Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Akhir Tiga Iblis Gunung Waluh


__ADS_3

Dugaannya ternyata memang benar, Jalabra jauh lebih kuat dari kedua rekannya. Hal ini wajar saja, apalagi dia merupakan kakak seperguruan. Bayangan Hitam itu terus memberikan serangan kepada Cakra Buana.


Gerakannya sangat gesit. Benar-benar mirip sebuah bayangan hitam dalam kegelapan. Jika tidak memiliki penglihatan yang sangat awas, maka jangan harap bisa menang jika bertarung dengannya. Namun Cakra Buana bukanlah pendekar muda sembarangan, dia mendapatkan julukan Pendekar Maung Kulon.


Seekor harimau dari barat. Yang namanya seekor harimau, bertarung dalam kegelapan adalah hal biasa. Bahkan bisa jadi lebih ganas, sebab mata seekor harimau akan menyala jika dalam kegelapan.


Sementara itu, Ling Zhi hanya berdiri tegak dari pinggir arena pertarungan. Gadis itu memperhatikan kedua pendekar yang kini sedang bertarung dengan sengit.


Bahkan, para warga Desa Waluh yang dari tdi bersembunyi, kini mereka mulai berani menampakkan diri untuk menyaksikan pertarungan tersebut. Para warga itu bersorak riang gembira menyaksikan dua pendekar yang sedang bertarung.


Mereka mendoakan pendekar muda itu menurut kepercayaannya masing-masing. Teriakan warga semakin lama semakin kencang, membuat Jalabra kehilangan konsentrasinya untuk beberapa saat. Untung saja dia merupakan pendekar berpengalaman, sehingga dengan mudah pula dirinya bisa berkonsentrasi kembali.


Nama Jalabra atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bayangan Hitam memanglah bukan omong kosong belaka. Namanya berkibar di dunia persilatan selama satu tahun terakhir. Terlebih lagi dia sangat terkenal di kalangan golongan hitam.


Selain dia dikenal karena kepandaiannya, ia pun lebih dikenal karena memiliki seorang guru yang ilmunya sukar di ukur. Banyak pendekar golongan hitam menaruh hormat dan rasa segan padanya.


Di arena pertarungan, puluhan jurus sudah berlalu. Keringat sudah membasahi kedua tubuh pendekar itu. Berkali-kali Jalabra memberikan serangkaian serangan mematikan, namun sayangnya semua serangan itu berhasil di gagalkan. Bahkan Cakra Buana mampu memberikan serangan balasan lainnya.


"Pantas saja Sugra bisa tewas di tangannya. Ternyata pemuda ini bukanlah pemuda biasa. Kalau tahu seperti ini, aku memilih turun tangan daritadi," kata Jalabra dalam hatinya.


Keduanya terus bertarung tanpa henti. Adu pukulan dan adu tendangan sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Deru angin yang dingin menusuk tulang semakin terasa. Jalabra bertambah marah karena sudah sekian lama bertarung, tapi dia belum mampu mengalahkan lawan.


Dengan geraman bagaikan auman singa, Jalabra melompat ke depan lalu menerjang Cakra Buana. Dia mengirimkan tendangan yang di barengi tenaga dalam.


"Hiaaa …"


"Bukkk …"


Tendangan kaki kanan Jalabra dengan telak menemui sasaran. Dia sangat yakin tendangannya ini akan mampu melukai lawan, sebab ini adalah salah satu jurusnya.


"Tendangan Bayangan Setan…"


Namun lagi-lagi dugaannya meleset. Di saat-saat genting, ternyata tendangan itu berhasil di tahan oleh Cakra Buana menggunakan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Kedua pendekar itu beradu tenaga dalam. Jalabra bertahan di udara dengan kaki kanan menjulur ke depan menekan dada lawan. Di sisi lain Cakra Buana bertahan menggunakan dua telapak tangannya.


Untuk beberapa saat, kedua pendekar itu terdiam. Mengadu tenaga dalam sekuat dan selama mungkin. Cakra Buana tidak tinggal diam ketika merasakan kaki lawan semakin menekan dadanya. Dia menggeram keras lalu menghentakkan tangannya.


"Haaa …"


Jalabra terpental hingga harus melakukan salto di udara. Dia mendarat dengan mulus. Cakra Buana hanya terpundur satu langkah. Untuk sesaat mereka saling bertatapan.


