
Kilatan perak dari lima senjata pusaka sudah menggempur Cakra Buana. Setiap kilatannya membawa serangkum hawa membunuh yang memenuhi langit. Tapi pendekar Maung Kulon masih dengan santainya menari di bawah gempuran tersebut.
Tubuhnya bergerak ke sana kemari dengan ringan. Pedang Pusaka Dewa dia mainkan. Setiap ayunannya membawa beban seberat puluhan kati. Benturan beberapa senjata pusaka mulai terdengar memecah malam.
Pijaran kembang api menebar di angkasa. Kelima lawan mulai memainkan jurus maut yang mereka miliki. Tenaga dalamnya sudah mereka salurkan ke dalam senjata pusakanya masing-masing.
Tak ada celah bagi Cakra Buana untuk kabur. Lagi pula, dia memang tidak ada niat unruk melarikan diri. Apapun yang terjadi, Pendekar Maung Kulon tidak akan melakukan hal-hal memalukan.
Pertarungan masih berlangsung dengan seru. Keenam pendekar telah terkurung dalam gulungan serangan senjata. Benturan masih saja terdengar memekakkan telinga.
Perang ini sebentar lagi akan mencapai puncak. Semua lini hampir semuanya dikusai oleh pihak Cakra Buana. Ribuan mayat prajurit memenuhi seluruh area kerajaan.
Bau anyir semakin menyengat hidung. Tak ada bau yang tercium di tempat tersebut kecuali hanya bau gosong dari bangunan yang terbakar dan bau anyir dari darah para korban.
Pendekar yang dipimpin oleh Cakra Buana tersisa delapan puluh orang. Ling Zhi saat ini sedang berdiri mematung memandangi pata korban keganasannya.
Dari semua pertarungan yang masih berlangsung, saat ini hanya pertarungan Cakra Buana yang paling seru. Sebab keenam orang itu bertarung dengan sengit.
Bahkan sebagian orang menonton pertarungan mereka dari beberapa jarak. Tak terkecuali Ling Zhi, sesekali dirinya melirik ke pertarungan Cakra Buana.
Pendekar Maung Kulon terlihat digempur dari segala arah oleh kelima pemimpin prajurit tadi. Kelebatan sinar berbagai warna terus terlihat menari-nari mengelilingi Cakra Buana.
Setiap kelebatan sinar itu mengandung tenaga dalam tinggi. Jadi setiap ayunannya, bahkan mungkin bisa memecahkan batu sebesar kerbau sekalipun. Bisa dibayangkan betapa hebatnya gabungan kekuatan kelima pemimpin tersebut.
Gemuruh terdengar saat kelima lawan menyerang serentak menggunakan senjata mereka. Cakra Buana melompat lalu berjungkir balik di atas. Begitu turun dia mengirimkan serangan berupa tusukan pedang.
Pedang Pusaka Dewa dia getarkan ujungnya sehingga terlihat menjadi beberapa batang. Kelima lawan terkejut, mereka tidak menyangka bahwa dalam keadaan terjepit seperti itu, Cakra Buana masih mampu memberikan serangan maut.
Mau tidak mau kelima lawan menghindar mencari jarak aman. Akan tetapi mereka tetap tidak mau mengalah. Sambil menghindar, mereka masih terus memberikan serangan gabugan kepada Cakra Buana.
"Trangg …"
__ADS_1
Kembali keenam senjata berbenturan. Pijaran bunga api kembali berpijar di udara. Cakra Buana masih menusukan pedangnya. Keenam senjata lawan menempel dengan senjata pusaka Pendekar Maung Kulon.
Hawa di sekitar bertambah pekat menjadi hawa pembunuhan. Udara terasa berhenti. Untuk beberapa saat keenam pendekar diam mematung dengan posisi demikian.
Setelah beberapa saat, Cakra Buana lalu menambah daya tekanan dalam Pedang Pusaka Dewa. Pedang pusaka itu bergetar kembali. Kali ini lebih kuat lagi, sehingga akhirnya benturan yang lebih dahsyat terjadi kembali.
Akibatnya, kelima pendekar yang menjadi lawan Cakra Buana terpental dua langkah ke belakang. Mereka terhuyung hampir terjatuh, untung bahwa kelimanya merupakan pendekar terkuat diantara yang lainnya. Sehingga mereka bisa segera menyeimbangkan tubuh.
Cakra Buana sendiri sempat melompat tinggi ke atas mengandalkan pijakan tenaga dalam. Tubuhnya bersalto di udara satu kali sebelum akhirnya bisa mendarat dengan ringan seperti sebuah kapas.
