
"Apa kau pikir aku tidak bisa membunuhmu heh? Bahkan jika kau menyerangku bersama guru besar tadi sekalipun, aku masih bisa membunuh kalian," kata Genta Sena dengan sombong.
Guru besar itu sangat yakin bisa membunuh pemuda yang kini berada didepannya. Guru besar padepokan saja bisa dihadapi. Apalagi ini hanya bocah kemarin sore, pikir Genta Sena.
"Lalu apa kau pikir aku tidak bisa membunuhmu juga? Bahkan kalau aku mau, aku bisa membunuh semua guru besar padepokanmu," balas Langlang Cakra Buana dengan senyuman yang mengancam.
Genta Sena langsung tersulut amarahnya hanya dengan ucapan pemuda itu. Harga dirinya sebagai guri besar merasa diinjak ketika Langlang Cakra Buana berucap demikian. Apakah dia pikir membunuh guru besar itu segampang membunuh tikus?
Tanpa basa-basi lagi, Genta Sena langsung menyerang Langlang Cakra Buana menggunakan golok besar yang merupakan pusakanya. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa membunuh pemuda yang sudah menginjak harga dirinya sebagai guru besar.
Tak mau kalah, Langlang Cakra Buana pun berniat untuk langsung menggunakan Pedang Pusaka Dewa. Dia sudah siap untuk menahan serangan yang akan datang itu.
Guru besar dan seorang pemuda sudah mulai bertarung. Gerakan keduanya sangat cepat hingga mata biasa mungkin tak bisa melihat gerakan pedang dan golok mereka.
Suara dua pusaka beradu cukup keras. Bahkan ketika pusaka itu beradu terlihat ada percikan kembang api yang cukup banyak.
"***SRINGG …"
"SRINGG*** …"
Baru berjalan sebentar, tapi ratusan gerakan sudah mereka lalui. Genta Sena terus menyerang tanpa memikirkan untuk mundur mengambil nafas dengan tenang. Gerakannya yang tajam membuat Langlang Cakra Buana sedikit kewalahan.
__ADS_1
Pemuda itu mundur dua tombak ke belakang. Dia berniat untuk mengeluarkan jurus yang tertera pada Kitab Dewa Bermain Pedang. Langlang Cakra Buana mulai mengambil sikap kuda-kuda.
Langlang Cakra Buana langsung menyerang Genta Sena dengan jurus Pedang Seribu Bayangan. Gerakannya sangat cepat, bahkan melebihi kecepatan gerakan Genta Sena sendiri.
Guru besar itu mulai merasa kewalahan karena serangan Langlang Cakra Buana. Bahkan dia merasa bahwa serangan pedang dari sang pemuda itu terlihat sangat banyak.
Genta Sena mundur tiga tombak ke belakang. Tak mau kalah, dia pun ingin segera mengeluarkan ajian yang dia miliki. Guru besar itu mulai merapalkan mantra. Perlahan-lahan, golok pusaka yang dia pakai berubah warna menjadi merah seperti bara api.
"Ajian Golok Neraka …"
"WUSHH …"
Dua puluh menit sudah berlalu, dua pendekar itu mulai merasa kelelahan. Terlebih Langlang Cakra Buana. Pemuda itu merasa lelah, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ini dikarenakan efek samping dari hawa panas yang diberikan oleh Ajian Golok Neraka.
Disisi lain, Genta Sena yang melihat musuhnya mulai kelelahan merasa senang. Dia sengaja mempercepat gerakan golok pusakanya dan terus berusaha untuk memojokkan Langlang Cakra Buana.
Tapi pemuda itu tak mau kalah, dia kembali ingin mengeluarkan jurus pedang yang lebih tinggi dari jurus Pedang Seribu Bayangan. Sayang, Genta Sena tidak memberikan kesempatan kepada Pendekar Maung Kulon itu untuk bernafas lega. Genta Sena terus menyerang dengan ganas.
Mau tidak mau Langlang Cakra Buana harus menahan setiap serangan Genta Sena dan juga hawa panas dari Ajian Golok Neraka. Karena sudah tidak bisa menahan hawa panas lagi, Langlang Cakra Buana semakin terpojok dan …
"Ahhh …"
__ADS_1
Luka sayatan akibat golok pusaka tercipta dibagian bahu kirinya. Tidak dalam, tapi rasanya sangat perih dan agak panas. Buru-buru pemuda itu menyalurkan tenaga dalamnya supaya cepat stabil.
Menyadari ada kesempatan, Langlang Cakra Buana langsung mengeluarkan jurus dari ajaran Kitab Dewa Bermain Pedang.
"Langkah Dewa Angin …"
"WUSHH …"
Langlang Cakra Buana mendadak hilang dari pandangan Genta Sena. Guru besar itu sedikit kebingungan, tapi tak lama dia dikejutkan oleh suara yang berasal dari belakangnya.
"Awas kepala …"
"Utsss …"
Genta Sena berniat menghindari serangan yang datang dari arah belakang tersebut. Tapi sayang itu hanya tipuan. Setelah menebas udara, Langlang Cakra Buana membalikan badan. Dengan segera dia menebas leher Genta Sena dengan kuat.
"Ahhh …" mati.
Guru besar Padepokan Goa Neraka itu tewas terbunuh Pedang Pusaka Dewa. Dia tewas dengan leher yang hampir terputus. Matanya melotot, seakan tak percaya bahwa dia tewas ditangan seorang pendekar muda.
Setelah melihat lawannya tak bernyawa, Langlang Cakra Buana dengan segera menyarungkan kembali Pedang Pusaka Dewa. Pemuda itu kemudian pergi dari sana dan berniat untuk membantu yang lainnya.
__ADS_1