
Sementara itu Cakra Buana, dia masih saja memejamkan matanya. Padahal, dua puluh lima pendekar kelas menengah sudah mengelilingi Pendekar Tanpa Nama itu.
Dua puluh lima orang tersebut bersiap kapan saja untuk menghabisi Cakra Buana. Asalkan ada perintah, maka mereka akan langsung bergerak tanpa di suruh dua kali.
"Pendekar Tanpa Nama, tidak disangka kau mau mengantarkan nyawa kemari. Hemm, sepertinya kau sudah bosan hidup," kata seorang pemimpin di markas cabang Organisasi Tengkorak Maut.
"Demi sahabat, apapun akan aku lakukan," jawab Cakra Buana singkat.
"Hahaha, jawaban yang mengejutkan. Jadi, apakah kau mau bila di suruh untuk menyerahkan nyawamu hanya demi sahabat?"
"Selama itu sahabat sejati, aku akan tidak keberatan. Kalau dia saja bisa melakukannya, kenapa aku tidak?"
"Konyol, sungguh alasan yang sangat konyol,"
"Bagimu yang tidak mengerti akan arti persahabatan, ucapanku memang terdengar konyol. Tapi bagi mereka yang sama denganku, maka akan mengerti apa yang aku maksudkan," tegas Cakra Buana.
"Terserah apa katamu. Yang jelas, aku sarankan supaya kau menyerah daripada mati sia-sia. Percuma saja, kau tidak akan sanggup mengalahkan orang sebanyak ini. Memang aku juga mengakui bahwa kau memiliki ilmu yang sangat tinggi dalam usia muda. Tapi, memangnya sanggup mengalahkan empat puluh orang dalam sekaligus? Hahaha …"
Si pemimpin cabang tertawa lantang. Dia benar-benar merasa sangat puas. Apalagi kalau sampai Cakra Buana mati, bukan hanya musuh berat yang akan berkurang, bahkan dia sendiri akan mendapatkan hadiah yang sangat besar karena mengingat bahwa Cakra Buana adalah buronan Perguruan Tunggal Sadewo.
"Kalau tidak dicoba, mana bisa tahu?"
"Itu katamu, tapi menurutku kau memang tidak akan sanggup. Buktinya kau dari tadi memejamkan matamu. Apakah itu artinya kau sudah siap menerima kematian?"
"Aku memejamkan mata bukan karena takut mati,"
"Lalu?"
"Justru aku takut dua pulu lima anak buahmu ini tidak sanggup memandang mataku," kata Cakra Buana.
Suaranya tegas dan sedikit menyeramkan. Ada energi lain saat Pendekar Nama itu bicara.
"Kau seyakin itu?"
"Tentu. Kalau kau tidak percaya, kau boleh menyaksikan bersama yang lainnya bagaimana aku membunuh semua anak buahmu,"
"Baik, aku ingin menyaksikannya," ujar si pemimpin tidak percaya dengan ucapan Cakra Buana.
__ADS_1
"Serang!!" teriaknya memberikan perintah kepada dua puluh lima anak buahnya yang merupakan pendekar kelas menengah.
Dua puluh lima orang segera maju. Mereka mulai bergerak siap untuk menghujani Pendekar Tanpa Nama dengan berbagai jurus senjata.
Cakra Buana masih tenang. Dia membayangkan apa yang telah dilakukan oleh Pendekar Pedang Kesetanan.
Pedang Haus Darah dia pindahkan jadi di tangan kiri. Tangan kanannya segera meraih Pedang Naga dan Harimau lalu membuka kainnya.
Setelah itu, Pedang Naga dan Harimau di cabut. Sarungnya dia simpan lagi di punggung.
Dua pedang pusaka yang sudah menggetarkan kolong langit sudah dia pegang. Cakra Buana merasa ada kekuatan lain yang memasuki tubuhnya.
Kekuatan tersebut seperti berasal dari Pedang Haus Darah. Apakah Pedang Haus Darah dan Pedang Naga dan Harimau ada keterkaitan tertentu? Entahlah. Cakra Buana sendiri belum mengerti semuanya.
Tapi dia sungguh merasakan kekuatan lain. Apakah ini kekuatan dari mendiang sahabatnya? Tidak bisa dipastikan juga.
