih dahulu sebelum meluncur ke arah Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap.


Dua buah serangan berbeda dari pendekar Organisasi Tengkorak Maut telah dilancarkan untuk masing-masing lawannya.


Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap kemudian mengambil jarak cukup jauh supaya dapat bergerak lebih leluasa. Cakra Buana melenting tinggi menghindari dua buah serangan pukulan dahsyat.


Sedangkan Bidadari Tak Bersayap memutarkan tubuhnya untuk menangkis tendangan yang datang bagai air bah.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Benturan keras antar tulang terjadi untuk yang pertama kali. Kedua pendekar dari Organisasi Tengkorak Maut merasakan betapa tangan dan kaki mereka bergetar.


Bahkan keduanya merasa kesemutan dan mati rasa untuk beberapa saat.


Di lihat dari benturan awal, Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap sudah yakin dapat mengalahkan mereka secara langsung.


Walaupun kedua lawan ilmunya tidak rendah, tetapi masih belum cukup untuk menyamai Pendekar Tanpa Nama.


Namun keduanya sudah terbawa oleh nafsu amarah. Sehingga mereka tidak lagi melihat masalah sakitnya tangan dan kaki. Keduanya sudah menjejakkan kaki kembali.


Serangan kedua kembali datang.


Dua buah pukulan keras dilancarkan oleh satu orang pendekar mengincar leher dan dada Pendekar Tanpa Nama.


Di sisi lain, seorang temannya langsung melancarkan serangkaian pukulan kepada Bidadari Tak Bersayap.


Dua pendekar bertarung secara bersamaan. Keduanya sama-sama kuat, musuh juga cukup hebat. Pertarungan yang lumayan menghibur, akan terjadi sebentar lagi.


Cakra Buana menggerakkan kedua tangannya untuk memapak pukulan lawan. Kedia tangannya dibenturkan dengan keras sehingga mereka terdorong.


Tapi bukan Cakra Buana yang terdorong. Melainkan si pendekar kelas atas itu yang terdorong. Wajahnya sudah tidak kuat lagi menahan sakit. Dia terlihat meringis. Bibirnya bergetar menahan suara jeritan.

__ADS_1


'Gila, masih muda tapi memiliki kemampuan setinggi ini. Siapa bocah itu sebernarnya? Rasanya tidak ada lagi pendekar muda yang memiliki kemampuan tinggi selain Pendekar Tanpa Nama. Hemm,' batin si pendekar tersebut.


__ADS_2