Indah dan ringan.
Pertarungan berhenti beberapa saat. Keenam pendekar saling pandang. Mereka mempunyai pikirannya sendiri-sendiri. Kelima lawan tidak menyangka bahwa Cakra Buana masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Bahkan mereka belum mampu melukainya. Padahal, gabungan kelima pendekar tersebut mampu menghasilkan gabungan kekuatan yang dashyat.
Sedangkan Cakra Buana sendiri berpikir bahwa jika terus seperti ini, entah sampai kapan dia akan menyelesaikan pertarungannya. Yang ada malah tenaga dalamnya akan terkuras semakin lama semakin banyak.
Berpikir demikian, dia kembali melesat memberikan serangan yang lebih dashyat lagi. Pedang Pusaka Dewa semakin mengeluarkan pamornya dengan dahsyat. Asap hitam yang pekat semakin mengepul. Setiap sabetan pedang, selalu menimbulkan kilatan cahaya hitam yang membawa hawa pembunuhan.
Kelima lawan Cakra Buana semakin terkejut. Serangan Pendekar Maung Kulon ini memang dahsyat. Mereka semakin tidak menyangka bahwa ada seorang pendekar muda yang memiliki kekuatan seperti itu.
Dengan memanfaatkan waktu yang ada, kelimanya kembali mengeluarkan sebuah jurus yang tidak kalah dahsyat. Mereka bergerak serempak, seketika lima senjata pusaka kembali menghadang serangan dahsyat tersebut.
Pertarungan sengit tak mampu terhindarkan lagi. Keenam pendekar kembali bertarung mati-matian. Benturan dan pijaran bunga api terus menebar di udara hampa.
Para pendekar lain yang melihat pertarungan ini merasakan ketegangannya masing-masing. Termasuk Ling Zhi, dia sendiri menggigit bibirnya karena melihat Cakra Buana berada dalam keadaan di bawah angin.
Tanpa sabar tangannya mengepal keras-keras. Dia berniat untuk membantu, tapi niat tersebut diurungkan karena merasa hal itu akan mempermalukan Cakra Buana sendiri.
Di arena pertarungan sendiri, Cakra Buana saat ini memang sedang berada dalam keadaan bahaya. Sebab lima senjata lawannya terus menggempur tanpa memberikan celah sedikitpun untuk menghela nafas dengan tenang.
Namun semua itu masih bisa dihadapi oleh Cakra Buana dengan tenang. Biasanya, seorang pendekar yang mampu melakukan hal seperti ini adalah dia yang telah memiliki kepandaian sangat tinggi.
__ADS_1
Dan Cakra Buana masuk dalam hal ini.
Setelah sekian lama berada dalam tekanan, tiba-tiba dia berteriak keras lalu mengubah gaya serangannya. Pedang Pusaka Dewa bergetar hebat di tangannya. Tubuhnya sendiri melesat cepat menerjang ke segala arah.
Dia berputar sambil terus memainkan pedang pusaka. Gempuran Cakra Buana yang sekarang ini dua kali lebih dahsyat daripada sebelumnya. Akibatnya semua lawan mulai merasa kewalahan.
Serangan mereka mulai melambat karena tidak kuasa menahan tekanan Cakra Buana.
"Trangg …"
"Trangg …"
"Srett …"
Beberapa kali benturan terdengar. Detik berikutnya, seorang lawan diantara mereka terkena telak sabetan Pedang Pusaka Dewa.
Tak ayal lagi, lawannya tersebut langsung melompat mundur sambil memegangi lukanya yang mulai terasa sangat perih. Dia menyalurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit. Tapi sayangnya, luka itu masih terus terasa tanpa bisa berkurang rasa sakitnya.
Akibatnya, dia tidak langsung mengikuti pertarungan kembali. Sebab tubuhnya mulai terasa lemas dan keringat dingin sebesar kacang kedelai sudah keluar.
Disaat pertarungan masih berlangsung sengit, tiba-tiba dari sebelah kiri datang sebuah serangan jarak jauh berupa kilatan cahaya kuning sebesar paha.
"Blarrr …"
Ledakan terdengar keras. Kelima pendekar yang sedang bertarung melompat mundur secara bersamaan. Mereka semua kaget.
Tak lama, seorang kakek tua berpakaian seperti resi datang sambil memegangi tongkat di tangan kanannya. Dia melayang turun ke bawah dengan ringannya.
###
Agak telat maaf ya, ada urusan hehe. Nanti kalau ada senggang up lagi😀
__ADS_1