"Sahabat, kau mati untukku. Dan aku akan membunuh mereka untukmu. Aku bersumpah, siapapun yang ada di sini, pasti akan mati di tanganku," tegas Cakra Buana.
Suaranya sengaja dia besarkan sehingga semua orang yang ada di sana mampu mendengarnya. Walaupun sebagian ada yang merasa bahwa ucapan itu bisa dan akan terjadi, tapi sebagian lainnya masih ada yang tidak percaya.
Cakra Buana membuka matanya dalam sekali sentak.
"Wushh …"
Cakra Buana bergerak cepat. Sangat cepat sekali, sehingga begitu tubuhnya meluncur, satu orang pendekar kelas menengah sudah terkena sabetan Pedang Haus Darah.
Hal ini sangat mengejutkan siapapun yang ada di sana. Karena mereka baru melihat permainan pedang seperti ini.
Cakra Buana sendiri setengah sadar setengah tidak. Sebab karena kemarahannya, kekuatan yang sangat besar keluar tanpa bisa dikendalikan lagi.
Tubuhnya kembali bergerak menyerang empat pendekar sekaligus. Dua pedang pusaka yang dikenal sakti sudah mencecar lawan. Setiap kali kedua pedang itu dimainkan, ada rasa panas membara dan hawa dingin yang menusuk tulang.
Dua hawa berbeda dalam sekali serangan. Hal seperti ini sangat langka. Apalagi, hawa yang keluar sangat kuat.
Dua puluh lima orang tersebut menyerang secara bersamaan dari segala sisi.
Kalau orang lain yang jadi lawannya, mungkin dia akan tewas sebelum mencapai sepuluh jurus.
__ADS_1
Tetapi, Cakra Buana merupakan pengecualian.
Melihat bahwa puluhan orang datang dengan serangannya masing-masing, dia menjadi sangat gembira.
Tubuhnya kembali melesat menembus gempuran serangan semua lawan. Pedang Haus Darah serta Pedang Naga dan Harimau kembali berkelebat menebarkan ancaman maut.
Pertarungan baru mencapai lima jurus. Tapi dua pendekar kelas menengah sudah terkapar tak bernyawa.
Entah kapan Cakra Buana mencabut nyawa keduanya. Yant jelas, kejadian itu terjadi sangat cepat sekali. Sehingga tidak ada yang dapat melihatnya.
"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"
Jurus terkahir yang menjadi jurus terkuat dari serangkaian Jurus Pedang Kilat, sudah keluar.
Suara ledakan keras seperti gemuruh guntur dan cahaya putih, membuat dua puluh tiga pendekar kelas menengah keteteran.
Mereka merasa ketakutan karena setiap serangan Cakra Buana mengandung suara ledakan. Padahal, aslinya tidak seperti itu.
Suara ledakan tersebut hanyalah sihir yang menyerang ke batin. Sehingga kalau lawannya tidak mempunyai pondasi batin yang kuat, maka jangan harap bisa melepaskan diri dari jurus maut ini.
Kalau menggunakan satu pedang saja sudah sangat mengerikan, apalagi jika jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang digunakan dengan dua pedang?
Sudah pasti akan lebih mengerikan lagi. Dan memang kenyataan itu benar adanya.
Dua batang pedang di tangan Cakra Buana memberikan serangan beruntun. Sabetan dan tusukan pedang membayangi semua lawan. Walaupun dia di kepung dari segala penjuru, tapi anehnya tidak ada satu senjata pun yang mampu mengenai dirinya.
Cakra Buana semakin ganas. Kilatan pedang terus menyambar dan memburu semua lawannya. Jurusnya ini bagaikan hujan kilat. Mendatangkan hawa mengerikan dan ketakutan.
Memasuki jurus kedua puluh, lima orang pendekar terkapar tanpa kepala. Cakra Buana benar-benar marah. Semua gerakan yang dia lakukan sangat cepat sekali.
Bahkan para pendekar kelas satu yang ada di sana pun, tidak mampu melihatnya dengan jelas.
Tubuh Cakra Buana berputar ke pinggir. Dua batang pedang dia mainkan secara bersamaan menangkis semua serangan.
"Trangg …"
"Trangg …"
__ADS_1
Benturan senjata tajam terdengar entah sudah berapa kali. Tapi setiap kali terjadi benturan, hasilnya akan tetap sama mengejutkan semua orang yang hadir di sana.