
Sepasang Elang Merah dari Selatan mulai mencabut senjata mereka. Begitupun dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Keempatnya sama-sama sudah menggenggam erat senjata andalan mereka.
Rembulan semakin naik tinggi. Sinarnya semakin menerangi bumi di bawah gelapnya sang malam. Suara decitan kelelawar mulai bergema bersahut-sahutan di seluruh hutan.
Pertarungan sudah di mulai kembali. Kali ini, tenaga dalam yang di keluarkan pun semakin besar lagi. Jurus demi jurus berlalu. Sepasang Elang Merah dari Selatan terus menggempur Sepasang Kakek dan Nenek Sakti dengan jurus-jurus cambuk dan tombak mereka.
Keduanya menyerang dengan brutal. Serangan yang diberikan pun sangat sulit untuk di hindari. Apalagi cambuk milik si Elang Merah Jantan yang terkenal dengan racun ganasnya.
Cambuk itu diberi nama Elang Kematian, sebab siappaun yang terkena cambuknya, jika tidak memiliki kepandaian tinggi, maka bisa dipastikan dalam tiga puluh tarikan nafas mereka akan tewas mengenaskan.
Karena itulah Kakek Sakti selalu berusaha menghindari sambaran cambuk berduri tersebut.
"Tarrr …"
"Tarrr …"
Suara Cambuk Elang Kematian menggema, membuat suasana di sekitar jadi sunyi. Binatang malam pun seolah merasakan ketakutan, apalagi dalam setiap sambarannya menyimpan bau busuk yang sangat menyengat. Para pendekar yang menonton pun sedikit menjauh.
Cambuk itu diputar di atas kepala lalu di lepaskan ke arah Kakek Sakti, kakek tua itu dengan gesit melompat kesana-kemari. Dia berusaha untuk terus meraih jarak sedekat mungkin. Sebab jika jarak dekat, dia yakin bahwa si Elang Merah Jantan akan merasa kesulitan. Lain hal jika berada dalam jarak jauh.
Perlahan tapi pasti, Kakek Sakti mulai berhasil memperkecil jaraknya dengan lawan. Pedangnya dia mainkan dengan gerakan yang sangat cepat. Tak tanggung-tanggung, Kakek Sakti langsung mengeluarkan jurus pedang andalannya.
"Pedang Pembelah Mega …"
"Wuttt …"
Desiran angin dingin mulai menyambar-nyambar Elang Merah Jantan. Benar dugaannya bahwa jika dalam jarak dekat, lawan kesulitan. Dan ini terbukti sekarang.
__ADS_1
Beberapa kali pedang milik Kakek Sakti hampir merobek beberapa titik bagian tubuh Elang Merah Jantan. Untung saja dia bisa menghindari ataupun menangkisnya dengan tepat. Jangan sebut Elang Merah Jantan jika bisa dikalahkan denhan mudah.
"Cambuk Maut Menghantam Badai …"
"Wuttt …"
"Tarrr …"
"Tarrr …"
Kembali Elang Merah Jantan memainkan cambuknya dengan gerakan yang berbeda. Cambuk itu di putar di atas kepala dengan sangat cepat. Lalu di ayunkan ke arah Kakek Sakti dengan gerakan tak terduga.
Kakek Sakti semakin meningkatkan kewaspadaannya, sebab dia yakin bahwa jurus ini merupakan jurus andalan lawan. Dengan konsentrasi yang tinggi, dan dengan penuh keyakinan, dia mulai bisa membalikan keadaan.
Gerakannya menjadi lebih lambat. Permainan pedang pun seperti tidak berirama. Waktu terus berjalan dengan cepat. Kakek Sakti terus menggempur Elang Merah Jantan, sedikit lagi pasti lawan tidak akan bertahan lama.
"Utsss …"
Kakek Sakti kaget. Dua buah senjata berbentuk bintang dengan ukuran kecil melesat ke arahnya.