Keadaan semakin tegang. Kemarahan Jalabra sudah di ujung tanduk. Begitu pun dengan Cakra Buana. Keduanya sama-sama merasakan amarah yang sama.


"Kita akhiri sekarang," ucap Jalabra dengan geram.


Si Bayangan Hitam itu lalu mengumpulkan semua sisa tenaga dalamnya. Deru angin menerpa tubuh Bayangan Hitam. Asap hitam tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Semakin lama, asap itu semakin tebal hingga pada akhirnya membungkus seluruh bagian tubuh Jalabra.


Melihat ini, Cakra Buana pun tidak tinggal diam. Dia turut mengeluarkan tenaga dalam berhawa dingin yang di ajarkan oleh Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Hawa di sekitar Cakra Buana yang tadinya panas, kini menjadi dingin. Bahkan dalam beberapa jarak pun, orang-orang mampu merasakannya.


"Bayangan Hitam Menyergap Rusa …"


"Wuttt …"


Berbarengan dengan itu, Cakra Buana pun sudah siap dengan jurus yang ia pilih. Pendekar Maung Kulon itu mengambil ancang-ancang terlebih dahulu.


"Tapak Dewa Es …"


"Wuttt …"


Hawa dingin menyeruak, hawa mencekam dari Bayangan Hitam pun sama halnya. Kedua pendekar itu bertarung kembali dengan jurus pamungkasnya masing-masing.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Cakra Buana memberikan serangan mematikan yang mengandung hawa sedingin es. Karena tenaga dalamnya jauh lebih unggul daripada lawan, maka sedikit banyak Jalabra terpengaruh juga. Tubuhnya terasa menggigil seperti membeku.

__ADS_1


Pergerakan yang tadinya sangat cepat, kini menjadi lambat. Hal ini tentu saja menjadi keuntungan bagi Cakra Buana. Maka tanpa basa-basi lagi, dia langsung memberikan serangan tapak beruntun.


"Plakkk …"


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Serangan demi serangan berhasil menemui sasaran. Cakra Buana bergerak sangat cepat. Bahkan lebih cepat daripada si Bayangan Hitam sendiri. Lawan tak kuasa untuk menghindari semua serangan itu. Mau tidak mau, dia harus menahan dengan sisa tenaga yang ada.


Ketika serangan Cakra Buana semakin gencar, Jalabara melihat titik kosong. Kesalahan Cakra Buana adalah dia tidak memiliki benteng pertahanan.


Jalabra bergerak mengincar titik kosong itu, untung bahwa Cakra Buana segera menyadarinya. Dia membatalkan niat untun terus menyerang, lalu memilih untuk melindungi titik yang di incar lawan.


"Desss …"


Akibatnya hebat. Dua tenaga dalam dengan hawa berlawanan kembali bertemu. Namun kali ini dengan jumlah tenaga yang jauh lebih besar.


Tubuh Jalabra mengigil semakin hebat. Hawa dingin yang diberikan lawan mulai memasuki tubuhnya. Sedangkan Cakra Buana hanya bergetar sedikit. Telapak tangannya terlihat sedikit menghitam.


"Haaa …"


"Haaa …"


Keduanya berteriak berbarengan sampai masing-masing terpental. Cakra Buana terpental lima langkah. Sedangkan si Jalabra sendiri hingga sepuluh langkah. Tubuhnya meluncur deras dan baru berhenti saat menabrak pohon besar.


Satu lagi, anggota dari Tiga Iblis Gunung Waluh harus rela meregang nyawanya. Jalabra tewas dengan kondisi tubuh pucat pasi karena kedinginan. Bahkan darah pun tidak terlihat mengalir, mungkin tubuhnya benar-benar beku.


Di sisi lain, Cakra Buana langsung menghimpun hawa murni ke seluruh tubuhnya. Setelah selesai, Pendekar Maung Kulon itu berjalan ke arah Ling Zhi.


Teriakan para warga semakin kencang saat mengetahui pendekar yang menolongnya menang. Raut wajah kebahagiaan nampak di semua warga.


Malam ini, malam yang paling menggembirakan bagi para warga Desa Waluh. Sebab di malam inilah malapetaka yang menimpa desanya berkahir.

__ADS_1


__ADS_2