Dia lalu melompat ke belakang, begitupun dengan Nenek Sakti. Pertarungan kembali berhenti. Dua pasangan tokoh tua itu dikejutkan dengan kehadiran satu orang tokoh tua.
Semua penonton yang ada di sana langsung merasakan ditekan dengan energi tak kasat mata. Termasuk Ling Zhi, hanya Cakra Buana saja yang masih terlihat tenang, meskipun hatinya gentar juga. Dia lalu memperhatikan siapa gerangan yang datang itu.
"Pendekar Pantai Selatan," seru Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sedikit terkejut.
"Guru …" kata Sepasang Elang Merah dari Selatan secara serempak sambil memberikan hormat.
__ADS_1
Pendekar Pantai Selatan adalah seorang tokoh tua, dia sangat terkenal di daerah Selatan. Kekuatannya jangan ditanyakan lagi, bahkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti pun merasa segan. Karena menurut kabar, kekuatannya setara dengan datuk rimba hijau. Bisa dibilang dia datuk secara "tidak resmi"
"Kenapa kau kemari?" tanya Kakek Sakti.
"Hahaha … memangnya kenapa? Tentu saja aku ingin membantu kedua muridku ini. Sebagai guru, aku merasa perlu turun tangan. Lagipula aku sudah mengetahui persoalannya. Dan aku pun memang menginginkannya," kata Pendekar Pantai Selatan.
"Hemmm … guru dan murid sama saja. Apakah kau yang menyuruh muridmu untuk menanyakan di mana pemuda yang kini memegang Pedang Pusaka Dewa?"
"Kau cerdas. Tentu saja, siapa yang tidak menginginkan pedang pusaka itu? Hahaha … sekarang, lebih baik kau katakan di mana pemuda itu sebelum aku bertindak lebih jauh. Kau tahu bukan siapa aku? Apalagi kita merupakan satu generasi," ucap Pendekar Pantai Selatan.
"Aku tahu siapa kau sebenarnya. Memang kekuatan kami mungkin belum bisa untuk menyamai kekuatanmu, tapi jangan harap kami akan membuka mulut. Lebih baik kami mati daripada harus memberitahu di mana pemuda itu," kata Nenek Sakti dengan tegas.
Di kerumunan penonton, Cakra Buana semakin tidak tahan lagi. Dia sudah benar-benar geram, terlebih lagi dia tidak akan membiarkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tewas hanya karena membela dirinya.
Sebelumnya, Cakra Buana sudah mengamati sampai di mana saja kekuatan para pendekar yang hadir di sini. Menurut pengamatannya, para pendekar itu kebanyakan hanya kelas menengah. Bukan hal sulit bagi Cakra Buana dan Ling Zhi. Meskipun berdua, mereka yakin bisa mengalahkannya, apalagi jika dibantu juga oleh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
"Kalian memang keras kepala. Untuk apa rela menyerahkan nyawa hanya demi seorang pemuda yang bahkan mungkin tidak memperdulikanmu?"
"Kau tidak akan mengerti," kata Kakek Sakti.
"Cepat katakan di mana pemuda itu menyembunyikan diri?" tanya Pendekar Pantai Selatan dengan nada geram.
Cakra Buana semakin naik darah. Dia benar-benar tidak dapat menahan diri lagi.
"Aku di sini," kata Cakra Buana tiba-tiba melompat ke tengah arena yang diikuti oleh Ling Zhi.
Semua orang yang ada di sana langsung terpaku. Terlebih lagi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Dua tokoh tua itu sama sekali tidak menyangka bahwa Cakra Buana berada di situ.
__ADS_1
Suasana kembali hening. Hanya semilir angin yang terdengar lirih menerpa semua orang-orang itu. Mata Cakra Buana langsung beradu pandang dengan Pendekar Pantai Selatan, mereka sama-sama mengukur sampai di mana kekuatan lawan.